Guruku Suamiku

Guruku Suamiku
Baik-baik saja


__ADS_3

Zaira jalan dengan tergesa-gesa bahkan pak suami pun sampai tertinggal di belakang,


" Sayang jalannya jangan terburu-buru seperti itu, ingat kamu itu sedang hamil!" ucap Azka saat tangannya sudah meraih tangan Zaira dan mampu menghentikan langkahnya.


" Maaf!" cicit Zaira


Saat ini Zaira dan Azka tengah berada di rumah sakit setelah tadi Azka mengatakan kalau Lia kini berada di rumah sakit, Zaira terus merengek ingin memastikan langsung keadaan Lia yang sebenarnya.


Azka terpaksa mengizinkannya karena melarangnya pun percuma, bisa-bisa yang ada Zaira malah terus kepikiran dan tentu saja itu tidak baik untuk kondisi kandungannya.


Dengan penuh perhatian Azka menggandeng tangan Zaira yang terasa dingin karena terlalu mencemaskan keadaan Lia, untung saja Mona tidak menceritakan sepenuhnya tentang apa yang menimpa Lia kepada Zaira jika sampai Zaira tahu mungkin ia akan syok dan kembali teringat kejadian yang dulu pernah menimpanya. Azka sengaja tidak menceritakan secara detail karena tahu dengan baik bagaimana kondisi psikis Zaira saat ini.


Saat hendak memasuki ruangan dimana Lia di rawat secara kebetulan Zaira dan Azka bertemu dengan Mona dan Mita.


" Kalian!" Zaira langsung menghampiri Sahabatnya itu dan memeluknya.


Zaira menangis di dalam pelukan Mita " Kalian tidak apa-apa?" tanya Zaira setelah mengurai pelukannya menatap secara bergantian ke Mona dan Mita


" Kami tidak apa-apa Za, loe gak usah cemas ya, ingat kehamilan loe Za!" ucap Mita mengingatkan dan mengusap perut Zaira pelan.


" Iya Za, loe jangan cemas ya kita semua baik-baik aja kok" timpal Mona yang sedikit merasa bersalah karena sudah keceplosan bicara.


" Syukurlah kalau begitu, lalu dimana Mia dan Indah?" tanya Zaira karena tidak melihat keberadaan dua sahabatnya itu.


" Mia dan Indah terpaksa harus menginap dulu di sini semalaman, kata dokter kondisi mereka cukup lemah jadi perlu di infus. mungkin besok juga sudah di perbolehkan pulang" sahut Mita


" Gue mau melihat kondisi mereka!" ucap Zaira lalu menoleh ke arah Azka yang tengah berdiri di belakangnya.


Mengerti maksud tatapan Zaira yang seakan meminta izin, Azka pun mengangguk pelan.


Mona dan Mita berjalan bersama Zaira menuju kamar Indah dan Mia dirawat, Azka mengekor di belakang dan pada saat hendak masuk ke ruangan Mia dan Indah tanpa sengaja mereka bertemu dengan dokter Ariel yang pada saat itu sedang berjalan bersama dengan dokter Dinda.


" Al!"


" Zaira!"


Panggil dokter Ariel dan dokter Dinda bersamaan.


Zaira yang merasa namanya dipanggil pun langsung menoleh " Kak Ariel, Kak Dinda!" cicitnya.


" Za kamu sedang apa disini, siapa yang sakit Za?" tanya dokter Dinda cemas, karena memang dia sudah menganggap Zaira seperti adik kandungnya sendiri apalagi dia juga mengenal baik dengan bunda Aryani.


" Sahabat aku kak, Mia dan Indah!" sahut Zaira


" Tapi kamu baik-baik ajakan Al?" kali ini dokter Ariel yang gantian bertanya.


" Aku baik kak" Jawab Zaira yang sedikit merasa sungkan.


" Syukurlah, bagaimana keadaan kandunganmu?" tanya dokter Ariel lagi.


" Sangat baik kak" sahut Zaira yang langsung menoleh ke arah Azka yang berada di belakangnya


" Syukurlah Za jika kamu dan bayi kamu dalam keadaan sehat, besok jadwal kontral ya Za.!" ucap dokter Dinda.


" Baik dokter!" sahut Azka yang mewakili Zaira


" Sebaiknya kita segera masuk untuk melihat Mia dan Indah sayang, karena kita juga harus ke ruangan Lia setelah ini. lagi pula kamu juga tidak baik berada di tempat ini lama-lama sayang." ucap Azka yang langsung merangkul pinggang Zaira dan mengajaknya masuk ke ruang Mia dan Indah.


