
Mereka berlima duduk di bangku kantin dengan susunan Bian,Toni,Ivy dan Nina duduk di satu baris dan Jio duduk sendiri di kursi depannya. Ya, sekarang mereka sedang menyidang si buaya darat Jio dan melihatnya dengan tatapan garang.
“jadi kemarin sebenarnya tidak ada kelas tambahan, tapi dia, siswi kemarin yang memaksaku untuk mengantarnya pulang. Aku sudah menolaknya tapi tetap saja dia terus memaksaku”
“lalu kenapa berbohong!”
“iya aku tahu itu salahku, maapin dong yang. Janji aku bakal bilang kalau aku punya pacar”
“jadi kamu nggak bilang kalau sudah punya pacar? Apa aku harus bilang kalau pacarku itu Toni ya, dia baik selalu bagi keripik. Gak kaya kamu! Bohong terus, pepet sana sini!”
“nggak gitu yang, kalau nggak percaya tanyain dia nya langsung aja”
“tapi intinya kamu bohong dan gak nganggep aku pacar” Bian,Toni dan Ivy mengangguk meng iya kan.
“aku minta maaf yang (wajah memelas) gak lagi”
“beneran? (Jio mengangguk) Bagaimana teman-teman sekalian, bisa disepakati?” mereka lagi-lagi mengangguk.
“teriamakasih ,,,”
“eits! Kalau kamu mau macam-macam lagi (mengambil garpu dan menancapkan nya ke sosis bakar di hadapannya dengan sadis) paham?” kali ini bukan hanya Jio yang ketakutan, semua pria yang melihat adegan itu juga ikutan ngilu.
“iya yang paham, nggak lagi. Maap”
Drama remaja selesai saat itu juga. Mereka semua kembali ke kegiatan mereka seperti biasanya. Bian yang memakan makanannya tenang, Toni yang selalu mengunyah keripik kentang dengan berisik, dan pasangan drama kita Jio dan Nina yang sudah saling membucin kembali. Ivy melihat ke arah keluar jendela, lusa dia akan menikah. Rasanya cepat sekali, jujur dia masih ingin seperti teman-temannya (melihat teman-temannya yang asik dengan kegiatan mereka) apa ini yang terbaik untuknya?
Ivy memang tidak terlalu pandai bergaul, bahkan dulu waktu SMP dia benar-benar tidak punya teman karena setiap ada siswi yang mengajaknya berteman pasti akan pergi karena setiap seseorang yang siswi itu sukai justru menyukai Ivy. Bahkan dia sempat dikucilkan. Tapi sekarang berbeda, melihat teman-temannya saja baik-baik saja dia sudah sangat senang.
Ivy melamun, Adam tidak terlihat akhir-akhir ini, apa dia pindah sekolah? Apa Zena juga baik-baik saja? tanyanya pada diri sendiri.
“ah tidak-tidak ada dokter Arvin, pasti dia baik-baik saja”
.
.
.
Kelas dimulai kembali, karena jam pelajaran Juan telah kembali ke semula. Jadi saat ini kelas Ivy diisi oleh Juan. Beberapa siswi terlihat sedang saling menuduh untuk menentukan siapa yang akan bertanya sesuatu hal pada pria tinggi yang sedang menulis jawaban di papan itu.
“jika ada yang ingin ditanyakan silahkan” ucapnya dengan nada yang kelewat dingin dan datar.
“anu pak, saya ingin bertanya” ucap salah satu siswi yang bernama Diska itu dengan sedikit gugup, padahal dia ratu gosip dan Ivy tahu itu.
“iya silahkan!”
“maaf sebelumnya pak karena ini di luar pelajaran. Kemarin saya melihat bapak di minimarket, bapak bilang bapak sudah punya istri. Apa itu benar?” satu kelas menutup mulut dan membelalakkan matanya terkejut tak terkecuali Nina dan Ivy. Tidak seperti biasannya, kali ini Juan terlihat tidak marah dan raut wajahnya terlihat lebih santai.
“iya itu benar” jawabnya sambil melirik Ivy sekilas. Ivy yang salah tingkah hanya bisa memalingkan wajahnya malu. Satu kelas terlihat kecewa, mungkin satu sekolah mereka akan sakit hati berjamaah. Satu kelas kembali berbisik-bisik.
“maaf pak, apa bu Selena itu istri bapak?”
“tentu saja”
Ivy seketika melotot kea rah Juan. Apa dia benar di madu? Sialan.
