
"Kenapa tidak menunggu Khanza pulang, kalian kan sudah lama tidak bertemu bahkan komunikasi pun tidak" celetuk bu Khodijah yang langsung membuat Aldy terdiam
" Maafkan saya bu" ucap Aldy seraya menundukkan pandangannya
" Kenapa, apa putri ibu melakukan kesalahan dengan nak Aldy?"
Deg
Aldy menelan salivanya dengan kasar ia bergeming dan tidak tahu harus menjawab apa.
" Khanza itu masih labil, diusianya yang masih terbilang muda mungkin membuatnya belum begitu siap dengan status barunya sebagai seorang isteri, oleh karena itu ibu minta kepada nak Aldy untuk membimbingnya dan mengingatkan Khanza dengan statusnya. saling terbuka dan saling memberi kepercayaan satu sama lain adalah kunci dalam membina rumah tangga. ibu percaya nak Aldy bisa menjadi suami yang baik dan bertanggung jawab " tutur Bu Khodijah
" Maafkan saya bu karena belum bisa menjadi suami yang baik untuk Khanza, saya memang tidak pantas menjadi suami Khanza seharusnya dia mendapatkan suami yang jauh lebih baik yang bisa memberinya kebahagiaan." tutur Aldy sendu.
" Kenapa nak Aldy bicara seperti itu?"
" Semenjak kami menikah jujur saja kami masih seperti dua orang asing yang baru bertemu " ungkap Aldy lalu menarik napasnya dalam-dalam
" Khanza bahkan tidak pernah tertawa ataupun tersenyum lepas berbeda pada saat dia bersama teman-temannya"
" Itu mungkin perasaan nak Aldy saja, apalagi usia pernikahan kalian itu masih terbilang baru, bahkan semenjak menikah pun kalian jarang bertemu, tidak ada komunikasi yang baik dan tidak memberi kabar satu sama lain. Khanza itu termasuk anak yang supel dan mudah berbaur dengan siapa saja tapi karena maaf nak Aldy adalah tipe orang yang cuek dan ya bisa dibilang dingin mungkin hal itu yang membuat Khanza pun bersikap hal yang demikian" Aldy terdiam dan tertunduk lesu ia mencerna setiap kata-kata yang diucapkan ibu mertuanya itu.
" Sudah tidak usah di pikirkan, sebaiknya nak Aldy istirahat saja dulu. kamar Khanza ada di sebelah kanan pintu warna putih" ucap bu Khodijah menunjuk ke arah letak kamar Khanza.
" Baik bu" Aldy pun beranjak dari duduknya
" Maaf kalau kamarnya kecil dan kurang nyaman" ucap bu Khodijah
" Tidak apa-apa bu" Aldy pun pamit untuk pergi ke kamar Khanza.
Ceklekk
Pintu kamar berwarna putih itu dibuka perlahan oleh Aldy.
Dengan langkah perlahan Aldy masuk ke dalam kamar tersebut, matanya menyusuri setiap sudut kamar yang didominasi dengan warna putih dan hijau.
Aldy duduk di tepi tempat tidur Khanza yang berukuran kecil yang hanya muat satu orang saja. perlahan ia merebahkan tubuhnya di atas kasur tersebut dan pandangannya lurus menatap langit-langit kamar.
Entah kenapa Aldy merasa nyaman berada dikamar Khanza, walaupun ukuran kamar tersebut bisa dibilang dua kali lipat dari kamarnya tapi karena suasana kamar Khanza yang begitu rapih dan bersih membuat laki-laki itu betah berlama-lama di dalamnya bahkan tanpa terasa Aldy yang merasa lelah seharian itupun akhirnya terlelap.
Setelah jam menunjukkan pukul 5 sore Khanza yang berada di rumah Miska pun pamit kepada teman-temannya untuk pulang, karena dia harus membantu ibunya memasak untuk makan malam lalu menyiapkan bahan-bahan untuk jualan esok pagi.
