
Hallo, assalamualaikum!"
(.....)
" Apa? innalilahi wa innailaihi rojiun!"
" Ada apa mas?" tanya Khanza yang sedikit terkejut mendengar pembicaraan Aldy di telepon.
"Ma...mama sayang!" ucap Aldy terbata seraya menatap sendu isteri tercintanya
" Mama kenapa mas?" Khanza mengelus lengan suaminya menenangkan
" Duduk dulu mas!" Khanza lalu menarik tangan Aldy dan membawanya ke sofa
" Mama kenapa mas?" Khanza kembali mengulang pertanyaannya
Aldy menarik napasnya dalam sebelum menjawab pertanyaan Khanza
" Ma...mama meninggal sayang!" jawab Aldy lirih
" Mamah meninggal? innalilahi wa innailaihi rojiun" Khanza nampak sedih mendengarnya dan sedikit syok
" Toni tadi mengatakan penyakit mama kumat lagi dan kali ini dia tidak bisa bertahan dengan penyakitnya, tadi jam 5 mama menghembuskan nafasnya yang terakhir, Karena sibuk dengan mengurus putrinya Toni sampai lupa mengabari!" jawab Aldy
" Mba Mila sudah melahirkan mas?" tanya Khanza
" Sudah, kini anaknya Toni yang merawatnya karena Mila sendiri pergi entah kemana"
" Maksud mas Aldy mba Mila kabur dari rumah gitu?" Aldy hanya mengangguk pelan
" Ya udah mas, sekarang kita ke sana, mas izin dulu sana aku juga sekalian mau menelpon Hana biar dia yang mintain izin ke bu Evi"
"Biar mas aja yang mintain izin kamu!" sahut Aldy
" Tapi apa enggak curiga nantinya?"
" Enggak, mas nanti izinnya sama pak Wahyu langsung biar nanti pak Wahyu yang memberitahu bu Evi!'
" Yaudah kalau gitu aku siapin baju dulu!" Khanza berlalu masuk ke dalam kamar
" Sayang baju mas jangan banyak-banyak bawanya 2 juga cukup, dirumah mamah masih ada baju mas"
" Iya mas!"
Kini Khanza dan Aldy tengah berada di perjalanan menuju kota B, Khanza sudah memberitahu Hana kalau dia tidak masuk sekolah dengan alasan ada urusan keluarga.
Setibanya di sana Aldy nampak terpukul karena tidak bisa menemui mamanya dimasa hidupnya, sampai mamanya kesakitan pun dia tidak tahu apa-apa.
Mama Titin selalu bilang dia dalam keadaan baik-baik saja, dia tidak ingin merepotkan putra sulungnya itu apalagi setelah mendengar berita tentang kehamilan anak menantunya.
Mama Titin tidak ingin Khanza melihat keadaannya yang begitu menyedihkan, dia sadar apa yang terjadi padanya mungkin buah dari perbuatannya dimasa lalu.
" Mas yang sabar ya dan ikhlaskan mama !" Khanza mengusap punggung suaminya yang nampak bergetar hebat saat melihat wajah sang mama sudah terbujur kaku di pembaringan.
" Ma.. ma... maafin Aldy mah, Aldy anak yang durhaka karena disaat mama kesakitan Aldy tidak ada disamping mama!" tangis Aldy pecah dan Khanza langsung memeluk suaminya penuh dengan kasih sayang
" Mas yang sabar!" ucap Khanza sementara dirinya sendiri juga sudah banjir dengan air mata.
" Mas Aldy!" panggil Toni yang sudah berdiri di sampingnya
" Maaf tadi aku telat memberitahu mas!" ucap Toni merasa bersalah
" Tidak apa-apa, sekarang lanjutkan prosesinya!" ucap Aldy menghapus air matanya
Jenazah mama Titin kini sudah disholatkan dan hendak di makamkan.