“bukan, istri saya jauh lebih cantik”
Blush
__ADS_1
Lagi-lagi wajah Ivy kembali semerah tomat. Satu kelas terlihat sedikit lega karena ternyata istri Juan bukanlah Selena yang hanya cantik tapi tidak bisa mengajar dan selalu mengikuti kemanapun Juan pergi.
Ivy memandang ke luar jendela dan betapa terkejutnya dia ketika melihat kakeknya berdiri di bawah pohon bunga tabebuya di bawah sana sambil tersenyum ke arahnya. Senyum yang sangat khas dengan kakeknya. Ivy tersenyum ketika bayangan kakeknya itu menghilang bersamaan dengan hembusan angin.
.
.
.
Hari yang ditunggu pun datang. Sebuah pesta pernikahan sederhana yang diadakan di aula pribadi milik keluarga Ivy. Ivy terlihat sangat cantik dengan gaun putih sederhana namun elegan, dan Juan yang terlihat menawan dengan tuxedo putih yang ia kenakan. Semua terlihat bahagia, walaupun hanya kebahagiaan palsu. Daniyal terlihat berkaca-kaca ketika Ivy berdiri di atas mimbar dengan seseorang yang beberapa saat lagi akan menjadi suaminya.
Janji suci telah diucapkan, Juan dan Ivy berciuman di atas mimbar, seketika riuh tepuk tangan penonton memenuhi ruangan yang terlihat mewah itu. Ivy sudah tidak bisa memilih, ini adalah hal yang harus ia jalani. Lagi-lagi Ivy melihat bayangan kakeknya tak jauh dari sana. Ivy merindukan kakeknya, sangat, sangat merindukannya.
Juan menggenggam tangan istrinya itu dengan hangat. “aku akan menjagamu, aku berjanji” bisiknya sambil lebih mengeratkan genggamannya, yang membuat Ivy menjadi lebih tenang.
Daniyal terlihat sudah menangis dengan lebay sambil memeluk Dion yang terlihat sudah risih dengan sikap kakaknya itu. Ivy tertawa renyah melihatnya, dia meyakinkan dirinya sendiri. Masih ada lima orang atau lebih yang benar-benar menyayanginya. Senyumnya sedikit pudar ketika melihat Ibu, ayah dan kakak tertua nya. Andai saja orang tuanya menyayanginya, pasti hari ini adalah hari terindah untuknya. Tapi Ivy menerima nya, semua pasti akan lebih baik.
Acara telah selesai, kini Ivy duduk di samping kolam renang sambil merendam kaki nya bersama Dion yang terlihat sangat senang. Dion bercerita banyak hal yang dialami di sekolah, mulai dari teman-temannya, nilai ujiannya yang bagus dan banyak hal lainnya.
“Dion di panggil mama” ucap Lyla yang juga ikut duduk bersama Ivy.
“kak Ivy Dion pergi dulu, bay-bay” Ivy melambaikan tangannya ke arah Dion yang sudah tidak terlihat lagi dari sana.
“selamat atas pernikahanmu”
“ah, iya, terima kasih” suasananya agak canggung karena mereka berdua tidaklah akrab. Tapi Lyla tidak pernah jagat padannya.
“kau beruntung, kau menikahi pria yang baik”
“maksudmu?”
“aku turut bersedih”
“untuk apa? Aku justru senang karena tidak jadi menikahinya. Walaupun ada sesuatu yang harus aku bayar”
“bayar?”
“iya, aku harus mengabdikan diri di perusahaan sampai perusahaan kita kembali di puncak. Anak perempuan di sini sungguh tidak dihargai, kau pasti tahu itu”
“hm (mengangguk) kau benar”
“jadilah istri yang baik, suamimu datang aku pergi dulu Oh iya, jika ada sesuatu yang terjadi atau membutuhkan sesuatu bilang saja padaku”
“terimakasih”
“jangan terlalu lama di sana, kita akan pulang sekarang”
“oh oke”
Tak lama berselang mereka sudah sampai di kediaman baru mereka. Lampu taman membuat rumah itu terlihat lebih cantik. Rumah sudah tertata rapi dan bersih karena Juan sudah menyuruh seseorang untuk mengurus barang-barang mereka dan membersihkan rumah. Hanya untuk saat itu, karena mereka tidak berminat menyewa pekerja atau siapapun itu untuk mengurus rumah mereka. Juan memasuki kamar dan Ivy memasuki kamar di sampingnya.
