Guruku Suamiku

Guruku Suamiku
Season 2 Khanza


__ADS_3

Sepulang sekolah mereka memutuskan untuk singgah ke rumah Miska, karena hanya dirumahnya Miska mereka merasa bebas.


Kedua orang tua Miska sibuk bolak-balik ke luar kota bahkan tidak jarang juga keluar negeri.


Tapi walaupun kedua orang tuanya jarang di rumah Miska tidak pernah merasa kurang kasih sayang dari mereka. karena saat libur mereka akan menggunakan Quality time untuk keluarga sepenuhnya tanpa mau diganggu dengan pekerjaan mereka.


Selain itu Miska juga selalu ditemani oleh bibi Maysaroh seorang art yang sudah mengabdi sejak Miska lahir.


" Udah jangan nangis lagi, mata loe udah bengkak gitu juga masih aja nangis malu tuh sama cermin takut dia sama loe!" seloroh Miska


" Apaan sih loe!" Nana menyeka air matanya kasar


" Lagian ngapain juga sih loe nangisin cowok macam dia, segitu bucinnya loe sama dia?" ucap Khanza kesal karena Nana menangisi cowok seberengsek Roni.


" Tau loe Na, udah dong diam jangan nangis terus kalau emang loe gak bisa buat ninggalin tuh cowok yaudah sana temuin dia minta maaf sama dia cium kalau perlu!" ucap Hana yang sedikit ngegas.


" Gue nangis bukan karena mau mutusin Roni tapi karena gue malu sama kalian!" Nana menutup wajahnya dengan bantal dan semakin terisak


" Loe serius mau putusin si Roni?" tanya Hana dan Nana mengangguk


" Enggak nyesel mutusin cowok yang Loe cinta itu?" sindir Miska


" Gue yakin dan enggak akan nyesel!" jawab Nana yakin


" Telpon dia sekarang gue pingin dengar loe mutusin dia di depan kita-kita!" sahut Hana


" Baik!" Nana meraih ponselnya dan beberapa menit kemudian nomor Roni baru terhubung


" Hallo!"


" Loe dimana, kenapa gue tungguin gak datang dan di telpon juga enggak diangkat?" tanya Roni nyerocos panjang lebar


" Gak usah nungguin gue lagi dan gak usah temui gue, gue mau kita putus!" ucap Nana berusaha menahan tangisnya


" Kenapa? apa karena teman-teman loe itu, apa mereka udah mempengaruhi loe iya?"


" Gak ada hubungannya dengan mereka"


" Gue enggak percaya, gue tau loe cinta banget sama gue dan enggak mungkin loe minta putus kalau bukan dipengaruhi oleh teman-teman loe yang iri dengan kemesraan kita"


Khanza, Miska dan Hana merasa geram dan muak mendengar ocehan Roni


" Ayolah sayang jangan bodoh, mau putus hanya karena teman-teman loe doang" bujuk Roni


Nana tidak kuasa menahan tangisnya, bukan karena tidak mau putus dari Roni tapi karena Roni yang menilai negatif kepada sahabatnya.


" Loe nangis sayang, tuh tandanya loe masih cinta sama gue?"


" Enggak, gue enggak cinta sama loe perasaan gue udah hancur setelah hari ini dan gue gak mau menjadi orang yang paling bodoh di dunia ini!" Nana menahan agar tidak menangis lagi.


" Sayang loe bicara apa sih, pokoknya gue enggak mau kita putus dan kita bicarakan ini besok ya gue akan jemput loe"


" Enggak usah jemput gue lagi, gue udah tegasin kalau mulai detik ini kita putus" tegas Nana


" Enggak.. gue enggak terima. gue yakin loe hanya sedang emosi sesaat dan loe cinta sama gue gak mungkin loe mutusin gue gitu aja. pokoknya besok gue jemput loe dan kita bicarakan ini lagi nanti. yaudah sebaiknya loe istirahat ya sayang jangan mikir yang macam-macam. gue yakin loe juga sebenarnya tidak mau putus sama gue iya kan sayang, loe kan udah bucin abis sama gue!" Roni bicara selembut mungkin lalu terkekeh.


