
" Bunda Al kemana?" tanya seorang pria yang kini tengah duduk di hadapan bunda Aryani sambil menyesap minuman yang tadi dibuatkan oleh bi Minah.
" Mungkin sedang ke kamarnya" sahut bunda Aryani.
dan pria yang tengah duduk bersama bunda Aryani yang tidak lain adalah dokter Ariel hanya mengangguk pelan menanggapi jawaban dari bunda Aryani.
Flashback on
Bunda Aryani sedang menunggu temannya di sebuah cafe yang letaknya tidak jauh dari sebuah rumah sakit, mereka janjian di cafe tersebut karena teman bunda Aryani ini salah satu dokter yang bekerja di rumah sakit tersebut.
" Assalamu'alaikum!" sapa dokter cantik yang usianya jauh lebih muda dari bunda Aryani. teman bunda Aryani yang bernama dokter Dinda ini adalah putri dari sahabat bunda Aryani yang ada di desa. saat bunda Aryani pulang ke desa pernah bertemu dengan dokter Dinda yang kebetulan sedang cuti untuk menjenguk keluarganya yang tidak lain adalah sahabat bunda Aryani dan letak rumahnya tidak jauh dari rumah kakeknya Zaira.
" Wa'alaikum salam" jawab bunda Aryani.
" Bagaimana kabar kamu sayang?" tanya bunda Aryani.
" Alhamdulillah baik, tante sendiri bagaimana kabarnya?"dokter Dinda balik bertanya
" Alhamdulillah baik" sahut bunda Aryani.
" Oia, Tante bagaimana sudah lihat tokonya?" tanya dokter Dinda
" Sudah, baru saja tante tadi dari sana tempatnya lumayan strategis dan cukup luas. sepertinya tante cocok dengan tempatnya" jawab bunda Aryani
" Syukurlah kalau begitu dan letaknya juga tidak jauh dari sini jadi kapan-kapan Dinda bisa mampir kesana" kata dokter Dinda yang turut senang karena bunda Aryani merasa cocok dengan toko yang direkomendasikannya.
" Iya sayang, Tante tunggu kehadiran kamu. terima kasih banyak ya sayang!" ucap bunda Aryani dengan wajah berseri
" Sama-sama tante, itu juga hanya kebetulan saja tante, saat tante sedang ingin mencari tempat untuk membuka toko kue kebetulan juga sahabat aku sedang membicarakan toko miliknya yang hendak dijualnya" ucap dokter Dinda
" Oia tante maaf Dinda harus kembali ke rumah sakit masih ada jam praktek, gak apa-apakan kalau Dinda tinggal?" tanya Dinda dengan sopan
" Tentu saja tidak apa-apa Sayang, tante yang seharusnya minta maaf sudah mengganggu jam kerja kamu" ucap bunda Aryani merasa tidak enak hati.
" Tidak apa-apa kok tante, Dinda malah senang bisa bertemu dengan tante setidaknya bisa mengobati rasa kangen Dinda sama ibu di desa " ucap Dinda senang.
" Yasudah kalau begitu anggap saja tante ini ibu kamu sendiri jadi panggilnya gak usah tante, panggil aja bunda ya!" pinta bunda Aryani dengan lembut
" Boleh tante?" tanya Dinda antusias
" Tentu saja boleh sayang, ibu kamu itu sahabat bunda satu-satunya di desa dan beberapa bulan ini bunda juga sudah banyak merepotkan ibumu" sahut bunda Aryani yang merasa telah banyak merepotkan ibunya Dinda di desa karena selama ini ibunya Dinda lah yang rajin menjenguk dan menemani kedua orang tuanya bunda Aryani di desa.
" Tidak apa-apa tante, ibu malah senang katanya soalnya ibu juga kan sudah tidak punya orang tua, jadi sudah menganggap kakek Rahmat dan nek Ipah seperti orang tuanya sendiri tan" ucap Dinda menjelaskan.
" Kok tante lagi sih, bunda dong sayang" protes bunda Aryani
" Iya bunda, kalau gitu Dinda pamit dulu ya bund, assalamu'alaikum!" ucap Dinda seraya mencium punggung tangan bunda Aryani
" Wa'alaikum salam, hati-hati sayang!" ucap bunda Aryani.
Dan saat dokter Dinda baru saja hendak keluar dari cafe tersebut ia berpapasan dengan dokter tampan yang selama ini sudah lama mencuri perhatiannya.
" Dokter Ariel?" sapa dokter Dinda
" Dokter Dinda disini juga?" tanya dokter Ariel basa-basi.
__ADS_1
" Ah iya dokter" jawab Dokter Dinda dengan segala kegugupannya karena berusaha untuk menetralisir degup jantungnya yang seperti sedang berlomba lari maraton.
