Guruku Suamiku

Guruku Suamiku
Season 2 Khanza


__ADS_3

Potongan-potongan gambaran tentang peristiwa terjadinya kecelakaan yang menimpa dirinya dan juga kedua orang tuanya kini melintas jelas di kepala Nana, seketika degup jantungnya berpacu sangat cepat saat ia dapat melihat dengan sangat jelas bayangan dimana mobil yang ia dan kedua orang tuanya tumpangi tiba-tiba menabrak sebuah mobil lalu terguling dan berakhir menabrak sebuah pohon besar, Nana yang masih belum kehilangan kesadarannya sempat melihat sekilas kedua orang tuanya yang sudah bersimbah darah dalam keadaan tidak sadarkan diri, Nana yang berusaha untuk menghampiri mereka pandangannya tiba-tiba gelap dan seketika ia sudah tidak sadarkan diri.


Dumbbb


" Mama.... papa..." teriak Nana yang langsung tersadar dari pingsannya


Deru napasnya ngos-ngosan, degup jantungnya tidak terkendali matanya memerah dan hatinya mencelos ketika terlintas dalam memory nya tentang bayangan kedua orang tuanya yang bersimbah darah dengan keadaan yang cukup mengenaskan


" Tidak.... ini tidak mungkin.... mama... papa..." rancau Nana


" Nana, tenanglah. aku mohon tenangkan dirimu!" ucap Haris berusaha untuk menenangkan Nana yang nampak histeris dan terpukul saat tersadar dari pingsannya


" Mama... papa... tidak.... kalian tidak boleh pergi meninggalkan aku sendiri, tidak kalian tidak boleh pergi, tidak" kata-kata itu yang terus terlontar dari bibir Nana membuat Hana tidak kuasa menahan Isak tangisnya


" Na loe enggak sendiri, masih ada kita-kita" ucap Billy berusaha untuk menenangkan Nana yang masih merancau tidak jelas


" Na, gue mohon sadar Na, masih ada kita disini buat loe, gue tau ini memang berat tapi Na walau bagaimanapun loe harus kuat, mama dan papa loe pasti tidak mau melihat loe terpuruk kayak gini" Hana berusaha untuk menenangkan Nana yang duduk seraya memeluk kedua lututnya


" Mama.... papa.... jangan pergi...mama... papa..." Haris menangis melihat keadaan Nana yang terbilang sangat tidak baik-baik saja


" Na gue mohon sadar Na jangan seperti ini" Hana memeluk Nana tapi Nana tidak bergeming mulutnya terus saja merancau menyebut mama dan papanya


" Bang bagaimana ini?" tanya Hana yang menoleh ke arah Haris


Haris bergeming dia benar-benar tidak tahu harus bagaimana lagi menghadapi Nana, hatinya terasa sakit melihat gadis yang sangat dia cintai begitu terpukul dengan kenyataan pahit yang harus dihadapinya, ia hanya bisa menangis pilu


Ceklek


Pintu ruangan Nana terbuka dan dokter Malik dengan seorang sister masuk untuk memeriksa keadaan Nana


" Bagaimana keadaannya dokter ?" tanya Haris dengan raut wajah cemas setelah dokter Malik selesai memeriksa keadaan Nana Haris langsung bertanya tentang kondisi Nana


" Saat ini saya sudah memberinya obat penenang, karena pasien memang benar-benar dalam keadaan sangat terpukul hatinya. sepertinya kepingan-kepingan ingatannya tentang kejadian kecelakaan yang ia alami itu kini mulai kembali, jadi bisa dipastikan dia mengalami trauma yang besar dan guncangan yang hebat ketika dibawah alam sadarnya dia melihat kedua orang tuanya yang turut mengalami kecelakaan bersamanya" tutur dokter Malik menjelaskan


" Lalu apa yang harus kami lakukan dokter?" tanya Haris dibalik kecemasan hatinya


" Terus temani dia, beri dia semangat dan juga hibur dia bantu dia melupakan kesedihannya" sahut dokter Malik


" Dukungan dan semangat dari kalian semua sangat ia butuhkan, jangan pernah putus asa dalam menghadapi seseorang yang berada dalam kondisi terguncang hatinya, butuh kesabaran yang ekstra dan berdoa semoga pasien bisa melewatinya dengan baik dan bisa menerima kenyataan ini" tutur dokter Malik


Haris terdiam pandangannya terus tertuju pada gadis yang saat ini tengah memejamkan mata diatas tempat tidur.


