Guruku Suamiku

Guruku Suamiku
Season 2 Khanza


__ADS_3

" Maksud kamu apa bicara seperti itu?" Mila ngegas


" Mba Mila kenapa kok marah gitu?" Khanza berpura-pura lugu


" Aku tanya sekali lagi maksud kamu apa bicara seperti itu hah?" belum sempat menjawab, seorang bocah berumur 5 tahun langsung berlari berhambur kepelukannya.


Deg


" Mama, Nino kangen sama mama, jangan tinggalin Nino lagi mah!" ucap Nino terdengar sangat lirih


Mila hanya diam mematung membiarkan anak itu memeluk kakinya erat.


" Mama!" karena tidak mendapat sahutan dari Mila, anak kecil itu menarik-narik baju Mila dengan tangisnya yang terdengar memilukan.


" Jangan seperti ini, sebaiknya kamu masuk ke dalam, temani adik kamu!" Mila melepaskan tangan Nino dan mendorong tubuh mungilnya agar mau masuk ke dalam rumah.


Tangis anak itu semakin terisak, Khanza yang tidak tega melihat Nino menangis meraih tangannya dan membawanya ke dalam pelukan.


" Nino sayang, jangan nangis kan ada mama Za disini. Nino anak laki-laki harus kuat ya enggak boleh cengeng. sekarang Nino masuk dulu ya ke dalam nanti kita beli mainan ajak papa Aldy, bagaimana?" bujuk Khanza seraya melepaskan pelukan anak berusia 5 tahun tersebut


Khanza membantu Nino menghapus air matanya, lalu mendaratkan satu kecupan manis di keningnya.


" Mama Za janji ya!" ucap Nino


" Iya sayang" Khanza membelai pipi anak itu dengan gemas sebelum ia lari masuk ke dalam rumah


" Cih, dasar penjilat!" umpat Mila


" Maksud mba Mila apa ya berbicara seperti itu?" tanya Khanza masih bersikap sopan


" Kamu sudah merebut mas Aldy dari ku dan sekarang rupanya kamu juga ingin merebut Nino iya? atau jangan-jangan kamu juga berencana mendekati mas Toni, sungguh wanita mura_!" belum selesai dengan kata-katanya tangan kekar sudah mendarat di pipi Mila dengan sangat kuat


Plak


" Aa..!" pekiknya


" Jaga mulutmu beRenG**k, beraninya kau menghina isteriku!" tatapan mata Aldy kini sudah tidak bersahabat


" Pergi kau dari rumah ku, kau tidak pantas berada di sini. selama ini aku sudah sangat bersabar menghadapi mu tapi karena kau sudah berani menghina isteriku aku tidak akan tinggal diam kali ini."


" Sekali lagi kau menghinanya maka siap-siap saja aku akan membuat perhitungan dengan mu, aku tidak akan segan-segan menyeret mu ke dalam penjara!" ucap Aldy dengan amarah yang sudah meledak-ledak


" Mas Aldy, kamu_?" Mila memegangi pipinya yang terasa panas


" Cukup, jangan lagi bersandiwara di depan ku, pergi kau wanita picik. apa kau kira aku tidak tahu kebusukkan mu!"


" Sungguh keputusan yang tepat jika Toni memilih melepaskan mu, dari pada memelihara wanita ular seperti mu yang hanya akan menyakitinya dan juga anak-anak kalian" ucap Aldy penuh penekanan


Mendengar suara ribut-ribut diluar Toni yang baru keluar dari dalam kamarnya sambil menggendong baby Nola langsung pergi mencari sumber suara


Jlep


Toni mengepalkan tangannya kuat melihat Mila yang datang membuat keributan.


" Mila, mau apalagi kamu datang kemari?" tanya Toni geram


" Aku datang ke sini tentu saja untuk berkabung, ingat mama Titin itu masih ibu mertuaku dan aku turut sedih atas kepergiannya" jawab Mila dengan santai


" Ibu mertua katamu? cihhh..!" Toni tersenyum kecut


" Sejak kapan kau mengakui mama ku sebagai ibu mertuamu, bukankah kau merasa jijik dengan mama?" sindir Toni yang sudah merasa muak dengan Mila


" Kamu bicara apa mas, jangan menuduhku seperti itu!"


