
" A... aku hamil?" Khanza perlahan menundukkan pandangannya menatap perutnya yang masih rata lalu mengelusnya.
Tiba-tiba saja dadanya bergemuruh dan tangisnya pun pecah seketika membuat Aldy panik dan menarik Khanza ke dalam pelukannya.
" Aku tidak mau hamil.... aku tidak mau... aku tidak mau hamil mas!" teriak Khanza dengan air mata yang sudah mengalir dengan derasnya
" Sayang, tenangkan dulu dirimu!" pinta Aldy yang dibuat panik
" Jika aku hamil bagaimana dengan sekolah ku mas, kuliahku masa depan ku, cita-cita ku?" tanya khanza dengan nada yang meninggi setelah mengurai pelukan suaminya
" Kamu masih bisa melakukan itu semua sayang, kehamilan mu tidak akan menghalangi sekolah mu, apalagi hanya tinggal beberapa bulan saja. kamu masih bisa kuliah dan menggapai cita-cita kamu sayang, mas yakin kamu bisa melewatinya dengan baik" bujuk Aldy dengan lembut.
" Tapi kenapa harus sekarang mas, kenapa ? Za masih sekolah mas, bagaimana tanggapan orang-orang nanti jika tahu Za hamil, Za enggak mau mas mereka pasti akan mencibir dan menghina Za?" ucap Khanza di sela isak tangisnya
" Sayang kamu tidak boleh berbicara seperti itu, istighfar sayang, anak adalah titipan yang Allah percayakan kepada kita berdua, diluaran sana bahkan banyak pasangan suami istri yang menunggu puluhan tahun dan melakukan berbagai macam cara untuk mendapatkan anak. tapi jika Allah belum mempercayakan kepada mereka tidak mudah untuk mereka memperoleh keturunan." Aldy menghapus air mata Khanza dengan ibu jarinya
" Kita yang baru menikah beberapa bulan tapi dengan cepat Allah sudah mempercayakan kita dengan menitipkan calon bayi yang kini tengah berkembang di dalam rahim kamu sayang, kita seharusnya bersyukur sayang ini adalah hadiah terindah untuk kita sebagai pasangan suami istri."
" Jangan takut sayang, kita lewati semuanya sama-sama ya, maukan, hem?" Aldy berusaha berbicara dengan nada selembut mungkin agar Khanza tidak salah paham dan berujung marah.
" Tentang sekolah dan juga cita-cita kamu, mas pasti mendukung semua yang menjadi impian kamu, mas tidak akan membatasi ruang gerak kamu asal kamu juga bisa membagi waktu. sebisanya mas pasti akan membantu kamu" tutur Aldy meyakinkan Khanza
" Tapi mas_"
" Kamu jangan pikirkan yang macam-macam dulu sayang, kamu tidak boleh stress karena semua itu bisa berpengaruh terhadap calon bayi kita nantinya."
Khanza mengelus perutnya yang rata dan lagi-lagi buliran bening meluncur begitu saja.
" Maafkan Za mas!" ucap Khanza lirih
" Tidak apa-apa sayang, mas mengerti dan mas paham dengan kondisi kamu saat ini, status kamu yang masih pelajar menjadi salah satu faktornya untung sudah halal jadi aman" kekeh Aldy
" Kamu itu gadis eh di ralat mantan gadis dan calon ibu yang kuat dan hebat, mas yakin kamu pasti bisa melewati semua ini dengan baik, seandainya mas yang jadi kamu mungkin respon mas bisa lebih dari kamu kali sayang. tapi karena kamu ini wanita yang hebat mas percaya kamu pasti bisa melewati semua ini dengan senyuman termanis yang isteri mas miliki" selorohnya dengan seulas senyum diwajahnya
" Mas ih!" kesal Khanza memukul lengan Aldy dengan wajah yang memberengut
"Sayang ,mulai sekarang apapun yang terjadi pada kita, sebaiknya kita hadapi semuanya bersama-sama ya, jika ada apa-apa jangan dipendam sendiri, ceritakan apa yang menjadi keluhan kamu, begitu juga dengan mas nantinya agar kita bisa memperbaikinya bersama dan kita juga bisa belajar untuk menjadi calon ayah dan bunda yang baik untuk anak kita kelak" Khanza mengangguk lalu berhambur memeluk Aldy
" Tapi Za takut mas, bagaimana jika pihak sekolah tahu kalau Za hamil, Za pasti akan dikeluarkan dan tidak bisa ikut ujian?" lirihnya
" Mas rasa sampai Ujian akhir nanti perut kamu masih bisa disamarkan" jawab Aldy
" Caranya?"
