
Adam mengamati sekeliling ruang latihan judo, terlihat beberapa teman-teman clubnya terbaring di lantai karena latihan berat yang baru saja mereka hadapi. Tak luput, Adam juga terlihat sibuk dengan luka-luka yang baru saja mereka dapatkan.
“baiklah latihan kita akhiri sampai sekarang, sekarang pulang dan istirahat” ujar Adam selaku ketua club, karena pelatih mereka tidak datang hari ini mereka memilih latih tanding.
Mereka semua bubar dan menuju loker ruang ganti untuk berganti baju.
“setelah ini mau kemana dam?” tanya Bian yang letak lokernya tepat di sebelah Adam, walau pun bian itu tegas dan kaku namun justru Bian lah yang paling mengerti dengan teman-temannya, karena Bian itu teliti.
“pulang”
“apa tubuhmu baik-baik saja, kau sudah merasa lebih baik?” tanyanya lagi dengan suara yang lebih di pelan, berharap agar anggota yang lain tidak mendengar percakapan mereka.
“aish kau ini, sejak kapan kau jadi sebaik ini? Tenang aku baik-baik saja kok hehe” jawab Adam dengan senyum lima jari andalannya.
“jangan menyimpannya sendiri, atau aku akan membunuhmu sebelum kau mati”
“sudah ku duga mulutmu itu pedas, tidak ada yang bisa ku harapkan dari mulut pedas mu itu” desis Adam, spontan Bian meliriknya dengan tajam. “baik-baik, aku tahu jadi berhenti menatapku begitu, nanti kau suka padaku” Bian memutar bola matanya malas mendengar ucapan Adam yang diiringi nada menggoda yang menjijikkan.
Setelah Bian dan semuanya pergi, kini hanya ada Adam seorang diri di ruangan yang beberapa lampunya sudah di matikan itu. Tangannya menyentuh luka yang di sudah di balut perban di perut kanannya.
“aku baik-baik saja, sungguh! Jadi jangan cemaskan aku, aku baik-baik saja, pergilah, mereka menunggumu di surga” ucapnya dengan nada pasrah dan sangat lembut.
Tidak ada seorang pun di sana selain dirinya sendiri. Namun bagi adam bayangan seorang laki-laki paruh baya terlihat melihatnya dengan senyuman hangatnya.
BRAK
Adam meninju pintu lokernya dan menunduk. “aku baik-baik saja, sungguh. Aku bukan anak kecil lagi, aku baik-baik saja sungguh”
Di tempat lain.
Ivy melihat Zena yang tertidur pulas di brankarnya dengan pandangan sayu dan penuh harap.
Beberapa jam lalu Ivy mendapat panggilan yang memberi tahu kalau kondisi sahabatnya itu sedang tidak stabil, dengan susah payah Ivy mendapat ijin dari Juan untuk pergi ke rumah sakit. Tentu saja dengan berbohong, kalau ada tugas yang harus ia kerjakan hari ini.
Ivy menggenggam jari sahabatnya dengan hangat dan mengelus pucuk kepala Zena lembut. “kau tau, kita sudah melewati banyak hal bersama, susah, senang. Kau yang membantuku hidup, jadi aku mohon hiduplah untuk hidupmu juga. Aku akan menjagamu dengan seluruh kemampuanku, aku akan jadi gadis baik. Aku janji”
“apa kau mengingat Adam? Seseorang yang ikut menjenguk mu beberapa hari lalu, dia tampan dan baik kan? dia membuatmu tertawa lepas. Dia sangat baik padaku, teman-temannya juga. Jika kau bertemu dengan mereka pasti kau sangat senang. Jadi ku mohon, bertahanlah”
Arvin melihat dua gadis yang sudah ia kenal selama dua tahun itu dari jendela kaca besar yang menghubungkan ruangan luar dengan ruang di dalamnya sekaligus untuk mempermudah pengawasan.
Salah satu gadis itu adalah kekasihnya, yang berbaring lemah di brankar. Lagi-lagi air matanya turun.
Bagaimana perasaan kalian jika kalian tahu seseorang yang kalian cintai akan mati tak lama lagi? Sakit bukan?
Arvin memasuki ruangan itu dan menyelimuti tubuh Ivy yang tertidur dengan selimut. Seulas senyum terlihat di wajahnya yang tampan. Mengusap pucuk kepala Ivy lembut.
“dia berharap banyak padamu”
.
.
.
“kau sudah bangun? Mau minum, sikat gigi atau makan dulu?”, Zena melirik jam yang berada di ruangannya sekilas.
“kau tidak sekolah? kenapa kau di sini?”
__ADS_1
“waah kau menghancurkan mood ku. Mulai sekarang aku akan menjagamu 24 jam, oke?”
“tidak! Kau harus sekolah”
“tidak! Aku akan menjagamu di sini titik” mulai muncul, sikap manja Ivy yang hanya ia perlihatkan pada Zena.
“baiklah adik kecil” Zena mengacak-acak rambut Ivy gemas.
“apanya yang adik kecil, kita hanya beda beberapa tahun saja ya”
“selamat pagi”
“waah dokter Arvin, selamat pagi dok” sapa Ivy dengan penuh semangat. Arvin mulai mengecek alat-alat medis yang melekat pada tubuh Zena, memastikan kalau tidak ada yang salah.
Sesekali mereka juga mengobrol dan bercanda, seolah Ivy tidak ada di sana. Ivy menjadi obat nyamuk.
“ enak ya, punya pacar tiap hari ketemu kayak gini. Hello? Di sini ada orang lo, kalian jangan buat Ivy sakit hati ya.” Protesnya, sedangkan Arvin dan Zena hanya tertawa pelan.