" Baik dokter terima kasih banyak" ucap Billy karena Haris nampak begitu syok dan duduk sambil menatap kosong ke arah Nana


" Sama-sama, kalau begitu saya permisi dulu" pamit dokter Malik


" Silahkan dokter" sahut Billy


Setelah dokter Malik pergi Billy berjalan menghampiri Haris.


" Bang!" panggil Billy


" Sebaiknya bang Haris istirahat dulu gih, biar Nana aku yang jagain!" ucap Billy membujuk Haris karena sejak Nana jatuh pingsan Haris belum mengisi perutnya sama sekali ia masih setia menemani Nana hingga sadar


" Aku belum lapar' jawab Haris pelan


" Tapi yang Billy katakan benar bang, jika bang Haris gak mau makan abang bisa jatuh sakit dan enggak bisa jagain Nana" bujuk Hana yang juga merasa khawatir dengan keadaan kakaknya yang pastinya juga merasa sangat sedih melihat kondisi Nana


Ceklek


Pintu ruangan terbuka nampak Khanza dan Aldy masuk bersama dan dibelakangnya ada keluarga Dinata yang juga datang bersama mereka yang kebetulan bertemu di lobi rumah sakit


"Assalamualaikum!" ucap Khanza

__ADS_1


" Wa'alaikum salam!" sahut mereka yang berada di dalam secara bersamaan.


" Bagaimana keadaan Nana?" tanya Khanza pada Hana


" Nana tadi sempat sadar tapi kondisinya sungguh sangat memprihatikan, dia sangat terpukul setelah ingat tentang orang tuanya yang turut mengalami kecelakaan bersamanya!" jawab Hana


" Dan dokter tadi sudah memberinya obat penenang, tapi yang aku takutkan saat dia sadar nanti dia akan kembali histeris dan merancau memanggil-manggil kedua orang tuanya" lanjut Hana


Mama Maria yang mendengar penuturan Hana ikut terenyuh mendengarnya begitu juga dengan Zaira yang berdiri di samping mertuanya itu, Mama Maria menoleh ke arah Zaira lalu mengusap punggung tangannya, dia merasakan menantunya itu turut sedih melihat kondisi Nana karena dulu ia pernah berada di posisi Nana.


Sudah hampir 2 jam Nana tertidur dan Haris tidak juga mau beranjak dari tempat duduknya, meskipun Hana dan Billy sudah berusaha untuk membujuknya tapi rupanya Haris masih tidak mau meninggalkan Nana barang sedikitpun


" Mama... papa...!" teriak Nana saat tersadar


Haris terkejut bukan main ketika melihat Nana langsung duduk sambil berteriak memanggil mama dan papanya


" Nana kamu sudah sadar?" Nana menoleh pada Haris dan dengan kasar ia menepis tangannya


Haris tersentak kaget dengan reaksi Nana, bahkan tatapan matanya begitu tajam


" Nana ini abang, Haris!" Haris berusaha untuk mendekatinya lagi tapi reaksi Nana tetap sama


Sakit sungguh sakit hati Haris menatap lekat gadis yang sangat dicintainya itu yang sedang menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan


" Ada apa sayang, kenapa kamu marah sama abang?" tanya Haris berusaha untuk membujuk Nana


" Aku udah enggak punya siapa-siapa lagi, aku kini sendiri. mama ... papa.... Nana mau ikut kalian " rancau Nana


Haris benar-benar sakit melihat Nana seperti itu " Nana, kamu tidak sendirian ada abang ada Hana dan juga ada teman-teman kamu yang lainnya sayang!" ucap Haris berusaha untuk menenangkan hati Nana. semua yang berada di ruangan tersebut menangis melihat kondisi Nana yang terbilang dalam keadaan tidak baik-baik saja


" Aku enggak mau ditinggal, mama.. papa.. jangan tinggalkan Nana!"


" Nana mau ikut, tunggu Nana!"