" Sendiri?" tanya dokter Ariel menautkan alisnya karena dokter Dinda terlihat sedikit kegugupannya.
" Ah tidak tadi saya baru saja bertemu dengan bunda Aryani, itu disana!" ucap dokter Dinda menunjuk ke arah bunda Aryani yang juga kebetulan tengah melihat ke arahnya.
" Bunda Aryani?" tanya dokter Ariel yang merasa tidak asing dengan nama itu.
" Iya, bunda Aryani" ucap dokter Dinda membenarkan.
Perlahan dokter Ariel memutar badannya karena memang saat ini posisinya membelakangi letak bunda Aryani berada.
Dokter Ariel bola matanya membulat sempurna betapa terkejutnya dia saat melihat wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu tengah tersenyum ramah ke arahnya.
Bunda Aryani tentu saja tidak mengenali dokter Ariel yang terlihat sangat gagah dan tampan itu karena dulu sewaktu dokter Ariel meninggalkan rumah badannya tidak seatletis seperti sekarang.
Dokter Ariel tanpa berkata apa-apa lagi pada dokter Dinda langsung berjalan menghampiri bunda Aryani. ada raut bingung diwajah cantik dokter Dinda saat melihat dokter Ariel yang tengah berjalan menghampiri bunda Aryani.
" Apa dokter Ariel juga mengenal bunda ya?" tanya dokter Dinda dalam hati
dokter Dinda masih berdiri mematung di depan pintu melihat interaksi kedua orang yang dikenalnya sampai ia lupa masih ada jam praktek di rumah sakit 20 menit lagi.
" Bun... bunda!" tanya dokter Ariel dengan kegugupannya.
Bunda Aryani mengerutkan keningnya merasa bingung dengan sapaan seorang pria tampan yang ada di hadapannya tapi sedetik kemudian ia berpikir mungkin ini adalah teman dari dokter Dinda yang tadi dia lihat bertemu dengannya di depan pintu.
" Iya" sahut bunda Aryani dengan ramah dan tersenyum." apa kamu temannya dokter Dinda?" tanya bunda Aryani dengan senyum tipisnya
Dokter Ariel mengangguk pelan karena faktanya memang benar dia dan Dinda berteman.
Lagi-lagi dokter Ariel mengangguk pelan, rasanya terlihat memang tidak sopan kalau ditanya sama orang yang lebih tua jawabnya hanya mengangguk saja tapi mau bagaimana lagi saat ini dokter Ariel begitu sulit untuk hanya sekedar menjawab iya, lidahnya begitu kelut sulit rasanya untuk berbicara karena terlalu lama menahan rasa rindunya biasa bertemu dengan wanita paruh baya yang kini ada di hadapannya.
Bunda Aryani tersentak kaget saat melihat pria tampan yang berdiri di hadapannya hanya diam dan tiba-tiba menitikkan air matanya. bunda Aryani spontan langsung berdiri dan menatap lekat wajah pria yang ada di hadapannya saat ini, setelah mengamati lebih dalam barulah ia menyadari bahwa pria yang ada di hadapannya ini adalah seseorang yang sudah bertahun-tahun dicari oleh suaminya.
Bunda Aryani langsung membekap mulutnya sendiri merasa terkejut dengan apa yang dilihatnya. " Ka... kamu Nak Ar.. Ariel?" tanya Bunda Aryani dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Lagi dan lagi dokter Ariel hanya mengangguk pelan. sementara dari jarak yang tidak begitu jauh seorang wanita cantik menatap bingung dengan apa yang tengah dilihatnya.
" Bunda!"ucap dokter Ariel lirih dan langsung berhambur memeluk bunda Aryani begitupun bunda Aryani yang merasa sangat merindukanmu putranya ini langsung membalas pelukan dokter Ariel. dan tentu saja interaksi keduanya membuat dokter Dinda semakin dibuat tercengang. tapi karena ada panggilan dari rumah sakit dokter Dinda harus meninggalkan cafe tersebut dengan rasa penasarannya.
" Kamu kemana saja nak, kenapa pergi meninggalkan kita semua!" tanya Bunda Aryani setelah keduanya duduk
Dokter Ariel menceritakan semuanya kepada Bunda Aryani dari mulai ia meninggalkan rumah sampai akhirnya ia menjadi dokter seperti sekarang.
bunda Aryani merasa sangat bangga putranya begitu mandiri dan kini bahkan sudah sukses dengan gelarnya sebagai dokter.
