
Di ruangan berdinding putih dan diatas tempat tidur yang serba putih seorang pria dewasa tengah menggenggam tangan seorang gadis cantik yang tengah memejamkan matanya dengan perban di kepala dan selang infus yang menempel di punggung tangan kirinya serta berbagai macam alat medis yang menempel di tubuhnya.
Pria itu yang tidak lain adalah dokter Ariel mengusap air matanya kasar, sakit itulah yang ia rasakan saat ini, melihat gadis yang sangat ia cintai berbaring tidak berdaya membuat hatinya merasa sangat sakit karena tidak bisa melindungi dan menjaga gadisnya. cukup ia kehilangan cinta Zaira tapi untuk cinta Mita rasanya ia tidak akan pernah sanggup.
Baru saja ia merasakan manisnya cinta tapi takdir telah berkata lain ternyata perjalanan cintanya itu tidaklah semulus yang ia bayangkan.
" Mih bangun mih, apa kamu tidak kasihan melihatku seperti ini. apa kamu juga akan mencampakkan aku juga mih!" lirih dokter Ariel sesekali menyeka air matanya.
Flashback on
"📲 "Hallo!"
" To...to..long put..triku!" ucap Rosa yang sedetik kemudian ikut tidak sadarkan diri.
📲 " Hallo..!"
📲 " Hallo..!"
Teriak seseorang yang berada di seberang sana dengan keadaan panik.
Dokter Ariel yang pada saat itu ingin mengajak Mita pergi jalan merasa terkejut saat mendengar suara lirih dari Rosa mamanya Mita.
Dokter Ariel dengan bergegas keluar dari ruangannya dan meminta dokter Malik menggantikan tugasnya yang masih memiliki Dua orang pasien lagi
Pikiran dokter Ariel sudah tidak karuan, saat ini yang ada di dalam benaknya hanyalah Mita.
mendengar Rosa meminta tolong membuat pikiran dokter Ariel berkelana kemana-mana.
Dokter Ariel mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh. ia tidak peduli dengan suara klakson dari pengguna jalan lainnya karena yang ia pedulikan hanyalah bagaimana keadaan gadisnya saat ini.
Setelah hampir 15 menit Dokter Ariel mengemudikan mobilnya akhirnya ia sampai juga di depan rumah Mita.
Dokternya Ariel bergegas masuk ke dalam rumah dan kebetulan saat ia mau membuka pintu ada tetangga Mita yang keluar dari rumahnya.
" Pak maaf apa bapak mendengar suara orang minta tolong dari rumah ini?" tanya dokter Ariel.
" Tidak mas!" sahut si bapak
" Apa bapak bisa tolong temani saya masuk kedalam rumah ini karena tadi saat saya menelponnya ibunya yang mengangkat dan meminta tolong" pinta dokter Ariel
" Bisa mas!"
" Kalau begitu mari pak kita masuk!" ajak dokter Ariel.
Dokter Ariel membuka pintu rumah Mita yang ternyata tidak terkunci
" Assalamu'alaikum!" teriak dokter Ariel
Tidak ada jawaban dan saat memasuki ruang tamu mata dokter Ariel membulat sempurna melihat dua orang wanita tengah terkapar di lantai dalam keadaan tidak sadarkan diri.
" Mita!" teriak Dokter Ariel yang segera menghampirinya.
Dokter Ariel mengecek kondisi Mita dan mamanya. dokter Ariel panik saat memeriksa denyut nadi Mita yang sangat lemah ditambah lagi dengan kondisi keningnya yang mengeluarkan darah.
Dokter Ariel dengan cepat langsung menggendong Mita dan meminta tolong kepada tetangga Mita untuk membawa mamanya Mita kedalam mobil.
Dengan segera dokter Ariel membawa Mita dan mamanya ke rumah sakit.
Dokter Ariel meminta kepada dokter Malik agar dia di ikut sertakan dalam menangani Mita. hati dokter Ariel seperti tercabik-cabik melihat kondisi Mita yang begitu mengenaskan, pipi yang lebam akibat tamparan yang dilayangkan oleh sang papa dan kening yang bocor akibat terbentur meja.
