
"Kamu tidak boleh pergi kak, aku tidak mau menjadi pelakor dan menghancurkan kebahagiaan seorang anak yang bahkan belum lahir ke dunia" ucap seorang gadis yang sudah berdiri di hadapan mereka
Deg
" Mita!" ucap dokter Ariel di balik keterkejutannya
" Maafkan aku mas, Aku tidak mungkin menikah dengan mu mas" ucap Mita lirih
" Tidak Mita, kita akan tetap menikah setelah aku dan Karina bercerai" ucap dokter Ariel membuat Mita menggeleng dan tersenyum getir.
" Aku tidak mungkin menikah dan merebut kebahagiaan seorang anak yang tidak tau apa-apa dan bahkan belum tahu kehidupan di dunia" ucap Mita membuat dokter Ariel mengerutkan keningnya
" Apa maksudmu?" tanya dokter Ariel
" Kamu tidak bisa menceraikan seorang isteri yang tengah mengandung darah daging mu sendiri mas" jawab Mita
Deg
" Mengandung?" dokter Ariel menoleh ke arah Karina
" Iya mas, saat ini isterimu sedang hamil dan aku tidak mungkin menjadi orang ketiga di dalam kehidupan rumah tangga kalian mas, aku tahu bagaimana rasanya hidup dalam keluarga yang berantakan dan bagaimana rasa sakitnya di campakan oleh orang yang kita sayang. aku tidak mau mas anak-anak mengalami apa yang pernah aku rasakan mas" ucap Mita begitu lirih.
" Tidak Mita, aku mencintaimu. apa katamu tadi Karina hamil? bagaimana mungkin dia hamil anakku Mita aku dan di_" ucapan dokter Ariel terpotong saat Karina mendaratkan satu tamparan yang cukup keras dipipinya.
" Apa maksud ucapan mu mas,? apa katamu tadi, bagaimana mungkin aku hamil anakmu?" Karina tersenyum getir.
" Kamu anggap aku apa mas? jika ini bukan darah daging mu lalu apa kamu pikir aku hamil dengan laki-laki lain, begitu? dasar picik kamu mas. menyesal aku datang mencarimu. seharusnya aku biarkan saja anak ini lahir tanpa tahu siapa ayah kandungnya. ayah yang bahkan meragukan keberadaannya." ucap Karina dengan air mata yang meluncur begitu saja dipipinya.
" Kak" ucap Mita lirih dan menatap tajam ke arah dokter Ariel.
" Aku tidak akan muncul lagi dihadapan mu mas dan ingat satu hal anak ini hanyalah anakku bukan anakmu."ucap Karina dengan emosi yang memuncak.
" Bagaimana mungkin kamu hamil anakku? bukankah kita tidak per_"
" Kau lupa mas kau pernah memintaku untuk melayani mu saat kau merasa putus asa karena tidak juga menemukan adikmu itu, kamu bahkan sampai mabuk dan melampiaskannya kepada ku" ucap Karina dengan suara bergetar.
" Aku tahu kamu tidak pernah mencintaiku mas, pernikahan kita hanyalah karena kamu merasa berhutang nyawa kepada suamiku. jika akhirnya seperti ini aku yakin keputusan aku melepaskan mu pasti akan membuat almarhum suamiku tenang. " ucap Karina tegas.
Dokter Ariel hanya diam mengingat kejadian demi kejadian yang pernah terjadi beberapa bulan yang lalu sebelum dia memutuskan untuk pergi mencari keluarga Zaira.
Di saat di dalam kedai tersebut terasa begitu menegangkan, di luar kedai dua anak perempuan yaitu Alifa dan Aliya tanpa sengaja malah bertemu dengan Zaira dan Azka yang hendak masuk ke dalam kedai tersebut.
" Aliya, Alifa!" panggil Zaira saat melihat kedua anak tersebut yang tengah asik melihat ikan di kolam yang ada di dekat kedai.
" Kak Za!" teriak Aliya dan langsung berlari menghampiri Zaira.
" Kalian sedang apa?" tanya Zaira saat kedua anak tersebut menyalami tangannya.
" Sedang menunggu ibu sama ayah kak" sahut Aliya
" Ayah?" tanya Zaira yang nampak sedikit berpikir
" Iya kak, kami sudah bertemu dengan ayah dan saat ini ayah sama ibu sedang berbicara di dalam sana kak!" ucap Alifa
" Syukurlah jika kalian sudah bertemu dengan ayah kalian, kak Za ikut senang" ucap Zaira seraya mengusap pucuk kepala Aliya.
" Kalian sudah makan?" kali ini suara Azka yang bertanya kepada mereka dan Aliya menggeleng-gelengkan kepalanya pelan.