" Nak Aldy!" panggil seseorang yang tentu tidak asing di telinganya
Aldy yang hendak mengikuti jenazah mamanya yang menuju pemakaman umum yang letaknya tidak terlalu jauh dari kediaman rumah mereka menoleh ke arah suara
" Papa....mama!" pekik Aldy begitu juga dengan Khanza yang terkejut melihat kedatangan kedua orang tua angkatnya
" Mama!" ucap Khanza haru
Mama Maria dengan cepat langsung menghampiri Khanza dan memeluknya
" Yang sabar ya kalian berdua, mama kamu sekarang sudah tenang dan sudah tidak merasakan sakit lagi!" ucap mama Maria mengelus punggung putri angkatnya
" Iya mah, terima kasih ya mah!"
" Iya sayang sama-sama"
" Aldy kamu yang sabar dan ikhlaskan mama kamu, ini adalah yang terbaik untuk mama kamu dia sudah tidak merasakan sakitnya lagi!" ucap papa Sam
" Iya pah, insyaallah Aldy sudah ikhlas"
Prosesi pemakaman berjalan dengan lancar, usai dari pemakaman mama dan papa Sam membantu keluarga Aldy untuk acara tahlilan malam hari.
" Sayang kamu istirahat aja gih dikamar, ingat kamu itu sedang hamil jangan terlalu capek-capek!" ucap lembut mama Maria pada Khanza
" Iya mah, tapi Khanza boleh ya mah disini sebentar lagi aja mah, Khanza penasaran ingin menggendong baby Nola " ucap Khanza yang melihat Toni yang baru keluar dari dalam kamarnya sambil menggendong putri kecilnya sedangkan Nino mengekor di belakangnya
" Emmm... mas Toni boleh enggak Za gendong dedek bayinya?" tanya Khanza pada Toni yang baru mendudukkan dirinya di ruang keluarga
Toni melirik ke arah Aldy sebagai meminta izin takut Aldy melarang isterinya untuk menggendong bayinya.
Aldy yang mengerti arti dari tatapan adiknya itu langsung menganggukkan kepalanya pelan
" Iya boleh Mba!" Toni beranjak dari duduknya dan berjalan menghampiri Khanza
" Kok panggil mba sih kan Za masih jauh lebih muda dari mas Toni!" protes Khanza yang tidak mau dipanggil mba oleh orang yang lebih tua darinya
" Ya memang seharusnya begitu kan Mba Za, Mba Za itu kan isterinya kakak aku mas Aldy jadi mba Za itu kakak ipar aku ya dipanggilnya mba dong!" sahut Toni
" Enggak mau ah, panggilnya Za aja mas Toni" protes Khanza yang kekek enggak mau dipanggil mba
" Yaudah iya in aja Ton, maklum calon ibu muda masih labil, turutin aja keinginannya!" ucap Aldy
__ADS_1
" Sini biar mama yang memberikannya pada Khanza, pasti dia masih tegang untuk pertama kalinya gendong bayi!" ucap mama Maria seraya mengambil alih baby Nola dari tangan Toni yang hendak menghampiri Khanza
" Ihhh .. lucu banget sih kamu!" ucap Khanza saat mama Maria sudah meletakkan bayi Nola di tangannya
" Mas liat deh lucu banget!" ucap Khanza dengan wajah cerianya
" Baby kamu juga nanti akan menggemaskan seperti ini sayang!" ucap mama Maria yang duduk di samping Khanza
" Za jadi enggak sabar deh mah!" ucap Khanza
" Mama juga!" mereka pun tertawa bersama
Kepergian mama Titin memang menyisakan luka yang mendalam di hati kedua putranya namun dengan keberadaan baby Nola yang begitu menggemaskan menjadi penghibur untuk mereka semua.
Nino nampak murung sedari tadi, dia diam saja hanya menatap adik kesayangannya dengan wajah sendu
Aldy yang melihat kesedihan yang terpancar dari wajah anak kecil itu langsung beranjak dari duduknya dan menghampiri Nino yang duduk di sebelah ayahnya.
" Nino kenapa sayang, kok murung gitu wajahnya?" tanya Aldy
Bocah berusia 5 tahun itu hanya menjawab dengan gelengan kepala.
