
Wajah pria itu nampak tercengang melihat sikap Azka yang nampak terlihat berlebihan dan sedikit aneh menurutnya, sebenarnya bukannya aneh melainkan dirinya saja yang sudah salah paham terhadap hubungan Azka dan Zaira.
Tatapan mata pria tersebut tidak beranjak dari Zaira yang digenggam tangannya oleh Azka berjalan menuju mobil miliknya.
" Apa sebagai seorang kakak pak Bagaz tidak terlalu berlebihan, padahal adiknya sedang sakit!" gumam pak Aldy
Flashback on
" Alzaira!" panggil pak Aldy yang melihat Zaira tengah berjalan di depan rumah sakit menunggu taksi online yang tadi dipesannya.
Mendengar namanya dipanggil Zaira pun menoleh ke arah sumber suara, mata Zaira terbelalak melihat guru yang sangat ingin ia hindari kini tengah berjalan mengarah kepadanya.
" Mampus! tuh orang ngapain sih pakai nyamperin segala?" Zaira menggerutu dalam hati
" Al!" panggilannya saat sudah berdiri di hadapan Zaira
" Eh pak Aldy, belum pulang pak?" tanya Zaira basa-basi
" Belum, kamu sendiri sedang apa disini? bukannya tadi kata pak Bagaz kamu itu sedang sakit ya?" tanya pak Aldy sedikit mengkhawatirkan gadis yang ada dihadapannya saat ini ya walaupun sebenarnya sudah tidak gadis lagi
Zaira mengerutkan keningnya merasa bingung dengan arah pembicaraan gurunya tersebut namun sedetik kemudian dia baru teringat kalau gurunya tersebut sudah salah paham dengannya.
" Saya baik-baik saja pak, sebenarnya yang sakit itu _!"
Belum sempat Zaira berucap suara bariton dari belakangnya membuat lidahnya tercekat, Zaira memutar badannya dan benar saja pemilik suara yang sudah sangat dihafalnya tengah menatapnya tajam
"Alzaira Kiana Putri!" panggil Azka dengan sorot mata penuh kilatan amarah.
" I..iya!" jawab Zaira sedikit gugup
" Kita pulang sekarang!" Azka meraih tangan Zaira dan menggenggamnya posesif.
" Kami duluan pak!" ucap Zaira pamit karena bagaimanapun pria tersebut adalah gurunya yang patut dihormati.
Flashback off
Zaira dan Azka saat ini sedang berada di dalam mobil, wajah Zaira ditekuk hatinya begitu perih karena lagi-lagi suaminya bersikap semaunya dan seakan disini Zaira lah yang bersalah.
" Maafkan mas sayang!" ucap Azka membuat Zaira seketika menoleh mendengar pernyataan maaf suaminya yang secara tiba-tiba.
Azka menepikan mobilnya lalu menghadap ke, arah Zaira, ia meraih tangan Zaira membawanya ke depan bibirnya dan mendaratkan kecupan lembut dipunggung tangannya.
Zaira terkesiap dengan perlakuan lembut suaminya yang tadi begitu dingin sekarang berubah begitu lembut dan hangat.
Zaira masih dengan sikap diamnya menunggu kelanjutan dari kata-kata suaminya itu.
" Mas minta maaf sayang, mas mengaku bersalah karena mas sudah bersikap egois dan membuat kamu bersedih. jujur mas tidak bisa mengendalikan diri mas setiap kali kamu berada dekat dengan laki-laki lain, mas begitu cemburu sayang!" aku Azka yang merasa bersalah
" Mas, sudahlah jangan bahas itu lagi. sudah aku katakan berulang kali dihati aku hanya ada mas dan juga anak kita. jadi jangan pernah meragukan hati aku lagi mas, aku lelah jika mas selalu bersikap seperti itu terus. cemburu boleh mas tapi harus lihat keadaan. Selama ini aku juga merasa tidak nyaman dengan guru baru itu dan selalu berusaha menjaga jarak dengannya jadi jangan marah lagi hanya karena Pak Aldy!" keluh Zaira
" Jika mas tidak ingin kesalahpahaman ini terus berlanjut sebaiknya mas luruskan pada pak Aldy tentang hubungan kita yang sebenarnya!" usul Zaira
" Iya nanti mas akan bicara dengannya!" ucap Azka
" Ya udah sekarang kita cepat pulang mas kasihan baby Zia !" Azka mendaratkan kecupan di kening Zaira
" Terima kasih ya sayang, sekali lagi mas minta maaf!" Zaira tersenyum
" Iya mas!" sahut Zaira membuat Azka merasa lega
Azka menyalahkan mesin mobilnya dan kembali melanjutkan perjalanan untuk pulang ke rumah.