Nicko beranjak dari duduknya membuat pandangan yang lain mengarah kepadanya.
" Loe mau kemana Ko?" tanya Billy
" Gue mau nganterin bidadari surga gue dulu" seloroh Nicko yang langsung mendapat sorakan dari yang lainnya
" Huuuuuuuu.... gombal terus" ucap Hana
" Geje banget sih, udah ah gue mau pulang" ucap Khanza seraya menggeleng
" Khanza tunggu biar gue antar ya!" Nicko mendekati Khanza yang hendak pergi
" Modus terus" celetuk Billy
" Awas loe Nicko macam-macam sama Khanza, dipiting baru tahu rasa loe" ucap Hana seraya tergelak
__ADS_1
" Iya nih Nicko dari tadi modus terus" Nana ikut menimpali
"Hati-hati aja loe Ko Khanza udah ada pawangnya!" ucap Miska ngasal namun membuat Khanza seketika diam
Deg
Degup jantung Khanza tiba-tiba berdegup kencang pasalnya ia teringat akan statusnya yang baru.
" Za... Khanza loe kenapa?" tanya Nicko yang merasa heran dengan sikap Khanza yang tiba-tiba diam
"ya?" Khanza terkesiap dari lamunannya
" Gue gak Kenapa-napa, udah ah gue pamit ya semua" ucap Khanza melambaikan tangannya ke arah teman-temannya.
" Gue antar" Nicko mengekor di belakang
" Gak perlu, gue udah pesan ojol dan udah ada di depan" sahut Khanza dan langsung berjalan cepat.
" Mba Khanza?" tanya abang ojol
" Iya mas" jawab Khanza
Nicko kembali masuk ke dalam rumah Miska setelah memastikan Khanza pulang dengan abang ojol yang dipesannya.
" Loe kenapa Ko gak jadi antar Khanza pulang?" tanya Billy
" Sudah ada yang jemput" jawab Nicko lesu
" Serius loe Khanza sudah dijemput, sama siapa Ko?" tanya Nana antusias
" Ya sama siapa lagi kalau bukan si abang ojol" sahut Nicko
" Cowoknya? maksud loe Khanza itu sudah punya pacar gitu?" tanya Nicko antusias
" Ya siapa tahu aja" Miska mengangkat bahunya
" Iya betul yang dibilang Miska, kita kan memang gak tahu kalau Khanza itu sudah punya pacar apa belum, tapi kalau gue perhatiin sih akhir-akhir ini Khanza banyak ngelamunnya, biasanya kalau orang banyak ngelamun itu tandanya lagi galau dan bisa aja Khanza itu galau karena mikirin pacarnya" tutur Nana
" Ya belum tentu juga si Na, kita juga kan tau kalau Khanza itu selalu memikirkan ibu dan juga adiknya Izan" ucap Miska yang tahu kalau Khanza sangat perhatian kepada ibu dan adiknya
" Betul juga sih apa yang dibilang Miska" ucap Hana menimpali
🖤
Khanza baru saja sampai di depan rumahnya, setelah membayar abang ojol Khanza langsung masuk ke dalam rumahnya
Ceklekk
Khanza membuka pintu rumahnya dan tidak lupa memberi salam saat kakinya terayun melangkah masuk.
" Assalamu'alaikum, bu!" ucap Khanza saat memasuki rumahnya
" Wa'alaikum salam" jawab bu Khodijah yang baru keluar dari arah dapur.
Khanza mencium punggung tangan bu Khodijah sebagai salam takzim.
" Kamu baru pulang?"
__ADS_1
" Iya bu, tugasnya lumayan banyak dan rada susah" jawab Khanza
" kamu sudah makan?" tanya bu Khodijah
" Sudah bu tadi di teraktir Mie ayam sama Nicko" jawab Khanza
" Bu, Khanza pamit ke kamar dulu ya mau bersih-bersih, lengket" ucap Khanza seraya berjalan menuju kamarnya.
