
Sekitar pukul 5 sore Khanza baru pulang ke apartemen.
Ceklekk
Khanza masuk ke dalam apartemen dengan perasaan yang tidak menentu. berkali-kali dia menghembuskan nafasnya kasar.
" Baru pulang?" suara bariton dari ujung sofa mengejutkan Khanza namun sedetik kemudian Khanza menormalkan detak jantungnya yang sedari tadi berdegup tidak beraturan.
" Hem!" jawab Khanza dengan malas lalu segera masuk ke dalam kamar dengan langkah gontai
Aldy beranjak dari duduknya dan menyusul Khanza yang sudah lebih dulu masuk ke dalam kamar. saat masuk kedalam kamar Aldy tidak menemukan keberadaan Khanza di dalamnya namun suara gemericik air dari dalam kamar mandi menandakan saat ini Khanza pasti sedang mandi pikirnya.
Hampir satu jam Khanza berada di dalam kamar mandi tapi belum ada tanda-tanda akan keluar.
Aldy sudah bolak-balik di depan pintu kamar mandi merasa cemas dan khawatir karena sang isteri terlalu lama berada di dalam.
" Sayang, kamu belum selesai mandinya?" teriak Aldy seraya mengetuk pintu
Tidak ada jawaban meskipun berkali-kali Aldy mengetuk pintu dan memanggil nama Khanza
" Sayang buka pintunya!"
...Hening...
" Khanza Az-Zahra buka pintunya!" teriak Aldy yang semakin panik. ia sudah menggoyangkan gagang pintu yang terkunci dari dalam tapi Khanza masih belum juga membuka pintu.
Karena merasa khawatir terjadi sesuatu kepada Khanza akhirnya Aldy keluar kamar dan mencari kunci duplikat kamar mandi tersebut.
Aldy memeriksa semua laci yang ada di ruang tamu tapi belum juga menemukannya sampai di laci terakhir Aldy merasa lega karena akhirnya menemukan kunci tersebut. Aldy dengan tergesa-gesa masuk ke dalam kamarnya dan ternyata
Ceklekk
Aldy menghela napasnya panjang
"Huhhhhh....."
Khanza dengan tanpa berdosanya kini sudah berada di atas tempat tidur dengan tubuh yang tertutup selimut sampai sebahu.
Dengan langkah gontai Aldy duduk di tepi tempat tidur, menatap Khanza yang memunggunginya.
" Sayang, kita perlu bicara!" ucap Aldy seraya mengguncang punggung Khanza.
Tidak ada respon dari Khanza hanya terdengar dengkuran halus dari wanita yang saat ini tengah membuat dunianya jungkir balik.
Aldy menghela napasnya berat lalu beranjak dari duduknya dan masuk ke dalam kamar mandi.
Sekitar 15 menit Aldy sudah selesai dengan ritual mandinya. melihat jam sudah menunjukkan pukul 7 malam, Aldy ingin membangunkan Khanza untuk makan malam, tapi sebelum itu ia memilih delivery untuk menu makan malamnya terlebih dulu.
Sekitar 15 menit makanan yang Aldy pesan pun datang, Aldy menyiapkannya di atas meja makan setelah selesai ia baru berjalan menuju kamarnya untuk membangunkan sang isteri tercinta.
" Sayang bangun yuk, kita makan dulu!" Aldy membangunkan Khanza dengan sangat lembut
" Sayang!" Aldy mendaratkan kecupan di kening Khanza
Merasa terusik tidurnya Khanza pun membuka kedua matanya dengan sempurna dan betapa terkejutnya Khanza saat membuka mata wajah Aldy berada tepat di depan wajahnya.
" Astaghfirullah mas kamu ngagetin aja!" kesal Khanza beringsut mundur lalu bangun dan beranjak dari tempat tidur
" Sayang kita makan malam dulu" ucap Aldy saat Khanza melesat masuk ke dalam kamar mandi
Ceklekk
Khanza keluar dari kamar mandi dan langsung berjalan menuju pintu keluar kamar Aldy yang tengah duduk di tepi tempat tidur hanya memperhatikan sikap cuek dan dingin sang isteri.
Aldy segera menyusul Khanza yang sudah lebih dulu keluar dan menuju meja makan.
Khanza seperti biasa walaupun sebenarnya kecewa dan marah dengan Aldy tetapi dia tidak melupakan kewajibannya sebagai seorang isteri.
Khanza mengisi piring Aldy dengan beberapa lauk yang Aldy pesan via online.
Aldy tersenyum senang karena Khanza masih menjalankan kewajibannya sebagai seorang isteri terutama melayaninya saat makan.