“mau kemana?” cegah Juan
“ke kamarku”
“kamarmu? Apa kita tidur di satu kamar, jangan macam-macam”
“loh, tapi kan! kok gitu sih! Kemarin kan gak gitu perjanjiannya”
__ADS_1
“perjanjian yang mana sayang? Tidak ada penolakan, lagi pula kan kita sudah sah, memangnya kenapa?”
“sudah mandi dulu sana!” mendorong Juan pergi.
“kamu nggak mandi sekalian?”
“aku sudah mandi di rumah utama tadi” Juan manggut-manggut lalu bergegas menuju kamar mandi di dalam kamarnya, ralat, kamar mereka lebih tepatnya. Terdapat satu kasur berukuran king size, dua meja belajar dan dua lemari. Terlihat menenangkan dengan ornamen abu-abu sedikit gelap. Ivy berjalan menuju balkon, dari sana dia bisa melihat taman bunga yang sangat ia sukai dengan begitu jelas.
“apa kamu benar-benar menyukai bunga?” Juan datang dan memeluk Ivy dari belakang. Rambutnya basah dan hanya mengenakan celana hitam selutut. Bau shampo seketika menembus indra penciuman Ivy.
“mereka sangat cantik”
“kamu juga”
“apasih, udah pakai baju dulu sana!” mendorong Juan menjauh, tapi Juan justru mengeratkan pelukannya.
“aku capek, begini dulu beberapa menit” muncul kembali, sosok Juan yang manja. Beberapa menit kemudian Ivy dan Juan pergi ke kamar dan tidur karena sudah capek dengan pesta pernikahan mereka yang sederhana tapi melelahkan itu. Bahkan saat tidur pun Juan masih memeluk Ivy dengan erat, jika Ivy tidak sedang benar-benar lelah mungkin dia tidak akan bisa tidur karena sesak.
.
.
Keesokan paginya, karena Ivy libur sekolah selama tiga hari, begitu pun Juan. Ivy bangun terlebih dulu karena rasa nyeri di punggung dan perutnya. Ia melirik jam di nakas, masih pukul 6 pagi tapi perutnya sudah terasa ditusuk ribuan jarum. Perempuan pasti pernah merasakannya. Untuk berbicara atau tertawa saja rasanya sangat sakit.
“ugh”
“maaf, apa aku membangunkanmu” Juan terlihat masih terkantuk-kantuk dengan muka bantalnya yang menggemaskan.
“kamu kenapa” paniknya ketika melihat Ivy meringkuk di dalam selimut dan hanya terlihat mata dan dahinya saja.
“tidak ada, aku baik-baik saja”
“seriusan kenapa? Ada yang sakit? “ menyibakkan selimut dan mendapati Ivy meringkuk sambil memegangi perutnya. “kenapa?”
“nyeri,,menstruasi”
“hah? Nyeri menstruasi? Emangnya menstruasi itu sakit? Aku harus gimana nih?”
“aku sudah beli obatnya buat jaga-jaga di kotak p3k, minta tolong ambilkan”
“oke-oke, apa lagi?”
“bantal air hangat”
“oke-oke apa lagi”
“sudah, cepat perutku sakit”
Pagi yang cukup di luar dugaan, yang satu sakit perut yang satu bingung mau ngapain.Juan memberikan obat pereda nyeri kepada Ivy dan memberikannya bantalan hangat untuk perutnya. Jujur Juan sendiri tidak tahu dengan perempuan dan tentang menstruasi. Kata Ivy rasanya seperti di tusuk banyak jarum atau di tendang berkali-kali. Juan dalam hati membatin untung karena dia bukan perempuan.
Beberapa menit kemudian Ivy terlihat sudah membaik dan Juan terus menempel pada nya seperti perangko.
Sekarang mereka sedang menonton tv di ruang tengah. Tak lupa berbagai camilan yang sudah memenuhi meja dan mulut Ivy. Sangat maklum bagi perempuan pms untuk makan banyak sekali camilan.
“yang, emang gapapa pagi-pagi makan ini semua?” Juan yang tiduran di paha Ivy.
“nggak papa kok, mau?”
“nggak, kamu aja yang makan. Eh yang kenapa kok nangis? Iya aku mau kok aku makan ya (Ivy menggeleng lalu menunjuk ke arah tv) udah gapapa namanya juga film”
__ADS_1
Juan menggeleng pasrah, baru hari pertama saja sudah seperti ini. Pms benar-benar merepotkan.