" Yaudah, loe istirahat ya sayang kita bicarakan ini besok. I love you honey!" ucap Roni sebelum memutus sambungan teleponnya.


Ketiga sahabatnya merasa enek mendengar kata-kata Roni.


" Apa loe gak nyesel mutusin dia, apa loe yakin bisa putus dari tuh manusia planet?" tanya Hana


" Gue enggak tahu tapi yang jelas gue gak mau ketemu sama dia lagi, gue gak mau menjadi orang bodoh terus menerus"


" Siapa bilang loe bodoh?" tanya Miska


" Loe itu bukannya bodoh Nana cuma kurang pintar aja!" seloroh Khanza seraya terkekeh diikuti Hana dan Miska.


"Tuh kan sama aja, bodoh-bodoh juga!" Nana pasang wajah memberengut

__ADS_1


" Jangan cemberut gitu tambah tampang orang bodohnya nanti" Hana ikut menimpali


" Ah sialan loe!" Nana pun tergelak


" Nah gitu dong ketawa ngapain nangis terus, tambah jelas anak bodohnya!" ucap Hana yang langsung mendapat serangan bantal oleh Nana


" Na apa alasan loe sebenarnya ingin putus dari Roni?" tanya Miska tiba-tiba membuat tawa mereka langsung terhenti


Nana menghela napasnya berat lalu mulai bercerita tentang semua yang dia dengar di rooftop.


Miska mengepalkan tangannya kuat begitu geram mendengar cerita Nana begitu juga dengan Hana dan Khanza mereka tidak kalah kesalnya dengan Roni.


Memanfaatkan keluguan dan ketulusan hati dan cinta seorang gadis dan setelah mendapatkan apa yang dia mau dengan seenaknya mencampakkannya begitu saja


" Gue sedari tadi menangis bukan karena putus sama Roni tapi karena gue malu sama kalian apalagi sampai menuduh kalian yang tidak-tidak. gue merasa sangat bersalah sama kalian semua!" Nana kembali menitikkan airmatanya


" Gue enggak mau mendengarkan kata-kata kalian padahal jelas semua itu demi kebaikan gue. entahlah memang benar kata Roni sialan itu kalau gue ini memang bodoh gak bisa bedakan mana yang tulus sayang sama gue dan mana yang memanfaatkan perasaan sayang gue" lanjutnya


" Udah enggak usah di pikirkan lagi. loe enggak bodoh kok ingat loe itu cuma enggak pintar aja sedikit!" Miska tergelak


" Gue boleh ya menginap di sini?" tanya Nana


" Boleh aja, bagaimana Za loe juga nginep disini aja ya?" tanya Miska menoleh ke arah Khanza


" Emmm iya deh nanti gue izin dulu ya!" ucap Khanza dan baru juga selesai bicara dering ponsel Khanza berbunyi


Dreett.....


" Gue akan telpon dulu ya sebentar" pamit Khanza


" Siapa Za?" tanya Hana


" Biasa" jawab Khanza sekenanya


" Sekalian izin Za!" teriak Miska karena Khanza memilih berdiri di balkon kamar Miska.


" Iya" sahut Khanza


" Hallo, Assalamu'alaikum!"


..." Wa'alaikum salam, sedang apa sayang?"...


" Sedang menerima telepon"


..." Kangen!" terdengar rengekan manja pak Gutami...


" Ish kayak anak kecil aja sih manja banget!"


..." Iya nih lagi pingin di manja-manja sama kamu"...


Khanza tertawa mendengar rengekan manja guru sekaligus suaminya itu.


" Bikin geli tau gak mas dengar suara kamu yang sok dimanja-manjain gitu!" Khanza terkekeh


..." Ah kamu mah merusak suasana!"...


...tawa Khanza semakin pecah...


" Oiya mas, hari ini aku izin menginap di rumah Miska ya?"


..." Kenapa pakai acara menginap segala sih?"...


" Ya lagi pingin kumpul aja mas, seru-seruan gitu boleh ya sekalian menghibur Nana yang lagi patah hati"


..." Patah hati kenapa?"...


" Ya apalagi kalau bukan putus cinta!"


..." Untung kita sudah menikah ya yang"...

__ADS_1


"Apa hubungannya coba?"