" Riel sebaiknya kamu tunggu saja disana, jika kamu memaksakan diri menangani pasien dengan kondisi kamu yang nampak tidak dalam keadaan baik-baik saja bisa mempersulit dalam penanganannya" ucap dokter Malik yang melihat kepanikan pada diri dokter Ariel.
" Apa dia kekasihmu ?" tanya dokter Malik dan dokter Ariel mengangguk pelan.
" Aku akan usahakan sebaik mungkin dan bantu kami dengan doa Riel, semoga dia akan baik-baik saja"
Dokter Malik memeriksa dan menangani kondisi Mita yang masih tidak sadarkan diri.
Dokter Malik keluar dari ruangan pemeriksaan.
Ceklekk
Pintu terbuka dan dokter Ariel langsung menghampiri dokter Malik.
" Bagaimana om kondisinya?" tanya dokter Ariel khawatir
" Pasien sangat lemah Riel, sepertinya selain fisik dia juga terkena tekanan batin yang sangat dalam" terang dokter Malik menjelaskan.
" Sebenarnya apa yang terjadi dengan pasien Riel, kenapa bisa seperti itu?" tanya dokter Malik
" Aku juga tidak tahu om!" lirih dokter Ariel.
" Saat aku menelponnya Mamanya yang mengangkat dan meminta tolong" jawab dokter Ariel.
" Sepertinya pasien mengalami kekerasan fisik dan juga batinnya. kamu harus ajak terus dia bicara Riel, kamu pasti tahu kondisi pasien yang koma, luka fisiknya mungkin masih bisa dengan cepat ia kembali sadar tapi jika di sertai dengan luka batinnya hanya waktu yang bisa menjawabnya. jadi teruslah yakinkan pasien untuk tetap semangat dan mau terus berjuang untuk sembuh" tutur Dokter Malik sebelum beranjak pergi.
Flashback off
" Sayang, kamu sudah berjanji akan menemaniku dan mau menjadi isteri ku setelah lulus. jika aku tahu akan seperti ini sudah dari awal saja aku menikahimu sayang. agar aku bisa menjaga kamu dan tidak membiarkan kamu terluka seperti ini!" ucap dokter Ariel yang masih setia duduk di samping Mita.
" Jangan hukum aku seperti ini sayang, cepatlah bangun!" ucap dokter Ariel dengan tangis yang sudah pecah.
Ceklekk
pintu ruangan Mita terbuka, Rosa masuk dengan langkah gontai. " Sayang!" panggil wanita paruh baya yang masih menggunakan pakaian pasien.
Rosa yang baru tersadar dari pingsannya ingin segera menemui putrinya namun karena kondisinya yang masih sangat lemah dokter melarangnya. setelah merasa sudah baikkan Rosa memohon kepada dokter untuk mengizinkan dirinya menemui Mita.
" Tante!" dokter Ariel segera beranjak dari duduknya dan menghampiri Rosa.
" Bagaimana keadaan Mita nak Ariel?" tanya Rosa
Dokter Ariel terdiam dan menatap sendu ke arah Mita.
" Mita koma Tante!" ucap dokter Ariel
Rosa terhuyung seakan kakinya tak mampu lagi menopang berat badannya saat mendengar ucapan dokter Ariel yang mengatakan jika Mita dalam keadaan koma.
Dokter Ariel membantu Rosa untuk duduk di kursi yang berada di samping brankar Mita
" Sebenarnya apa yang terjadi dengan Mita tante?" tanya dokter Ariel takut-takut.
__ADS_1
" Dokter Malik dokter yang menangani Mita mengatakan kalau luka fisiknya Mita tidaklah seberapa tapi luka hatinya lah yang sudah membuat Mita menjadi seperti ini?" dokter Ariel menghela nafasnya berat.