" Kalau begitu bagaimana kalau kalian ikut kakak saja makan yuk!" ajak Zaira
" Tidak usah kak terima kasih" tolak Alifa dengan sopan
" Loh kenapa sayang?" tanya Zaira
__ADS_1
" Tidak apa-apa kak, takut nanti mereka mencari kami" ucap Alifa.
" Emmmm.... bagaimana kalau kita izin dulu dengan kedua orang tua kalian, sekalian kakak dan suami kakak berkenalan dengan mereka?" usul Zaira
" Bagaimana mas boleh kan?" tanya Zaira menoleh ke arah Azka
" Iya sayang, ayok Alifa, Aliya kita masuk!" ajak Azka
Zaira dan Azka masuk ke dalam kedai tersebut bersama Alifa dan Aliya.
" Dimana ayah dan ibu kalian?" tanya Zaira kepada Alifa dan Aliya
" Itu kak disana!" tunjuk Aliya ke arah keempat orang yang tengah duduk di sudut pojok
Zaira mengikuti arah yang ditunjukkan Aliya dan betapa terkejutnya Zaira saat melihat laki-laki yang tengah duduk dengan raut wajah yang begitu kusut dan dua wanita yang sangat dia kenal bersamanya dan satu lagi wanita asing yang terlihat tengah berbadan dua yang Zaira yakini sebagai ibu dari Alifa dan Aliya.
" I..itu!" ucap Zaira dengan terbata-bata
" Iya kak, ayok kita kesana" ajak Aliya antusias
" Ayah, ibu!" panggil Aliya membuat keempat orang tersebut langsung menoleh bersamaan.
dan betapa terkejutnya dokter Ariel, Lia dan Mita saat melihat Zaira dan Azka yang berdiri dibelakang Alifa dan Aliya.
" Ayah?" tanya Zaira memperjelas pendengarannya.
" Kak Za ini ibu dan ayah kami!" ucap Alifa menunjuk ke arah Karina dan dokter Ariel
" Ayah kalian?" tanya Za kepada Alifa memastikan dan kedua anak tersebut mengangguk bersamaan dengan wajah berseri-seri.
"Kak Ariel , ayah mereka ?" Batin Zaira dibalik keterkejutannya
Dokter Ariel langsung beranjak dari duduknya saat melihat Zaira berdiri di hadapannya.
" Mita, Lia kalian_?" tanya Zaira dibalik rasa penasarannya menatap wajah kedua sahabatnya.
" Duduk dulu Za!" Lia menyuruh Zaira untuk duduk di sampingnya.
" Apa ada yang bisa menjelaskan semuanya, apa maksudnya ini kak, Lia, Mita?" tanya Zaira menatap satu persatu. Mita hanya menghembuskan nafasnya kasar dan berusaha untuk tetap bersikap tenang walaupun sebenarnya airmatanya siap meluncur.
" Za tenanglah dulu" pinta Lia berusaha untuk menenangkan kakak iparnya itu
" Sayang, tenanglah dengarkan penjelasan mereka dulu ya.!" kali ini Azka yang bicara kepada Zaira.
" Sayang, ikut kakak yuk. Nama kakak Lia, kakak ini adiknya kakak Za!" ajak Lia kepada Alifa dan Aliya.
" Li tolong ya ajak mereka makan, tadi sebenarnya gue kesini mau minta izin kepada ayah sama ibunya Aliya dan Alifa untuk mengajak mereka makan " ucap Zaira dan Lia dengan cepat langsung mengangguk.
" Iya Za, ayok sayang!" ajak Lia.
" Alifa, Aliya ikut sama kak Lia dulu ya sayang!" pinta Zaira kepada Alifa dan Aliya.
Aliya dan Alifa menatap ke arah dokter Ariel dan Karina bergantian dan keduanya mengangguk. setelah mendapat izin dari ibu dan ayahnya mereka baru berani ikut bersama Lia.
Setelah Lia, Alifa dan Aliya pergi suasana menjadi lebih menegangkan.
" Mit!" panggil Zaira pelan membuat Mita menoleh dan memejamkan matanya sejenak.
" Za gue minta maaf, gue gak bisa menjelaskan semuanya sama loe, sebaiknya mas Ariel yang yang bicara" ucap Mita membuat pandangan Zaira beralih menatap sang kakak.
" Al maafkan kakak" ucap dokter Ariel merasa bersalah
" Maaf untuk apa kak?" tanya Zaira
__ADS_1
" Oiya, kakak ini siapa?" tanya Zaira menoleh ke arah Karina.
" Apa kakak ini ibunya Alifa dan Aliya?" tanya Zaira basa-basi.
" Aku Karina ibu dari Alifa dan Aliya" ucap Karina memperkenalkan diri.
" Aku Alzaira kak, aku adiknya kak Ariel" ucap Zaira dan Karina hanya tersenyum.
