
Setelah pertemuannya dengan Khanza sekarang Miska sudah mulai bisa berdamai dengan hatinya, setidaknya apa yang Khanza katakan di jadikannya motivasi untuk dirinya menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi kedepannya mengenai hubungannya dengan Roni.
" Besok aku mau masuk ke sekolah" ucap Miska saat berada di dalam kamar pribadi Roni yang kini sudah menjadi kamar mereka berdua.
Setelah makan siang bersama Khanza, Miska memutuskan untuk pulang ke rumah mertuanya entah karena faktor kehamilan tapi yang jelas Miska sangat merindukan kamarnya lebih tepatnya kamar Roni.
" Apa sudah tidak apa-apa?" tanya Roni yang tengah sibuk dengan layar laptopnya
" Aku sudah merasa sehat " jawab Miska
" Terus bagaimana dengan rasa mual kamu yang terkadang muncul kalau sedang berjauhan dengan ku?" goda Roni
" Pede banget" cibir Miska
" Tapi itu kenyataannya" Roni menutup layar laptopnya lalu berjalan menghampiri tempat tidur Miska
Kamar mereka belum ada yang di rubah masih ada dua tempat tidur yang terpisah.
" Apa tidak sebaiknya tempat tidur ini di ganti saja" keluh Roni
" Kenapa memangnya, seperti ini lebih bagus kan?"
" Tidak ada kata bagus jika suami isteri tidur di kasur yang terpisah" jawab Roni
Deg
Miska menelan salivanya kasar, untuk tidur dalam satu kasur rasanya dia belum siap
" Kenapa diam? jangan bilang kamu tidak ingin tidur satu tempat tidur dengan ku" tebak Roni
" A... aku, ya belum siap untuk itu!" jawab Miska sedikit gugup
" Siap tidak siap kini ini sudah sah menjadi sepasang suami isteri, apalagi saat ini kamu sedang mengandung benih ku jadi buat apa menunggu kata siap, jika melakukannya lagi pun bukan sebuah dosa iya kan?" tutur Roni
Jlep
Kata-kata Roni membuat Miska terhenyak rasanya untuk hal yang satu itu Miska benar-benar belum siap.
" Bisa tidak kita membahas yang lain?" protes Miska ingin mengalihkan pembicaraan
" Bahas apa?" tanya Roni
" Ya apa saja tapi tidak masalah yang satu itu" ucap Miska canggung
Roni menghela nafasnya panjang " Kita ini suami isteri untuk membahas hal itu adalah wajar"
" Ron, please jangan bahas itu lagi" Pinta Miska
Jika sudah berkata seperti itu Roni pun mengalah dan memilih untuk masuk ke dalam kamar mandi
" Apa dia marah ? tapi kami kan masih sekolah, apa boleh seperti itu, ah rasanya sungguh malu sekali" batin Miska
Ceklek
Pintu kamar mandi terbuka Roni keluar dengan celana boxer dan kaos oblong. Tanpa banyak kata pria itu pun langsung naik ke atas kasurnya lalu bersandar di headboard sambil memainkan ponselnya.
Miska meliriknya sekilas lalu terlihat mengerucutkan bibirnya, ia kesal karena Roni mendiamkannya.
Roni menoleh dan Miska dengan cepat membuang pandangannya ke sembarang arah.
Roni melirik jam yang bertengger di atas dinding waktu sudah menunjukkan pukul setengah 9 malam" Apa kau menginginkan sesuatu?" tanya Roni karena seperti yang sering dia baca di buku panduan ibu hamil pada malam hari terkadang wanita hamil suka merasa lapar.
