
Aldy nampak tercengang dengan pemandangan yang ada di depan matanya saat ini. Dia sampai mengucek-ngucek matanya berkali-kali memastikan apa yang telah Khanza lakukan adalah nyata, bersenang-senang ala Khanza sungguh membuat jantungnya hampir melompat dari tempatnya.
" Aishh... isteri kecilku sungguh luar biasa" batin Aldy
Begitu juga dengan Hana rasanya sungguh malu saat ini bila berhadapan langsung dengan Khanza sahabatnya, dia sungguh tidak pernah menyangka kalau ucapan Khanza yang ingin melayani dan bersenang-senang itu ternyata benar-benar jauh di luar ekspektasinya.
Hana sudah lama bersahabat dengan Khanza tapi baru tahu kalau Khanza sahabatnya itu pandai ilmu bela diri.
Flashback on
" Mari kita mulai bersenang-senang!" ucap Khanza seraya mendekati sang ketua penculik tersebut dan dengan gerakan cepat Khanza mengeluarkan seluruh kemampuannya menghajar, memukul, menendang bahkan melempar penculik tersebut dengan aksinya.
Aldy sontak terkejut saat salah satu penculik terlempar ke arahnya dengan wajah yang sangat mengerikan. lebam dimana-mana bahkan ada darah segar yang mengalir di pelipis matanya.
" Apa kalian masih mau bersenang-senang dengan KHANZA?" tanya Khanza kepada para penculik tersebut yang sudah babak belur dengan suara menggoda
" Tidak... Tidak kami menyerah, ampuni Khanza kami tidak berani lagi" jawab sang ketua penculik tersebut yang saat ini berada di bawah kaki Khanza.
" Jawablah dengan jujur apa kalian melakukan hal ini atas keinginan sendiri atau ada seseorang dibalik semua ini hem?" tanya Khanza yang semakin kuat menginjak tangan sang ketua penculik.
" It... itu atas keinginan kami sendiri" jawabnya sedikit gugup
" Benarkah?" tanya Khanza seraya menyeringai
" Be... benar!" jawab anak buahnya meyakinkan Khanza
" Tapi sayangnya aku tidak percaya begitu saja , baiklah jika kalian tidak mau jujur sebaiknya aku _!"
" Baiklah... baiklah kami mengaku kalau kami hanya disuruh" jawabnya membuat Aldy yang mendengar hal itu langsung keluar dan menghampiri mereka
" Siapa yang menyuruh kalian?" tanya Aldy yang langsung membuat Khanza menoleh ke arah sumber suara dengan mata yang terbelalak.
" Pak Aldy!" cicit Khanza
" Kenapa kamu bisa-bisanya membahayakan diri seperti itu hah?" bisik Aldy dengan menahan emosi.
" Untuk apa bapak datang kesini?" tanya Khanza yang ikut berbisik
" Tentu saja untuk menolong mu dari para penculik ini dan ingin tau siapa yang sudah berani-beraninya menyakiti istriku" ucapnya kembali berbisik
" Bapak yang sudah menyakiti saya!" ucap Khanza tegas dan hal itu seketika membuat Aldy menaikan satu alisnya tidak mengerti maksud ucapannya.
" Siapa yang menyuruh mu cepat katakan?" tanya Khanza menghindari Aldy yang hendak bertanya lagi.
" Emmmm.... tu... tuan Japra!" sahutnya
" Siapa itu tuan Japra?" tanya Aldy
" Beliau adalah juragan di kampung ini dan dia tidak suka dengan adanya acara camping di daerah kekuasaannya ini" jawab penculik tersebut
" Tujuannya apa melakukan penculikan ini?" tanya Aldy
" Awalnya sih cuma mau menakuti saja tapi setelah bertemu dengan neng cantik Khanza niat kami jadi berubah pikiran" jawabnya jujur
Aldy tidak terima dengan cara mereka memandang Khanza dan tanpa bisa mengontrol emosinya Aldy melayangkan Bogeman mentah kepada penculik tersebut.
" Jaga matamu berengsek!" umpat Aldy
" Pak Aldy apa-apaan sih!" marah Khanza apalagi tidak jauh dari mereka berdiri ada Hana
" Tolong neng Khanza maafkan kami, kami janji akan bertaubat dan tidak akan mengulanginya lagi neng, tolong jangan laporkan kami ke polisi. kami melakukan ini juga karena terpaksa neng anak dan isteri kami kelaparan" para penculik tersebut bersimpuh kepada Khanza.