" Nino enggak mau jujur sama papa Aldy?" tanya Aldy dengan suara yang begitu pelan
Nino hanya diam dengan menundukkan wajahnya
" Nino kangen mama Mila?" tanya Aldy membuat wajah anak kecil itu langsung mendongak dan sedetik kemudian mengangguk
Khanza yang melihat interaksi dua laki-laki dengan berbeda generasi itu menyerahkan baby Nola pada mama Maria lalu beranjak dari duduknya.
" Sayang!" ucap Khanza lembut
Aldy mendongak dan melihat Khanza sudah berdiri di sampingnya, Aldy beranjak dari duduknya dan membiarkan isterinya duduk di sebelah Nino
" Sayang, boleh enggak kalau untuk sementara Nino anggap aja ini mama Nino?" tanya Khanza menunjuk dirinya sendiri pada Nino
Nino mendongak dan menatap lekat wajah Khanza yang tengah tersenyum kepadanya.
Papa Aldy kan suami tante Za kalau Nino panggil suami tante Za dengan sebutan papa, tante Za juga mau dong dipanggil mama sama Nino!" Nino menatap Aldy dan Toni bergantian lalu kembali menatap Khanza
" Apa boleh pah?" tanya Nino pada Aldy dan Toni bergantian
" Tentu saja boleh sayang, anggap aja tante khanza ini mama kamu ya sayang, jadi Nino enggak boleh sedih lagi kan ada mama Za sekarang disini" ucap Aldy mengusap rambut Nino dengan penuh kasih sayang.
Toni menatap sendu pada putranya, ia tahu putranya itu sangat merindukan sosok ibunya.
" Sini peluk, Nino mau enggak mama Za peluk?" Khanza merentangkan kedua tangannya dan Nino langsung berhambur kepelukannya
Aldy tersenyum tipis ternyata isteri kecilnya kini sudah sangat dewasa bisa menempatkan diri di situasi yang ada. Papa Sam merasa terharu dengan sikap Khanza yang begitu keibuan tidak menyangka gadis yang terlihat sedikit barbar ternyata begitu lembut memperlakukan Nino.
" Sayang, kamu memang sudah pantas menjadi seorang ibu, jujur saja mama sangat bangga sama kamu nak!" ucap mama Maria dengan mengembangkan senyumnya
" Ah mama ini bisa aja, Za sedang belajar jadi ibu yang baik mah. sebentar lagi Za kan mau punya dedek bayi jadi Za harus belajar dari sekarang" ucap Khanza seraya terkekeh
" Kamu benar sayang, dan kamu sudah lulus sepertinya" ucap mama Maria tertawa
" Alhamdulillah, semua berjalan lancar!" ucap mama Maria
" Iya mah" jawab Khanza
" Udah sana kamu istirahat sayang, dari tadi kamu tuh mondar mandir pasti capek" titah mama Maria
" Iya mah, Za istirahat dulu ya mah "
" Iya sayang" jawab mama Maria
Khanza masuk ke dalam kamar yang biasa Aldy tempati dulu, nuansa kamar yang di dominasi dengan warna putih dan abu-abu berkesan maskulin.
Khanza duduk di tepi tempat tidur seraya mengamati setiap sudut kamar
" Nyaman" gumamnya
Khanza lalu beranjak dari duduknya dan berjalan masuk ke dalam kamar mandi
Setelah selesai membersihkan diri Khanza naik ke atas tempat tidur dan merebahkan badannya yang terasa sedikit tidak nyaman.
Sementara Aldy yang baru saja selesai berbincang-bincang dengan papa Sam menghampiri mama Maria yang juga sedang berjalan ke arah Aldy
" Nak Aldy mama sama papa pamit pulang ya!" ucap mama Maria berpamitan
" Tolong kamu sampaikan salam mama ya sama isteri kamu, dia lagi istirahat di kamar kayaknya dia kecapean banget" lanjutnya
" Mama sama papa enggak nginap aja disini?" mama Maria tersenyum
"Mama sama papa pulang aja, besok pagi kami harus bertolak ke Malaysia jadi mau berkemas-kemas dulu" tolak mama Maria secara halus
" Oh begitu, baiklah. mama sama papa hati -hati di jalan, dan terima kasih juga sudah datang dan membantu kami disini" ucap Aldy
" Kamu jangan sungkan, mama sudah menganggap kalian seperti anak-anak mama sendiri. kalau ada apa-apa jangan sungkan kasih kabar mama dan papa ya!"