" Ini semua karena ulah papanya?" ucap Rosa dengan histeris.
" Apa maksudnya tante?" tanya dokter Ariel
" Tadi Andy papanya Mita datang ke rumah, awalnya sikapnya memang biasa saja. dia sengaja menunggu Mita pulang sekolah. dia bilang ingin bertemu dengan Mita dan ada hal yang ingin dia bicarakan dengan Mita. setelah Mita pulang dia mengatakan niat kedatangannya yang justru malah membuat putriku menjadi seperti ini.!" ucap Rosa lirih
" Apa yang terjadi tante?" tanya dokter Ariel yang semakin dibuat penasaran.
" Papanya datang hanya ingin mengatakan kalau dia sudah menjodohkan Mita dengan anak dari rekan bisnisnya." tutur Rosa menjelaskan.
" Meskipun Mita menolak, papanya tetap memaksa dan tidak peduli dengan penolakan Mita. tante tau bagaimana perasaan Mita. setelah kami dicampakkan bagaikan sampah dengan seenaknya saja dia datang lalu tiba-tiba memaksa Mita untuk menerima perjodohan itu bahkan Mita tidak diberi hak untuk menolak." Rosa menceritakannya sambil terisak.
Dokter Ariel yang mendengar cerita dari Rosa mengepalkan tangannya kuat, ia tidak menyangka ternyata di balik sikap Mita yang selalu menampakkan sikap dewasa, terlihat tangguh dan kuat ternyata hanyalah topeng belaka untuk menyembunyikan sisi hidupnya yang rapuh dan menyedihkan.
Dokter Ariel menatap lekat wajah pucat yang masih setia dengan tidurnya. ia mendekati brankar Mita menggenggam erat tangannya.
" Sayang, bangunlah! lihat mamamu, mamamu begitu sedih dengan keadaan mu yang seperti ini. rasanya begitu sakit sayang melihat mu berbaring lemah sementara aku tidak bisa berbuat apa-apa. aku memang seorang dokter yang tidak berguna, karena aku tidak bisa berbuat apa-apa disaat kau seperti ini. jika boleh biar saja aku yang menggantikan mu sayang, aku tidak sanggup melihat mu menderita seperti ini!" dokter Ariel tak kuasa menahan air matanya, Rosa yang melihat dokter Ariel menangisi putrinya sedikit terkejut pasalnya dia tidak tahu kenapa dokter Ariel bisa menangisi putrinya sampai seperti itu.
Rosa menghampiri dokter Ariel yang tubuhnya masih nampak bergetar. Rosa mengusap punggung dokter Ariel untuk menenangkannya.
" Nak Ariel kenapa nak Ariel menangis, apa kalian" Rosa menggantungkan kalimatnya.
" Sebenarnya Aku berencana Ingin menikahi Mita setelah lulus sekolah tante, dan Mita pun sudah menyetujuinya. Aku sangat mencintainya tante, Mita adalah satu-satunya wanita yang bisa membuat dunia ku terbuka dan lebih mengerti banyak hal. Mita sudah melakukan banyak hal dalam hidupku tante, dia yang merubahku untuk lebih mengenal diriku sendiri, dia juga yang membuatku kuat melewati hari-hari ku yang berat tanpanya aku tidak tahu bagaimana jadinya!" dokter Ariel sesekali menyeka air matanya yang masih saja mengalir tanpa permisi.
" Mita tidak pernah cerita apa-apa sama tante, kalau ternyata kalian punya hubungan andai tante tahu mungkin tante memilih menikahkan kalian dengan segera. Tante tidak mau papanya Mita kembali memaksakan kehendaknya." Rosa menghempas tubuhnya di kursi yang tadi diduduki oleh dokter Ariel,
" Tante!" panggil dokter Ariel yang merasa tidak enak sudah memacari putrinya tanpa seizin mamanya.
" Jangan panggil tante, panggil Mama saja. mama merestui kalian dan semoga Mita akan segera sadar." pinta Rosa lalu meraih tangan Mita dan mengusapnya dengan lembut.