" Nana apa yang bang Haris bilang itu benar, loe enggak sendirian Na, masih ada kita semua disini untuk loe" timpal Khanza berusaha untuk mendekati Nana tapi dicekal oleh Aldy. karena kondisi Nana yang tidak stabil Aldy takut jika Khanza kenapa-kenapa


Mama Maria yang melihat kekhawatiran Aldy pada Khanza tersenyum tipis lalu ia melangkahkan kakinya menghampiri Nana yang sedang merancau tidak jelas


" Sayang, kata siapa kamu sendirian. coba kamu lihat baik-baik disini ada banyak orang yang sangat sayang sama kamu dan kami disini ada untuk kamu" ucap mama Maria


" Mama sama papa kamu pasti sedih melihat putri kesayangannya seperti ini, mereka tau kamu itu gadis yang kuat dan hebat jadi mereka tenang walaupun harus meninggalkan kamu disini bersama kami" lanjutnya


" Apa yang mama bilang itu benar, Nana kamu harus sadar dan harus bisa menerima kenyataan ini, sepahit apapun kenyataan yang ada di hadapanmu kau harus rela dan ikhlas karena hanya itu yang bisa membuat kedua orang tua kamu merasa bahagia, jika kamu seperti ini terus kamu hanya akan membuat mereka sedih, kamu memang tidak bisa melihat mereka menangis tapi ketahuilah saat ini mereka masih berada di sini dan sedang melihatmu sambil menangis" ucap Zaira


" Kita pernah berada di pase yang sama, jelas aku dapat merasakan apa yang kamu rasakan, kita sama-sama sudah tidak memiliki orang tua tapi bukan berarti kita hidup sendirian. coba kamu lihat keadaan disekitar masih ada orang-orang yang peduli sama kamu dan yang sayang sama kamu"


" Ayok Na kamu buka mata hati kamu dan juga buka pikiran kamu, rasa trauma kamu yang besar jangan kamu jadikan dinding pembatas untuk kamu bangkit dari keterpurukan mu. ini semua adalah takdir yang tidak ada seorang pun yang bisa mencegahnya. Allah memberikan ujian seperti ini karena Allah yakin kamu bisa menghadapinya. Allah itu tidak akan menguji hambanya diluar batas mampu dan sanggupnya, Na kita disini adalah keluarga kamu, kami sayang sama kamu. buatlah kedua orang tua kamu bangga memiliki seorang putri yang tangguh seperti kamu" Zaira menarik Nana kedalam pelukannya Nana bergeming air matanya tumpah begitu saja


" Menangislah, menangislah sepuasnya, keluarkan semua kesedihan mu!" Zaira mengusap-usap punggung Nana dengan penuh kelembutan


" Jangan ditahan, menangislah luapkan semua rasa yang mengganjal di hati kamu, lepaskan semua beban yang ada di hati kamu. lepaskan semua kesedihan kamu sampai benar-benar lega setelah itu jangan bersedih lagi belajar untuk menerima dan mengikhlaskan semua yang sudah terjadi, buka lembaran baru dan hiduplah dengan bahagia bersama orang-orang yang sangat menyayangi kamu. Walaupun berat tapi cobalah untuk berusaha berdamai dengan hati kamu, belajar ikhlas menerima semuanya demi kedua orang tua kamu dan juga demi mereka yang sangat menyayangi kamu. "


" Melihatmu terus berada dalam keterpurukan sama saja kamu membawa mereka hidup dalam dunia mu, kamu sedih mereka juga pasti sangat sedih, kamu terpuruk mereka jauh lebih terpuruk, apa kamu mau mereka semua ikut sedih bersama kesedihan yang kamu rasakan?"


Zaira mengurai pelukannya dan menatap lekat Nana yang masih terisak


" Coba kamu lihat mereka, tatapan mereka semua sama seperti yang kamu rasakan, mereka merasa kehilangan sahabat, kekasih dan juga kakak saat kamu lebih memilih meratapi kepergian kedua orang tua mu, bukan mereka melarangmu bersedih tapi jangan membuat kesedihan mu itu membawa mu jauh dari mereka" Nana terdiam kata-kata Zaira membuat pikirannya terbuka.