" Iya mah"
Selepas mama dan papa Sam berpamitan Aldy masuk ke dalam kamarnya
Ceklek
Aldy melangkah dengan perlahan mendekati tempat tidur.
Ditatapnya wajah damai Khanza yang tengah tertidur lelap.
" Kamu pasti kecapean ya sayang?" ucap Aldy pelan
Saat Aldy hendak masuk ke dalam kamar mandi untuk bersih-bersih tiba-tiba ponsel Khanza berdering
Aldy melangkah mendekati nakas dan melihat layar ponsel Khanza yang berdering terpampang nama ibu.
Deg
__ADS_1
Seketika Aldy berubah gugup karena ia lupa mengabari perihal meninggalnya mama Titin
" Astaghfirullah, aku sampai lupa"
Aldy langsung meraih ponsel Khanza dan menggeser tombol hijau
" Assalamualaikum bu!"
..." Wa'alaikum salam" ...
..." ***Nak Aldy kenapa hal sepenting ini kamu dan Khanza tidak memberitahu ibu?" ...
..." Ibu turut berdukacita atas meninggalnya mama kamu***!" ...
" Maafin Aldy bu, kami benar-benar lupa. Aldy benar-benar enggak ingat bu mungkin Khanza juga sama karena melihat keadaan Aldy tadi membuat dia juga lupa buat ngabarin ke ibu"
..." Yasudah tidak apa-apa ibu mengerti , kamu juga yang sabar ya ibu turut berdukacita" ...
" Terima kasih bu"
..." Oiya, bagaimana Khanza?" ...
" Dia sedang tidur bu, mungkin kecapean hari ini dia sibuk membantu acara tahlilan buat mama"
..." Yasudah kalau begitu, kamu juga istirahat!" ...
" Iya bu!"
..." Assalamualaikum" ...
"Wa'alaikum salam!"
Setelah panggilan berakhir Aldy kembali masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
Selesai dengan ritualnya dikamar mandi Aldy menyusul Khanza untuk merebahkan tubuhnya yang terasa begitu lelah dan tidak berapa lama dia pun ikut terlelap.
Hari ini sudah hari ke 4 setelah kepergian mama Titin, rencananya sore nanti Khanza dan Aldy akan pulang ke ibu kota.
Pagi ini sebelum pulang ke ibu kota Aldy duduk di teras rumahnya sambil mengenang saat kebersamaannya bersama mama Titin.
sedangkan Khanza sibuk membantu bibi memasak di dapur membuat sarapan sementara Toni bersama Nino dan baby Nola masih berada di dalam kamarnya.
Aldy beranjak dari duduknya lalu menghampiri bunga yang merupakan salah satu kesayangan mamanya. Aldy yang tengah fokus menikmati keindahan bunga tersebut sambil mengenang kebersamaannya dengan sang mama tiba-tiba dikejutkan dengan kedatangan seorang wanita yang menghampirinya lalu menangis dan langsung memeluk Aldy tanpa malu
Aldy yang terkejut langsung mendorong tubuh wanita yang tidak lain adalah Mila, namun dengan tidak tahu malunya Mila malah semakin mengeratkan pelukannya.
" Mila kamu apa-apaan ini, lepas!" kesal Aldy
" Mas Aldy bagaimana bisa mama meninggal, dan kenapa kalian tidak memberitahu aku mas, aku sangat sedih kehilangan mama mas, hiks .. hiks..!" Mila berucap disela tangisan buayanya masih memeluk pinggang Aldy
" Kenapa tidak ada yang mengabari aku mas, hiks... hiks..!"
" Mila lepaskan, kamu bisa tidak bersikap seperti ini, bagaimana jika ada yang lihat kita bisa membuat orang salah paham. jadi aku pinta lepas sebelum aku berbuat kasar!" tegas Aldy
Namun sayangnya sebelum Mila melepaskan tangannya yang melingkar di pinggang Aldy, Khanza sudah lebih dulu berdiri di belakang Aldy yang berdiri membelakanginya.