" Tolong paman semuanya jangan seperti ini, kalau kalian memang berniat sungguh-sungguh aku maafin kalian tapi aku harap kalian bisa mencari rezeki yang halal jangan lakukan hal seperti ini lagi" tutur Khanza membuat para penculik tersebut malu dengan perbuatannya tidak menyangka ia bertemu dengan bidadari yang baik hati.
Khanza merogoh saku celananya lalu mengambil uang yang tidak terlalu besar jumlahnya karena hanya itu yang ia punya, Khanza lalu dengan santai menengadahkan tangannya kepada Aldy.
" Apa?" tanya Aldy yang tidak mengerti maksud Khanza
" Mana dompet bapak?" tanya Khanza
" Untuk apa?"
" Sudah jangan banyak tanya, aku pinjam nanti pulang aku akan ganti" ucap Khanza
Aldy memasukkan tangannya ke saku celananya lalu mengeluarkan dompetnya dan memberikannya kepada Khanza " Ini!"
" Berikan saja uangnya tidak perlu dengan dompet-dompetnya!" ketus Khanza
" Ambil sendiri saja terserah kamu mau ambil berapa dan tidak perlu menggantinya!" Aldy kembali menyodorkan dompetnya kepada Khanza.
Khanza mau tidak mau menerima dompet tersebut dan membukanya.
Deg
Hati Khanza mencelos saat netranya melihat sebuah foto yang ada di dalam dompet tersebut tapi sedetik kemudian Khanza kembali menetralkan pikirannya.
Khanza mengambil beberapa lembar uang berwarna merah setelah itu ia mengembalikan dompet tersebut kepada Aldy.
__ADS_1
Hana yang melihat Khanza mengambil uang dari dompet gurunya tersebut nampak tercengang, apa sebegitu takutnya sang guru pada Khanza sampai bebas membuka bahkan mengambil uang dari dalam dompet tersebut.
" Paman-paman ini kami ada sedikit uang, maaf kalau jumlahnya tidak terlalu banyak tapi semoga ini bisa memenuhi kebutuhan keluarga kalian!" ucap Khanza seraya memberikan uang tersebut
Si paman penculik itu langsung kembali bersimpuh dan menangis, mereka tidak menyangka gadis yang diculiknya bahkan hampir menyakitinya ternyata memiliki hati yang begitu mulia
" Terima kasih neng Khanza, sungguh kami merasa sangat malu dengan perbuatan kami tadi, neng Khanza ternyata bukan hanya wajahnya yang cantik tapi juga memiliki hati bak malaikat" ucap si ketua mewakili para anak buahnya.
" Paman jangan seperti itu, sudah mau berbuat jujur dan mengakui kesalahan serta berjanji memperbaikinya itu sudah lebih dari cukup paman" ucap Khanza seraya menatap ke arah Aldy.
Aldy merasa aneh dengan sikap Khanza seakan ucapannya itu ditujukan kepadanya.
" Terima kasih neng Khanza, kami tidak akan pernah melupakan kebaikan neng Khanza !" ucap si pria tersebut di ikuti anak buahnya
" Sama-sama paman, salam untuk keluarga kalian di rumah ya!" ucap khanza.
" Iya neng Khanza, terima kasih pak guru!"
ucap mereka lalu pergi meninggalkan gedung tersebut.
Hana yang sedari tadi hanya memperhatikan mereka dari kejauhan akhirnya berjalan menghampiri Khanza dan pak Aldy
" Khanza!" panggil Hana dan Khanza pun menoleh lalu tersenyum
" Za maafin gue ya, tadi gue sempat menilai loe yang bukan-bukan dan udah mikir yang enggak-enggak" ucap Hana sendu karena merasa bersalah sudah bilang jijik pada Khanza.
Khanza hanya tertawa renyah lalu memeluk Hana " Sudah lupakan hal itu, gue malah sengaja melakukannya, kalau loe gak bersikap seperti itu mana mungkin mereka percaya dan mau melepaskan ikatan tangan gue." ucap khanza setelah melerai pelukannya
" Tapi loe enggak apa-apa kan Han?" tanya Khanza cemas
" Gue enggak apa-apa, sumpah gue enggak menyangka banget loe bisa sehebat itu Za" puji Hana
" Loe terlalu berlebihan memuji Hana" ucap Khanza merendah
" Gue serius enggak bohong!" jawab Hana
" Gue enggak sehebat itu Han" Khanza merangkul tangan Hana
" Yaudah yuk ah kita kembali ke tenda mereka pasti sibuk mencari kita" ucap Khanza
" Ayok!" Hana merasa lega semua berakhir tidak seseram yang ia bayangkan
Khanza dan Hana berjalan beriringan sementara Aldy mengekor di belakangnya.