" Menuduh katamu, cihh...!" Toni sudah merasa muak dengan wanita yang ada di hadapannya


" Za, bisa minta tolong untuk membawa baby Nola kedalam!" ucap Toni menoleh ke Khanza yang sedang berdiri tidak jauh dari tempat ia berdiri


" Tentu saja" Khanza mengambil alih baby Nola dari tangan Toni


" Mas apa kamu akan diam saja disitu? sebaiknya biarkan mereka menyelesaikan urusan rumah tangga mereka sendiri !" ucap Khanza sebelum masuk ke dalam rumah


"Iya sayang" sahut Aldy yang langsung menyusul Khanza masuk ke dalam


" Tunggu mas, sebaiknya kamu disini saja!" dengan tidak tahu malunya Mila memegang lengan Aldy membuat Aldy menatapnya tajam dan penuh kemarahan.


Mila yang melihat tatapan Aldy yang begitu tajam langsung melepaskan tangannya.


"Jangan melibatkan orang lain dalam masalah rumah tangga kalian, apalagi orang itu sudah beristeri. jadilah wanita yang punya harga diri terutama di hadapan anak-anak kalian!" ucap Khanza yang menghentikan langkahnya karena Mila mencegah suaminya pergi


Setelah berucap seperti itu Khanza langsung masuk ke dalam rumah begitu juga dengan Aldy yang mengekor di belakangnya.


" Apa kamu tidak malu bersikap seperti itu, bahkan sikapnya jauh lebih dewasa dari mu!" ucap Toni


" Walaupun dia masih berstatus pelajar tapi dia pandai memposisikan dirinya, dia tahu tugasnya seorang isteri dan tahu bagaimana bersikap terhadap anak kecil tidak seperti dirimu yang justru bersikap kasar pada anakmu sendiri" lanjutnya


" Kau memujinya karena kau menyukainya bukan?" tanya Mila dengan senyum mengejek


" Aku memang menyukainya apa itu salah? dia gadis yang baik dan lembut terhadap anak-anak, jelas aku menyukainya tapi aku tidak seperti dirimu. walaupun aku menyukainya aku masih tau batasan, dia adalah kakak ipar ku dan aku menghargainya, tidak seperti dirimu yang justru bersikap tidak tau malu menggoda kakak iparmu sendiri yang sudah berusaha untuk membantumu" jawab Toni


" Aku tidak peduli dengan ucapan mu" Toni nampak geram


" Aku tau sepak terjangmu, meskipun aku meragukan Nilo anak siapa, tapi aku akan tetap menganggapnya seperti putriku sendiri dari pada dia hidup bersama seorang ibu macam dirimu yang tidak punya malu dan harga diri!" ucap Toni tegas


" Apa maksudmu mas? jelas-jelas Nola itu putrimu, kenapa kamu meragukannya?" tanya Mila yang sudah ketar-ketir sendiri


Toni tersenyum menyeringai " Kau pikir aku tidak tahu perbuatan mu dibelakang ku hah? aku tidak bodoh. walaupun aku sadar aku bukanlah pria baik-baik tapi setidaknya aku pun tidak sudi memiliki isteri yang suka bermain dengan laki-laki lain."


Deg

__ADS_1


Mila tercekat, lidahnya terasa kelu saat mendengar apa yang Toni ucapkan


" Aku merasa jijik mempunyai isteri yang telah berkhianat tapi tenang saja meskipun kau sudah mengkhianati ku putrimu tetap akan aku anggap seperti putriku sendiri karena sebejat apapun perbuatan mu putrimu tidak bersalah apa-apa, dia hanyalah korban dari keserakahan mu"


" A..aku!" Mila tergagap


" Sudahlah aku muak denganmu, sebaiknya kau pergi dari hadapanku dan jangan pernah muncul lagi di hadapan ku"


" Aku sudah mengurus perceraian kita, dan setelah itu kau bisa bebas menjalani hidup semau mu!" Toni langsung masuk ke dalam rumah dan menutup pintunya dengan kasar


Jebret


Mila terperanjat kaget dan menatap pintu yang sudah tertutup dengan nanar.


" Bagaimana kamu bisa tahu ini semua mas, apa dia yang memberitahu mu?" batin mila


Mila pergi dengan langkah gontai, lagi-lagi rencananya gagal.