Mila tersenyum mengejek ke arah Khanza yang sedang berdiri seraya memegang nampak yang berisi kopi untuk Aldy.
" Terima kasih ya mas, karena pelukan mas tadi aku sekarang sudah merasa jauh lebih tenang!" ucap Mila dengan senyum penuh kemenangan
Khanza hanya diri mematung tanpa niat menghampiri keduanya.
" Kenapa kamu pergi dari rumah?" tanya Aldy setelah Mila melepaskan pelukannya
" Aku merasa sudah tidak ada kecocokan lagi mas dengan mas Toni!" jawab Mila
" Mas tahu kenapa? " Aldy menggeleng
" Karena sikap mas Toni tidak selembut sikap mas Aldy dalam memperlakukan aku, dulu mas begitu memanjakan aku dan lebih mengutamakan aku dibandingkan yang lain. mas begitu baik dan penuh perhatian tidak seperti mas Toni, sampai dulu aku pernah berpikir sebenarnya suami aku itu siapa mas Toni apa mas Aldy!" jawab Mila dengan melirik sekilas ke arah Khanza
" Aku tidak pernah melakukan hal yang lebih semua aku lakukan demi Toni dan juga Nino" sahut Aldy
" Benarkah, tapi aku melihat ada ketertarikan pada ku saat itu, iyakan mas. hanya karena aku ini adik iparnya mas Aldy jadi mas Aldy memilih untuk memendamnya iyakan?" Mila mendekati Aldy
" Aku tahu kok mas Aldy sebenarnya juga suka kan sama aku, waktu yang kita habiskan bersama itu tidak sebentar mas dari aku hamil sampai Nino berusia 2 tahun mas selalu berada di samping ku. bohong kalau mas tidak memiliki perasaan apa-apa terhadap ku?" Mila menatap lekat wajah Aldy dan tiba-tiba dengan lancangnya ia menyentuh rahang kekar Aldy
yang dengan cepat ditepisnya kasar.
" Jangan ngaco kamu!" sentak Aldy
" Ekhemm!" suara deheman dari arah belakang membuat Aldy terlonjat kaget apalagi dia sangat mengenali suara itu
Aldy berbalik badan dan benar saja ternyata Khanza sudah berdiri di belakangnya.
" Mau sampai kapan kalian berdiri di situ, apa tidak pegal? duduk saja dulu biar lebih santai ngobrolnya!" seru Khanza dengan bersikap biasa dan sangat tenang bahkan dia tidak sungkan melemparkan senyum ramahnya
" Mba Mila mau minum apa, kali aja haus?" tawar Khanza dengan senyum yang mengembang
" Tidak perlu, jika haus aku bisa mengambilnya sendiri. apa kamu lupa aku lebih dulu tinggal di rumah ini bersama mas Aldy sebelum kamu!" ucap Mila dengan penuh percaya diri
" Oh iya ya... maaf aku lupa mbak" jawab Khanza
" Emmm.... apa mbak Mila datang kesini mau bertemu dengan Nino dan Nola?" tanya Khanza
" Itu bukan urusan kamu, sebaiknya kamu masuk dan belajar saja yang benar!" ketus Mila
" Masih sekolah sudah hamil!" gumam Mila sambil memperhatikan perut Khanza yang nampak besar
" Loh memangnya kenapa kalau saya masih sekolah sudah hamil, toh saya hamil juga karena saya punya suami mbak. jadi ya wajar aja saya hamil tapi yang pasti kehamilan saya ini jelas loh ayahnya siapa!" sahut Khanza sedikit menyindir karena mendengar gumaman Mila tentang kehamilannya
" Maksud kamu apa bicara seperti itu?" Mila ngegas
" Mba Mila kenapa kok marah gitu?" Khanza berpura-pura lugu
" Aku tanya sekali lagi maksud kamu apa bicara seperti itu hah?" belum sempat menjawab, seorang bocah berumur 5 tahun langsung berlari berhambur kepelukannya.
...Deg...
__ADS_1