Guruku Suamiku

Guruku Suamiku
Season 2 Khanza


__ADS_3

Khanza dan Aldy saat ini berada di dalam tenda, tentunya Miska dan Hana yang menjadi penjaga keduanya berdiri di depan tenda tersebut.


" Bagaimana keadaan kamu?" tanya Aldy memecahkan keheningan yang tercipta diantara mereka


" Sudah agak lebih baik!" jawab Khanza acuh


" Kenapa tidak bilang kalau mau menginap di rumah temanmu itu?" tanya Aldy lagi


" Untuk apa bilang bukankah bapak juga memiliki kesibukan sendiri dan aku rasa bukan hal penting juga aku bilang atau pun tidak sama bapak" sahut Khanza yang sama sekali tidak ingin menatap pria yang berstatus suaminya itu


" Sebenarnya ada apa denganmu? jika memang aku punya salah bicarakan hal itu secara baik-baik tidak dengan cara mendiamkan aku seperti ini?" tanya Aldy yang merasa geram dengan sikap Khanza yang menurutnya sangat kekanak-kanakan.


" Baiklah sekarang apa ada hal yang ingin bapak katakan ?" Khanza malah balik bertanya membuat Aldy semakin tidak mengerti dengan jalan pikiran isterinya itu


" Tentang apa? sebaiknya kamu katakan saja sebenarnya apa yang kamu mau tahu tentang aku karena dari semalam aku sudah memikirkannya tapi aku sama sekali tidak bisa menemukan jawaban apa-apa, dan aku juga bukanlah seorang cenayang yang bisa tahu tanpa kamu mengatakannya" Aldy menatap Khanza yang duduk memunggunginya.


" Aku hanya ingin bapak berkata jujur tentang siapa sebenarnya bapak dan aku juga butuh kejelasan status pernikahan kita, aku tidak bisa menunggunya sampai 6 bulan bahkan kata-kata bapak yang mengatakan ingin memulainya dari awal lagi pun aku rasa itu sudah tidak memungkinkan lagi" ucap Khanza terdengar bergetar


" Apa maksudmu berkata seperti itu?" menarik bahu Khanza lalu menatapnya tajam.


" Aku tidak ingin menjadi perusak hubungan rumah tangga orang ataupun menjadi seorang pelakor yang pada kenyataannya aku sungguh tidak tahu apa-apa tentang pernikahan palsu ini" sahut Khanza menepis tangan Aldy yang masih setia bertengger di bahunya.


Aldy semakin tidak mengerti dengan ucapan Khanza.


" Kamu itu bicara apa? menjadi pelakor ?maksud nya apa kamu bicara seperti itu? siapa yang menjadi pelakor?" Aldy mengusap rambutnya kasar


" Jangan bicara hal yang sama sekali tidak aku mengerti, bukankah kita sudah sepakat untuk memulai semuanya dari awal"


" Ya itu menurut bapak tapi maaf aku tidak bisa" tegas Khanza


" Kenapa?" tanya Aldy menyelidik


" Bapak bertanya kenapa?" Khanza menyeringai


" Tanya pada diri bapak sendiri!" Khanza berbalik dan menatapnya sinis

__ADS_1


" Ayolah Za bicara yang jelas aku tidak mengerti dengan apa yang kamu katakan!" Aldy nampak frustasi menghadapi ketidak jelasan isterinya itu


" Tunggu dulu, apa kemarin di mall xx kamu melihat ku dengan seorang wanita dan juga seorang anak kecil?" tanya Aldy yang tiba-tiba teringat saat dia berada di mall kemarin bersama Mila dan Nino.


" Apa kamu berada di sana ?" tebaknya lagi


Khanza tidak menjawab dia malah membuang pandangannya dengan wajah yang cemberut


Seketika tawa Aldy pun pecah membuat Khanza mendengus kesal.


" Apa isteri kecilku ini sedang merajuk karena cemburu, iya?" goda Aldy


Khanza membulatkan matanya menatap jengah karena Aldy malah tertawa


" Jadi isteri ku pergi dan mendiamkan aku dari kemarin hanya karena sedang cemburu rupanya" Aldy bergeser mendekati Khanza dengan senyum yang mengembang


" Bapak mau apa? cepat sana pergi jangan dekat-dekat!" protes Khanza


"Lagi pula siapa juga yang cemburu jangan ke ge'eran deh jadi orang" ketus Khanza


" Dengarkan aku baik-baik, Disini tidak ada yang namanya perusak hubungan rumah tangga orang apalagi menjadi seorang pelakor, itu hanya pemikiran kamu saja dasar gadis bodoh" Aldy mencubit pipi Khanza gemas


" Bagaimana mungkin kamu menjadi seorang pelakor hem, karena aku saja hanya mempunyai satu orang isteri yaitu kamu Khanza Az-Zahra!" terang Aldy


" Kamu itu hanya salah paham, makanya kalau ada apa-apa itu dibicarakan bukan sok tahu kayak gitu main ngambek dan main pergi aja" Khanza menatap lekat mata Aldy mencari sebuah kebohongan dari setiap kata-katanya namun dia tidak menemukannya.


