Guruku Suamiku

Guruku Suamiku
Sikap tegas Zaira


__ADS_3

Pagi ini seorang gadis SMA yang sudah bukan gadis lagi sedang dilanda rasa malas, merasa enggan untuk berangkat ke sekolah, rupanya hormon kehamilan membuatnya malas beraktifitas.


" Yang tumben belum bangun, biasanya sudah rapih loh kamu jam segini?" tanya Mario yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit di pinggang dan satu lagi handuk kecil ditangan seraya mengeringkan rambutnya yang basah.


" Aku lagi malas Io, hari ini aku bolos saja ya!" rengek Lia manja menarik selimutnya kembali sampai ke leher.


" Kenapa, kamu sakit ?" tanya Mario yang langsung menghampiri Lia dan meletakkan punggung tangannya di kening Lia.


" Enggak kok Io, aku gak apa-apa. cuma gak tau nih bawaannya malas aja " sahut Lia dengan suara manja


" Terus kalau gak sekolah kamu mau ngapain di rumah? lagi pula bukannya kamu bilang kemarin hari ini ada ulangan ya?" tanya Mario seraya mengancingkan bajunya.


" Iya sih, Yaudah deh aku sekolah aja !" Saat diingatkan kalau hari ini ada ulangan Lia pun memilih untuk sekolah


" Gagal deh bermalas-malasannya" gumam Lia seraya beranjak dari tempat tidurnya.


" Gitu dong, gak usah di turuti rasa malas itu gak baik!" oceh Mario


Setelah menunggu hampir 20 menit Lia baru keluar dari kamar dan menyusul Mario yang sudah lebih dulu turun untuk sarapan.


" Selamat pagi mah, pah!" sapa Lia kepada mertuanya.


" Pagi sayang!" sahut mama Novi


" Wajah kamu pucat , kamu sedang sakit?" tanya papa Alex


"Ya?"


" Enggak kok pah tadi cuma merasa malas aja kesekolah bawaannya lemas" jawab Lia


" Mungkin itu faktor hormon kehamilan kamu sayang" tutur mama Novi


" Apa bisa seperti itu ya mah?" tanya Lia yang memang masih awam seputar kehamilan.


" Iya sayang, setiap wanita hamil akan berbeda-beda gejala yang timbul, ada yang malas mandi, ada yang takut melihat sinar matahari ada juga yang benci sama suaminya masih banyak deh tingkat wanita hamil tuh" tutur mama Novi sampai membuat Mario susah menelan sarapannya saat mama Novi mengatakan ada yang membenci suaminya.


" Mama serius sampai ada yang separah itu?" tanya Lia penasaran


" Iya, dan mama mu itu dulu mengalaminya. mama mu benci sama papa setiap kali papa pulang kantor mama tidak mau menyambut papa malah kunci pintu!" tutur papa Alex menceritakan deritanya saat mama Novi hamil Mario.


" Serius pah?" tanya Lia


"Iya" papa Alex mengangguk dan tertawa teringat masa-masa dulu.


"Papa tidur di ruang tamu dan untungnya mama mengalami hal itu tidak berlangsung lama hanya 5 hari dan seterusnya mama Novi yang malah gak mau pisah dari papah, kemanapun papa pergi mamamu selalu ingin ikut kalau tidak dituruti ya menangis" Lia sampai menahan tawanya mendengar cerita papa Alex


" Ternyata ada ya sampai segitunya, pengaruh ibu hamil ternyata sangat besar ya" Lia terkagum sendiri


" Iya kamu benar, karena itu Rio kamu harus ektra sabar dalam menghadapi ibu hamil. tekan ego kamu saat menghadapi setiap keanehan yang timbul pada isteri kamu. " pesan mama Novi


" Kamu yang sudah membuat dia hamil di usia sekolah jadi apapun yang terjadi kamu harus tanggung jawab sepenuhnya dan ikut andil dalam menjaga kandungan isterimu" pesan papa Alex


" Iya mah, pah!" sahut Rio


" Yaudah, kami pamit dulu ya mah, pah " ucap Rio beranjak dari duduknya dan diikuti oleh Lia. setelah itu keduanya menyalami punggung tangan papa dan mama secara bergantian.


Saat berada di dalam mobil Lia menyandarkan kepalanya dibangku lalu memejamkan matanya.


