Guruku Suamiku

Guruku Suamiku
Makan malam


__ADS_3

Di kediaman Keluarga DINATA


Malam ini keluarga Dinata mengadakan makan malam bersama. Zaira tengah bersiap-siap begitu juga dengan Azka karena saat ini mereka tengah berada di rumah mereka sendiri.


Bunda Aryani yang juga mendapat undangan makan malam dari keluarga Dinata telah bersiap untuk berangkat, namun saat hendak membuka pintu ternyata sudah ada dokter Ariel yang berdiri di depan pintu.


" Assalamu'alaikum bunda!" ucap dokter Ariel lalu menyalami tangan bunda Aryani.


" Wa'alaikum salam!" sahut bunda Aryani sedikit bingung dengan kedatangan putranya yang begitu mendadak.


" Kok mau kesini gak bilang-bilang?" ucap bunda Aryani


" Maaf bund, tadi sekalian lewat. bunda mau pergi ya?" tanya dokter Ariel


Bunda Aryani menghela napas sebelum menjawab " Bunda mau memenuhi jamuan makan malam di rumah mertua adikmu" sahut bunda Aryani dengan perasaan sedikit tidak enak sebenarnya dengan putra angkatnya itu.


Dokter Ariel tersenyum getir lalu mengusap rambutnya. " Bunda, apa aku boleh ikut?" tanya dokter Ariel yang tentu saja hal itu membuat bunda Aryani sangat terkejut.


" Ikut? tapi..!" bunda Aryani nampak bingung harus menjawab apa pasalnya bunda Aryani takut jika dokter Ariel berbicara yang tidak-tidak dan membuat kacau acara makan malam tersebut.


Melihat bunda Aryani yang nampak berpikir dokter Ariel meraih tangan bunda Aryani lalu tersenyum ke arahnya. " Bunda gak usah khawatir, aku tahu kecemasan yang bunda pikirkan saat ini. bunda tenang aja aku datang hanya sebagai seorang kakak yang ingin tahu bagaimana keadaan keluarga dari suami adiknya!" ucap dokter Ariel menenangkan kegundahan hati bunda Aryani.


" Nak!" lirih bunda Aryani


" Aku jamin bund, aku gak akan membuat kekacauan, boleh ya bund!" pinta dokter Ariel memohon.


Bunda Aryani yang melihat ketulusan di mata dokter Ariel akhirnya mengangguk pelan dan tersenyum tipis.


" Terima kasih bund" ucap dokter Ariel sebelum masuk ke dalam mobilnya.


Saat diperjalanan dokter Ariel hanya diam dengan pikirannya sendiri begitu juga dengan bunda Aryani yang masih ada rasa sedikit khawatir dengan putra angkatnya itu.


" Aku harus bisa mengikhlaskan Al dengan suaminya, aku tidak boleh egois dengan memaksakan cinta Al yang kini sudah menemukan pelabuhannya. aku tidak boleh merusak kebahagiaannya, aku harus berusaha meskipun mungkin ini sangat sulit. aku tidak ingin penyesalan membuat ku terpuruk seumur hidup. aku harus bisa!" batin dokter Ariel.


Dokter Ariel tersenyum tipis ke arah bunda Aryani yang terlihat sedikit tegang, dokter Ariel yang melihat itu pun sedikit kecewa pada dirinya sendiri karena sampai membuat Bundanya yang sudah sangat berjasa membesarkan bahkan melimpahkan kasih sayangnya tanpa membeda-bedakannya dengan Zaira, terlihat tidak nyaman dengan keberadaannya saat ini.


Tapi katakanlah ia egois karena memaksa untuk ikut dengannya tapi inilah cara dokter Ariel yang ingin melepaskan perasaannya terhadap Al adik tercintanya itu.


" Bunda, maaf aku tahu bunda pasti sangat takut jika aku mengacaukan acara tersebut. tapi aku ingin tahu bagaimana kehidupan Al saat ini bund, memastikan kebahagiaannya bund. jika Al memang sudah benar-benar hidup bahagia aku rela melepaskannya bund!" batin dokter Ariel


Dokter Ariel melirik sekilas lalu kembali fokus mengemudikan mobilnya sampai tanpa terasa mobil tersebut telah sampai di pekarangan rumah keluarga Dinata.


Dokter Ariel nampak takjub dengan rumah keluarga mertua dari Zaira yang terlihat begitu megah dan mewah.


