
Sayang!" panggil Azka yang sontak saja terkejut dengan kedatangan Zaira yang tiba-tiba.
" Dengarkan dulu sayang ini tidak seperti yang kamu bayangkan sayang, kamu pasti salah paham biar aku jelasin dulu oke!" ucap Azka berusaha agar Zaira tidak marah kepadanya.
Zaira ingin menangis rasanya sakit sekali didalam hatinya mendapati suaminya yang diam-diam ternyata masih berhubungan dengan mantan kekasihnya.
Zaira berusaha untuk bersikap tenang lalu hendak membersihkan pecahan gelas yang sempat ia jatuhkan namun saat tangan lembutnya ingin memunguti pecahan gelas tersebut tanpa sengaja ia malah tergores pecahan gelas tersebut.
" Awww!" pekinnya.
Azka yang panik mendengar Zaira menjerit langsung meraih tangan Zaira dan ********** namun dengan kasar Zaira langsung menarik jari tangannya itu membuat Azka tersentak kaget.
Zaira bangkit berdiri lalu melangkah keluar kamar. Azka menarik tangannya namun lagi-lagi Zaira menepisnya kasar.
" Malam ini aku akan tidur di kamar Lia, setuju tidak setuju aku tidak meminta jawaban mas" ucap Zaira Ketus.
Azka hanya diam mematung terkejut dengan sikap dingin Zaira yang tidak pernah di lihatnya selama ini.
Zaira melangkahkan kakinya menuju kamar Lia yang sudah ada Mona, Mia dan Indah disana, Zaira berharap berkumpul bersama teman-temannya setidaknya bisa melupakan rasa sakit hatinya malam ini.
Tokkkk.... tokkkk... tokkk...
Lia membuka pintu kamarnya " Za Loe_?" tanya Lia terputus
" Gue mau tidur disini sama kalian" ucap Zaira tersenyum tipis walaupun sebenarnya hatinya sedang menangis.
" Za loe gak apa-apakan?" tanya Mia yang kini semuanya tengah rebahan di atas kasur dengan menatap ke langit-langit kamar.
" Gue gak apa-apa" jawab Zaira santai.
" Loe gak lagi bohongin kita kan Za?" kali ini Indah yang bertanya.
" Bohongin kalian apa, ngaco deh loe Ndah" Zaira masih berusaha bersikap tenang dan tersenyum.
" Loe sama kak Azka baik-baik aja kan Za?" tanya Lia yang merasa cemas dengan hubungan kakak dan kakak iparnya ini.
" Loe tenang aja Li, gue sama kakak loe baik-baik aja kok" jawab Zaira sambil tertawa kecil tertawa yang dipaksakan tentunya.
" Kalian ini kenapa sih, aneh tau gak. emang gue gak boleh ya gabung sama kalian disini, apa gue udah ganggu kalian?" ucap Zaira lirih.
Mia langsung menggeser tubuhnya dan duduk menghadap ke arah Zaira. " kok loe ngomongnya gitu si Za? kita itu senang malah loe bisa gabung sama kita-kita ya gak gaes?" tanya Mia ke arah teman-temannya
" Iya Za, malah kita kira loe yang udah gak bisa lagi gabung sama kita-kita" timpal indah
" Tapi beneran kan Za loe kesini bukan karena lagi ada masalah dengan kak Azka?" tanya Lia yang langsung membuat Zaira diam sejenak, setelah mengatur napas Zaira tersenyum kepada Lia.
" Bertengkar kenapa memangnya?" tanya Zaira balik " Gue kesini karena gue kangen sama kalian semua. soal kakak loe, ya anggap aja ini hukuman buat dia karena tadi gak ngizinin gue ikut dengan kalian menjemput Mita" lanjutnya lagi.
" Oia, gimana keadaan Mita?" tanya Zaira yang baru teringat dengan sahabatnya itu.
" Alhamdulillah udah sehat, cuma kata dokter dia harus banyak istirahat dulu, 2 hari di rumah setelah itu baru boleh masuk ke sekolah" sahut Mia menjelaskan.
Zaira ikut bangun begitu juga dengan yang lainnya. mereka akhirnya duduk di atas kasur saling bercerita satu sama lain termasuk menceritakan tentang Indah yang sudah tidak jomblo lagi.