" Kamu kenapa, pusing?" tanya Mario cemas


" Enggak, cuma ngantuk" jawab Lia tanpa membuka matanya


" Yaudah kamu tidur aja dulu nanti kalau sudah sampai aku bangunin" Mario mengusap lembut pucuk kepala Lia.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 20 menit mobil Mario kini sudah terparkir di parkiran sekolah SMA Darma Bangsa.


" Sayang bangun sudah sampai!" Mario mengguncang pelan bahu Lia

__ADS_1


" Emmm.." Lia menggeliat dan mengerjap-ngerjapkan matanya menatap kesekeliling.


" Sudah sampai ya?" tanya Lia santai


" Iya, sudah dari tadi!" jawab Mario seraya membuka seatbeltnya.


" Ayok cepat turun, sebentar lagi bel!" titah Mario


Lia merapihkan rambut dan bajunya terlebih dahulu sebelum turun dari mobil dan tidak lupa menyalami punggung tangan Mario. begitu juga dengan Mario tidak lupa mendaratkan kecupan manis di kening Lia dan beralih ke perutnya yang sedikit membuncit.


" Loh kamu mau ngapain?" tanya Lia saat Mario ikut turun.


"Aku mau memastikan isteriku sampai di dalam kelas dalam keadaan baik-baik saja" sahut Mario


" Kamu itu terlalu berlebihan!" ucapnya seraya menggandeng tangan Mario bergelayut manja


" Berlebihan tapi kenapa merangkul ku seperti ini?" Mario gemas dan mencubit pipi Lia


" Aw, sakit tahu" Lia mengerucutkan bibirnya


" Jangan manyun seperti itu nanti kalau aku khilaf bagaimana, mau menanggung resikonya!" ledek Mario


" Io apaan sih!" Mario tertawa dan Lia yang memberengut pun akhirnya ikut tertawa.


Para siswa dan siswi yang berada di parkiran dan sepanjang jalan menuju kelas tidak lepas pandangannya menatap ke pasangan yang selalu membuat iri.


" Woy gandengan aja pada udah kayak truk gandeng?" goda Mona yang berjalan bersama Yoga mereka juga baru saja sampai dan berjalan dibelakang Mario dan Lia


Lia menoleh kebelakang " Iri aja loe" sahut Lia semakin mengeratkan rangkulannya pada Mario membuat beberapa pasang mata semakin baper.


" Gue sih gak iri kan udah ada nih!" Mona menarik lengan Yoga dan merangkulnya


" Gak enak belum halal!" bisik Lia lalu tertawa.


"Yoga dan Mario hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah dua sahabat yang saling menggoda satu sama lain dan tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang menatap Lia dan Mario dengan tatapan tajam.


"Iya betul tuh Li, Rio. apalagi belakangan ini gue juga sering mergokin si murid baru diam-diam memperhatikan kalian berdua. ya gue takut aja dia seperti putri dan Rara" tutur Yoga yang sedikit khawatir dengan keadaan sahabatnya itu.


"Iya kok gue jadi parno sih sekarang, apalagi Lia sekarang sedang itu, gue jadi khawatir " ucap Mona


" Huss... kalian jangan berpikir terlalu berlebihan ah, gue baik -baik aja kok apalagi ada kalian. ya semoga aja sudah tidak ada tuh putri atau Rara-Rara yang lain" ucap Lia penuh harap.


" Amin, semoga saja!" ucap Mario


"Dan buat kalian berdua, gue titip Lily ya jangan biarkan dia pergi keluar kelas tanpa dampingan siapa-siapa" pesan Mario kepada Yoga dan Mona.


" Dan kamu sayang, jangan keluar kelas jika tidak ada yang menemani. Ingat saat ini kamu sedang hamil jangan ambil resiko yang bisa membahayakan diri kamu dan anak kita". pesan Mario kepada Lia.


" Iya, Io. Udah sana ke kampus, aku juga sudah mau sampai kelas kok!" ucap Lia


" Yaudah aku langsung ke kampus ya!"


Sampai di dalam kelas Lia mendudukkan di bangku sebelah Zaira.


" Kenapa non diam aja tumben benar?" tanya Lia


" Gak apa-apa cuma lagi gak mood gue!" sahut Zaira ngasal


" Mata pelajaran matematika?" tebak Lia dan Zaira pun mengangguk.