Baru saja keluar dari bangunan tua tersebut tubuh Khanza tiba-tiba terasa lemas dan bahkan pandangannya pun mulai berkunang-kunang dan sedetik kemudian pandangannya menjadi gelap, Khanza pun langsung terjatuh begitu saja. ber?untung dengan sigap Aldy meraih tubuh Khanza lalu dengan cepat menggendongnya dengan ala bridal style.
" Khanza!" Hana nampak khawatir.
Aldy menurunkan Khanza dengan hati-hati lalu menjadikan pahanya sebagai bantalan kepala Khanza.
" Za bangunlah, kamu kenapa jadi seperti ini?" Aldy nampak cemas karena Khanza belum juga sadarkan diri.
Aldy mengusap wajah Khanza dan menepuk-nepuk pipi Khanza. " Za ayo dong bangun jangan bikin aku khawatir!" ucap Aldy sendu membuat Hana yang melihatnya menyipitkan matanya.
" Sayang maafkan aku, maaf kalau tanpa sadar aku sudah berbuat sesuatu yang menyakiti hati kamu, bangun dong sayang dan katakan apa yang membuat kamu semarah ini!' Aldy memeluk Khanza dengan erat dan nampak raut kesedihan yang terpancar di mata Aldy.
Hana tercengang melihat sikap sang guru yang sebegitu perhatiannya terhadap Khanza bahkan sampai terlihat sesedih itu.
" Pak sepertinya Hari semakin gelap dan udara juga semakin dingin. apa kita akan melanjutkan perjalanannya?" tanya Hana pelan
" Sebaiknya kita cari tempat untuk beristirahat, kasihan Khanza karena udara pun semakin dingin" sahut Aldy
" Disana ada rumah kosong sebaiknya kita bermalam saja disana dulu besok pagi kita lanjutkan perjalanan, apalagi sepertinya akan turun hujan" Aldy mengangkat kembali tubuh Khanza kedalam gendongannya lalu berjalan ke arah rumah tua tersebut.
" Pak tempat ini seram banget!" Hana nampak ketakutan namun Aldy tidak peduli soal itu yang ada dalam benaknya saat ini hanyalah Khanza.
Aldy meletakkan Khanza dilantai dengan beralaskan kardus yang ada di rumah tersebut.
" Sayang bangun dong jangan bikin aku tambah khawatir" Aldy kembali membangunkan Khanza tapi nampaknya nihil.
" Pak apa Khanza belum juga sadar?" tanya Hana yang ikut khawatir dengan keadaan Khanza yang tiba-tiba saja pingsan.
Aldy menggeleng dengan tatapan mata yang tidak beralih sedikitpun dari Khanza.
Malam semakin larut dan hujan pun turun cukup deras hingga hawa dingin kian merasuk ke tulang.
Hana duduk sambil memeluk lututnya sementara Aldy memeluk tubuh Khanza yang nampak bergetar karena kedinginan.
" Ya ampun kamu pasti sangat kedinginan tubuhmu sampai menggigil seperti ini!" Aldy semakin merapatkan tubuhnya pada Khanza.
Hana yang melihat pemandangan yang ada di hadapannya nampak dibuat semakin bingung apa lagi sesekali Aldy mendaratkan kecupan di kening Khanza.
" Maaf pak kalau saya lancang tapi ini sedikit membuat saya merasa sedikit bertanya-tanya sedari tadi!" ucap Hana sangat hati-hati
" Khanza adalah isteri saya, jika kamu ingin bertanya soal hubungan kami!" jawab Aldy dengan cepat tau kearah mana pembicaraan Hana tertuju.
" Ap...apa isteri? bapak jangan bercanda ini tidak lucu pak" ucap Hana yang merasa tidak percaya dengan apa yang Aldy katakan
__ADS_1
" Kami sudah menikah satu bulan yang lalu dan sejak kemarin Khanza sedang merajuk entah apa penyebabnya" ungkap Aldy terus terang
" Ini sungguh sulit di percaya" kata Hana dengan wajah yang masih nampak tidak percaya
" Tapi itulah kenyataannya" sahut Aldy
Terdengar suara lenguhan dari bibir gadis yang ada di pelukannya.