Setelah menempuh perjalanan sekitar 30 menit akhirnya mereka sampai di kediaman keluarga Dinata.
" Assalamu'alaikum!" ucap Azka dan Zaira saat memasuki rumah orangtuanya
" Wa'alaikum salam!" sahut mama Maria yang sedang menggendong dan mendiamkan baby Zia yang menangis.
" Duh anak mama kok nangis sih sayang?" ucap Zaira yang menghampiri mama Maria
" Iya dia baru saja bangun tidur tidak mendapati mamanya jadi menangis ya sayang!" ucap mama Maria
" Sebaiknya kamu bersih-bersih dulu sana sebelum menggendongnya!" perintah mama Maria yang langsung di iyakan oleh Zaira.
" Iya mah, Za bersih-bersih dulu ya mah!" pamit Zaira dan Azka sudah lebih dulu pergi ke kamarnya untuk bersih-bersih.
Ceklekk
Zaira masuk ke dalam kamar dan tidak mendapati suaminya didalam kamar, Zaira tahu suaminya pasti sedang bersih-bersih karena terdengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi.
Zaira berjalan menuju walk in closet untuk menyiapkan baju ganti suaminya. hanya butuh waktu kurang lebih 15 menit Azka keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggang.
__ADS_1
" Kenapa menatap mas seperti itu?" tanya Azka yang melihat Zaira bergeming menatap lekat dirinya yang baru keluar dari kamar mandi.
" Ah tidak kenapa-kenapa?" ucap Zaira dengan cepat tidak ingin suaminya tahu kalau dirinya tengah tergoda dengan tubuh sixpack sang suami tercinta.
" Apa kamu tergoda dengan tubuh indah suamimu ini sayang?" goda Azka dengan menaik turunkan alisnya
" Percaya diri sekali anda!" elak Zaira yang langsung beranjak pergi ke kamar mandi takut sang suami akan lebih menggodanya dan berujung panjang urusannya.
" Sayang jika kamu mau mas bersedia kok kamu menikmatinya!" goda Azka yang berteriak saat Zaira sudah masuk ke dalam kamar mandi.
Tawa Azka pecah melihat tingkah lucu Zaira yang menurutnya sangat menggemaskan.
Setelah memakai baju yang sudah di siapkan oleh Zaira, Azka turun untuk menemui mamahnya yang tengah menggendong baby Zia di ruang keluarga.
" Mah, baby Zia masih menangis?" tanya Azka seraya berjalan menghampiri mamahnya
" Iya, sepertinya dia haus!" sahut mama Maria
" Persediaan Asi baby Zia habis ya mah?" tanya Azka
" Iya, sepertinya Za lupa memompa asinya karena tadi mungkin panik dengan keadaan adikmu" tutur mama Maria
" Iya mah, Za itu begitu menyayangi Meli, melihat Meli kesakitan pastinya membuat dia sangat panik dan khawatir." ucap Azka yang diangguki oleh mama Maria.
Kedekatan Zaira dengan Lia memang begitu kuat bahkan saking dekatnya mereka sering berkontak batin. Jika Zaira atau Lia yang mengalami sesuatu maka satu diantara mereka pun dapat merasakannya.
Tidak berapa lama Zaira muncul dengan rambut yang dicepol keatas dan memperlihatkan leher jenjangnya, Azka geleng-geleng kepala melihat penampilan istrinya yang seakan tengah menggodanya.
" Kamu gak sekolah sayang?" tanya Azka saat Zaira menggunakan baju rumahan.
" Aku izin dulu ya mas, aku gak ada stok asi jadi gak tega buat ninggalin baby Zia. Stok asinya di rumah semua mas!" ucap Zaira yang kini sedang memangku baby Zia memberinya ASI.
"Ya sudah kalau begitu, mas berangkat dulu ya!" Pamit Azka.
Setelah Azka berangkat mengajar, mama Maria tengah bersiap-siap untuk kembali ke rumah sakit dan Zaira kembali ke kamar untuk memandikan baby Zia.
❄️
Di SMA Darma Bangsa
" Za sama Lia kemana sih, sudah jam 7 belum juga nongol batang hidungnya tuh anak pada?" cerocos Mia yang sedari tadi celingak-celinguk menunggu kedatangan sahabatnya itu.
" Apa mereka gak masuk ya?" tanya Indah
" Kalau Za gue udah telpon tapi ponselnya gak aktif" ucap Mona
" Mita calon adik ipar loe kemana?" tanya Mona yang melihat Mita baru datang.