" Za!" panggil Mia saat teringat akan sesuatu
" Kenapa?" tanya Zaira
" Gue mau tanya sesuatu tapi loe janji ya gak bakal marah!" pinta Mia
" Tanya apa sih, kayaknya serius banget?" Zaira penasaran
" Iya, tapi loe harus janji dulu jangan marah ya!" pinta Mia lagi
" Iya gue gak akan marah asal pertanyaannya gak yang aneh-aneh aja ya" kata Zaira.
" Gak kok" ucap Mia cengar-cengir.
" Loe mau tanya apa si Mi, sampai segitunya?" tanya Mona yang malah dia yang penasaran.
" Iya Mi, loe mau tanya apa emang sama Za?" Indah ikut menimpali
" Paling soal cowok?" celetuk Lia membuat Mia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan cengengesan.
" Jadi benar Mi loe mau tanya soal cowok?" tekan Zaira
" Emmmm... iya sih!" jawab Mia Canggung.
" Emang loe mau tanya soal siapa? kak Irfan?" tanya Zaira membuat Mia mengernyit
" Kok bawa-bawa nama kak Irfan sih?" protes Mia
__ADS_1
" Lah terus loe mau tanya tentang siapa ?" tanya Zaira lagi.
" Dokter Ariel" jawab Mia dengan lantang sampai membuat teman-temannya menatap lekat ke arahnya.
" Dok-ter Ar-riel?" tanya Zaira sedikit terbata.
" Iya Za, gue juga sebenarnya penasaran tuh, kok loe bisa ya kenal sama tuh dokter ganteng?" tanya Mona yang ikut penasaran.
" Iya Za, sebenarnya dokter Ariel itu siapa sih? kenapa tadi di rumah sakit dia bisa sekhawatir itu sama loe?" tanya Lia yang ikut jadi penasaran.
Mendapat berondongan pertanyaan dari para sahabatnya membuat Zaira menghela napasnya sebelum menjawab pertanyaan yang mereka lontarkan.
"Tunggu dulu sebelum gue jawab maksud loe tadi apa Li, sekhawatir itu, memangnya kenapa dia bisa sampai khawatir sama gue?" kali ini Zaira yang bertanya.
Lia pun menceritakan semua kejadian yang di rumah sakit terutama penyebab sang dokter mengkhawatirkan keadaan Zaira karena ulah Indah yang mengatakan bahwa Zaira di culik
Zaira tertawa mendengar cerita Lia yang mengatakan dirinya di culik merasa konyol dengan ucapan temannya itu.
" Indah ... Indah.... ada-ada aja loe bilang gue diculik" Zaira melempar bantal ke arah Indah dan dengan sigap langsung ditangkap oleh Indah.
" Ya emang bener loe di culik sama pak suami" jawab Indah tanpa dosa.
" Ya pada intinya siapa sih Za dokter Ariel itu? dan ada hubungan apa loe sama dia? Lia yang sudah tidak sabar ingin tahu.
Zaira menatap satu persatu para sahabatnya
sebelum dia menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka.
" Ceritanya panjang tapi singkat cerita dokter Ariel itu sebenarnya_" Zaira menjeda kata-katanya. " Gue harap jangan pada kaget ya!" lanjutnya lagi dengan tertawa kecil.
" Apa si Za? bikin penasaran aja tau gak sih loe!" protes Mona
" Tau ni Za, bukan to the points aja sih" kesal Mia ikut menimpali.
" Betul tuh" ucap Indah sepemikiran dengan Mia
" Ha...ha..." Zaira tertawa tetapi tertawa hambar.
" Dih ini anak malah ketawa!" kesal Mia yang langsung melayangkan bantal ke arah Zaira.
" Sabar dong Mia" ucap Zaira menangkap bantal yang dilempar oleh Mia kepadanya.
" Ya habisnya loe lama" sungut Mia.
" Gue dan kak Ariel_" ucapan Zaira terpotong.
" Kak Ariel? jadi loe udah kenal dekat banget ya sama tuh dokter sampai memanggilnya kakak?" tanya Mona.
" Jangan dipotong dulu napa mau dengar gak sih?" ucap Zaira tegas membuat Mia marah dan menoyor kepala Mona.
" Mia!" marah Mona namun Mia bukannya takut malah meletakkan jari telunjuk dibibirnya meminta Mona diam jangan bicara lagi.