" Kamu sudah sadar sayang?" Aldy nampak senang melihat Khanza yang mulai sadar
Khanza perlahan membuka matanya dan nampak terkejut karena posisinya yang nampak begitu dekat dengan Aldy
" Pak Aldy apa-apaan ini!" kesal Khanza yang langsung beranjak dari duduknya
" Sayang tenang dulu, kamu tadi pingsan dan sebaiknya kamu beristirahat saja dulu!" Aldy pun ikut beranjak dari duduknya
" Aku sudah jauh lebih baik sebaiknya bapak jaga sikap bapak, aku tidak mau ada yang salah paham" ucap Khanza tegas
" Maksud kamu apa, siapa yang akan salah paham?" tanya Aldy menyelidik.
" Hana!" ucap Khanza yang mengalihkan pembicaraannya dengan Aldy
" Han kenapa kita berada di tempat ini?" tanya Khanza kepada Hana
" Za diluar cuaca hujan dan loe dalam keadaan pingsan jadi nunggu loe sadar dulu baru kita lanjutkan perjalanannya" tutur Hana
Khanza hanya mengangguk lalu duduk di samping Hana.
" Za apa loe baik-baik saja?" tanya Hana yang melihat wajah murung Khanza
Khanza menoleh lalu tersenyum " Gue baik -baik aja kok Han" sahut Khanza
Pagi menjelang Khanza sudah terjaga sedari tadi begitu juga dengan Aldy.
Khanza melangkah mendekati Hana. " Han bangun ayo cepat kita pergi dari sini!" ucap Khanza
" Iya Za!" sahut Hana setelah membuka matanya
Khanza dan Hana berjalan beriringan dan Aldy masih setia mengekor di belakangnya.
" Khanza, Hana!" teriak Miska dan Nana bersamaan saat melihat keberadaan dua sahabatnya itu
Miska langsung menubruk Khanza dan menangis sesenggukan begitu juga dengan Nana yang juga langsung memeluk Hana
" Za loe enggak kenapa-napa kan?" tanya Miska yang begitu mengkhawatirkan keadaan Khanza
" Gue enggak kenapa-napa kok Mis" jawab Khanza
" Syukurlah" Miska nampak lega
" Syukurlah kalau kalian semua tidak Kenapa-napa" ucap guru pembimbing yang bertanggung jawab atas acara camping tersebut.
" Sebaiknya kita kembali ke tenda dan untuk acara hari Khanza dan Hana sebaiknya kalian tidak perlu ikut dulu, kalian beristirahat saja di tenda." ucapnya lagi
"Baik pak!" jawab Khanza dan Hana bersamaan
" Untung kalian tidak Kenapa-napa!" ucap Nicko
"Iya karena ada wanita won_" Khanza langsung membekap mulut Hana saat hampir keceplosan
" Wanita won apa?" tanya Nicko
" Wanita wong edan yang tiba-tiba menyerang mereka sehingga membuat kami bisa meloloskan diri!" sahut Khanza sedikit berbohong
" Lalu bagaimana bisa kalian bertemu pak Aldy" tanya Nicko lagi
" Kebetulan kami bertemu di tempat tersebut dan kami terjebak hujan" jawab Aldy
Khanza saat ini tengah berada di dalam tenda bersama Hana dan juga Miska yang memilih untuk menemani mereka karena tidak tega meninggalkannya sementara Nana terpaksa harus mengikuti kegiatan tersebut tanpa bisa mengelak.
" Za loe beneran gak apa-apa?" tanya Miska
" Iya gue beneran baik-baik aja" jawab Khanza
" Tapi kenapa waktu itu loe sempat pingsan?" tanya Hana yang langsung mendapat tatapan tajam Khanza
"Oops, maaf !" Hana menutup mulutnya
" Apa pingsan, jadi loe pingsan Za!" tanya Miska panik
" Iya itukan kemarin kalau sekarang gue udah baik-baik aja kok!" sahut Khanza
" Sebaiknya loe ke UKS deh Za gue takut loe kenapa-napa" pinta Miska yang nampak begitu mengkhawatirkan keadaan sahabatnya itu
"Ya ampun Miska, beneran gue enggak apa-apa, gue sehat nih liat!" Khanza berdiri dan menggerakkan badannya.
" Khanza!" terdengar suara bariton dari luar tenda yang menyerukan nama Khanza.
__ADS_1
Deg
Khanza terdiam dan pandangan matanya mengarah kepada kedua sahabatnya bergantian.