" Pakai switer kalau tidak baju kamu nanti mas belikan yang sedikit lebih besar agar lebih longgar dan menyamarkan" jawab Aldy
" Tapi mas bagaimana bila akhirnya ketahuan juga?"
" Mas akan bicarakan ini dengan papa Sam, mas akan meminta sarannya, apalagi dulu mama dan papa bilang sekolah mu tidak akan bermasalah karena putri dan menantu mereka pun bisa menjalaninya dengan lancar bukan?."
Khanza mengangguk
" Alzaira dan Meliani juga mengalami hal yang sama bukan, dan kamu lihat mereka sekarang bisa melewati semuanya dengan baik ?" Khanza mengangguk kembali
" Jadi kita berdoa saja semoga semua berjalan lancar dan sesuai dengan rencana" lanjut Aldy
" Amin, semoga semua berjalan sesuai dengan yang kita harapkan ya mas" Aldy mengangguk lalu tersenyum
" Maafin mas ya sayang!" tiba-tiba kata-kata itu keluar dari bibir Aldy
" Kenapa mas minta maaf?" Khanza menatap manik Aldy lekat
" Ya karena mas sudah mengabaikan keinginan kamu dan mas membuat hari-hari mu berat nantinya dengan menanggung beban kehamilan mu di saat kamu masih berstatus pelajar. maaf karena mas terlalu egois dan sangat menginginkan hadirnya seorang anak diantara kita " ucap Aldy lirih.
" Mas!" panggil Khanza dengan tatapan serius
"Ada apa? kenapa liatin masnya gitu banget?" Aldy menghindari tatapan Khanza
" Mas, pandang Khanza!" pinta Khanza
Aldy menatap manik mata Khanza yang teduh dan menenangkannya.
" Apa mas senang dengan kehamilan Za?" Aldy tersenyum tipis lalu mengacak-acak rambut Khanza gemas
" Tentu saja sayang, mas sangat bahagia ketika dokter memberitahu mas, prihal kehamilan kamu ini sayang" Aldy mengulurkan tangannya menyentuh dengan lembut perut Khanza yang masih rata
" Mas ih geli tau" kesal Khanza dan berniat menyingkirkan tangan suaminya
" Sayang kamu harus belajar untuk terbiasa dengan sentuhan-sentuhan kecil semacam ini" seru Aldy membuat Khanza menyipitkan matanya
" Jangan tatap mas seperti itu!"
" Kenapa?"
" Mas takut khilaf" kekeh nya.
" Itu sih dasar mas aja yang omes" Khanza mencubit pinggang Aldy
" Aww.. sakit sayang. KDRT ini namanya" Aldy yang bergantian cemberut
" Mas jangan dibegitukan bibirnya" goda Khanza
"Kenapa memangnya? pingin cium ya?" Aldy menaik turunkan alisnya genit
" Mana ada, yang ada tuh pingin begini" Khanza langsung mencomot bibir Aldy yang di manyun-manyunkan
" Ah dasar kamu ini!" mereka berdua pun akhirnya tertawa bersama
...Hening...
" Mas, Za ikhlas jika memang kehamilan Za bisa membuat mas merasa bahagia" tiba-tiba Khanza kembali bersuara
" Sayang!" mata Aldy berkaca-kaca mendengar penuturan yang diungkapkan Khanza
" Khanza akan belajar menjadi isteri dan calon ibu yang baik mas" lanjutnya
" Terima kasih sayang, kita belajar sama-sama dan melewati ini bersama!" Aldy mendaratkan kecupan di kening Khanza.
Tok.... Tok.... Tok...