Aldy duduk dan menikmati makan malamnya namun yang mengusik hatinya sedari tadi adalah sikap diam dan dingin Khanza terhadapnya.
Usai makan Khanza membenahi piring lalu mencucinya, Aldy hanya menatap dari kejauhan takut salah mengambil tindakan dan malah membuat Khanza semakin marah.
Selesai mencuci piring Khanza kembali masuk ke dalam kamar membuka tas sekolahnya dan mengambil buku pelajarannya.
Khanza mengerjakan tugas sekolahnya di dalam kamar dan disaat ia tengah mengerjakan tugasnya ponselnya berdering.
Khanza tersenyum melihat nama yang ada di layar ponselnya.
"Assalamu'alaikum"
..." Wa'alaikum salam"...
..."Sedang apa, ganggu gak?"...
" Enggak kok kak, ada apa memangnya?"
" Apa perut kakak kram lagi?"
..." Tidak, kakak hanya lagi teringat kamu aja"...
" Ah masa sih, emmm... jangan-jangan baby kak Alya kangen ya sama kakak cantik?" seloroh Khanza
..." Mungkin saja siapa tahu baby kakak ini laki-laki jadi dia tahu mana kakak cantik"...
Keduanya saling tertawa membahas apa saja yang menurut mereka seru dan membuat hati terhibur.
..." Za, boleh enggak kakak tanya sesuatu sama kamu?"...
" Tanya apa kak?"
..." Tapi maaf ya sebelumnya, bukan kakak mau ikut campur tapi sedari tadi ini sedikit mengganjal di hati kakak"...
" Soal apa kak?"
..." Laki-laki tadi"...
" Laki-laki tadi yang mana ya kak?"
..." Yang di rumah sakit?"...
...Deg...
" Iya?"
__ADS_1
..." Apa dia itu benar guru kamu disekolah?"...
" Emmmm.... iya kak"
..." Apa kalian menjalin hubungan terlarang?"...
" Astaghfirullah kak, amit-amit kak kalau Za sampai berbuat seperti itu"
..." Maafin kakak Za, kakak cuma melihat ada sesuatu yang kalian sembunyikan dari isteri guru kamu itu"...
..." Dan kakak gak mau kamu berada di antara mereka Za, kakak gak mau kalau kamu sampai tersakiti oleh laki-laki itu"...
" Terima kasih ya kak sudah begitu perhatian sama Khanza"
..." Za apa kamu menyukai guru kamu itu?"...
...Hening...
..." Khanza!"...
" Eh iya maaf kak"
" Boleh Khanza jujur kak?"
..." Tentang apa? jika kamu merasa percaya sama kakak insyaallah kakak amanah dan siap mendengarkan"...
"Emmm..... Laki-laki yang kakak lihat tadi di rumah sakit itu sebenarnya_"
" Sebenarnya apa?"
..."Guru kamu?"...
" Bukan itu"
..." Lalu? apa dia pacar kamu?"...
" Lebih dari itu?"
..." Lebih dari itu? maksudnya?"...
..." Jujur saja kakak gak ngerti"...
" Emm.... Dia itu laki-laki halal Khanza kak"
..." Laki-laki halal?"...
..." Tunggu dulu, maksud kamu laki-laki halal itu, apa ya ? kakak kurang paham"...
" Namanya mas Aldy kak, dia adalah laki-laki yang sudah meminang Khanza beberapa bulan yang lalu, kami sudah sah menjadi suami isteri kak. dia adalah kekasih halal Khanza"
..." Apa? kekasih halal? menikah?"...
..." Kamu jangan bercanda Khanza, becanda kamu ini gak lucu"...
"Tapi sayangnya Khanza sedang tidak bercanda kak, seandainya ini hanya sebuah candaan mungkin Khanza akan merasa lega kak, tapi sayangnya ini nyata. Khanza juga gak mau kak berada dalam posisi yang tidak pasti seperti ini"
Alya terdiam mengerti apa yang tengah Khanza rasakan.
..." Maafkan kakak ya Za, kakak sungguh tidak menyangka tentang semua yang tengah kamu hadapi. di usia kamu yang masih terbilang masih sangat muda tapi sudah harus berada di posisi yang sangat menyakitkan ini"...
..." Lalu apa hubungan wanita tadi dengan kekasih halal mu itu?"...
" Dia itu adik ipar suamiku kak"
..." Apa adik ipar suami kamu?"...