" Kak, maksud Alifa dan Aliya apa ya yang mengatakan kalau kak Ariel ini ayah mereka?" tanya Zaira menoleh ke arah dokter Ariel.
" Al" ucap dokter Ariel terasa berat. " Kakak sebenarnya_" dokter Ariel menjeda ucapannya.
" Sebenarnya kakak sudah menikah Al dengan Karina. Alifa dan Aliya adalah anak kandung Karina" ucap dokter Ariel
" Me_ni_kah? kak Ariel sudah menikah?" tanya Zaira terbata dan menoleh ke arah Mita yang tengah menundukkan kepalanya.
" Maksud kak Ariel, kakak sudah beristri?" tanya Zaira memastikan dan dokter Ariel mengangguk pelan.
" Bagaimana bisa kak, lalu bagaimana dengan Mita?" tanya Zaira dengan emosi yang sudah naik.
" Kakak dan Karina akan bercerai Al setelah itu kakak akan menikah dengan Mita!" sahut dokter Ariel tegas sementara Mita menggelengkan kepalanya dengan air mata yang sedari ditahannya tumpah juga.
" Tidak mas, itu tidak akan mungkin pernah terjadi" ucap Mita disela Isak tangisnya.
" Mita?" panggil dokter Ariel lirih
" Aku dan kak Karina sama-sama wanita mas, bagaimana kamu bisa berpikir aku akan setega itu mas" ucap Mita
" Tidak Mita, mas Ariel sangat mencintaimu. percuma saja kami mempertahankan pernikahan ini jika karena terpaksa dan dia tidak bisa hidup bahagia" ucap Karina yang sudah sedari tadi menangis.
" Kak kamu bisa bersikap egois, pergi demi kebahagiaan orang lain tapi bagaimana dengan anak yang berada di dalam kandungan kakak?" tanya Mita membuat Zaira mengerutkan keningnya mendengar ucapan Mita tentang kehamilan Karina.
" Maksud kamu apa Mit, kak Karina sedang hamil anaknya kak Ariel?" tanya Zaira kepada Mita dan Mita mengangguk pelan
" Jadi kak Ariel mau menceraikan isteri kakak yang sedang hamil lalu menikahi Mita sahabatku?" tanya Zaira kepada dokter Ariel dengan tatapan mematikan.
" Al kamu tidak mengerti Al, kakak_" ucap dokter Ariel yang menjeda ucapannya.
" Tidak mengerti apa maksud kakak, tidak mengerti kalau kakak sampai hati melukai perasaan dua wanita sekaligus begitu?" tanya Zaira dengan ketus.
" Sudahlah sayang, tenanglah" ucap Azka yang khawatir dengan kondisi kesehatan Zaira yang tidak boleh terlalu emosi.
" Za, ini urusan gue sama mas Ariel. sebaiknya loe gak usah ikut campur Za?" pinta Mita yang tahu akan kekhawatiran Azka terhadap kondisi kesehatan sahabatnya itu.
" Mit loe kok ngomongnya kayak gitu, gue ini sahabat loe" ucap Zaira kecewa dengan ucapan Mita.
" Justru karena loe sahabat gue Za, gue gak mau karena masalah yang gue hadapi justru akan membuat kondisi kesehatan loe menurun. ingat Za loe itu sedang hamil dan loe gak boleh emosi." ucap Mita dengan tegas.
" Gue ini gak Kenapa-napa Za, loe tahu gue kayak gimana bukan? jadi gue minta loe gak usah khawatir Za gue pasti akan baik-baik aja. gue gak mau keponakan gue kenapa-napa" ucap Mita seraya tersenyum kepada Zaira.
" Mita" ucap Zaira yang sudah menitikkan air matanya.
" Gue rasa pembicaraan kita cukup sampai disini mas, dan satu hal yang harus kamu ingat mas jangan menyia-nyiakan darah daging kamu sendiri mas, menjadi orang yang dicampakkan itu tidaklah mudah mas ketika menghadapi dunia yang penuh dengan misteri" ucap Mita yang beranjak dari duduknya.
" Mita" panggil dokter Ariel
" Kak Karina maafkan aku ya kak, aku tidak bermaksud menjadi duri dalam pernikahan kalian" ucap Mita
" Tidak Mita, kamu tidak bersalah. terima kasih karena kamu sudah mengerti keadaan aku" ucap Karina yang langsung memeluk Mita.
Mita pergi meninggalkan kedai tersebut bersama Lia.
Zaira dan Azka pun mengurungkan niatnya yang ingin makan soto ayam dikedai itu. sementara dokter Ariel masih diam di dalam kedai walaupun Karina dan kedua putrinya sudah ikut pulang.
__ADS_1
" Mita" ucap Lirih dokter Ariel