" Ulangan, loe udah belajar?" tanya Lia


" Belum, cuma baca sekilas" sahut Zaira


" Tenang Za kalau loe gak bisa ada gue" sahut Mona yang baru aja nimbrung


" Emangnya loe bisa?" tanya Mita

__ADS_1


" Ya justru itu, Za ada gue yang sama-sama gak bisa" sahut Mona yang langsung membuat semuanya gemas dengan kekonyolan Mona dipagi ini.


"Dasar Mona!" Mita mengait tangannya ke leher Mona dan Mona tertawa-tawa.


Mereka semua tertawa sampai pada akhirnya pintu terbuka dari luar dan masuk ke dalam kelas guru yang sebenarnya sangat ingin Zaira hindari.


" Santai Za, ingat baby Zia aja!" ucap Lia memberi kekuatan untuk Zaira


Pak Aldy bersikap seperti biasa, mengabsen para murid setelah itu memberikan soal ulangan kepada Edo untuk dibagikan kepada teman-temannya.


Zaira enggan menoleh ke arah pak Aldy karena dia sadar pak Aldy sedari tadi terus menatap ke arahnya.


Setelah hampir 30 menit akhirnya semua murid diperintahkan untuk mengumpulkan kembali tugas ulangannya. selesai tidak selesai tetap tugas harus di kumpulkan.


Mona mengerucutkan bibirnya ketika Edo menarik lembar ulangannya.


" Kenapa loe Mon?" tanya Mia


" Susah banget sih gue belum kelar semua" Mona menaruh wajahnya di meja


" Za loe bisa?" tanya Lia


" Untung yang keluar yang soal yang itu jadi lumayanlah" sahut Zaira


" Loe sih enak Za, gak usah pakai belajar udah diluar otak semuanya" tutur Mona


" Biasa aja kali Mon, yang penting rajin-rajin aja baca buku" sahut Zaira


Jam pelajaran selesai dan waktunya jam istirahat.


Tanpa diduga Zaira dibuat terkejut saat pak Aldy ternyata sudah berdiri di samping mejanya.


" Alza, bisa kita bicara?" tanya pak Aldy


Lia dan teman-temannya yang lain mengerutkan keningnya saat pak Aldy mendekati Zaira


" Za gue ke kantin duluan ya!" ucap Indah


" Gue juga Za" Mona ikut menyusul Indah


" Gue ikut!" teriak Mia " Duluan ya!" pamit Mia karena Mita dan Lia bergeming menatap ke arah Zaira.


" Maaf pak saya mau ke kantin udah lapar!" ucap Zaira yang beranjak dari duduknya namun saat Zaira hendak melangkah tangannya dicekal oleh pak Aldy hingga membuat langkah Zaira terhenti.


Zaira menoleh dan dengan kasar langsung menghempaskan tangannya.


" Bapak jangan kurang ajar dong!" sarkas Zaira


" Saya tadikan sudah bilang ingin bicara kenapa kamu malah pergi!" kesal pak Aldy


" Apa tadi bapak gak dengar saya lapar mau ke kantin" sentak Zaira


" Kita bisa makan diluar Al" ucapnya santai


" Maaf pak saya tidak bisa" tolak Zaira dengan tegas


Saat pak Aldy ingin meraih tangan Zaira tiba-tiba tangannya terhempas kasar kebelakang.


Pak Aldy melotot dan terkejut bukan main ketika tangannya terasa sakit dan panas karena sentakan tangan seseorang yang menghalanginya meraih tangan Zaira.


" Kamu?" dengan tatapan tajam guru baru itu menatap kearah Lia


" Bukankah pak guru yang terhormat dengar sendiri apa yang Za katakan barusan, bahkan sudah dua kali dia bilang tidak bisa apa sebagai seorang guru anda tidak bisa membedakan ucapan mau atau ucapan penolakan?" bukan Lia yang bicara tetapi Mita


" Betul apa yang dikatakan Mita, ayok Za!" Lia menggandeng tangan Zaira dan Mita mengekor di belakangnya.


" Beraninya kalian!" geram pak Aldy menatap punggung ketiganya yang hilang dibalik pintu.

__ADS_1


__ADS_2