Terdengar pintu ruangan yang diketuk dari luar
" Masuk!" teriak Aldy
__ADS_1
" Selamat siang bunda cantik, bagaimana keadaannya? masih merasa sakit tidak perutnya?" tanya dokter Dinda yang datang bersama seorang suster untuk memeriksa keadaan Khanza
" Alhamdulillah sudah lebih baikkan dokter" jawab Khanza
" Syukur Alhamdulillah kalau begitu, sekarang kita cek dulu ya kondisi bunda dan juga dedek bayinya, bunda sudah diberitahu ayahkan kalau disini ada dedek bayi" tanya dokter Dinda dengan nada selembut dan senyaman mungkin.
" Iya dokter, sudah!" Jawab Khanza
" Suster tolong alat-alatnya dipersiapkan!" ucap dokter Dinda
" Maaf ya Bu!" ucap suster Nuri saat mengangkat sedikit baju Khanza ke atas sehingga dapat dengan jelas terlihat perut putih nan mulus Khanza yang akan diolesi dengan gel sebelum dilakukan USG
" Lihat bunda yang nampak seperti biji kacang itu adalah dedek bayi yang masih berupa kantung."
" Semoga sehat terus ya bunda dan dedek bayi nya!"
" Amin, terima kasih dokter!" ucap Khanza dan Aldy
" Alhamdulillah, perkembangannya dede bayinya sangat bagus"
"Tolong dijaga ya bunda asupan makanannya. makan makanan yang bergizi dan seimbang, ditambah buah dan susu ya bunda, hindari minuman yang bersoda dan beralkohol mengingat kandungannya yang masih terlalu muda seperti bundanya yang juga masih muda dan cantik tentunya" puji dokter Dinda agar Khanza lebih rileks dan tenang menghadapi kehamilannya di usia yang terbilang masih sangat muda
" Dokter bisa saja!" ucap Khanza yang tersipu malu.
" Istirahat yang cukup ya bunda jangan lupa di minum vitaminnya!" pesan dokter Dinda.
" Iya dokter!" sahut Khanza
" Kalau begitu saya permisi dulu ya, masih ada pasien lain yang harus saya periksa!" pamit dokter Dinda
" Iya dokter, terima kasih banyak!" kali ini Aldy yang menjawab.
" Sama-sama pak!" ucap dokter Dinda lalu keluar ruangan diikuti oleh suster Nuri
" Tuh dengar apa kata dokter, harus banyak istirahat dan minum vitaminnya" ucap Aldy kembali mengingatkan
" Iya suamiku" jawab Khanza
Aldy menyuapi Khanza makan setelah tadi seorang petugas memberinya makanan di nampan.
" Makan yang banyak!" Khanza menolak saat Aldy kembali menyodorkan satu suap nasi pada Khanza
" Sudah mas Za kenyang!" Khanza menolak dan menutup rapat mulutnya sendiri
" Ya sudah kalau begitu di minum dulu vitaminnya" seru Aldy
" Iya mas" Aldy lalu menyodorkan vitamin yang harus di minum oleh Khanza.
" Terima kasih mas!"
" Sama-sama sayang" Aldy tersenyum seraya mengusap lembut surai Khanza.
Ceklekk
Pintu dengan ruangan dibuka sedikit kasar.
" Assalamu'alaikum!"
" Astaghfirullah!" Aldy menepuk jidatnya sendiri karena lupa memberi kabar kepada bu Khodijah
" Keterlaluan, kenapa tidak kasih tau ibu kalau kamu masuk rumah sakit!" amuk bu Khodijah yang merasa khawatir dengan keadaan putrinya
" Ma...maaf bu Aldy lupa ngasih kabar karena saking panik dan tegangnya tadi" ucap Aldy yang merasa sedikit bersalah
" kalau bukan teman kamu si Nana yang memberitahu ibu, mungkin ibu tidak akan tahu kalau kamu masuk rumah sakit" keluhnya
" Iya maaf Bu kami berdua tadi terlalu tegang jadi lupa mengabari ibu. sudah bu jangan marah lagi ya!" Khanza bergelayut manja berusaha untuk menenangkan hati ibu Khodijah.