" Tumben loe telat?" belum sempat menjawab Mita sudah mendapat pertanyaan lagi dari Mia.
" Yang mana dulu nih yang harus gue jawab?" tanya Mita seraya mendudukkan dirinya di bangku
" Terserah loe aja mau jawab yang mana!" ucap Indah
" Za gak masuk kata pak Bagaz lagi dirumah mamahnya karena semalam menginap dan stok ASI-nya habis, jadi gak tega ninggalin baby Zia!" jawab Mita sedikit berbisik agar tidak terdengar dengan murid lainnya.
" Terus kalau Lia kemana dia gak masuk?" tanya Indah.
" Lia masuk rumah sakit" sahut Mita membuat ke tiga sahabatnya terkejut
" Masuk rumah sakit, kenapa?" tanya Indah khawatir
" Terus keadaannya sekarang bagaimana?" Mona ikut bertanya
" Perutnya tadi pagi sempat kram mungkin karena kecapean dan sedikit stres " jawab Mita
" Terus keadaannya sekarang?" tanya Mona lagi
" Kata pak Bagaz Alhamdulillah sudah baikkan dan harus banyak istirahat" sahut Mita
" Syukurlah kalau begitu!" ucap Mona lega begitu juga dengan Mia dan Indah
Bel berbunyi dan tidak lama pak Aldy masuk ke dalam kelas.
Seperti biasa sebelum memulai pelajarannya pak Aldy mengabsen siswa dan siswinya.
" Apa hari ini Alzaira tidak masuk kelas?" tanya pak Aldy
Mita dan Mona saling senggol begitu juga dengan Mia dan Indah.
" Alzaira dan Meliani hari ini tidak masuk pak." jawab Mita mewakili teman-temannya menjawab pertanyaan pak Aldy
__ADS_1
" Kenapa mereka tidak masuk?" tanya pak Aldy
ya walaupun tadi pagi dia sempat bertemu dengan Zaira di rumah sakit.
" Sakit pak !" kali ini Mona yang menjawab
" Baiklah kalau begitu sekarang kita mulai saja pelajaran hari ini, buka buku kalian halaman 157 dan kerjakan jika sudah selesai kumpulkan!" titah sang guru.
Waktu terus berjalan tanpa terasa jam pelajaran pak Aldy pun selesai, semua murid sudah mengumpulkan tugas mereka.
Pak Aldy keluar dari kelas dan saat hendak masuk ke dalam ruang guru ia berpapasan dengan Azka.
" Pak Bagaz!" sapa pak Aldy dan Azka hanya menjawab dengan senyuman.
" Pak Bagaz kalau boleh tahu bagaimana keadaan Alzaira sekarang?" tanya pak Aldy membuat Azka memutar bola matanya malas.
" Sudah lebih baik pak!" sahut Azka santai walaupun sebenarnya hatinya begitu bergemuruh merasa kesal dengan rekannya yang satu ini.
" Maaf pak Aldy saya permisi duluan masih ada jam mengajar!" tutur Azka menyelak ucapan pak Aldy yang ia tahu hendak bertanya kembali.
" Silahkan pak!" ucap pak Aldy dan dengan cepat Azka langsung pergi karena saat ini dia ada jam pelajaran olahraga.
❄️
Azka sudah pulang mengajar dan sebelum menemui anak dan isterinya Azka membersihkan diri terlebih dahulu baru setelah itu ia bisa menghampiri kedua wanita yang sangat berarti dalam hidupnya.
" Mas!" sapa Zaira saat melihat Azka yang tengah menuruni anak tangga
" Bagaimana keadaan baby Zia hari ini nakal tidak sayang?" tanya Azka yang mendaratkan satu kecupan manis di pipi sang isteri
" Baby Zia itu anak yang pintar papa jadi tidak membuat mamah kerepotan" sahut Zaira dengan meniru suara anak kecil.
" Duh pintarnya putri papah!" Azka mengambil baby Zia dari gendongan Zaira lalu mendaratkan kecupan di seluruh wajah gadis mungil tersebut sehingga terdengar suara tawa baby Zia yang kegelian.
" Mas sudah makan?" tanya Zaira
Azka menggeleng " Belum sayang, Selesai mengajar mas langsung pulang karena sudah tidak sabar bertemu dengan kalian dua bidadari mas yang sangat cantik-cantik" jawab Azka sambil bermain dengan baby Zia dan sedetik kemudian ia kembali mendaratkan kecupan di bibir Zaira yang tengah bersemu merah.
" Mas ih!" protes Zaira karena sikap Azka yang tiba-tiba menjadi tidak tahu tempat.