" Apa Al tinggal di rumah ini bund?" tanya dokter Ariel saat mereka sudah berada di luar mobil .


" Tidak, Zaira tinggal di rumah yang dibangun oleh suaminya untuk Za" jawab bunda Aryani dengan bangga.


" Hasil pemberian orangtuanya" ucap dokter Ariel meremehkan.


" Kamu salah, itu semua hasil kerja kerasnya sendiri. selain mengajar nak Azka juga membantu papanya bekerja di perusahaan" sahut bunda Aryani yang sedikit terima dengan pandangan remeh putranya itu.


" Ya sudah ayok kita masuk, gak enak jika mereka terlalu lama menunggu kita!" ajak bunda Aryani merangkul lengan dokter Ariel membuat dokter Ariel tersenyum simpul.


" Tenang bund, aku tidak akan membuat bunda kecewa kok!" batin dokter Ariel melirik bunda Aryani lalu tersenyum tipis.


" Assalamu'alaikum!" ucap bunda Aryani saat sudah berada di dalam ruang utama disambut dengan mama Maria dan papa Sam.


" Wa'alaikum salam!" sahut mama Maria dan papa Sam bersamaan


" Apa kabar Ar?" sapa mama Maria seraya memeluk bunda Aryani


" Alhamdulillah baik, kamu sendiri bagaimana kabarnya Mar?" jawab bunda Aryani lalu kembali bertanya kabar kepada mama Maria sahabat sekaligus besannya itu.


" Alhamdulillah aku juga baik" sahut mama Maria tersenyum sumringah melepas kangen karena memang sudah lama tidak bertemu dengan bunda Aryani.


" Loh ini siapa?" tanya mama Maria dengan sosok pemuda yang datang bersama bunda Aryani.


" Tapi aku kok merasa tidak asing ya dengan wajahnya!" papa Sam nampak sedikit mengingat-ingat.


" Ini Ariel, apa kalian masih ingat?" bunda Aryani memberitahu tentang sosok pemuda yang berdiri di sampingnya.


" Ariel putra angkat kalian yang selama ini Hendra cari-cari ?" tebak papa Sam yang langsung diangguki oleh bunda Aryani.


" Ya ampun kamu beda sekali Riel, kamu sudah besar dan sangat tampan ya sekarang !" puji papa Sam dengan tersenyum ramah.


" Terima kasih om!" sahut dokter Ariel sopan.


" Kamu tahu Sam, dia itu sekarang sudah menjadi seorang dokter" bunda Aryani memberitahu.


" Wah benar-benar hebat ya kamu Riel, ayahmu pasti bangga punya putra sehebat kamu" puji papa Sam lagi.


" em... bagaimana kalau ngobrolnya lanjut sambil duduk dulu menunggu Azka sama Za datang" potong mama Maria yang langsung mengajak bunda Aryani dan dokter Ariel ke ruang keluarga sambil menunggu kedatangan Zaira dan juga Azka.


" Bi tolong panggilin Meli ya, bilang bunda Aryani sudah datang" titah mama Maria Kepada bi Sum.


" Baik Nyonya" bi Sum langsung naik ke lantai atas menuju kamar Lia.


" Silahkan di minum dulu Ar, nak Ariel!" mama Maria mempersilahkan bunda dan dokter Ariel minum setelah tadi bi Sum menyuguhkan minuman untuk mereka.


" Iya makasih tante" sahut dokter Ariel lalu meraih minumannya dan meneguknya sedikit. begitu juga dengan bunda Aryani yang meminum minumannya.


Lia turun setelah bi Sum memberitahunya tentang kedatangan bundanya Zaira.


" Bunda !" teriak Lia saat menuruni anak tangga dan melihat bunda Aryani tengah mengobrol dengan mama dan papanya.


Bunda menoleh begitu juga dengan dokter Ariel ke arah sumber suara.


" Sayang!" panggil bunda Aryani.


" Bunda apa kabar?" sapa Lia lalu meraih tangan bunda Aryani untuk menyalaminya.


" Alhamdulillah baik, kenapa sekarang jarang main ke rumah bunda sih?" bunda Aryani menoel hidung mancung Lia


Lia terkekeh " Maaf bund, anak-anak pada sibuk masing-masing. apalagi bunda tau sendirilah siapa. jadi gak seru bund kalau kumpul gak ada tuh anak" jawab Lia bergelayut di lengan bunda Aryani.