" Kami permisi dulu dokter Dinda, dokter Ariel!" pamit Azka sebelum masuk ke dalam.


Tatapan dokter Ariel tidak lepas dari Zaira yang sudah masuk bersama Azka dan menghilang di balik dinding.


Dokter Ariel sedikit menarik sudut bibirnya ke atas melihat kemesraan Zaira dan Azka dan itupun tidak lepas dari tatapan mata seseorang yang sedari tadi terus memperhatikan interaksinya dengan Zaira.


" Dokter Ariel saya duluan ya, saya masih ada ada kunjungan pasien !" pamit dokter Dinda


" Owh iya silahkan dokter Dinda" ucap dokter Ariel tersenyum ramah.


" Saya pamit permisi semuanya!" ucap dokter Dinda sebelum pergi.

__ADS_1


Mona dan Mita hanya menjawab dengan senyuman.


Mona dan Mita memilih masuk ke dalam ruangan menyusul Zaira dan Azka. " Kami permisi dulu dokter!" ucap Mona yang lebih dulu berjalan lalu Mita mengekor di belakangnya.


Deg


Dokter Ariel membulatkan matanya saat melihat gadis yang selama ini selalu mengingatkan dan membuka jalan pikirannya dengan kata-katanya itu berdiri di hadapannya. Sedari tadi dokter Ariel ternyata tidak menyadari keberadaan Mita, pandangannya yang hanya fokus ke Zaira sampai tidak menyadari sosok gadis yang sejak awal melihatnya, pandangannya tidak berpaling sedikitpun dari dirinya.


" Saya permisi dokter!" ucap Mita yang hendak menyusul Mona namun langkahnya terhenti karena dokter Ariel menarik tangannya.


Mita menoleh dan menatap tangannya yang masih dipegang oleh dokter Ariel. menyadari tatapan mata Mita dengan segera dokter Ariel melepaskan tangannya dari tangan Mita.


" Maaf!" ucapnya


" Tidak apa-apa dokter!" jawab Mita yang sedikit canggung.


" Emm... kenapa akhir-akhir ini kamu tidak datang menemui saya?" tanya dokter Ariel yang memang sudah beberapa hari belakangan ini tidak melihat Mita datang ke taman.


Gadis yang selama ini datang dan menemui dokter Ariel tidak lain adalah Mita, sejak awal bertemu dengan dokter Ariel Mita memang sudah menaruh hati dengan dokter tampan yang satu ini, namun setelah tahu kalau ternyata dokter Ariel adalah kakak angkat Zaira Mita nampak begitu terkejut ditambah lagi dengan fakta yang ada kalau ternyata dokter Ariel sangat mencintai sahabatnya yang tidak lain adalah Zaira. Sebisa mungkin Mita memilih untuk mengubur perasaannya. tapi Tuhan berkehendak lain karena disaat ingin melupakan dokter Ariel, Mita malah melihat dokter Ariel yang tengah terpuruk dan nampak frustasi di taman, hati Mita tersentuh dan tergerak untuk mencoba menghiburnya.


" Mita!" panggil dokter Ariel yang melihat Mita diam saja.


" Iya maaf dokter ada apa?" tanya Mita


" Kamu belum jawab pertanyaan saya!" sahut dokter Ariel


" Pertanyaan yang mana ya dok?" Mita mengerutkan keningnya karena tadi dia memang tidak menyimak pertanyaan dokter Ariel


" Kenapa kamu tidak lagi datang ke taman?" tanya dokter Ariel untuk yang kedua kali.


Mita tersenyum tipis sebelum menjawab pertanyaan dokter Ariel " Tidak kenapa-napa dokter, saya hanya sedikit sibuk" jawabnya asal


" Maaf dokter, saya permisi dulu!" ucap Mita lagi yang merasa sedikit tidak nyaman bila teringat tatapan dokter Ariel tadi terhadap Zaira, meskipun dia sadar bukan siapa-siapa tapi hati kecil sulit untuk di bohongi.


Mita beranjak pergi namun sebelum masuk ke dalam ruangan Mia dan Indah lagi-lagi langkahnya terhenti oleh ucapan dokter Ariel yang mampu membuatnya berdiri mematung.