Ia menatap Zaira lalu sedetik kemudian Nana berhambur memeluk Zaira dan kembali menumpahkan kesedihannya


" Menangislah!" Zaira mengusap-usap punggung Nana


" Kita sama-sama sudah tidak memiliki orang tua, tapi kita masih punya orang-orang tercinta yang masih membutuhkan kita dan ingin melihat kita hidup bahagia" ucap Zaira

__ADS_1


" Terima kasih ka Za!" ucap Nana lirih


" Iya, sama-sama. Jangan bersedih lagi ya!" Nana mengangguk pelan


" Menghilangkan trauma dalam ingatan memang tidak mudah, aku tahu itu rasanya seperti didalam penjara saat memory yang tiba-tiba muncul dan menghantam alam bawah sadar kita, akhirnya kita merasa ketakutan yang teramat besar, kamu harus bisa melawannya ya Na tatkala masa-masa itu muncul kembali dalam ingatan kamu. jangan berusaha untuk melupakan tapi biarkan semua itu berlalu dengan sendirinya karena semakin kamu berusaha untuk melupakan yang ada ingatan itu akan semakin besar muncul menghsntuimu jadi biarlah semua berlalu dengan seiringnya waktu, belajar mengikhlaskan agar semua mudah untuk kamu lalui" Nana kembali mengangguk


" Jangan diingat lagi kejadian buruk itu tapi ingatlah senyum mereka senyum kedua orang tua mu yang selalu bangga memiliki putri seperti mu, buatlah mereka bahagia disana dengan kamu yang kembali ceria karena kebahagiaan terbesar dari orang tua adalah melihat anak-anaknya bisa hidup bahagia"


" Iya ka, aku akan berusaha untuk menerima semua ini dengan ikhlas. terima kasih ya kak Za"


" Tidak perlu berterima kasih adikku" Zaira mengacak-acak rambut Nana sambil tersenyum


" Adik?" beo Nana


" Iya, kamu itu enggak sendirian ada mama Maria mama kamu juga sekarang dan Zaira adalah kakakmu kalian semua putri-putri mama yang sangat mama sayangi" ucap mama Maria seraya memeluk Nana dan Zaira


" Aku juga mau dipeluk!" ucap Khanza


" Apa aku juga boleh?" tanya Hana


Mama Maria merentangkan tangannya begitu juga dengan Zaira mereka semua para wanita akhirnya saling berpelukan sambil tersenyum bahagia.


Haris tak kuasa membendung air matanya melihat Nana yang kini bisa tersenyum lagi.


Semua yang berada di dalam ruangan itu turut merasa bahagia melihat Nana yang kini sudah baik-baik saja


Ceklek


Atensi mereka beralih pada pintu yang baru saja terbuka


" Sepertinya aku sudah melewatkan sesuatu!" ucap Miska yang baru saja datang bersama Roni


" Sini sayang!" panggil mama Maria


Miska berjalan menghampiri mereka semua yang masih saling memeluk, Khanza merentangkan tangannya menyuruh Miska datang ke arahnya dan mereka kembali berpelukan


" Kalian adalah putri-putri mama yang sangat mama banggakan, semoga kalian semua hidup bahagia bersama-sama memberikan mama cucu yang banyak ya!" seloroh mama Maria yang membuat semuanya tertawa bersama


Papa Sam tersenyum melihat isteri dan menantunya, dia merasa sangat bangga.


Semuanya kini tengah duduk di sofa hanya mama Maria yang sedang bersama dengan Nana


" Sayang, boleh mama bicara?" tanya mama Maria


" Tentu saja boleh mah!" jawab Nana dengan senyum diwajahnya


" Mungkin ini sedikit berat tapi apa kamu bersedia jika mama meminta kamu untuk pulang ke rumah mama?" tanya mama Maria hati-hati


Nana terdiam dan menundukkan wajahnya


" Sayang, maaf jika mama membuat kamu sedih tapi mama hanya ingin bersama kamu menemani kamu sayang" ucap mama Maria yang takut Nana kembali sedih


" Tapi mah, apa itu tidak merepotkan mama dan papa?" tanya Nana membuat mama Maria melebarkan senyumnya


" Tentu saja tidak sayang, justru kami merasa senang, mama jadi punya teman di rumah tidak kesepian lagi" jawab mama Maria


" Itu benar nak, ikut lah pulang bersama kami!" ucap papa Sam yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang mama Maria


" Baiklah kalau memang mama dan papa tidak berkeberatan tapi izinkan Nana pulang ke rumah dan pergi ke makam kedua orang tua Nana"


" Iya sayang, mama akan temani kamu kesana '


" Terima kasih mah... pah.." Nana merasa sangat bahagia bisa mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari keluarga Dinata yang memang terkenal penyayang dan baik hati

__ADS_1


__ADS_2