Guruku Suamiku

Guruku Suamiku
Season 2 Khanza


__ADS_3

" Kalian sudah bersekongkol buat bohongin saya?" tanya Aldy dengan aura dingin sedingin es balok


Ketiga sahabat Khanza hanya bisa menundukkan kepalanya menatap ke arah sepatunya yang bergerak-gerak enggak jelas dibawah sana


Gugup, salah tingkah dan hati yang menciut karena takut kena amuk si guru jutek namun lembek menurut khanza itulah yang dirasakan ketiganya saat tatapan tajam sang guru satu persatu menatap ke arah mereka.


" Sebaiknya kalian pulang aja duluan, sorry gue enggak jadi ikut kalian ya!" ucap Khanza yang tahu situasi ini cukup menyudutkan ketiga sahabatnya itu.


" Siapa yang membolehkan mereka pergi?" Aldy melipat kedua tangannya di depan dada.


" Pergilah" Khanza tidak menghiraukan ucapan suaminya biarlah dibilang isteri yang durhakim dari pada membuat para sahabatnya merasa tidak nyaman.


" Tapi Za_?" Miska merasa bersalah dan juga serba salah


" Sudah enggak apa-apa, kalian pulang saja, maaf ya sudah ngerepotin kalian!" ucap Khanza


" Iya Za, tapi loe_!" Miska kembali menjeda ucapannya


" Gue enggak apa-apa udah sana!" usir Khanza secara halus.


" Kalian enggak boleh pergi gitu aja!" Aldy kembali angkat bicara


"Biarkan mereka pergi, ini urusan kita berdua mereka hanya membantuku untuk mengusir ketidakberdayaan seorang suami mengusir rubah betina!" sindir Khanza membuat Aldy bungkam


Saat ini keduanya tengah berada di dalam mobil, tidak ada obrolan mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing sampai akhirnya mobil sampai di depan apartemen.


Khanza turun lebih dulu sementara Aldy memarkirkan mobilnya.


Aldy membuka pintu apartemennya dan tidak menemukan keberadaan Khanza, Aldy langsung masuk ke dalam kamar dan Khanza pun tidak terlihat disana.


Aldy mendengus kesal karena lagi-lagi rumah tangganya di liputi hawa dingin kembali.


Aldy kembali keluar kamar dan bersamaan dengan Khanza yang baru datang dari arah dapur.


Khanza masuk ke dalam kamar melewati Aldy begitu saja membuat Aldy kesal lalu menarik tangan Khanza.


" Kita perlu bicara"


" Mas mau membicarakan tentang kejadian tadi di sekolah? tentang wanita itu?" Khanza dengan kasar menghentakkan tangannya yang dipegang oleh Aldy


" Kenapa mereka bohong dan mengatakan kalau kamu pingsan?" tanya Aldy


" Apa kamu tahu betapa panik dan khawatirnya aku saat temanmu bilang kamu pingsan dan di bawa ke ruang UKS?" Khanza tertunduk kali ini ia mengaku bersalah


" Maaf!" cicitnya pelan


Aldy mengusap wajahnya kasar " Aku sudah berusaha untuk tidak menghiraukan dia lagi dan tidak ingin berhubungan dengannya lagi. aku tahu kamu pasti akan marah jika melihat dia menemui ku lagi dan kemunculannya di sekolah pun membuat aku bingung harus bersikap bagaimana. aku takut dia berulah dan berbuat nekat mengatakan hal yang tidak-tidak tentang kamu sayang" tutur Aldy


" Justru karena hal itu aku dan teman-teman ku berbohong karena dengan cara itu mas pasti akan pergi meninggalkan wanita itu walaupun pada awalnya aku tidak terlalu yakin" Khanza berubah sendu


" Bodoh, tentu saja aku pasti mencarimu, jantung ku seakan berhenti berdetak saat kamu dibilang pingsan. aku sangat khawatir sayang!" ucap Aldy menarik Khanza kedalam pelukannya.


"Tapi aku lebih khawatir mas" ucap Khanza dalam pelukan Aldy yang langsung mengurai pelukannya dan menatap manik mata Khanza yang sudah berembun.