Karena ada jam praktek di rumah sakit dan beberapa pihak rumah sakit juga sudah dua kali menghubunginya jadi dokter Ariel terpaksa pergi tapi sebelum pergi bunda Aryani memberikan alamat rumahnya yang baru dan memberitahu dokter Ariel kalau Zaira pasti senang jika dokter Ariel datang ke rumah.
Flashback off
" Bunda apa Al sekarang sudah boleh pacaran?" tanya dokter Ariel tiba-tiba.
Bunda Aryani menautkan alisnya merasa aneh dengan pertanyaan putra angkatnya ini.
" Kenapa memangnya Riel?" bunda balik bertanya
__ADS_1
" Tidak ada apa-apa kok bund, cuma tanya aja, dulu Al kan dilarang pacaran sama ayah apa setelah ayah tiada apa Al masih takut untuk pacaran juga?" tanya dokter Ariel yang begitu terdengar ambigu.
" Bunda tidak bisa menjawabnya sekarang nak, biar semua yang ingin kamu dengar jawabannya bunda serahkan seutuhnya dengan Za. karena untuk masalah ini Za yang berhak menjawab." ucap bunda Aryani dengan masih memperlihatkan kelembutannya.
" Tapi bunda mengizinkan?" tanya dokter Ariel lagi.
" Bunda tidak berhak melarang Za karena Za sekarang sudah ada yang lebih berhak" ucap Bunda Aryani membuat Dokter Ariel bingung dengan jawaban yang bunda Aryani berikan.
" Maksud bunda?" tanya dokter Ariel dengan kebingungannya.
" Sebentar ya bunda panggilin Za dulu" kata bunda Aryani.
" Bunda boleh gak kalau aku sendiri yang pergi menemuinya?" tanya dokter Ariel yang sudah beranjak dari duduknya dan ingin pergi ke kamar Ariel langsung.
Bunda Aryani menghentikan langkahnya lalu tersenyum. " Kalian ini bukan seperti dulu yang masih kanak-kanak, boleh bebas masuk kamar tapi kini kamu sudah dewasa begitu juga dengan Za dan Za juga bukan anak kecil lagi dia sudah punya kehidupannya sendiri yang tidak sembarang orang main masuk kedalamnya termasuk juga bunda!" sahut bunda menjelaskan.
" Kamu tunggu sebentar ya, bunda panggilin Za dan" ucap Bunda Aryani seraya menaiki anak tangga menuju kamar Zaira dan Azka.
Tokkkk... tokkkk....
Dua insan yang berada di dalam kamar mengumpat kesal terutama si pak suami yang sudah dua hari berpuasa, baru saja hendak melancarkan aksinya karena isteri tercintanya terlalu banyak drama untuk menolaknya dan baru saja sang isteri mengiyakan keinginan suaminya terpaksa di hentikannya karena terdengar suara ketukan pintu dari luar berkali-kali dan memanggil nama istrinya.
" Sayang bunda!" ucap Zaira
Azka memberengut dan langsung beranjak dari atas tubuh sang isteri.
" Temuilah, mas mau ke kamar mandi dulu!" ucap Azka melas, dengan langkah gontai ia lalu masuk ke dalam kamar mandi. sementara Zaira merapihkan dulu pakaiannya yang sempat diobrak abrik oleh suami omesnys.
" Iya bund sebentar!" sahut Zaira dari dalam kamar.
ceklekk
pinta kamar terbuka.
" Iya bund ada apa?" tanya Zaira saat melihat bunda di depan pintu kamarnya
" Za dibawah masih ada kakakmu dan dia menanyakan keberadaan kamu sedari tadi" ucap bunda menjelaskan
" Tapi bund, mas Azka_" ucap Zaira menggantung seraya menoleh ke arah kamar mandi
" Suami kamu mana?" tanya bunda Aryani
" Di kamar mandi bund, Za akan turun kalau mas Azka izinin ya bund, Za gak mau kesalahpahaman terjadi lagi bund, ya bunda juga kan tahu hubungan kami baru saja membaik" ucap Zaira sendu
" Iya bunda ngerti sayang, minta izinlah dulu dengan suamimu jika dia merasa keberatan biar nanti bunda yang akan menjelaskan kepada kakakmu" ucap bunda Aryani
" Tapi bund, apa kak Ariel sudah tahu kalau Za sudah_"
" Belum, itu hak kamu dan suami kamu yang akan bicara dengannya nanti sayang!" ucap bunda Aryani
" Terima kasih ya bund!" ucap Zaira seraya memeluk bundanya
" Sama-sama sayang, yaudah bunda kebawah dulu ya, kasihan kakak kamu dibawah sendirian" pamit bunda Aryani
" Iya bund" ucap Zaira Seraya menutup pintu kamarnya setelah Bunda beranjak pergi.
__ADS_1