Lia memang sudah sangat akrab dengan bunda Aryani setelah Zaira menjadi kakak iparnya dan bunda Aryani juga sudah menganggap Lia seperti putrinya sendiri.


" Seharusnya kamu tuh sering-sering main ke rumah bunda ajak teman-temanmu sekalian, biar bunda gak kesepian." tutur bunda Aryani.


" Iya deh bund, nanti kapan-kapan Li datang bersama Za dan yang lainnya" sahut Lia tertawa kecil, namun sepersekian detik tawa Lia memudar tatkala melihat sosok pria yang tengah duduk di samping bunda Aryani nampak tidak asing lagi di matanya.

__ADS_1


Mama Maria yang melihat Lia nampak bingung dengan keberadaan dokter Ariel langsung berdiri. " Sayang, kenalkan ini nak Ariel kakaknya Za" ucap mama Maria menunjuk ke arah dokter Ariel yang tengah tersenyum pada Lia namun tidak demikian dengan Lia ia nampak tidak suka dengan dokter yang ada di hadapannya saat ini. karena Lia tahu dokter Ariel bukan hanya sekedar seorang kakak angkat Zaira tapi orang yang begitu mencintai Sahabatnya itu. Lia tidak suka karena Lia tidak ingin siapa pun itu mengusik hubungan Zaira dengan kakaknya.


" Mel sudah kenal kok ma, dokter Ariel dokter yang waktu itu menangani Mita saat Mita kecelakaan ma" ucap Lia memberitahu.


" Owh jadi kalian sudah kenal?" kali ini papa Sam yang bertanya


" Iya pa, pernah bertemu beberapa kali di rumah sakit waktu Mita kecelakaan" sahut Lia.


" Ingatan kamu kuat juga ya?" ucap dokter Ariel


Lia hanya tersenyum miring menanggapi ucapan dokter Ariel.


" Yaudah sini duduk, jangan pada berdiri gitu!" ucap mama Maria dengan tersenyum ramah.


Di saat Lia baru saja duduk tiba-tiba terdengar suara dari luar.


" Assalamu'alaikum!" ucap Zaira dengan semangat dan Azka berjalan mengekor di belakangnya.


" Wa'alaikum salam" sahut mereka yang ada di ruang keluarga secara bersamaan


" Wah bunda sudah ada di sini, pantas tadi ke rumah bundanya gak ada. gak bilang kalau mau berangkat duluan" cerocos Zaira tanpa sadar keberadaan seseorang yang belakangan ini memang sedang ia hindari


" Iya sayang tadi bunda kesininya bareng kakak kamu" ucap bunda Aryani


Degg


wajah Zaira berubah datar pandangannya beralih pada sosok pria yang duduk di samping bundanya.


" Bund!" lirih Zaira


Azka yang melihat keterkejutan Zaira langsung menggenggam tangannya mencoba menenangkan.


Zaira menoleh ke arah Azka yang mengangguk pelan menandakan semua akan baik-baik saja.


" Sayang!" mama Maria menghampiri menantu kesayangannya itu dan langsung memeluknya.


" Bagaimana keadaan kamu dan calon cucu mama hem?" tanya mama Maria setelah mengurai pelukannya


" Alhamdulillah baik ma" jawab Zaira dengan tersenyum.


" Cuma Za doang ni yang ditanya, anak sendiri dilupain!" protes Azka dengan pura-pura merajuk.


" Kalau kamu mah sudah besar, sudah bisa ngurus diri sendiri" sahut mama Maria yang memeluk Zaira kembali.


" Memangnya Za masih kecil, dia juga sudah besar" Azka kembali protes


" Ya beda Za memang sudah besar tapi didalam sini ada anak kecil" mama Maria mengelus perut Zaira dengan lembut


" Papa juga kangen nih sama menantu papa" ucap papa Sam yang beranjak dari duduknya dan menghampiri Zaira.


" Papa!" sapa Zaira yang langsung memeluk papa Sam setelah mama Maria melepaskan pelukannya.


" Kamu baik-baik saja kan nak?" papa Sam mengusap pucuk kepala Zaira penuh kasih sayang.


" Alhamdulillah baik pa, ini semua berkat doa dari papa dan mama" sahut Zaira tertawa bahagia.