" Iya"
..." Tapi kenapa sikapnya bisa seperti itu, kakak yakin dia pasti suka sama suami kamu dan Kakak sarankan kamu jangan tinggal diam Khanza, bisa jadi suami kamu itu tipe orang yang tidak enak hati jadi sikapnya begitu bodoh dan tidak tegas"...
" Maksud kakak?"
..." Mulai sekarang kamu coba bersikap tenang dan seperti biasa saja seolah tidak pernah terjadi apa-apa dan tidak perlu membahas tentang wanita itu kecuali suami kamu sendiri yang membahas duluan"...
..."dan satu lagi menghadapi wanita macam adik ipar suami kamu itu jangan pernah terlihat lemah dan seolah kamu yang cinta mati terhadap suami kamu tapi buatlah seolah suami kamu yang terlihat cinta mati terhadap kamu di depan wanita itu, apa kamu mengerti?"...
" Iya, kak"
..." Sekarang bagaimana hubungan mu dengan suami kamu?"...
" Tidak ada pembicaraan kak, dia juga sibuk dengan pekerjaannya sendiri"
" Tapi kenapa kalian tadi seperti orang yang tidak saling kenal bahkan suami kamu juga bersikap cuek, apa wanita itu tahu kalau kamu isteri sah dari suami kamu itu?"
" Sepertinya dia tidak tahu kak dan kami memang tidak saling kenal. aku hanya pernah melihatnya sekali itu pun dari jauh dan mas Aldy yang memberitahu kalau dia itu adik iparnya"
" Apa kamu percaya begitu saja?"
" Iya kak aku percaya, karena kami menikah di hadapan orang tua kami dan aku yakin dia tidak pernah berbohong akan hal itu"
" Aku hanya tidak tahu kenapa dia bersikap seperti itu tapi aku percaya kak dia pasti punya alasan tertentu"
..." Yaudah, tidak apa-apa tapi ingat pesan kakak di usia kamu yang terbilang masih sangat muda ini, jangan pernah menyerah dengan pernikahan kamu yang sudah terlanjur terjalin ini, berusahalah untuk mempertahankannya dan jangan biarkan ada celah untuk para rubah betina masuk ke dalamnya."...
..."Ingat Khanza kamu itu isteri sah, jadi kamu berhak sepenuhnya atas suami kamu sepenuhnya, jangan mudah menyerah apalagi mengalah begitu saja dengan perempuan yang tidak punya malu itu"...
" Iya kak, terima kasih ya kak!"
..." Sama-sama Za, sekarang kakak sudah sedikit lega. kakak tadi sempat berpikir yang aneh-aneh, maaf ya"...
" Tidak apa-apa kak"
..." Yaudah, Kak tutup dulu ya telponnya besok kita sambung lagi"...
" Iya kak"
..." Assalamu'alaikum"...
" Wa'alaikum salam"
Khanza meletakkan ponselnya di atas meja lalu kembali melanjutkan belajarnya.
"Habis telponan sama siapa kok terlihat senang banget gitu?" tanya Aldy yang baru saja masuk ke dalam kamar dan melihat Khanza Bu tersenyum tipis seraya meletakkan ponselnya.
" Ada, seseorang yang begitu pengertian dan juga perhatian" jawab Khanza asal
" Apa maksud ucapan mu itu?"
__ADS_1
" Tidak ada"
" Khanza Az-Zahra, lihat mas jika mas sedang bicara" bentak Aldy
Khanza berusaha untuk tenang lalu tersenyum menatap lekat suaminya
Deg
Aldy yang ditatap oleh Khanza malah jadi salah tingkah sendiri.
" Ada apa mas, apa yang mas mau bicarakan?" ucap Khanza seraya menatap lekat sang suami dengan seulas senyum diwajahnya.
..." Kenapa dia malah senyum kayak gitu sih?"...
...batin Aldy...
" Siapa yang kamu maksud perhatian dan pengertian itu?" tanya Aldy memastikan
" Ah itu tidak penting mas, yang terpenting saat ini adalah apakah seseorang yang berstatus suami itu bisa memberi pengertian dan perhatiannya seperti yang orang lain berikan"
" Tentu saja bisa" jawab Aldy cepat
" Benarkah?" Khanza terlihat tidak yakin
" Tentu saja, bagi mas kamu adalah segalanya sayang mas janji tidak akan mengulangi kesalahan mas seperti kesalahan mas hari ini"
"Apa kata-kata mas bisa aku pegang?"
"Iya sayang, maafkan mas ya yang sudah membuat kamu sedih dan sakit hati hari ini"
" Hem" jawab Khanza singkat
" Kok hem doang?"
" Ya terus mas maunya bagaimana?"