Didalam rumah


" Maafkan atas sikap Mila yang selalu mengusik ketenangan rumah tangga kalian mas, Za!" ucap Toni setelah duduk bersama di ruang TV bergabung dengan Khanza yang sedang menggendong baby Nola dan duduk bersama Nino sedangkan Aldy tidak berani mendekati Khanza yang sedang mode mendiaminya


" Bagiku tidak masalah mas, selama aku masih bisa mengatasinya dan dia tidak menyentuh suamiku seutuhnya" ucap Khanza sedikit menyindir Aldy yang duduk di ujung sofa


Toni tersenyum simpul " Mas Aldy memang bodoh Za, memperlakukan wanita rubah macam Mila saja masih menggunakan perasaan, bagaimana kalau isterinya itu tidak secerdas mu entah apa yang terjadi dalam rumah tangga kalian!" tutur Toni


" Seharusnya wanita macam Mila jangan diberi kesempatan untuk dekat-dekat, ucapannya tidak bisa dipercaya. dan aku sungguh salut dengan sikap mu Khanza dalam menghadapinya!" Aldy menatap tajam pada Toni yang terang-terangan berani memuji isterinya dihadapannya


" Kenapa mas, kok menatap ku seperti itu? jangan bilang mas cemburu dengan kata-kata ku tadi?" tebak Toni


" Kalau tebakkan aku itu benar lalu bagaimana dengan Za, apa dia tadi tidak cemburu?" goda Toni membuat Aldy semakin kesal dibuatnya apalagi Khanza sudah menatapnya garang


" Sebaiknya urus urusan kalian, ayok Nino!" ucap Toni seraya mengambil baby Nola dari gendongan Khanza


" Sayang!" ucap Aldy setelah duduk di samping Khanza


Khanza masih diam dan mengalihkan pandangannya ke sembarang arah


" Kamu marah?"


" Tidak!" ketus Khanza


" Kalau tidak marah kenapa kamu mendiamkan mas terus?" Aldy meraih tangan Khanza dan menciuminya


Khanza melepaskan tangannya dari tangan Aldy lalu beranjak berdiri dari duduknya


" Kamu mau kemana?"


" Ke kamar!" ucap Khanza yang langsung pergi begitu saja meninggalkan Aldy yang menghela nafasnya panjang


" Akh...!" Aldy mengacak-acak rambutnya sendiri


Aldy akhirnya menyusul Khanza masuk ke dalam kamar.


" Sayang!" panggil Aldy melihat Khanza yang tengah sibuk mengepak bajunya ke dalam koper


" Maafin mas ya!" Aldy memeluk Khanza dari belakang


" Tidak ada yang perlu dimaafkan mas, sebaiknya mas bantu aku mengemas barang-barang, kita pulang sekarang" ucap Khanza


" Tapi_!"


" Sudahlah mas, tidak usah membahas hal itu lagi"


Khanza beranjak dari duduknya dan menyerahkan semua baju-baju yang akan dibawa pulang kepada Aldy


Khanza masuk kedalam kamar mandi untuk bersih-bersih, sekitar 15 menit Khanza baru keluar


" Sebelum pulang kita sarapan dulu mas, aku dibantu bibi tadi sudah masak!" ucap Khanza yang melihat Aldy tengah duduk di tepi ranjang selesai mengemas barang-barangnya.


" Kamu sudah tidak marah?"


" Bukannya dari tadi aku sudah bilang, aku tidak marah"


Aldy beranjak dari duduknya dan menghampiri Khanza yang tengah duduk di meja rias


" Terima kasih sayang!" ucap Aldy seraya memeluk Khanza dari belakang


" Sudah mas sebaiknya mas bersih-bersih setelah itu kita sarapan, aku tunggu dibawah!" ucap Khanza beranjak dari duduknya dan melepaskan pelukan Aldy


" Baiklah sayang!" ucap Aldy sambil mencium dan mengusap perut Khanza


Sementara itu di tempat yang berbeda Roni dan Miska kini sudah tidak lagi canggung untuk berjalan bersama di area sekolah.


" Jangan seperti ini!" Miska melepas tautan tangannya namun Roni semakin erat menggenggam tangan Miska


" Tidak apa-apa sayang, mereka juga sudah tau semua tentang hubungan kita!"


" Iya tapi tidak begini juga, aku malu!"


" Kenapa harus malu, hem!"


" Ini ditempat umum"


" Berarti kalau di dalam kamar boleh dong lebih dekat dari ini?"