" Udah dong pa peluk-peluk istri Azkanya!" Azka menarik Zaira ke dalam pelukannya.


" Biarin, papa juga kan laki-laki. gak boleh ya peluk-peluk istri Azka lagi!" ancam Azka dengan wajah memberengut sehingga membuat semua orang tertawa melihatnya.


" Dih mas apaan sih masa sama papa begitu sih" Zaira mencubit pinggang Azka.


" Aaa...ampun sayang, sakit!" pekik Azka kesakitan saat tangan mungil Zaira mencubit pinggang Azka.


" Sudah.. sudah ayok kita makan dulu, bi Sum sudah menyiapkannya dari tadi nanti gak enak kalau keburu dingin" potong mama Maria yang langsung berjalan ke meja makan.


Dokter Ariel tersenyum getir melihat kehangatan keluarga Dinata, ia merasa lega karena Zaira begitu disayangi. Sepertinya ia memang harus benar-benar merelakan Zaira.


" Mari nak Ariel!" ajak papa Sam dokter Ariel hanya tersenyum tipis lalu mengekor di belakangnya. Azka dan Zaira sudah pergi lebih dulu bersama mama Maria yang disusul oleh bunda Aryani dan juga Lia.


Saat di meja makan suasana sedikit canggung karena nampak Zaira yang terlihat kurang nyaman dengan keberadaan dokter Ariel.


" Sayang, kamu mau makan apa nak biar nanti bi Sum buatin atau mau mama yang masakin?" tawar mama Maria


" Gak mah ini juga sudah cukup. nanti gak abis ma, sayangkan" tolak Zaira halus.


" Sayang, kamu mau makan apa biar aku ambilkan?" tanya Zaira kepada Azka.


" Gak usah sayang, kamu cukup diam dan nikmati makanannya. biar mas yang mengambilkannya untuk kamu ya!" Azka mengambil beberapa makanan kesukaan Zaira ke piring kosong Zaira.


" Mas sudah cukup ini terlalu banyak" protes Zaira.


" Kamu itu harus makan yang banyak sayang, kamu kan makannya berdua biar kebagian makanannya untuk Azka junior" sahut Azka mengelus perut Zaira lembut.


Semua pandangan mata mengarah kepada mereka berdua, semua tersenyum senang melihat kemesraan pasangan suami istri yang satu ini. ada rasa kelegaan di hati bunda Aryani karena memilih orang yang tepat untuk putri satu-satunya. Azka adalah suami yang bertanggung jawab, terlebih ia sangat mencintai Zaira. bunda Aryani tersenyum bahagia putri kecilnya kini sudah memiliki keluarga yang begitu menyayanginya.


Dokter Ariel merasa sedikit terhenyak hatinya, walaupun dia sudah berusaha untuk melepaskan Zaira tapi hati kecilnya tidak dapat dibohongi, melihat kemesraan Zaira dan Azka membuat hatinya terasa sangat sakit namun di depan bunda Aryani dokter Ariel berusaha untuk tersenyum meskipun itu senyum yang dipaksakan.


Selesai acara makan malam semua kini berada di taman belakang kecuali Azka yang memilih untuk pergi ke kamarnya memeriksa beberapa email yang dikirim oleh Sendy saat acara makan malam tengah berlangsung.


sedangkan Zaira yang baru saja dari toilet dan hendak menghampiri yang lainnya, tiba-tiba langkahnya terhenti karena sosok laki-laki yang kini telah berdiri di hadapannya.


" Kak!" lirih Zaira sedikit melangkah mundur


" Segitu takutnya kah kamu terhadapku Al?" dokter Ariel tersenyum miring.


" Kak, aku_!" Zaira menunduk


" Apa kamu bahagia Al?" tanya dokter Ariel dan Zaira langsung mendongak menatap ke arah dokter Ariel.


" Apa kamu benar-benar bahagia Al hidup bersamanya?" tanya dokter Ariel untuk yang kedua kalinya.


" Aku bahagia kak sangat bahagia!" sahut Zaira dengan lantang


" Apa kamu tidak sedang berpura-pura didepan kakak Al?" tanya dokter Ariel yang membuat Zaira tidak kuasa lagi menahan tangisnya.


" Kak aku_" Zaira sudah tak kuasa lagi meneruskan kata-katanya.


