Guruku Suamiku

Guruku Suamiku
Ungkapan


__ADS_3

Cinta itu benar-benar penuh warna, seperti bunga yang bermekaran di taman sungguh indahnya. Dari yang saling cuek kini saling perhatian dari yang saling benci kini saling mengunci hati. Dari yang selalu menghindari sekarang bucin setengah mati. oh cinta kau membuat seorang Meliani tak henti tersenyum sendiri di kamarnya yang sepi ia mengingat kembali romantisnya seorang Mario sang pujaan hati yang menyatakan perasaannya kepada seorang Lily sebagai calon isteri.


" Jantung gue!" Lia memegangi dadanya yang masih saja berdegup kencang saat mengingat kejadian di kedai bakso yang ternyata sudah dibeli oleh Mario untuk Lily.


Flashback on


" Yang bisa kamu jelasin apa maksud dari si mamang tadi?" ucap Lia setelah selesai memakan baksonya.


" Ikut aku!" Mario mengulurkan tangannya mengajak Lia kesuatu tempat.


Lia menyambut dengan senang hati uluran tangan Mario, mereka pun berjalan sambil bergandengan tangan menyusuri kedai bakso yang kini sudah disulap menjadi sekian rupa


Saat ini Mario dan Lia tengah duduk di pinggir danau buatan tersebut dan butuh waktu satu bulan untuk Mario menyulap kedai bakso tersebut menjadi sebuah Danau Cinta.


Mario tersenyum melihat Lia yang masih merasa takjub dengan apa yang dilihatnya. Sebuah danau kecil yang dihiasi jembatan dari kayu dan ada beberapa pasang angsa ya


ng berenang saling berdampingan.


" Io apa sudah bisa ngejelasin ini semua?" ucap Lia yang kadar penasarannya masih sangat tinggi.


" Iya sayang, aku jelasin!" Mario meraih tangan Lia dan menggenggamnya penuh cinta.


" Aku tahu kalau sebenarnya kamu suka dengan danau yang pernah kita kunjungi dulu, tempat dimana aku meyakini bahwa gadis yang ada di hadapanku saat itu adalah gadis yang ternyata sangat berarti dalam hidupku, ada rasa ingin selalu bersama dan juga ingin melindunginya. perasaan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. rasa hangat dan nyaman. setiap kali melihat kamu ada perasaan yang membuatku terdorong untuk menjadi orang yang lebih baik. berhenti menjadi biang masalah di sekolah dan berani mengakui setiap kesalahan yang aku perbuat. Di danau itu membuat ku seperti melihat bidadari yang turun dari surga lalu singgah dan kini menetap di hatiku" ucap Mario membuat Lia bersemu merah.


" Gombal!" Lia tersenyum malu-malu lalu memalingkan wajahnya karena merasa risih terus ditatap oleh Mario.


Mario tergelak merasa lucu dengan wajah Lia yang nampak menggemaskan.


" Lalu kenapa kamu memilih kedai bakso ini?" tanya Lia


" Ya karena aku juga tahu kalau kamu suka dengan baksonya si mamang, ya kepikiran aja kesitu memadukan dua hal yang kamu sukai itu. emm... apa kamu tidak menyukainya?" tanya Mario dan Lia menggelang.


" Kamu tidak menyukainya?" tanya Mario kembali.


" Aku tidak menyukainya tapi aku sudah sangat-sangat jatuh cinta pada tempat ini sejak pandangan pertama" Sahut Lia tersenyum jahil.


" Apa cuma dengan tempatnya aja, sama orangnya gak?" tanya Mario menggoda.


Lia beranjak dari duduknya perlahan melangkah mundur " Emmmm... gak tuh!" ucap Lia lalu tertawa sambil berlari menuju jembatan kayu yang ada di danau buatan tersebut dan Mario ikut tertawa lalu berlari mengejarnya.


Lia dan Mario kini tengah berada di tengah-tengah jembatan tersebut mereka masih tertawa dengan tangan yang saling bertautan.


" Kamu tuh ya, bikin aku gemes tau gak jadi kepingin_" Mario menjeda ucapannya dengan seringai senyum diwajah tampannya.