Miska dengan cepat melihat ke arahnya " Aku lapar" sahut Miska tepat sekali dugaan Roni
" Mau makan apa?" tanya Roni seraya turun dari tempat tidur
__ADS_1
" Apa kamu sudah tidak marah lagi?" tanya Miska sedikit gugup
" Marah? siapa yang marah?" tanya Roni menaikkan satu alisnya
" Bukannya tadi kamu sedang marah karena aku tidak mau kita tidur _"
" Sudahlah tidak perlu dibahas, jika memang kamu belum siap sepenuhnya menerima aku sebagai suami , itu tidak masalah, kamu sudah menerima aku sebagai ayah dari calon anak kita saja itu sudah jauh lebih dari kata cukup" ucap Roni memotong ucapan Miska
" Aku tidak akan memaksamu" ucap Roni lagi
Miska terdiam kata-kata Roni sungguh
membuatnya merasa bersalah.
"Kamu mau makan apa?" tanya Roni kembali karena Miska belum menjawab pertanyaannya.
" Makan martabak telur boleh?" tanya Miska tidak enak hati
" Tentu saja boleh, biar aku belikan!" ucap Roni seraya mengambil jaket dan kunci motornya
" Ikut!" ucap Miska yang membuat langkah Roni terhenti di ambang pintu
" Ikut?" tanya Roni yang sudah berbalik badan dan Miska dengan cepat langsung mengangguk
" Ini sudah malam, kamu tunggu di rumah aja" ucapnya namun Miska pasang wajah cemberut
Roni membuang napasnya kasar " Ya udah ayok !" seru Roni dan wajah Miska seketika berubah senang.
Roni sudah masuk ke dalam mobil namun Miska masih bergeming di luar dengan wajah lesu, Roni keluar kembali dari dalam mobilnya dan berjalan menghampiri Miska
" Ada apa lagi?" tanya Roni
" Aku enggak mau pakai mobil, pakai motor saja" pintanya
" Ini sudah malam tidak baik untuk kamu jika pergi pakai motor"
" Tidak ada kata tapi, pokoknya pakai mobil" kekeh Roni
" Ya udah enggak usah aja, aku enggak jadi ikut dan batalin aja beli martabak telor nya" Miska ngambek membuat Roni mengusap wajahnya kasar.
" Iya.... iya... kita pakai motor" Roni akhirnya mengalah dan masuk ke dalam rumah kembali beberapa menit kemudian Roni kembali dengan membawa jaket milik Miska.
" Pakai ini dulu!" Roni memakaikan Miska jaket dan perlakuannya itu sungguh membuat jantung Miska berdebar-debar.
" Kenapa lagi hem?" tanya Roni menatap lekat manik mata Miska yang tengah menatapnya juga.
Miska menggelengkan kepalanya pelan lalu menundukkan pandangannya merasa malu ditatap oleh pria yang berstatus calon ayah dari anak yang ada di dalam kandungannya.
Roni memakaikan Miska helm sebelum naik ke atas motornya.
" Pegangan yang kuat aku tidak mau kamu sampai terjatuh!" Roni menarik kedua tangan Miska dan melingkarkan di pinggangnya.
Tubuh Miska menegang saat bersentuhan dengan punggung Roni yang kekar, ada glesir aneh yang menjalar ke seluruh aliran darahnya.
" Apa harus seperti ini?" gumam Miska pelan namun masih bisa di dengar oleh Roni.
" Harus jika mau pakai motor" sahut Roni sontak Miska terkejut dengan sahutan Roni
" Sudah jangan banyak protes kita berangkat sekarang" ucap Roni seraya menghidupkan mesin motornya.
Disepanjang perjalanan mereka sama-sama saling diam ada rasa canggung yang meliputi keduanya. Gelapnya malam yang dihiasi lampu-lampu penerang jalan menjadi saksi sepasang suami isteri ini duduk berdekatan dan saling memberi kehangatan dinginnya angin malam.
Roni menepikan motornya di pinggir jalan saat netranya menemukan apa yang di inginkan oleh sang isteri.
" Mau makan disini atau mau di bawa pulang?" tanya Roni seraya membuka helm yang Miska pakai
__ADS_1
" Di sini aja boleh?"bukan menjawab Miska malah balik bertanya
Roni tersenyum lalu mengacak-acak rambut Miska gemas
" Tentu saja boleh, terserah kamu maunya dimana sayang" ucap Roni lembut dan seketika wajah Miska pun merona.