" Apa kamu bisa bahagia Al setelah apa yang kita lewati selama ini? segitu mudahnya Al kamu melupakan kakak" lirih dokter Ariel yang perlahan berjalan ke arah Zaira. namun Zaira yang tahu pergerakan dokter Ariel perlahan melangkah mundur.


" Kak, stop!" Zaira mengangkat tangannya di depan dadanya.

__ADS_1


" Aku mohon kak jangan mendekat!" napas Zaira mulai tidak beraturan.


Dokter Ariel yang melihat wajah pucat Zaira malah ingin segera menghampirinya.


" Stop kak aku bilang jangan mendekat!" sentak Zaira dengan keras


Dokter Ariel terkesiap dan berhenti melangkah. wajah Zaira semakin pucat dan napasnya pun semakin melemah.


Azka yang baru keluar dari kamarnya dan hendak menyusul Zaira teramat terkejut dengan pemandangan yang ada di depan matanya. Azka dengan sigap langsung berlari ke arah Zaira dan menangkap dengan tepat tubuhnya yang hampir terjerabah ke lantai.


" Za!" teriak Azka


Happp


Azka meraih tubuh Zaira yang sudah terkulai lemas. dengan cepat Azka langsung menggendong Zaira dan membawanya ke dalam kamar namun sebelum beranjak pergi Azka sempat menatap tajam ke arah dokter Ariel. Lia yang ketika itu melintas hendak pergi ke dapur langsung berlari menghampiri Zaira yang sedang berada di gendong sang kakak


" Za!" Panggil Lia dengan penuh kekhawatiran.


Lia berjalan mengekor di belakang Azka yang tengah membawanya ke dalam kamarnya.


Azka dengan hati-hati meletakkan Zaira ke atas kasur.


" Sayang!" panggil Azka dengan suara lembut.


Zaira yang masih dalam keadaan lemas hanya menatap sayu sang suami.


" Za loe kenapa?" tanya Lia yang begitu khawatir.


Zaira hanya tersenyum tipis dan memejamkan matanya sejenak. " Gue gak apa-apa kok Li, loe gak usah khawatir!" ucap Zaira dengan suara yang sangat pelan


" yaudah, loe istirahat aja ya, nanti gue bilang ke mama sama bunda, loe lagi istirahat" ucap Lia


Zaira hanya mengangguk pelan. Lia keluar dari kamar kakaknya dan langsung menemui mama Maria.


Azka menunduk lemah, tangannya mengepal dengan kuat menahan amarahnya. Zaira yang melihat tangan Azka mengepal kuat langsung meminta Azka untuk memeluknya.


" Mas!" panggil Zaira


Azka menoleh raut wajahnya datar dan sikapnya begitu dingin.


" Peluk!" pinta Zaira dengan merentangkan kedua tangannya dan memasang puppy eyes.


Azka yang melihat tingkah Zaira yang menggemaskan perlahan emosinya pun memudar. Azka langsung memeluk Zaira dengan penuh cinta. mereka pun duduk bersandar di kepala tempat tidur dengan saling berpelukan.


Zaira merasa lebih baik saat berada di dalam dekapan sang suami. " Kak!" panggil Zaira yang ingin mengatakan sesuatu.


" Tidak usah ngebahas sesuatu yang hanya akan membuatmu merasa tidak nyaman sayang, kesehatanmu adalah prioritas utama mas saat ini, jadi jangan pikirkan apapun yang hanya akan membuat kesehatanmu menurun sayang" ucap Azka seraya mengelus pucuk kepala Zaira.


" Tapi mas, kita tetap perlu bicarakan" Zaira masuk lebih dalam ke dekapan suaminya.


" Mas tahu Sayang, tapi lain kali saja ya kita bahas ini. kamu istirahat saja ya sayang, " Azka mengecup kening Zaira dan seketika Zaira merona.


" Kamu ini masih saja malu jika mas kecup" goda Azka.


" Mas ih" Zaira semakin menenggelamkan wajahnya di dada Azka.


Azka tertawa dengan tingkat istri kecilnya itu dalam hatinya Azka bersyukur karena hari ini Zaira masih bisa mengontrol emosinya sehingga tekanan batinnya tidak membuatnya kembali terguncang. Azka sempat terkejut saat melihat Zaira yang hampir pingsan dan wajahnya yang nampak pucat tapi kini dia sangat bersyukur Zaira sudah baik-baik saja.