" Ya sudah lupakan! sekarang beritahu ibu sebenarnya kamu sakit apa sampai di rawat di rumah sakit begini?"
" Khanza tidak sakit bu!" jawab Aldy mewakili Khanza yang tidak juga memberi jawaban.
" Kalau tidak sakit kenapa di rawat?" bu Khodijah mengerutkan keningnya
" Khanza bukan sakit biasa pada umumnya bu tapi_" Khanza menggantungkan jawabannya
" Tapi apa? jangan bikin ibu tambah khawatir nak!" tanya bu Khodijah yang semakin penasaran
" Emmmm.... Za.... Za..... ha...hamil Bu!" ucap Khanza sedikit gugup
Deg
Bu Khodijah diam mematung, pandangannya beralih menatap ke arah perut Khanza
Khanza dan Aldy merasa tegang takut Bu Khodijah tidak bisa menerima kehamilan putrinya yang masih duduk di bangku sekolah
" Bu!" lirih Khanza karena melihat ekspresi Bu Khodijah yang hanya diam tanpa mengatakan apa-apa.
" Bu!" Khanza semakin deg-degan, Aldy mengusap punggung Khanza mencoba menenangkannya padahal dirinya sendiri pun begitu gugup dan takut.
" Kenapa kalian begitu ceroboh?" tiba-tiba kata itu keluar dari mulut bu Khodijah begitu saja membuat Aldy dan Khanza terkejut dan saling melempar pandangan.
" Maaf!" lirih Khanza dengan menundukkan kepalanya
" Semua salah Aldy Bu, jika ibu mau menyalahkan, salahkan Aldy saja jangan khanza!" ucap Aldy yang merasa cukup tegang
Bu Khodijah langsung mengalihkan pandangannya kepada Aldy.
Deg
Jantung Aldy seakan mau copot dipandang dengan tatapan dingin oleh Bu Khodijah.
" Ya semua memang salah kamu, Khanza itu masih muda dan kamu sudah dewasa, aku sebagai ibu sudah menduganya kalau kamu tidak akan mungkin bisa menahannya."
" Bu!" ucap Khanza lirih tidak tega melihat wajah Aldy yang nampak sedikit pucat
" Ibu kecewa, kenapa kamu tidak bisa menjaga putri ibu dengan baik, bahkan hampir saja celaka"
Deg
Aldy semakin sulit menelan salivanya
" Ibu tidak mau tahu janin yang ada di dalam kandungan kamu pokoknya harus_" Bu Khodijah menjeda ucapannya membuat jantung Khanza dan Aldy seakan tengah lari maraton
__ADS_1
" Bu!" Khanza tidak kuasa menahan tangisnya
" Bu jangan katakan itu Bu, Za dan mas Aldy akan belajar menjadi calon ibu dan ayah yang baik untuk anak kami Bu" Isak tangis Khanza pun pecah
" Maafkan kami Bu!" lirih Aldy
" Baiklah, kalau begitu ingat dan dengarkan kata ibu baik-baik, ibu tidak mau tahu janin yang ada di dalam kandungan kamu_" Bu Khodijah kembali menjeda ucapannya. " Pokoknya harus kalian jaga sebaik-baiknya jangan sampai kejadian ini terulang lagi, ibu tidak mau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada cucu ibu"
Pyuuuhhh...
Aldy dan Khanza bernapas dengan lega setelah mendengar penuturan Bu Khodijah.
" Ibu!" Khanza merentangkan kedua tangannya menunggu pelukan sang ibu tercinta
" Kamu harus belajar bersikap dewasa nak, karena ada calon anak kalian yang membutuhkan cinta dan kasih sayang dari ayah dan bundanya!" tutur bu Khodijah sedangkan Khanza hanya menjawab dengan anggukan
" Akan ada banyak aral dan rintangan yang akan kalian hadapi kedepannya, dan ibu harap kalian harus mempersiapkan diri untuk semua itu. jangan mementingkan ego masing-masing tapi berusahalah untuk menekannya dan belajar bersikap dewasa setiap kali menghadapi masalah. jangan buat masalah kecil menjadi besar. biasakan untuk selalu menjalin komunikasi dengan baik masalah kecil maupun besar bisa saja terjadi jika adanya miskomunikasi" pesan bu Khodijah panjang lebar
" Iya Bu, terima kasih nasehatnya. kami akan belajar pelan-pelan" sahut Aldy
" Iya, dan mulai sekarang kamu harus lebih ekstra menjaga isteri dan calon bayi kalian!"