" Khawatir apa?" tanya Aldy menautkan kedua alisnya


" Aku takut mas tidak bisa bersikap tegas dengan wanita itu dan kembali termakan omongannya. mas tidak tahu saja wanita itu penuh dengan kelicikan" ketus Khanza


" Jangan berpikiran seperti itu bagaimana pun dia itu isteri dari adiknya mas" ucap Aldy membuat Khanza kembali meradang

__ADS_1


" Bela saja dia terus mas" Khanza mendorong dada Aldy cukup kuat hingga membuat Aldy terdorong ke belakang


" Mas tidak membelanya sayang, jangan marah gitu dong sayang!" Aldy mengekor Khanza yang berjalan menuju ranjangnya.


" Mas tidak membelanya? lalu yang tadi apa namanya?" kesal Khanza


" Aku tahu mas dia itu adik ipar kamu tapi apa pantas seorang adik ipar bersikap demikian. mengejar kakak iparnya sendiri disaat hamil pula. apa dia tidak mikir?" geram Khanza


" Kamu benar-benar tidak tahu apa-apa ya mas tentang adik iparmu itu? atau jangan-jangan kamu memang nyaman bersama dia ya mas sampai kamu menutup mata dan telinga tentang sikap amoral wanita rubah betina itu?" Aldy mengerutkan keningnya merasa bingung dengan ucapan Khanza.


" Apa yang kamu bicarakan sayang, menutup mata dan telinga apa?" Aldy dibuat semakin bingung dengan apa yang Khanza utarakan.


" Kamu seharusnya cari tahu apakah bayi yang dikandung wanita itu benar-benar anak dari Toni adikmu atau_!" Khanza menjeda ucapannya membuat Aldy melotot tidak percaya kalau Khanza bisa berpikir sampai sejauh itu.


" Apa kamu menuduhku?" tanya Aldy


" Apa kamu tidak mempercayai suamimu ini?" Khanza mengerutkan keningnya


" Aku berani bersumpah sayang aku tidak pernah menyentuh wanita lain selain kamu isteriku Khanza Az-Zahra" ucap Aldy dengan lantang dan serius membuat Khanza mengulum senyumnya.


" Kenapa malah tersenyum?" tanya Aldy


" Kenapa mas bicara seperti itu, apa aku mengatakan kalau anak itu anak mas?"


Aldy terdiam dan menatap Khanza lekat. " Aku hanya takut kamu yang termakan oleh ucapannya" Khanza menautkan alisnya


" Aku tidak semudah itu percaya dengan sesuatu yang tanpa ada bukti apapun, kecuali wanita itu memberikan bukti kalau mas dan dia_" Khanza tidak melanjutkan kata-katanya


" Kalau mas dan dia apa, Hem?"


" Meskipun dulu mas pernah bersamanya menggantikan Toni menjaga dan menemaninya di masa-masa sulit kehamilannya tapi mas bersumpah sekalipun mas tidak pernah menyentuhnya. mas masih tahu batasan mas apa lagi tidak ada sedikitpun rasa suka antara mas terhadapnya. murni mas menolongnya karena mas hanya kasihan dengan anak yang dikandungnya. walau bagaimanapun anak itu keponakan mas" lanjutnya lagi Khanza hanya diam menyimak


" Sudahlah mas juga capek jika kita harus membahasnya terus setiap hari" Aldy mengusap pipi Khanza lembut


" Aku takut mas tidak bisa menolak keinginannya lagi dan berujung rasa sakit yang mas berikan ke aku mas"


" Ya ampun sayang maafkan mas ya kalau selama ini mas sudah berkali-kali menyakiti hati kamu, sungguh mas tidak bermaksud seperti itu sayang. mas hanya kasihan sama dia karena dia sedang mengandung keponakan mas, itu saja tidak ada maksud lain sayang" Khanza menatap manik mata Aldy mencari kebohongan namun ia melihat kejujuran disana.


" Baiklah mas, aku percaya tapi jika wanita rubah itu datang lagi mengganggu mas dan mas tidak bisa mengatasinya mas beritahu aku segera, karena yang harus ia hadapi sekarang aku mas isteri sah mas."Tegas Khanza


" Dan satu lagi sebaiknya adik mas cari tahu apakah benar anak yang dikandungnya adalah bayinya atau justru bayi orang lain!"


" Astaghfirullah sayang kamu masih tidak percaya sama mas?" Khanza menahan tawanya


" Mas ku sayang kapan aku bilang tidak percaya sama mas"


" Itu tadi barusan kenapa kamu selalu bilang adik mas harus mencari tahu bayi itu bayinya atau bukan?"