" Sudah jangan ngambek dan cemburu gak jelas macam itu lagi, kamu itu isteri sah dari Aldiansyah bukan seorang pelakor karena yang kamu lihat kemarin adalah adik ipar aku Kamila dan putranya Nino. Mila adalah isteri adikku Toni kemarin sebenarnya tanpa sengaja kami bertemu setelah aku ada temu klien di mall xx. Dan Nino melihat keberadaan ku. jujur saja kalau sudah bertemu dengan Nino aku tuh sulit menghindar karena aku juga kasihan melihat anak itu yang kurang kasih sayang dari ayahnya" ungkap Aldy berkata jujur


" Nino putra adikku Toni baru menikah 3 bulan Toni tersandung kasus bersama mama aku rasa kamu sudah tahu soal itu" Khanza mengangguk


" Mila adalah gadis yatim-piatu dia tidak punya siapa-siapa di saat suaminya tersandung kasus apalagi setelah suaminya dipenjara dia baru tahu kalau dirinya hamil awalnya Mila ingin bercerai dari Toni tapi karena hamil dia urungkan niatnya itu. aku kasihan melihatnya kala itu Mila tetap bekerja saat usia kandungannya sudah cukup besar. aku lalu memutuskan untuk membantunya dan memintanya untuk berhenti bekerja. aku menyuruhnya untuk tinggal di rumah mamah yang kosong hanya ada seseorang art yang memang aku pekerjakan untuk mengurus rumah. " Aldy menjeda ceritanya


" Tapi pada intinya Mila wanita yang kamu lihat itu bukanlah siapa-siapa dia hanya adik ipar ku dan juga keponakan ku sayang"


" Cih, alasan. keponakan tapi menyimpan fotonya di dalam dompet" gumam Khanza tapi masih bisa terdengar oleh Aldy.

__ADS_1


" Kamu ini sama anak kecil saja cemburu!" goda Aldy tertawa renyah


" Aku menyimpan fotonya karena kemaren foto itu terjatuh di mobil dan ya aku simpan saja di dompet" Khanza masih mendelik tajam entah kenapa ia merasa masih ragu dengan pengakuan sang suami.


" Masih enggak percaya, ya sudah kalau begitu aku telpon Mila sekarang dan menyuruhnya untuk menjelaskan semuanya agar isteri kecilku ini tidak salah paham lagi" Aldy meraih ponselnya yang berada di saku celananya lalu mencari kontak Mila adik iparnya itu


" Sudah tidak perlu menelponnya" ucap Khanza cepat membuat Aldy mendongak dan menatapnya


" Benar tidak usah menelponnya? sudah percaya sekarang?" goda Aldy


" Apaan sih" Khanza masih pasang wajah memberengut


" Sudah dong jangan cemberut lagi, nanti aku khilaf aja" Khanza malah mendelik tajam membuat Aldy menahan tawanya.


" Yaudah, sekarang semua sudah jelas jangan marah lagi. aku mau kembali ke tenda aku dulu ya. jangan kangen ya!" Aldy beranjak dari duduknya


" Istirahatlah jangan lupa minum obat, kalau ada apa-apa telpon aku" pesan Aldy sebelum pergi


" Iya bawel" Khanza mengerucutkan bibirnya


Cup


Khanza melotot saat mendapat serangan dadakan


" Dibilang jangan seperti itu nanti aku khilaf!" Aldy tersenyum menggoda.


Khanza yang kesal tidak terima lalu mencubit pinggang Aldy. " Jangan sembarang nyosor kaya soang, ingat tuh di depan ada Miska dan Hana"


" Berarti kalau tidak ada mereka boleh dong" sahut Aldy yang langsung kabur keluar dengan menahan tawanya.


Aldy keluar dari dalam tenda dengan wajah sumringah.


" Bapak sedang apa di tenda Khanza dan kalian berdua sedang apa disini?" tanya seseorang yang membuat ke tiganya terkejut dan saling melempar pandangannya.


Deg

__ADS_1


__ADS_2