" Kamu maafin mas"
"Kan sudah" Khanza memutar bola matanya malas.
" Sepertinya belum ikhlas"
" Terserah mas ajalah" pasrah Khanza
"Tuh kan masih marah" Aldy mencolek dagu sang isteri
" Apaan sih mas, gak lucu tahu"
" Memangnya siapa yang melawak"
"Mas ih" kesal Khanza
" Iya... iya maaf. kamu itu kalau lagi cemberut kayak gini gemesin banget sih" Aldy mengacak-acak rambut Khanza penuh cinta
" Mas minggir ih" Khanza menepis tangan Aldy yang mengacak-acak rambutnya
Aldy tersenyum lalu mengelus pipi Khanza
" Mas janji sayang, mas akan berusaha memberikan yang terbaik untuk kamu, memprioritaskan kepentingan kamu dan kebahagiaan kamu tentunya" ucap Aldy serius menatap lekat netra sang isteri.
" Kita buktikan saja mas. aku tidak perlu janji tapi bukti "
" Iya sayang,terima kasih ya!"
" Untuk apa berterima kasih mas" Khanza beranjak dari duduknya setelah merapihkan buku-bukunya.
" Karena kamu sudah mau memaafkan mas!"
" Apa sekarang kamu mau beristirahat?" tanya Aldy saat Khanza hendak pergi
" Hem" jawab Khanza singkat lalu berjalan menuju tempat tidur dan merebahkan tubuhnya
Aldy pun menyusul sang isteri, namun memilih duduk di tepi kasur.
" Sayang, apa boleh mas bicara lagi sebentar?"
" Bicara saja!"
"Emmmm.... ini soal kejadian tadi"
" Sudahlah mas tidak usah dibahas"
"Tapi setidaknya kamu harus tahu kalau apa yang dikatakan Mila itu tidak benar, kamu jangan terpancing dan termakan oleh kata-katanya"
" Apakah aku terlihat seperti itu?" tanya Khanza yang bergeser duduk bersandar di kepala tempat tidur
" Aku tidak tahu apa alasan mas melakukan hal seperti itu terhadap ku, jujur kalau dibilang sakit tentu saja sakit. isteri diabaikan oleh suaminya sendiri yang lebih memilih pergi dengan wanita lain dan lebih menyakitkan lagi bertemu di tempat yang tidak seharusnya. melihat suami mendampingi seorang wanita hamil apalagi wanita tersebut berkata anak ini ingin di tengok oleh ayahnya" Khanza tersenyum getir
"Apa ada bagian yang tidak menyakitkan mas?"
" Dihina, di bilang hamil di luar nikah, ha...ha... sangat lucu dan membuat aku ingin tertawa keras sekeras-kerasnya mas" ucap Khanza tertawa namun tawa Khanza membuat bulu kuduk Aldy merinding.
" Dengar ya mas, aku masih bisa mentolerir tentang kejadian hari ini tapi untuk lain kali aku rasa mas harus berpikir dengan matang sebelum mengambil tindakan ketika bersama wanita itu" ucap Khanza tegas.
" Mas begitu posesif jika aku berdekatan dengan lawan jenis sekalipun dia adalah sahabat aku sendiri, tapi apa yang mas lakukan? apakah ini adil untuk ku mas?" Khanza mengusap air matanya yang menetes begitu saja dengan kasar
" Sayang, maafkan mas!"
" Sudahlah mas jangan dibahas lagi, jika boleh jujur sakitnya masih sangat terasa, meskipun aku sudah memaafkan tapi rasa sakit ini tidak mudah untuk aku lupakan begitu saja mas."
" Maaf sayang, mas hanya ingin menolongnya itu saja"
" Lagi pula dia itukan adik ipar mas, dan bayi yang dikandungnya adalah keponakan mas"
Khanza menghela napasnya panjang lalu tersenyum kecut " Berarti seorang isteri tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan seorang adik ipar begitukan"
" Bukan begitu sayang, maksud mas_"
" Sudahlah mas, aku ngantuk!"
" Sayang!" Aldy merasa serba salah
" Dengar ya mas, dia itu adalah tanggung jawab adik mas suaminya, bukan mas. Jika mas bersikap seperti itu terus aku yakin rumah tangga kita yang akan menjadi korbannya." ucap Khanza tegas lalu menutup seluruh tubuhnya dengan selimut
" Sayang!" panggil Aldy lirih namun Khanza sudah malas meladeninya.
Aldy hanya bisa menghela nafasnya panjang merenungi setiap kata-kata yang Khanza lontarkan
__ADS_1