" Jangan dimanyun-manyunin sayang nanti mas khilaf!" ucap Azka membuat Zaira memutar bola matanya jengah
" Itu sih mas aja yang mesum!" ucap Zaira menggerutu
" Mesum sama isteri sendiri sih pahala sayang!" sahut Azka seraya terkekeh.
" Iya tapi setidaknya tau tempat dong mas, bagaimana kalau tiba-tiba ada yang lihat!" Zaira mengedarkan pandangannya ke sekeliling
" Gak akan ada yang lihat sayang, karena bi Sum lagi pergi ke supermarket " Azka menoel dagu Zaira.
" Tetap saja mas bagaimana kalau tiba-tiba, mamah atau papah pulang?" Zaira benar-benar dibuat pusing dengan tingkah suaminya hari ini .
" Memangnya kenapa kalau mereka lihat, mereka juga pasti mengerti sayang mereka juga kan pernah muda" sahut Azka santai
" Tau ah mas ih ngeselin, aku mau siapkan makanan aja!" Zaira beranjak dari duduknya dan berjalan menuju dapur dan Azka yang sedang menggendong baby Zia mengekorinya dari belakang.
Azka menikmati makan siangnya dengan wajah yang terus menyunggingkan senyum.
" Mas kenapa dari tadi senyum-senyum kayak gitu?" tanya Zaira yang merasa aneh dengan sikap Azka hari ini
" Gak ada apa-apa, mas cuma merasa bersyukur karena memiliki dua bidadari seperti kalian!" ucap Azka menatap lembut kepada Zaira dan juga baby Zia yang kini berada di pangkuan Zaira
" Mas ini kenapa sih dari tadi ngegombal terus?" tanya Zaira seraya menautkan alisnya
" Memangnya gak boleh mas memuji isteri dan anak mas sendiri?" Azka malah balik bertanya
" Bukan begitu gak biasa aja mas seperti ini dan jujur aneh tau gak mas jadinya!" ucap Zaira dengan jujur
" Kok aneh sih sayang?" Azka menaikan satu alisnya
" Ya karena gak biasa aja mas kayak gini" sahut Zaira
Azka terkekeh sendiri dengan tingkah sang isteri yang merasa aneh dengan sikapnya hari ini yang terkesan lebay menurut Zaira.
" Mas itu lagi bersyukur banget sayang, diantara banyak laki-laki yang suka sama kamu bahkan ada yang seumuran dengan kamu tapi mas satu-satunya pria yang kini dapat memiliki kamu seutuhnya apalagi sekarang sudah ada baby Zia ditengah-tengah kita membuat mas merasa sangat bahagia sayang. Terim kasih isteri ku Alzaira Kiana Putri yang sudah bersedia menjadi isteri dan ibu dari anak-anakku. terima kasih sayang. mas sangat mencintaimu sangat...sangat .. sangat!" Zaira seketika meleleh mendapatkan perlakukan seperti itu iapun merasa sangat bersyukur memiliki suami yang begitu mencintainya. air mata Zaira lolos begitu saja dengan senyum yang mengembang Azka menghapus air mata dipipi Zaira dengan ibu jarinya.
" Jangan menangis sayang, maaf kalau selama ini mas sering menyakiti hati kamu dan membuat kamu sedih karena sikap mas yang mudah marah dan mudah terpancing emosi. maaf atas semua keegoisan mas." tutur Azka kembali membuat Zaira menitikkan air matanya.
Zaira menggeleng pelan " Tidak ada yang perlu dimaafkan mas karena sebelum mas minta maaf pun aku sudah memaafkan mas. terima kasih ya mas karena selama ini mas juga sudah sangat bersabar menghadapi aku yang masih labil. aku mencintaimu mas.. sangat ... sangat mencintaimu!" ucap Zaira membuat Azka langsung berdiri dan menarik Zaira ke dalam pelukannya.
Azka mengecup kening Zaira dan baby Zia bergantian. " Kalian adalah harta yang paling berharga dalam hidup mas!" Zaira menenggelamkan wajahnya ke dada bidang Azka menghirup aroma maskulin sang suami yang begitu menenangkan dan tanpa mereka sadari ada dua insan yang tengah geleng-geleng kepala melihat sepasang suami isteri yang lagi bucin di meja makan.
__ADS_1
" Ekhemm!" Suara deheman yang mereka dengan spontan membuat keduanya langsung terperanjat kaget dan menoleh ke sumber suara.
Zaira mengerucutkan bibirnya kearah Azka sementara Azka bersikap cuek dan santai tidak menghiraukan senyuman mengejek dua manusia yang kini tengah duduk di hadapannya