Dokter Ariel duduk bersama bunda Aryani, mama Maria dan juga papa Sam di taman belakang.


Disaat mereka tengah asik mengobrol Lia datang dengan membawa beberapa cemilan.


" Mel, kakak dan kakak ipar kamu kemana?" tanya mama Maria


" Mereka ada di kamar ma, Za sedang istirahat tadi katanya gak enak badan" sahut Lia seraya melirik ke arah dokter Ariel.


" Za gak enak badan? perasaan tadi dia terlihat baik-baik saja" gumam bunda Aryani pelan namun masih dapat didengar oleh dokter Ariel.


Bunda Aryani melirik ke arah dokter Ariel, dan dokter Ariel yang dilirik langsung membuang pandangannya ke sembarang arah. bunda Aryani yakin ini pasti ada kaitannya dengan putra angkatnya itu.


" Nak Lia apa boleh bunda melihat keadaan Za?" tanya bunda Aryani


" Maaf bunda, bukan Li melarang bunda tapi tadi kak Azka berpesan untuk tidak mengganggu Za istirahat bund" jawab Lia yang sebenarnya ada rasa tidak enak dengan bunda Aryani.


" Owh begitu!" ucap bunda Aryani lirih.


" Mel, bilang sana sama kakakmu bunda ingin melihat putrinya masa dilarang" pinta mama Maria.


" Iya, masa ibunya ingin melihat putrinya sendiri dilarang, suami macam apa seperti itu" ucap dokter Ariel dan langsung mendapat tatapan tajam dari Lia.


Papa Sam yang melihat tatapan tajam Lia kepada dokter Ariel tahu persis bagaimana watak dan karakter putrinya itu. pasti ada sesuatu yang Lia sembunyikan dan tatapan tidak suka Lia terhadap dokter Ariel pasti ada alasannya.


" Maaf dokter jika kakakku melakukan hal itu demi kebaikan dan kesehatan istrinya aku rasa itu sesuatu hal yang wajar. karena kakakku tahu persis mana yang terbaik untuk istrinya" sungut Lia menatap tajam dokter Ariel.


" Mel tidak sopan berbicara seperti itu dengan orang yang lebih dewasa dari kamu!" ucap mama Maria memperingatkan Lia.


" Maaf ma!" ucap Lia menunduk.


" Sudahlah ma, mungkin Azka punya alasan tersendiri mengapa dia melakukan hal itu. biarkan saja Za istirahat. mungkin dia lelah dan butuh istirahat yang cukup, bukankah orang hamil itu mudah lelah ya?" ucap papa Sam dengan bijak menyikapi perdebatan yang ada.


" Iya juga sih pa" sahut mama Maria yang setuju dengan ucapan papa Sam.


" Maaf Ar mungkin Za kelelahan, apalagi saat ini Za itukan sedang hamil jadi mudah lelah dan bisa jadi itulah alasan kenapa kita dilarang mengganggu Za karena Azka memang begitu perhatian dengan kondisi kesehatan Za dan tidak ingin terjadi apa-apa dengan Zaira dan juga kandungannya" tutur mama Maria menjelaskan kepada bunda Aryani.


" Iya Mar, mungkin itu alasan nak Azka melarangku menemui putriku" ucap bunda Aryani setuju dengan ucapan mama Maria.


" Hari sudah malam, sebaiknya aku pamit sekarang Mar, Sam!" ucap bunda Aryani yang beranjak dari duduknya.


" Loh kenapa pulang sih Ar, kenapa tidak menginap saja disini!" pinta mama Maria


" Lain kali saja Mar, terima kasih atas tawarannya" ucap bunda Aryani


" Kamu ini kayak sama siapa aja" mama Maria memeluk dan cipika-cipiki dengan bunda Aryani.


" Terima kasih ya Mar kamu sudah menjaga dan menyayangi Zaira putriku!" ucap bunda Aryani


" Kamu ngomong apa sih Ar, Za itu juga putriku sekarang jadi wajar dong kalau aku memperlakukan Za seperti putriku sendiri" sahut mama Maria.


Dokter Ariel yang mendengar percakapan dua wanita paruh baya itu hanya memutar bola matanya jengah.


Lia yang masih berada di tempat tersebut tidak beralih tatapan matanya mengarah kepada dokter Ariel.

__ADS_1


__ADS_2