" Iya bu!" jawab Aldy
" Kamu juga Za, jaga kandungan kamu baik-baik, jangan pecicilan!"
" Iya bu" Khanza sudah merasa lega.
" Dasar anak nakal, bikin orang tua khawatir saja!" bu Khodijah memeluk Khanza penuh kasih sayang
" Ya maaf, Za juga enggak tahu Bu akan kayak gini jadinya" sahut Khanza
" Untung saja calon anak kalian kuat ya, ibu benar-benar khawatir setelah Nana memberitahu kabar ini!"
" Maafin Za ya Bu karena sudah membuat ibu khawatir"
" Iya sayang" bu Khodijah mencium kening putrinya.
" Ibu benar-benar tidak menyangka kalau ternyata anak ibu sudah bisa ya bikin anak!" seloroh bu Khodijah membuat Khanza dan Aldy tersenyum malu-malu
Tring
pesan masuk ke ponsel Khanza yang berada di atas nakas.
" Mas maaf tolong ponsel ku!" pinta Za
" Siapa mas?"
" Miska" jawab Aldy saat melihat nama yang tertera di sana
..." Hallo, assalamu'alaikum!"...
" Wa'alaikum salam, iya Mis?"
..." Za bagaimana keadaan loe ?"...
" Alhamdulillah gue sudah baikan"
..." Syukurlah, gue lega mendengarnya"...
..." Oiya, Za"...
" Ada apa?"
..." Emmmm.... anak-anak mau pada ngejenguk loe sama bu Tika dan Bu Siska juga!"...
" Apa? jadi mereka pada mau kesini?"
..." Iya" ...
" Bu Siska, ngapain tuh guru jenguk gue segala?"
Diseberang sana Miska tengah menahan tawanya agar tidak pecah.
..." udah cinta kali dia sama loe!"...
" Ah sialan loe, amit-amit jabang bayi dah!" jawab Khanza seraya mengusap perutnya.
..." Yaudah, gue mau siap-siap otw ya, kalau bisa pak Gutami nya loe simpan aja dulu ya. nanti di sabotase baru tahu rasa loe!"...
" Ah.. ngesilin ini sih!"
..." Sabar, udah ah gue udah ditungguin tuh. otw sekarang ya kita-kita kesana"...
" Iya!" jawab Khanza lalu sambungan telepon pun terputus
" Ada apa?" tanya Aldy penasaran
" Mas, maaf ya tadi Miska yang menelpon!"
" Kenapa?" tanya Aldy
" Miska bilang anak-anak pada mau kesini, ada Bu Tika dan Bu Siska juga!" sahut Khanza lirih saat menyebut nama wanita yang terang-terangan mengincar suaminya.
" Lalu?"
" Emmmm... mas bisakan pergi dulu sebentar!"
" Tentu saja sayang, mas akan pergi dulu sebentar, kebetulan mas juga harus kembali ke sekolah dulu ngambil tas dan laptop yang tertinggal"
" Enggak apa-apakan kalau mas tinggal, kamu sama ibu dulu disini?"
" Iya, enggak apa-apa mas"
" Dan kalau sudah aman, teman-teman kamu sudah pulang kabari mas aja ya!" ucap Aldy
" Iya mas" jawab Khanza
" Bu titip Khanza ya, Aldy mau ke sekolah lagi mau ngambil laptop sama berkas ulangan murid-murid" pamit Aldy
" Iya nak Aldy tenang aja, ibu jagain kok Khanza nya kalau macam-macam ibu jewer kupingnya"
" Terima kasih ya Bu" ucap Aldy yang diangguki Bu Khodijah.
__ADS_1