Mita tidak menggubris ucapan dokter Ariel dan kembali melangkah masuk ke dalam ruangan Mia dan Indah.


Dokter Ariel tercengang karena merasa diabaikan.


🍁


Di dalam ruangan


Zaira mengusap air matanya saat melihat kedua sahabatnya yang tengah memejamkan mata, Mia dan Indah saat ini tengah tertidur setelah tadi Mona dan Mita membantunya minum obat, mungkin karena efek dari obat yang diminumnya membuat Mia dan Indah tertidur, sehingga mereka tidak menyadari kedatangan Zaira dan Azka.


" Za loe gak usah cemas, mereka itu baik-baik aja kok, mereka itu cuma ketiduran mungkin efek dari obat yang barusan mereka minum" ucap Mita mencoba menenangkan Zaira.


" Mit benarkan mereka itu baik-baik aja, loe gak lagi bohongin gue kan Mit?" tanya Zaira seraya menghapus air matanya.


" Buat apa gue bohong si Za!" sahut Mita


" Mita apa keluarga mereka sudah kamu hubungi?" tanya Azka menyela pembicaraan Zaira dan Mita.


" Sudah pak, orang tua Indah tidak bisa datang pak karena sedang berada di luar kota, mungkin nanti tunangannya pak yang akan datang ke sini" sahut Mita


" Sedangkan Mia ibunya sedang sakit pak dan dirawat di rumah sakit ini juga tadi papanya sempat datang kesini karena melihat kondisi Mia yang sudah baikkan jadi papanya kembali ke ruangan ibunya pak" tambahnya lagi.


" Baguslah jika mereka semua sudah diberitahu!" ucap Azka lalu melirik ke jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.


" Sayang, sebaiknya kita ke ruangan Lia sekarang dan biarkan mereka beristirahat!" Azka menghampiri Zaira dan merangkul kedua bahunya.


Zaira mengangguk pasrah karena melihat keadaan sahabatnya yang bisa dibilang tidak sedang baik-baik saja membuat Zaira nampak sedih dan muram.


Azka yang dapat merasakan apa yang tengah di rasakan isterinya langsung membawa Zaira ke dalam pelukannya" Sayang kamu tidak perlu khawatir lagi ya, kamu lihat sendirikan mereka dalam keadaan baik-baik saja!" ucap Azka seraya memberikan kecupan singkat di pucuk kepala Zaira.


" Iya Za, yang dibilang pak Bagaz benar, elo gak usah khawatir kita semua dalam keadaan baik-baik aja kok, loe harus ingat Za kesehatan loe jauh lebih penting demi anak yang ada di dalam perut loe" ucap Mona dan Mita mengangguk Pelan setuju dengan ucapan Mona.


" Oia, pak maaf bagaimana keadaan Lia? apa boleh kami menjenguknya?" tanya Mita hati-hati

__ADS_1


" Tentu saja boleh, kita jenguk Lia sama-sama iyakan mas?" sahut Zaira yang langsung mendongak menatap lekat wajah suaminya.


" Iya!" Jawab Azka singkat.


Mereka kini keluar dari kamar Mia dan Indah pergi ke ruangan tempat Lia di rawat.


Saat sampai di depan pintu ruangan tersebut Zaira dan Azka masuk lebih dulu kemudian disusul Mona dan Mita yang berjalan di belakang mereka.


Ceklekk


Pintu terbuka dan nampak lah wanita cantik yang tengah berbaring di atas tempat tidur dengan selang infus yang menempel di tangannya.


Zaira langsung menghampiri Lia yang terlihat senyum kearahnya " Li loe gak apa-apakan?" tanya Zaira yang ternyata sudah sesenggukan.


" Za loe apa-apaan sih, norak deh pakai nangis segala. gue gak apa-apa Za!" ucap Lia yang perlahan menggeser posisinya menjadi duduk.


" Loe lebay, gak tau apa adik ipar loe ini siapa.? udah jangan pakai acara nangis-nangis ya, kasihan keponakan gue nanti ikutan sedih karena mommy nya cengeng!" pinta Lia yang berusaha untuk tenang dan terlihat baik-baik saja. karena dia tahu bagaimana kondisi Za Sahabatnya jadi meskipun saat ini Lia ingin sekali menangis sekuat mungkin ia berusaha untuk menahan air matanya yang sedari tadi ingin keluar.


" Loe ya dasar bikin panik aja tau gak!" kesal Zaira sambil mengusap air matanya dengan kasar yang masih aja menetes tidak mau berhenti.