..." Ada, kalau pacaran itukan masih bisa putus"...


" Yang menikah juga bisa berpisah mas!"


..." Kok kamu bicaranya begitu sih yang, dengar ya aku gak mau kita pisah dan sampai kapanpun aku gak mau" terdengar suara Aldy marah atas ucapan Khanza...


" Loh kok kamu marah gitu sih mas, memang kenyataannya ada kan yang seperti itu!"


..." Iya tapi enggak usah dibahas juga "...


" Iya.. iya aku minta maaf, udah jangan ngambek lagi nanti gantengnya hilang loh. aku enggak mau ya pas kamu pulang ganteng kamunya hilang" Seloroh Khanza


..." Kamu mah gitu yang, nyebelin"...


" Nyebelin apa ngangenin?" goda Khanza


..." Tuh ih... kamu ya sekarang pandai menggoda suami " ...


" Mas aja yang terlalu berlebihan" Khanza tertawa


Tingkah Khanza yang sedang bertelponan tidak luput dari perhatian ketiga sahabatnya. Miska dan Hana hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Khanza sementara Nana nampak mengerutkan keningnya karena tidak biasanya Khanza bertelponan seriang itu.


" Khanza telponan sama siapa sih kok kayaknya gembira banget gitu?" tanya Nana seraya menatap ke arah Khanza


" Terus loe juga tadi bilang sekalian izin, emang itu telpon dari ibunya?" tanyanya lagi


" Gak tau juga, gue sih asal ngomong aja tadi!" jawab Miska dengan sikap sesantai mungkin


" Miska, lapar nih gak ada yang bisa dimakan gitu?" tanya Hana mengalihkan pembicaraan


" Tunggu ibu Khanza selesai telponan setelah itu kita suruh dia masak!" ucap Miska menaik turunkan alisnya.


" Wah parah nih tuan rumah" Hana geleng-geleng kepala


" Nungguin Khanza sih pasti lama kayak gak tahu dia aja loe, keburu cacing diperut gue protes nih minta di isi" Hana mengelus-elus perutnya sendiri.


" Ah loe sih emang dasarnya aja tukang makan!" Hana tertawa


" Tuntutan hidup!" sahut Hana kembali tertawa


" Udah yuk ah turun!" ajak Miska


" Terus Khanza?" tanya Nana


" Biarin aja, dia mah kalau udah teleponan kayak gitu bakalan lama!" sahut Hana keceplosan


" Suttt... gak boleh ngomongin orang kalau sendirinya juga sama!" ucap Miska


" Ya emang Khanza lagi telponan sama siapa sih, enggak mungkin deh telponan sama ibunya sampai kayak gitu. jangan-jangan Khanza udah punya pacar ya?" tanya Nana penuh selidik


Jlepp


Hana tercekat dan melirik ke arah Miska begitu juga sebaliknya Miska pun demikian melirik ke arah Hana


" Apa ada yang kalian tutupi ya dari gue?"


Deg


Miska menghela napasnya panjang " Khanza mau telponan sama siapa juga biarkan aja gak usah ikut campur. selama Khanza masih berada dalam jangkauan dan tidak melakukan hal yang merugikan dirinya sendiri gue rasa itu gak masalah" jawab Miska


" Tapi bagaimana kalau ternyata cowok Khanza sama seperti Roni?" tanya Nana


" Itu gak mungkin, kita tahu Khanza orangnya seperti apa. gak akan mudah buat dia bisa dekat dengan orang lain sama Nicko aja dia tidak bisa kan? Khanza itu tipe orang yang suka dengan orang yang bisa membuatnya nyaman dan tidak memaksakan kehendaknya, loe tahu sendirilah Khanza itu seperti apa jadi kalau dia dekat dengan orang lain pasti dia itu adalah orang yang bisa membuat Khanza merasa nyaman" tutur Miska panjang lebar.


" Iya loe benar!" sahut Nana


" Loe juga jangan memandang laki-laki sama buruknya dengan Roni. tidak semua laki-laki seperti dia. ya tergantung sepandai apa kita bisa menilai dalamnya hati seseorang"

__ADS_1


Nana sejenak berpikir dan mengangguk setuju


__ADS_2