" Kepingin apa?" tanya Lia penasaran


" Kepingin cepat-cepat halalin kamu!" ucap Mario dengan santai membuat Lia mendelik


" Udah deh Io jangan bicara hal itu terus, kita itu masih sekolah. masih jauh perjalanan kita menuju masa depan!" ucap Lia membuat Mario merasa sedikit kecewa


" Jadi kamu tidak ingin menikah dengan ku?" tanya Mario dengan tampang serius


Lia menghela napasnya kasar " Bukan begitu Io, aku bukannya tidak mau menikah sama kamu Io tapi kita ini masih sekolah" jawab Lia berharap Mario tidak salah paham.


" Kita masih bisa sekolah walaupun kita sudah menikah, apalagi sebentar lagi aku lulus dan aku bisa kuliah sambil bekerja. kedai bakso ini bisa kita jadikan Investasi. kita bikin cabang-cabangnya di beberapa tempat. bisa di dekat sekolah dan juga area kampus." tutur Mario.


" Tapi Io_"


" Sudahlah, jangan dibahas lagi aku tidak akan memaksa jika kamu memang tidak mau menikah dengan ku" ucap Mario memotong ucapan Lia.


" Aku tahu mungkin kamu masih meragukan aku, tidak apa-apa kamu tenang saja aku baik-baik saja kok!" Mario melepaskan tautan tangannya dan tersenyum getir.


" Sudah yuk kita pulang!" ajak Mario membuat Lia nampak sedih. bukan begini yang Lia inginkan. Lia menatap punggung Mario yang terus melangkah menjauh tanpa menoleh. ada rasa kecewa dan juga sedih di hati Lia karena melihat sikap Mario yang tiba-tiba menjadi dingin. tapi tidak Lia pungkiri sebenarnya dia juga ingin terus bersama Mario hanya saja diusianya yang masih terbilang muda ia tidak ingin mengalami hal seperti Zaira yang hamil di usia dini.


Batin Lia saat ini sedang berkecamuk ingin mengatakan iya tapi takut menghadapi kehidupan setelah menikah tapi jika ia menolak Mario pasti akan salah paham dan perlahan tidak menutup kemungkinan Mario akan meninggalkannya dan Lia tidak mau kalau sampai hal itu terjadi.


Setelah hatinya sedikit tenang Lia berlari mengejar Mario dan langsung memeluk Mario dari belakang.


Mario tersentak kaget saat tangan mulus itu melingkar di pinggangnya. Mario menundukkan wajahnya dan melihat tangan yang melingkar itu. Lia membenamkan wajahnya di punggung kekar Mario dan perlahan terdengar Isak tangis dari balik punggung tersebut.


"Kenapa kamu menangis?" tanya Mario sedikit menoleh kebelakang.


" Aku tidak mau kehilanganmu Io, aku gak mau kamu meninggalkan aku" ucap Lia disela tangisnya.


" Siapa yang bilang kalau aku akan meninggalkanmu?" tanya Mario memutar badannya hingga mereka saling berhadapan.


" Aku tidak akan meninggalkan kamu sampai kamu siap menikah dengan ku!"

__ADS_1


" Io!" lirih Lia


" Sudahlah jangan terlalu dipikirkan, aku ingin menikah karena aku takut jika kita seperti ini terus aku bisa khilaf tapi jika jauh darimu pun aku tidak bisa!" tutur Mario.


Mario tersenyum dan menyelipkan anak rambut Lia yang terurai ke telinganya.


" Aku ingin kita pacaran tapi pacaran yang halal seperti halnya Zaira dengan kakakmu dulu. orang-orang hanya tau mereka berpacaran padahal mereka sudah sah menjadi suami isteri." ucap Mario. " Aku ingin kita pacaran yang halal!" lanjutnya.


" Tapi Io aku belum siap kalau sampai seperti Zaira, aku takut Io!" ucap Lia polos membuat Mario mengerutkan keningnya


" My Lily apa yang kamu takutkan hemm?" tanya Mario dengan nada sangat lembut


" Aku tidak mau diusia ku saat ini yang masih ingin bebas belajar harus terhenti jika aku hamil. aku belum siap Io!" Lia menundukkan wajahnya merasa malu sendiri dengan ucapannya.