" Yaelah ini anak, loe itu udah mau jadi calon mama muda loh masih aja cengeng, Za gue baik-baik aja, apalagi gue punya kakak yang gue yakin pasti bisa menjaga adiknya dengan baik. jadi loe gak usah khawatir lagi ya;" ucap Lia yang seketika membuat Azka merasa tersentil hatinya, pasalnya justru sebaliknya, disaat adiknya tengah dalam keadaan bahaya justru dirinya tidak tahu apa-apa jika bukan karena Mario dan begitu protektif nya seorang Mario terhadap Lia yang dasarnya pada waktu itu bukanlah siapa-siapa. tapi karena perasaan cintanya yang begitu kuat entah filling atau memang kebetulan Mario memberikan gelang miliknya kepada Lia yang belum berstatus kekasih seperti sekarang.


Azka terdiam, merasa malu terhadap dirinya sendiri yang pada kenyataannya tidak bisa menjadi kakak yang baik untuk Lia bahkan dulu pun pada saat hal yang sama menimpa Zaira jika bukan karena bantuan dari Mario mungkin nasib Zaira tidak seperti sekarang. jika membayangkan hal itu ingin sekali Azka memaki dirinya sendiri.


" Kak, kakak kenapa?" tanya Lia yang sadar akan perubahan sikap Azka.


Azka menoleh lalu tersenyum hambar. " Kak, Kaka gak usah cemas aku baik-baik saja kok kak. !" ucap Lia tersenyum.


Azka mendekat ke arah Lia lalu memeluk Adik satu-satunya itu. " Maafkan kakak ya Mel!" ucap Azka di dalam pelukan sang adik.


" Maaf untuk apa kak?"


" Maaf karena kakak bukanlah Kakak yang baik, bahkan melindungi dan menjaga kamu saja kakak tidak becus" sahut Azka mengurai pelukannya.


" Ish, kakak bicara apa sih, udah deh gak usah kayak gini dong. aku gak suka ya kak pakai acara menangis segala. aku ingin melupakan semuanya kak, jadi please bantu aku ya kak. jangan ungkit kejadian ini lagi. oke!" ucap Lia mencoba untuk tertawa walaupun sejujurnya hatinya sakit melihat kakaknya yang merasa bersalah terhadapnya.


" Li loe beneran gak apa-apa?" tanya Mona yang juga mencemaskan keadaan Lia apalagi dia tahu dengan jelas kejadian yang menimpa Sahabatnya itu.


" Gue gak apa-apa, loe percayakan Mon, Mita kalau kita pasti akan selamat dan semua akan baik-baik saja!" ucap Lia membuat Mona dan Mita teringat akan sesuatu.


" Malaikat penolong?" ucap Mona dan Mita bersamaan.


Deg


Lia tercengang dengan ucapan kedua sahabatnya tersebut.


" Sial, mereka ingat lagi, ah kenapa gue bahas itu sih tadi!" batin Lia meruntuki kebodohannya sendiri.


" Li sebenarnya siapa sih orang yang menjadi malaikat penolong kita itu?" tanya Mona yang sangat penasaran.


" Malaikat penolong loe tepatnya!" ucap Mita menimpali


Glekk


Lia menelan salivanya dengan kasar. " Malaikat penolong, siapa? ya kak Azka dan pasukannyalah. iyakan kak?" ucap Lia yang langsung mengedipkan matanya pada Azka.


Azka yang tahu maksud dari kedipan mata Lia hanya mengangguk pelan.


" Tapi Li cowok yang memakai jubah hitam itu siapa, dia yang membawa loe pergi kan?" tanya Mona lagi.


" Iya Li dan sempat gue perhatiin kalau dia itu kelihatannya khawatir banget sama loe!" sahut Mita yang ikut penasaran.


" Gue... gue gak tau, ya gue kira orang itu kak Azka atau siapalah yang gue kenal. loe tahu kan keadaan gue gimana waktu itu jadi ya tanpa banyak mikir lagi yang penting gue selamat, gitu!" sahut Lia sedikit berbohong.


" Sudah gak usah di bahas yang terpenting kita semua sekarang sudah selamat dan dalam keadaan baik-baik saja!" ucap Lia yang ingin mengalihkan pembicaraan


Ceklekk


Mereka semua menoleh bersamaan saat pintu ruangan terbuka dari luar.

__ADS_1


__ADS_2