Zaira menghela napasnya panjang kemudian kembali bercerita, Zaira menceritakan semuanya tentang hubungannya dengan dokter Ariel termasuk tentang hubungan mereka yang ditentang oleh ayahnya Zaira. dan Zaira juga menceritakan perihal penolakan dirinya terhadap para siswa disekolah itu semua karena ayahnya yang melarangnya berpacaran dan memberitahu kalau dirinya sudah lama di jodohkan dengan guru mereka yang mereka kenal dengan nama pak Bagaz.
" Apa loe masih menyimpan perasaan dengan dokter Ariel?" tanya Lia penasaran
" Kita pernah tumbuh besar bersama, tertawa dan menangis bersama. 10 tahun bukan waktu yang singkat. jika dibilang masih ada rasa sayang jawab gue ya jelas masih ada sampai sekarang. tapi rasa sayang itu sudah berubah tidak seperti dulu. ya semenjak seorang pria dinyatakan SAH menjadi suami gue disaat itu pula rasa cinta yang ada di dalam hati gue terhadap kak Ariel berubah. Rasa sayang itu kembali ke posisi yang sebenarnya. rasa sayang antara kakak beradik seperti yang bokap gue inginkan." tutur Zaira menceritakan semuanya kepada sahabatnya.
" Apa loe cinta sama kak Azka?" pertanyaan itu meluncur begitu saja dari Lia membuat Zaira terdiam dan teringat kembali dengan kejadian tadi di dalam kamar.
Zaira tidak menjawab wajahnya berubah muram, Lia berpikir jika Zaira tidak mencintai kakaknya dan masih menyimpan rasa terhadap dokter Ariel di dalam lubuk hatinya yang terdalam karena itulah Zaira tidak bisa menjawab pertanyaannya.
" Jadi loe masih mencintainya dan belum bisa menerima kakak gue yang sudah sah menjadi suami loe!" ucap Lia ketus
" Loe salah paham Li, bukan karena itu gue gak menjawab pertanyaan loe justru gue sendiri takut dengan perasaan gue sendiri Li. gue takut kakak loe yang justru akan meninggalkan gue setelah gue udah benar-benar sayang sama dia" seketika tangis Zaira pecah dan sontak membuat mereka semua terkejut melihat Zaira yang menangis sesenggukan begitu terpuruk.
Tangis yang Zaira tahan sedari tadi akhirnya pecah juga, Lia merasa bersalah karena sempat mencurigai Zaira.
" Za loe kenapa?" tanya Mona pelan Zaira hanya menggelengkan kepalanya dan masih terus terisak.
" Za gue minta maaf gue gak ada maksud buat loe jadi kayak gini, Za!" lirih Lia.
Zaira masih sesenggukan mengingat Azka yang membahas tentang mantan dan ditambah lagi melihat suaminya yang bertelponan dengan mantan tersebut membuat Zaira semakin terisak.
Mona dan Mia saling menyenggol merasa bingung bagaimana cara mendiamkan Zaira yang tengah menangis.
" Loe sih Li!" Indah menyalahkan Lia.
" Ya gue kan udah minta maaf, gue juga gak nyangka kalau reaksi Zaira akan seperti ini" ucap Lia yang benar-benar bingung dibuatnya.
" Za udah dong jangan nangis lagi!" pinta Lia memohon.
__ADS_1
Zaira menahan untuk berhenti menangis, namun ketika Indah menyebut nama suaminya tangis Zaira kembali pecah.
" Gue rasa Zaira sedari tadi sedang menahan tangisnya karena bertengkar deh sama pak Bagaz" bisik Indah kepada Lia.
Lia yang mendengar perkataan indah langsung memincingkan matanya menatap tidak percaya.
" Gue serius tapi kalau loe gak percaya yaudah. karena dari tadi gue perhatiin senyum Za itu hambar. kaya sedang menyimpan sesuatu" kata Indah
Lia berpikir sejenak lalu teringat kembali dengan ponsel milik kakaknya yang berdering dan sempat dilihat Zaira, dan parahnya nama yang tertera di layar adalah nama Kelin mantan kekasih Azka.
" Loe benar Ndah, gue baru ingat ini pasti gara-gara obrolan gue sama kakak gue tentang mantannya dan ditambah lagi tadi sewaktu di meja makan. ponsel kak Azka berdering dan parahnya yang menelpon itu mantannya kakak gue dan Zaira sempat melihatnya." tutur Lia dengan sambil berbisik dengan Indah.