" Apaan sih, tau ah!" ucap Miska dengan wajah yang sudah merona dan Roni tertawa puas melihat raut wajah Miska yang menggemaskan menurutnya


" Roni!" teriak seseorang yang berjalan menghampirinya

__ADS_1


" Ada apa?" tanya Roni menatap malas pada wanita yang kini berdiri di hadapannya


Wanita itu menatap tautan tangan Miska dan Roni dengan garang


" Kalian_?" menatap keduanya dengan penuh kebencian


"Jika tidak ada hal yang penting sebaiknya menyingkirlah!" ucap Roni tegas lalu berjalan begitu saja melewatinya


" Roni!" teriaknya namun tidak digubris oleh Roni


" Woyyy!" ucap Hana yang merangkul bahu Miska


" Sekarang udah resmi nih ceritanya udah berani jalan berduaan!" godanya


" Apaan sih Han!" Miska nampak merona


"Syukurlah kalau sudah berani tampil bareng lagi, setidaknya kita tidak perlu repot-repot mengawal ibu negara!" kali ini Billy yang menggoda


" Kalian ini ya, bisanya ngeledek orang terus, gimana nih sendirinya? udah sering jalan bareng apa enggak ada rencana gitu?" kali ini Miska yang menggoda


" Rencana apa?" tanya Hana dengan polos


" Ya rencana jadian gitu!" sahut Miska


" Uhukk... uhuk..." Hana dan Billy seketika terbatuk bersama


" Cie kompaknya!" kali ini Roni yang meledek kedua sahabatnya itu


Miska dan Roni tertawa melihat keduanya yang nampak salah tingkah


" Ekhem!"suara deheman yang terdengar dari arah belakang membuat semuanya menoleh


"Apa kalian merasa senang melihat teman-teman kalian terluka diatas kebahagiaan kalian?" tanya Nana yang langsung berlalu pergi


" Sudah enggak usah di dengar ucapannya yang gak jelas itu!" ucap Billy


"Betul, kalian berhak bahagia. buat apa memikirkan hal bodoh macam itu. toh mau bagaimana memangnya? seandainya kalian berpisah pun mereka belum tentu akan bahagia kan?" Hana ikut menimpali


" Dengar itu sayang, jadi jangan pernah termakan oleh ucapannya!" ucap Roni pada Miska


" Iya aku tahu tapi aku merasa tidak enak saja sama Nana" ucap Miska sendu


" Sudahlah jangan pikirkan dia, orang macam itu akan sulit menerima kenyataan karena dihatinya hanya ada rasa iri, jika Roni bersamanya pun belum tentu dia bisa merasakan apa yang elo rasain!" ucap Billy


" Jangan pikir yang macam-macam, semua demi ponakan gue jadi berbahagialah!" lanjutnya


" Duh Billy loe kok baik banget sih, !" Miska tertawa bahagia


" Loe dan Roni sekarang adalah sahabat gue jadi gue berharap kalian tetap bahagia bersama jangan goyah Ka, jaga terus cinta kalian dengan baik!" sahut Billy


" Elo berdua emang sahabat terbaik gue, duh andai ada Za disini. gue jadi kangen banget sama tuh anak!" lirih Miska


" Sama gue juga kangen!"


" Kira-kira Khanza kemana sih kok sudah 4 hari gak masuk?" tanya Hana


" Iya gue juga enggak tau" sahut Miska


" Apa kalian tidak tahu, kalau ibunya pak Aldy meninggal?" tanya Roni


" Apa meninggal?" beo Hana dan Miska bersamaan


" Iya, jadi kalian benar-benar tidak tahu?" keduanya menggeleng


" Kamu tahu dari mana?" tanya Miska pada Roni


" Aku tahu dari daddy!"


" Kenapa tidak bilang?"


" Aku kira kamu sudah tahu sayang!" sahut Roni


" Duh.. kalian bikin gue baper aja manggilnya sayang sayangan" ucap Hana


" Iri loe?" ledek Billy


" Iya Bill pingin dipangin sayang dia!" Miska ikut meledek


" Ishhh... apaan sih loe?" Hana mengerucutkan bibirnya


" Udah ah gue mau masuk kelas!" ucap Hana yang segera berlalu pergi


" Han tunggu gue!" ucap Miska yang hendak menyusul dengan berlari


" Sayang jangan lari!"


" Miska jangan lari!" teriak Billy dan Roni bersamaan


Hana yang mendengar teriakan Billy dan Roni langsung berbalik badan


" Miska!" sentak Hana


Miska langsung berhenti dan menatap bingung


"'Dasar ceroboh, apa Loe lupa kalau loe lagi hamil?" marah Hana seraya berbisik


" Eh iya gue lupa!" Miska cengengesan


" Kebiasaan!" ucap Roni mencubit pipi Miska gemas

__ADS_1


" Maaf, aku lupa !" Miska cengengesan


Roni dan Billy menggeleng gemas dengan tingkah bumil yang satu ini.


__ADS_2