“makannya buruan cari pacar, kalo kamu di sini siapa juga yang repot? Saya kan? jadinya gak bisa berduaan. Kalo kamu ada pacar kan kita sama-sama enak, tidak ada yang menjadi kacang” jawab Arvin dengan nada mengejek.
“ish, dasar dokter menyebalkan” “asal kalian tahu kalau aku akan menikah lebih dulu di banding kalian” batin Ivy. Sebenarnya Ivy senang, sangat senang melihat ada orang lain yang Zena sayangi selain dirinya. Setidaknya Ivy bisa menjadi lebih tenang.
.
.
.
Di kelas
“Ivy Alecia Burnett”
“Ivy Alecia Burnett” ulang Juan, tapi sang pemilik nama tidak menyahut panggilannya.
“maaf pak, Ivy belum datang” ucap Nina takut, entah kenapa suasana kelas jadi horror setelah itu.
“oke akan saya tulis alpha, kalian semua tahu kan saya benar-benar tidak suka ada yang bolos di kelas saya. Atau kalian akan terima akibatnya”
Glek.
Semua siswa sepertinya sedang kesusahan menelan ludah mereka sendiri. Mereka jadi teringat kejadian seminggu yang lalu di mana Zidan membolos dan hukumannya benar-benar kejam.
“dan saya tidak akan membedakan antara laki-laki atau pun perempuan”
Seketika itu Nina terus berdoa agar temannya itu di beri jalan hidup yang baik dan di selamatkan dari amukan Beruang Kutub (julukan kelasnya untuk Juan).
.
.
Di kantin Nina terlihat lesu dan menaruh kepalanya di meja, tidak nafsu makan dengan makanan yang sudah ia pesan. Jio yang melihat pacarnya yang cerewet menjadi diam akhirnya ikut merasakan suasana yang aneh.
Dia hanya mengelus-elus kepala kekasihnya saja, berkali-kali Jio bertanya tapi Nina hanya diam melamun.
“kenapa tuh?” bisik Adam sambil menunjuk Nina dengan dagunya.
“nggak tau juga, tiba-tiba diem gitu. Lagi pms kali ya, sayang banget makanannya gak di makan. Entar nasinya nangis” jawab Tony yang masih setia dengan keripik kentangnya.
__ADS_1
Jio juga angkat bahu tanda kalau dia juga tidak tahu.
“oh iya, Ivy kemana kok ngga keliatan”
“NAH ITU DIA MASALAHNYA”
“bikin kaget aja, senam jantung juga nih lama-lama” Adam, Toni, dan Jio mengelus-elus dada mereka karena Nina Yang tiba-tiba teriak dan membuat seisi kantin langsung memelototi mereka.
Sedangkan Bian maish stay cool dengan makanannya.
“kenapa nin? Jangan tiba-tiba teriak, bikin kaget aja”
“itu dia masalahnya. Ivy bolos hari ini dan tadi ada kelasnya pak Juan. Kalian tahu kan Zidan, siswa yang tiba-tiba pindah sekolah setelah di hukum pak Juan? Dan juga mood pak Juan hari ini kayaknya juga sedang jelek banget. Bisa-bisannya dia ngasih tugas ngga tanggung-tanggung.”
“ah, pria yang membersihkan seluruh toilet dan gudang sekolah seminggu yang lalu ya, gila sih. Pak Juan serem, untung kita IPA jadi ngga di ajar si guru galak”
“sudah coba kamu hubungi? Tenang aja nanti aku bantu kerjainnya”
“sudah tapi ponselnya mati, gimana dong”
“JI! Apa kau lupa kalau kau itu bodohnya kelewatan?” Bian angkat bicara. Dengan bodohnya juga Jio hanya menjawab dengan ekspresi wajahnya yang seolah berkata ‘oh iya juga ya’
“bolos ya, sepertinya aku tahu dia di mana, jangan khawatir Ivy pasti baik-baik aja kok. Sekarang makan! Kita (Bian,Tony dan Adam) ngga mau kalau kau jadi tambah kerempeng. Jadi takut nanti keturunan kalian jadinya kek biji lidi”
Bian dan Toni mangut-mangut.
“dasar mulut tetangga emang pedes. Nih nin buruan makan aku suapin kalau perlu tambah sekalian, aku gak mau nanti anak kita juga kayak biji lidi”
“emang yang nikah siapa? anak siapa? aku nggak hamil Jio”
“udah pokoknya makan aja, nih aaaaaaaa” menyuapi nasi goreng ke mulut Nina.
“sialan ke uwuan macam apa ini”desis Adam, ya lebih tepatnya dia iri.
“bolos ya?” batin Adam.
.
.
.
“kenapa Jo, lesu banget” tanya Rio karena melihat Juan terlihat tidak tenang setelah mengajar.
“oh, apa? Tidak ada apa-apa. Mau telfon dulu bentar”
Tuuuuut,tuuuuut,tuuuuut
“nomor yang anda hubungi sedang tidak aktiv atau berada di luar jangkauan”
“nomor yang anda hubungi sedang tidak aktiv atau berada di luar,,,”
BRAK
Juan membanting ponselnya, bisa-bisannya hanya karena seorang gadis pikirannya menjadi kalut dan kemana-mana. Juan juga tidak tahu Ivy pergi ke mana, karena gadis itu terlalu tertutup dan juga Juan tidak bisa terus memata-matai Ivy karena itu terlalu melanggar privasi seseorang.
“bisa-bisannya kau membuatku seperti ini”
__ADS_1