Roni menggandeng tangan Miska dan mencari tempat duduk , kebetulan antrian pun cukup banyak jadi hanya ada satu bangku yang kosong.
" Duduk sini!" titah Roni dan Miska pun duduk dengan Roni yang berdiri tepat di sampingnya
" Sepertinya disini cukup ramai, kita makan di rumah aja deh!" ucap Miska sendu
" Kalau kamu pinginnya makan disini ya udah disini aja, tuh disana ada tempat duduk nanti kita kesana aja bagaimana?" usul Roni seraya menunjuk ke arah sebuah bangku yang ada di sebuah taman pinggir jalan.
" Boleh , banyak juga yang duduk di sana !" jawab Miska
Setelah mendapatkan apa yang diinginkan mereka pun berjalan menuju bangku yang ada di taman pinggir jalan yang tidak jauh dari penjual martabak
"Duduk di sini aja ya" Roni membersihkan terlebih dahulu tempat yang akan diduduki Miska.
" Terima kasih" ucap Miska tersenyum tipis
Semenjak Miska hamil dan selalu ingin makan dari suapan tangannya, Roni jika bepergian tidak pernah lupa membawa sanitizer di sakunya.
Setelah mencuci tangannya dengan sanitizer
Roni membuka kotak yang berisi martabak telor lalu mengambilnya sepotong dan menyodorkannya di depan mulut Miska
" Ayok Aaaa .., aku tahu anak kita pasti ingin makan di suapi papinya" Roni tersenyum tampan sedangkan Miska tersipu malu
" Sudah enggak usah malu, ayo buka mulutnya!"
Miska yang memang ingin makan martabak telor dari suapan tangan Roni pun langsung menerimanya dengan berbinar, tanpa diminta rupanya calon ayah ini sungguh peka dan pengertian.
" Apa kamu selalu membawa itu setiap hari?" Roni mengangguk
" Kenapa?" tanya Miska
" Buat jaga-jaga kalau tiba-tiba isteriku minta disuapin kayak malam ini" sahut Roni seraya tersenyum
" Ih pede banget, yaudah sini aku enggak minta disuapin kok, kamu sendiri yang memaksa" keluhnya
" Iya... iya... memang aku yang memaksa, karena kalau enggak disuapin yang ada cuma minta doang tapi enggak mau dimakan" Miska cemberut membuat Roni gemas sendiri
" Udah enggak usah di manyun-manyunin gitu bibir nya bikin aku gagal fokus" Miska mengerutkan keningnya sementara Roni terkekeh sendiri
" Bibir kamu kalau di manyunin gitu mancing-mancing minta dimakan ya!" goda Roni
" Ishh apaan sih, enggak jelas jadi orang" ketus Miska dan Roni semakin tertawa dibuatnya.
" Roni..." rengek Miska manja
" Iya maaf, ayo aaa... lagi" Roni kembali mengambil sepotong martabak telor yang tadi dibelinya lalu menyuapi Miska lagi
Miska menggigitnya sebelah dan sisanya langsung Roni masukkan ke dalam mulutnya sendiri
" Roni itukan bekas aku, ih jorok!" protes Miska
" Kok jorok sih, kan bekas kamu sayang isteri aku dimana joroknya coba"
" Tapi itukan_"
" Setelah menikah apalagi sebentar lagi kita akan mempunyai anak jadi aku dan kamu itu sekarang menjadi kita dan kita itu adalah satu, jadi apa salahnya makan bekas gigitan kamu toh nanti juga kita main gigit-gigitan" Roni mengedipkan matanya genit
" Ih dasar mesum!" Miska memukul lengan Roni yang malah tertawa
__ADS_1
Sementara tanpa mereka sadari kebersamaan mereka berada dalam tatapan mata elang seseorang yang sedari tadi memperhatikannya penuh amarah dan kebencian pada keduanya terlebih pada Miska
" Seharusnya gue yang ada di sana bukan dia, lihat aja gue enggak akan membiarkan kalian bahagia di atas luka yang loe buat, dasar Munafik!" batinnya