" Mas untuk saat ini aku masih percaya sama mas ya"


" Kalau soal mencari tahu tentang anak itu karena aku dan teman-teman aku sudah berkali-kali memergokinya keluar masuk hotel Xx bersama laki-laki yang berbeda-beda"


" Apa, hotel?" Khanza mengangguk


" Aku tidak yakin jika anak yang dikandungnya adalah keponakan mas apalagi sikapnya yang seperti itu" Aldy terdiam meruntuki kebodohannya karena tidak tahu apa-apa tentang adik iparnya itu.


Khanza meraih benda pipih yang ada di atas nakas lalu memperlihatkan foto dan video yang Miska kirimkan beberapa hari yang lalu


" Mas lihat aja sendiri, takut aku dibilang fitnah" ucap Khanza menyodorkan ponselnya kepada Aldy

__ADS_1


Betapa terkejutnya Aldy melihat foto dan video yang ada di ponsel Khanza.


" Sebenarnya ada yang lebih dari itu mas tapi aku merasa jijik melihatnya jadi aku hapus" tutur Khanza menjelaskan


" Semua ini kamu dapat dari mana?" tanya Aldy


" Itu dari hasil pengintaian aku dan teman-teman beberapa hari yang lalu. Sewaktu di mall aku melihatnya bersama pria yang aku tahu itu bukan adik mas lalu kami penasaran karena mereka begitu mesra"


" Kami terkejut karena mereka masuk ke dalam hotel dan beruntungnya mereka masuk ke dalam hotel milik papanya Miska, dan dengan cepat Miska langsung menghubungi salah satu pegawai hotel disana dan benar saja mereka booking kamar" Aldy terdiam merasa di bohongi


" Ternyata selain pintar disekolah kamu juga pandai ya menjadi detektif" ucap Aldy yang seketika merasa bersyukur memiliki isteri secerdas dan sehebat Khanza.


" Jangan terlalu berlebihan memuji nanti aku bisa terbang dan sulit mas gapai"


" Mas akan ikat dengan kuat jika terbang tinggal mas tarik" sahut Aldy


" Mana bisa seperti itu!"


" Bisa saja, untuk isteri mas apa pun akan mas lakukan"


" Gak caya"


" Benar sayang" Aldy mencubit gemas hidung Khanza


" Ih mas sakit tahu" ucap Khanza seraya mengerucutkan bibirnya


Aldy tersenyum lalu mengacak-acak rambut Khanza " Terima kasih ya sayang!" Khanza yang hendak berkomentar karena rambutnya diacak-acak langsung mendongak menatap manik mata suaminya


" Terima kasih untuk apa mas?"


" Terima kasih karena kamu sudah memberitahu mas tentang kelakuan buruk wanita itu. mas memang bodoh karena wanita itu mas malah sering kali menyakiti hati kamu. maafkan mas !" Khanza tersenyum tipis lalu mengusap pipi Aldy lembut


" Sudahlah mas, kita tidak usah membahas dia lagi" Khanza hendak beranjak dari duduknya


" Mau kemana?"


" Mau mandi mas gerah" Aldy tersenyum seraya menaik turunkan alisnya


" Kenapa liatinnya kayak gitu?" Khanza memincingkan matanya


" Bareng ya?" rengeknya manja


" Ih .. pak guru alay"


" Biarin, mas kangen sayang beberapa hari dianggurin" Aldy bergelayut manja di lengan Khanza


" Siapa yang suruh lebih mementingkan_!" belum selesai bicara Aldy sudah beranjak dari duduknya dan langsung mengangkat tubuh Khanza ala bridal style


" Mas!" pekik Khanza yang terkejut dengan tingkah suami omesnya.


" Tidak usah bahas itu lagi waktunya mas menangih janji kamu yang pernah mengajak mas bikin dedek!" mata Khanza membulat sempurna mendengar kata bikin dedek


" Mas Za masih sekolah ya awas aja kalau kebobolan!"


" Kebobolan juga tidak mengapa saya, sebentar lagi juga kamu lulus"


" Aku masih mau kuliah mas!"


" Hamil masih bisa kuliah sayang!"

__ADS_1


" Mas!" Aldy tidak menggubris ucapan Khanza dengan semangat 45 Aldy membawa Khanza kedalam kamar mandi.


Khanza mendengus kesal karena mandinya yang ingin merasakan kesejukan air untuk mengurangi rasa gerah ditubuhnya seharian di luar rumah malah dibuat semakin gerah dan panas oleh ulah pak Gutaminya.


__ADS_2