" Mama percaya kamu adalah putri mama yang kuat sayang.!" ucap Rosa lirih.
" Tan.. maaf mah, aku harus pergi sekarang ada panggilan darurat, titip Mita ya mah. jika ada apa-apa tolong kabari aku mah!" pinta dokter Ariel yang terpaksa harus pergi meninggalkan Mita karena tugas yang tidak bisa ia tinggalkan.
Rosa mengaguk " Pergilah nak Ariel, mama akan menjaga Mita disini" Dokter Ariel mengangguk lalu beranjak pergi meninggalkan ruangan Mita. walaupun sebenarnya berat rasanya meninggalkan Mita di saat seperti ini namun kewajibannya sebagai seorang dokter tetaplah penting.
...🖤🖤...
Lia menghela napas panjang saat teringat dengan ucapan para sahabatnya, terlebih saat ia kembali teringat tentang Rangga.
" Kenapa gue jadi bete gini sih?" Gumam Lia
Lia merebahkan dirinya di atas kasur dengan pandangan ke arah langit-langit tempat tidur.
Tring
sebuah pesan masuk ke ponsel milik Lia.
📥 MY Io
" Kangen"
📥My Lily
" Masa?""
📥 My Io
📥 My Lily
"Gombal"
📥 My Io
" Kalau gak percaya, keluar aja liat ke bawah!"
Lily beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan menuju balkon kamarnya, mata Lily tertuju keluar gerbang dan melihat seseorang yang tengah duduk di atas motor sambil melambaikan tangannya.
Tutt
Tutt
Ponsel Lia berdering rupanya sang pangeran tengah menghubunginya.
📲 My Lily
" Hallo!"
📲 My Io
" Bagaimana, percaya?"
📲 My Lily
" Gak!" Lia tersenyum tipis
📲 My Io
" Gak kangen?"
📲 My Lily
" Enggak !"
📲 My Io
" Aku pulang"
📲 My Lily
" Enggak!"
📲 My Io
" Enggak boleh pulang nih, katanya gak kangen?" goda Mario
📲 My Lily
" Apa sih?"
__ADS_1
📲 My Io
" Hee he..."
" Yang jalan yuk, kangen nih!"
📲 My Lily
" Jalan kemana?"
📲 My Io
" Ya kemana, aja asal sama kamu ke KUA juga boleh!"
📲 My Lily
" Apa si ih, garing tau!"
" Ini anak ya kalau disekolah bisa di bilang 180 derajat bedanya!" batin Lia
📲 My Io
"Yang kok diam sih, lagi mikirin kita beneran ke KUA ya yang?"
📲 My Lily
" Iooo... ih nyebelin banget sih!"
📲 My Io
" Nyebelin apa ngangenin?"
📲 My Lily
" Gak tau ah!"
" Ya udah aku siap-siap sekarang, kamu masuk aja dulu sekalian pamit ya sama papa mama!"
📲 My Io
" Iya siap, jangan kan pamit ngajak kamu jalan, pamit buat ngajak kamu ke KUA sekarang aku juga berani"
📲 My Lily
" Mulai deh, udah ah cepat masuk!"
📲 My Io
" Iya, gak sabaran banget sih yang kangen sama aku!"
📲 My Lily
"Terserah!"
Lia memutuskan sambungan teleponnya dan bergegas untuk bersiap-siap. sementara Mario sudah berada di ruang tamu tengah bersama papa Sam dan mama Maria.
" Bagaimana kabar papa mu Rio?" tanya papa Sam saat berbincang dengan Mario
" Alhamdulillah baik om!" jawab Rio sopan.
" Apa perusahaan papamu berjalan lancar?"
" Iya om, semenjak kejadian tempo lalu, yang diakibatkan oleh kesalahan saya, papa mulai bersikap keras terhadap saya dan meminta saya untuk belajar membantu mengelola perusahaan papa dan semua itu juga tidak lepas dari bantuan om tentunya!" sahut Mario.