" Maksudnya kamu itu takut hamil kayak Zaira?" tanya Mario yang tengah menahan tawanya dan Lia hanya menjawab dengan anggukan kepala.


" Aku belum siap untuk itu io!" Lia mengerucutkan bibirnya.


" Ya ampun sayang, aku juga tidak akan memaksamu untuk cepat-cepat hamil, kita bisa menundanya dulu sayang, yang terpenting kita pacaran tapi halal itu lebih menyenangkan dan tidak menimbulkan dosa!" ucap Mario meyakinkan Lia


" Tapi semua tergantung dengan kamu sayang, jika kamu tidak mau ya tidak apa-apa!" ucap Mario membuat Lia merasa bersalah.


" Kamu jangan sedih lagi ya sayang, aku tidak akan memaksamu!" Mario mengusap pucuk kepala Lia.


Lia mengangguk pelan. " Aku.. aku akan menunggumu meminta langsung kepada kedua orang tua ku!" ucap Lia membuat Mario terkejut.


" Kamu serius sayang? jadi kamu benar-benar akan menerima ku?" tanya Mario memastikan.


" Iya, jika orang tuaku mengizinkanmu!" ucap Lia


" Mengizinkanmu untuk menjadi istriku?" ucap Mario meyakinkan lalu tersenyum jahil


Lia menunduk lalu tersenyum tipis " uhh menggemaskan!" Mario langsung menarik Lia ke dalam dekapannya.


" Jadi kamu bersediakan bila kedua orang tua ku datang melamarmu?" tanya Mario dan Lia mengangguk pelan sambil tersenyum malu-malu.


" Sungguh tidak sabar rasanya menunggu hari itu tiba!" Mario tersenyum menatap tenangnya air danau begitupun dengan Lia.


Flashback off.


" Apa gue udah gak waras ya, mau tidur aja tuh orang wajahnya muncul lagi aja, kalau begini terus kapan gue tidurnya?" gumam Lia


Tring


Satu pesan masuk ke dalam ponsel Lia.


📩 My Io


" Sudah jangan mikirin aku terus, tidur sana !"


" Ini orang benar-benar percaya diri banget ya!" Gumam Lia


📩 My Lily


" *Percaya diri sekali anda?"


" Aku sudah tidur, jadi jangan ganggu ya*!"


Mario tertawa saat membaca pesan dari Lia.


📩 My Io


" Baguslah kalau begitu, aku hanya khawatir kamu tidak bisa tidur karena terus menerus memikirkan aku calon suamimu!"


" Ihhh... ini orang tau aja sih!" Lia senyum-senyum sendiri.


📩 My Lily


" *Kenapa harus memikirkan kamu, aku tidak memikirkan mu karena aku tahu kamu sedang memikirkan aku. jadi aku kasih kesempatan kamu saja yang memikirkan aku!"


📩 My Io*


" Tidak perlu dipinta hati dan pikiran ku sudah bekerja sendiri, mereka bekerja sama untuk selalu mengingat semua tentang kamu meskipun mataku sudah terpejam!"


📩 My Lily


" Baguslah, sekarang aku mau tidur lagi. selamat malam!"

__ADS_1


Lia tersenyum sendiri menatap layar ponselnya.


begitu juga dengan Mario yang sama-sama tengah tersenyum menatap layar ponselnya masing-masing.


...🖤🤍❤️...


Di rumah sakit


Dokter Ariel baru saja selesai bertugas, dan seperti biasa selesai menjalankan tugasnya dia selalu menyempatkan diri untuk datang menemui Mita.


Ceklekk


pintu ruangan Mita terbuka, dokter Ariel masuk ke dalam ruangan tersebut dengan langkah yang sangat pelan. karena dia tidak mau membangunkan Mita yang tengah tertidur pulas begitu juga dengan sang mama yang ketiduran di kursi yang ada di sebelah brankarnya Mita.


" Ma... mama!" panggil dokter Ariel menepuk pelan bahu sang calon ibu mertua.