" Za udah dong nangisnya, kalau loe gak mau berhenti gue panggil kak Azka aja ya!" ancam Lia mencoba menenangkan Zaira.
" Jangan Li!" ucap Zaira memohon dan berusaha untuk menghentikan tangisnya.
" Yaudah makanya sekarang diam jangan menangis lagi!" sahut Lia.
" Iya Za, emang loe kenapa sih sampai histeris gitu?" tanya Mona membuat Zaira yang sudah mati-matian menahan tangisnya biar tidak jatuh tapi mendapat pertanyaan dari Mona malah membuat Zaira kembali menangis.
Mia, indah dan Lia menatap kesal ke arah Mona yang sudah membuat Zaira kembali menangis
" Mona!" teriak Mia, indah dan Lia bersamaan kesal dengan Mona.
" Za udah dong nangisnya!" bujuk Lia lalu membawa Zaira ke dalam pelukannya.
" Za kalau loe punya masalah cerita aja sama kita-kita!" pinta Lia. " Siapa tahu kita bisa bantu Za!" bujuk Lia
" Iya Za, cerita aja Za?" timpal indah yang merasa kasihan melihat keadaan Zaira malam ini.
Zaira karena kelelahan menangis akhirnya tertidur. " Kalian jangan pada berisik ya, kasihan Zaira. biarkan dia istirahat!" ucap Lia
" Iya!" sahut mereka
Lia bangun lalu turun dari tempat tidur dan hendak keluar
" Loe mau kemana Li?" tanya Mona
" Gue mau tahu apa yang menyebabkan Zaira sampai seperti ini" geram Lia.
" Meskipun dia itu kakak gue sekali pun, gue tetap gak terima dia udah nyakitin hati Zaira" ucap Lia tegas merasa jengkel dengan sikap Azka.
" Jaga Zaira, hibur dia " pesan Lia sebelum pergi menemui Azka.
Tokkkk ..... tokkkk... tokkkk...
Lia mengetuk kamar Azka dengan sedikit kencang.karena tidak mendapat jawaban, akhirnya Lia mencoba membuka pintu kamar kakaknya dan kebetulan tidak dikunci hingga membuat Lia nyelonong masuk.
Azka
[ Maaf Kelin besok aku tidak bisa menemui mu]
Brakkk
Lia mendorong pintu kamar kakaknya dengan sedikit keras setelah tidak sengaja mendengar pembicaraan Azka di telpon dengan Kelin
" Pantas saja reaksi Za seperti itu?" Sungut Lia kesal
" Lia, ada apa kamu datang ke kamar kakak? kenapa tidak ketuk pintu dulu!" sarkas Azka kesal dengan adiknya yang main masuk aja
" Aku sudah mengetuknya berkali-kali tapi karena kakak tengah asik bertelponan dengan sang mantan jadi tidak mendengarnya!" ucap Lia penuh penekanan disetiap kata-katanya.
" Dimana Zaira?" tanya Azka mengalihkan pembicaraan.
" Za baru saja tertidur" sahut Lia
" Tidak biasanya Zaira jam segini sudah tidur" ucap Azka
" Dia ketiduran karena kelelahan"
" Kelelahan? memangnya kalian habis ngapain?" tanya Azka masih dengan santainya.
" Aku dan teman-teman kelelahan karena membujuk Zaira agar berhenti menangis tapi hasilnya nihil karena Za masih terus menangis dan karena kelamaan menangis akhirnya dia tertidur.
" Menangis, Lia menangis?" tanya Azka cemas.
" Iya, dia menangis. aku tidak pernah mas melihat Zaira seterpuruk ini menangis sesenggukan. terakhir dia menangis seperti ini ya saat ayahnya meninggal
" Apa yang sebenarnya terjadi kak, kenapa Zaira sampai sesedih itu, apa sebenarnya yang terjadi di antara kalian kak? " tanya Lia penasaran.
" Dia sepertinya mendengar pembicaraan aku dengan Kelin tadi di telpon" sahut Azka yang merasa sangat bersalah.
__ADS_1
" Apa? kakak telponan lagi dengan kak Kelin ?jadi kakak ingin kembali lagi gitu dengan mantan kekasih kakak yang super sombong itu" tanya Lia terkejut