" Baguslah kalau kamu sudah berubah Rio, di usiamu yang masih sangat muda memang sayang jika digunakan untuk hal-hal yang tidak berguna. Keputusan papamu yang meminta kamu belajar bisnis dari muda sangatlah tepat. dengan begitu kelak kau bisa menjadi pengusaha yang sukses!" ucap papa Sam menepuk bahu Mario menyemangati.
" Amin. Terima kasih om!" ucap Mario
" Nak Mario!" panggil mama Maria
" Iya tante" sahut Mario sopan
" Apa kamu serius berpacaran dengan anak tante Meli?"
" Emm.. saya serius tante, saya tidak mau bermain-main lagi, buat saya Lia sudah memberikan saya banyak sekali energi positif. semua yang saya inginkan ada pada Lily, semoga saja Lily yang kelak menjadi jodoh saya dan mendampingi saya seperti om dan tante yang tetap harmonis walaupun sudah seumur sekarang!" jawab Mario dengan lantang.
" Kamu ini bisa saja, tapi kamu bilang apa tadi, Lily?" mama Maria mengerutkan keningnya
" Maaf om tante, maksud saya Meliani. tapi saya memanggilnya Lily" Mario menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil cengengesan.
" Oh Ceritanya panggilan kesayangan pah!" mama Maria tertawa dan menoleh ke papa Sam yang juga ikutan tertawa.
Papa kira malah nama wanita lain?" goda papa Sam. " Atau memang benar ya Lily itu cewek kamu yang lain, kamu salah sebut?" tanya papa Sam curiga.
" Gaklah om, buat saya Lily maksud saya Meli sudah lebih dari segalanya. mendapatkan gadis seperti putri om dan tante yang cantik dan pintar dalam segala hal adalah suatu yang sangatlah istimewa." jawab Mario dengan lantang dan penuh semangat.
" Kamu bisa saja Rio memuji Meli sampai seperti itu, jika dia dengar bisa besar kepala anak itu!" ucap mama Maria terkekeh.
" Baguslah kalau kamu menyadari kalau putriku itu sesuatu yang sangat berharga, jadi jangan macam-macam dengan putri kesayangan ku itu. jika kamu berani menyakitinya kamu tau akibatnya!" ancam papa Sam.
" Papa!" mama Maria mengusap lengan papa Sam.
" Iya om saya janji, saya tidak akan menyakiti Lily om maksud saya Meli" semakin banyak perbincangan Mario semakin nampak gerogi dan salah tingkah.
" Jika kamu memang ada niatan untuk serius dengan putriku maka dari sekarang panggil aku papa jangan om lagi. nanti aku akan membicarakan tentang kalian pada orang tuamu" ucap papa Sam dan membuat Mario tercengang.
" Om se... se... serius?" tanya Mario terbata-bata
" Om?" ulang papa Sam
" Pa.. papa serius?" tanya Mario kembali dengan degup jantung yang sudah tidak karuan.
" Papa serius, bagaimana ma?" papa Sam menoleh ke mama Maria.
" Kalau mama sih setuju saja pa, asalkan Rio sungguh-sungguh dan tidak menyakiti putri kita, apalagi sampai mempermainkannya!" seru mama Maria.
" Iya ma, insyaallah saya akan melakukan yang terbaik untuk Lily dan akan selalu menjaganya dengan baik" jawab Mario dengan percaya diri.
" Baguslah, jangan mengecewakan kepercayaan mama dan papa Rio!" tegas papa Sam.
" Iya pa!" jawab Mario
__ADS_1
Kenapa papa dan mama Sam merestui Mario dengan putri kesayangannya, itu karena Mario sekarang sudah banyak berubah selain itu Mario juga sudah dua kali menolong keluarga Dinata. Pertama saat Zaira menantu keluarga Dinata yang di culik oleh Putri dan kedua temannya Rara dan Angel dan yang kedua saat Lia di culik oleh Rara yang ingin membalas dendam.