Rosa mengerjapkan matanya dan terkesiap saat melihat dokter Ariel sudah berdiri di hadapannya.


" Ma, sebaiknya mama istirahat saja di sofa, nanti badan mama sakit jika tidur dengan posisi seperti tadi!" ucap dokter Ariel pelan.


Rosa tersenyum dan beranjak dari duduknya.


" iya nak Ariel mama gak apa-apa, kamu sendiri kenapa kesini? seharusnya kamu pulang dan istirahat saja dulu. kamu pasti capek kan hari ini?" tanya Rosa yang melihat raut wajah lelah pada dokter Ariel.


" Aku gak apa-apa kok mah. justru kalau kesini rasa lelah dan capek aku terbayar mah dengan melihat kondisinya yang semakin membaik!" ucap dokter Ariel.


" Ahhh, dasar anak muda bisa saja beralasan. ya sudah kalau memang begitu. mama ke sofa saja ya!" Rosa berjalan menuju sofa yang ada di dalam ruangan tersebut lalu Rosa merebahkan tubuhnya yang terasa sudah sangat mengantuk.


" Nak Ariel gak apa-apa kan kalau mama tidur lebih dulu, nanti kalau nak Ariel mau tidur bangunkan saja mama ya!" pinta Rosa kepada sang calon menantu.


" Iya mah, mama sudah istirahat saja!" ucap dokter Ariel tersenyum tipis.


Dokter Ariel pergi ke kamar mandi, ia membasuh wajahnya dengan air untuk menghilangkan rasa kantuknya yang tiba-tiba saja menghampirinya.


Ceklekk


pintu kamar mandi terbuka menyembulah dari dalam kamar mandi dokter Ariel yang nampak lebih tampan dari biasanya dengan wajah yang masih terlihat basah.


Mita tertegun dan sulit menelan salivanya saat melihat sosok pria tampan berada di hadapannya.


" Ekhemm!" Deheman dokter Ariel membuyarkan lamunan Mita yang ternyata baru terjaga dari tidurnya.


" Loh kok bangun si dek?" tanya dokter Ariel yang tengah berjalan menghampiri Mita.


mendengar ucapan dokter Ariel yang menyebutnya dek, membuat Mita mengerutkan keningnya.


" Dek?" tanya Mita saat dokter Ariel sudah mendaratkan bokongnya di kursi samping brankar Mita.


" Kenapa memangnya gak suka kalau aku memanggil dengan sebutan adek?" tanya dokter Ariel membuat Mita memutar bola matanya malas.


" Gak apa-apa kok kak!" ucap Mita dengan santai


" Kak?" tanya dokter Ariel.


" Iya kakak adik kan?" tanya Mita lagi


" kakak adek?" dokter Ariel kembali bertanya


" Kakak menganggap aku adek kan? jadi apa salahnya kalau aku juga menganggap kakak ini sebagai kakak?" dokter Ariel mendengus kesal dengan ucapan Mita.


" Kenapa kak, kakak marah dengan ku?" tanya Mita


" Untuk apa marah?"


" Jadi benar kakak hanya menganggap aku adek?"tanya Mita


" Iya adek, calon ibu dari anak-anak mas!" ucap dokter Ariel dengan santai


" jika kamu lebih suka memanggil mas sebagai kakak ya gak masalah toh nanti juga nama kamu akan tertulis di dalam KK ( Kartu Keluarga ) kita !"


" mas bisa aja?"


" Ya memang seperti itu kan, nanti nama kamu akan tercantum di dalam KK mas sebagai ibu rumah tangga calon ibu dari anak-anak kita!" ucap dokter Ariel dengan senyum manisnya.


" Mas ih bicaranya kok sudah ke arah sana sih?" tanya Mita yang masih merasa risih mendengar tentang pernikahan.


" Kenapa memangnya? mas serius loh sayang. mas gak mau sampai kejadian waktu itu terulang lagi jadi mas harap kamu mau ya menikah dengan mas?" tanya dokter Ariel yang membuat Mita terdiam dengan segala isi pikirannya.

__ADS_1


__ADS_2