" Iya" jawab bu Khodijah yang sedetik kemudian teringat akan Aldy yang berada di dalam kamar Khanza
" Khan_" suara bu Khodijah terjeda karena Khanza sudah masuk ke dalam kamarnya.
Khanza masuk ke dalam kamar, meletakkan tasnya di atas nakas. Khanza tidak menyadari ada seseorang yang tengah berada di dalam kamarnya. Khanza meraih handuknya lalu melesat masuk ke dalam kamar mandi.
Sudah lebih dari 20 Menit Khanza berada di dalam kamar mandi, dengan handuk yang melilit di tubuhnya Khanza keluar dari kamar mandi.
Khanza dengan santai memakai pakaiannya tanpa menyadari ada seseorang yang sedari tadi menatapnya dan beberapa kali menelan salivanya dengan susah payah.
Setelah selesai menggunakan baju Khanza duduk di depan meja rias, menyisir rambutnya dan memberikan sentuhan makeup tipis di wajahnya dan pada saat Khanza hendak mengikat rambutnya tiba-tiba netranya menangkap sosok laki-laki yang tengah berdiri di belakangnya tepatnya di dekat jendela kamar.
Khanza sontak melotot dan menoleh dengan cepat memastikan apa yang baru saja dilihatnya dari pantulan cermin meja riasnya.
Glek
Khanza menelan salivanya dengan kasar saat menyadari orang yang tengah berdiri di dekat jendela adalah nyata.
" Pak... Aldy?" tanya Khanza dengan gugup
Aldy bergeming namun tatapan matanya terus menatap lekat wajah Khanza yang nampak sangat cantik sore ini.
" Ap.... apa yang pak Aldy lakukan dikamar saya?" tanya Khanza datar namun ada sedikit rasa gugup bercampur malu, rasanya Khanza ingin bersembunyi saja dan menghilang dari hadapan laki-laki tersebut.
" Apa pak Aldy melihat semuanya?" tanya Khanza yang meluncur begitu saja dari bibirnya.
Aldy berjalan mendekati Khanza dengan tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana dan tatapan matanya terus menatap lekat ke arah Khanza dari atas sampai bawah.
Khanza merasa risih dengan tatapan Aldy yang seakan menelanjangi dirinya.
" Pak, apa bapak gak punya sopan santun ya masuk ke kamar orang tanpa izin?" ketus Khanza
" Siapa bilang saya tidak izin, bahkan ibu kamu sendiri yang menyuruh saya masuk ke kemar ini, lagi pula aku ini suami kamu jadi tidak perlu izin jika ingin masuk ke dalam kamar kita" jawab Aldy dengan santai
" Kamar kita?" Khanza tertawa kecut
" Sejak kapan kamar ku menjadi kamarmu?" lanjutnya
" Ya sejak aku mengucapkan kalimat ijab qobul" Aldy tersenyum menyeringai
" Tapi aku tidak sudi menjadi isteri mu" ketus Khanza
" Benarkah?" Aldy semakin merapatkan tubuhnya
" Menyingkirlah!" Khanza mendorong kasar dada Aldy hingga mundur beberapa langkah
" Ibu!" gumam Khanza menghentakkan kakinya lalu berjalan keluar
Namun baru sampai di ambang pintu Aldy langsung menarik tangan Khanza, karena terkejut Khanza hilang keseimbangan dan hampir menyentuh lantai jika Aldy tidak dengan cepat menariknya hingga membentur dada bidangnya.
__ADS_1
Mata keduanya saling bertemu dan menatap lekat satu sama lain sampai akhirnya Khanza tersadar dan langsung memutus tatapannya lebih dulu.
Aldy melepas pelukannya dan Khanza langsung beranjak pergi begitu saja meninggalkan Aldy yang masih bergeming menatap kepergiannya.