Guruku Suamiku

Guruku Suamiku
Kecemasan Mario


__ADS_3

Semenjak berita mengenai Yoga yang menghilang dalam insiden mobilnya yang meledak sampai masuk jurang dan dinyatakan telah meninggal dunia membuat Mona hidup dalam penyesalan.


Mona kini lebih banyak berdiam diri bahkan disekolah pun Mona tidak banyak bicara, hampir setiap hari Mona selalu datang ke tempat dimana kecelakaan itu terjadi. Membuat para sahabatnya merasa kasihan melihat perubahan drastis seorang Mona.


Mia yang sempat membenci Mona pun kini merasa iba dengan kondisi Sahabatnya yang satu itu. Penyesalan terdalam Mona sudah menjadi hukuman dan juga pelajaran untuk dirinya sendiri agar kelak tidak lagi menyia-nyiakan dan mengabaikan kehadiran seseorang yang berada di dekatnya.


Kehilangan memang sangat menyakitkan itulah yang kini tengah Mona rasakan. penyesalan demi penyesalan membuat Mona berubah menjadi sosok pendiam. Mona lebih banyak mengurung diri di kamar dan menangis sendirian.


" Gaes gue jadi khawatir dengan kondisi Mona akhir-akhir ini loh!" ucap Lia yang tengah memperhatikan Mona yang tengah duduk sendirian di bawah pohon taman sekolah.


" Iya Li gue juga merasakan hal yang sama, Mona sekarang lebih banyak menyendiri dan jadi pendiam" ucap Mita menimpali


" Apa ini karena salah gue juga ya gaess?" tanya Mia yang merasa sedih melihat perubahan Mona.


" Loe gak boleh menyalahkan diri sendiri gitu Mi!" ujar Lia


" Iya betul tuh Mi kata Lia" Mita menimpali


" Tetap aja gue merasa bersalah dengan perubahan Mona yang terbilang drastis semenjak Yoga di nyatakan meninggal" ucap Mia


" Tapi gue kok merasa kalau sebenarnya Yoga itu masih hidup loe gaes" tutur Lia yang fillingnya mengatakan kalau sebenarnya Yoga masih hidup.


" Mana mungkin sih Li, mobilnya aja sudah meledak dan hancur berkeping-keping kayak gitu ditambah lagi jatuh ke jurang. bagaimana bisa selamat sih Li!" ucap Indah


" Bisa aja sih Ndah, namanya juga takdir kalau belum waktunya ya bisa ajakan Yoga masih selamat" kali ini Mita yang bicara.


" Iya sih Mit, kalau sudah bicara tentang takdir gue angkat tangan deh gak berani komen" indah cengengesan.


" Iya apa yang Mita bilang memang benar tapi apapun yang ada di benak kita cukup kita aja yang tahu takutnya Mona salah paham dan mengharapkan Yoga masih hidup" ucap Lia membuat ke tiga Sahabatnya menganggukkan kepalanya.


" Mit bukannya kata Mario kak Arta itu sedang menyelidiki kasus Yoga ya dan mencari tahu kebenaran tentang keadaan Yoga?" tanya Lia


" Iya, setahu gue juga begitu, tapi sampai sekarang kak Arta masih belum bisa menemukan titik terang tentang kebenaran kejadian tersebut." sahut Mita

__ADS_1


" Terus kalau Mona masih dalam keadaan kayak gitu apa loe masih mau menunda lamaran kak Arta Mit?" tanya Lia yang penasaran dengan kelanjutan hubungan Mita dengan Arta.


Mita memang sudah menerima Arta yang sudah berkali-kali menyatakan perasaan terhadapnya dan juga keseriusannya yang ingin menepati janjinya untuk menikah dengan Mita setelah dewasa. Awalnya Mita masih sedikit ragu karena menurutnya terlalu cepat bila dia menerima Arta yang bahkan baru bertemu kembali setelah sekian lama berpisah tapi karena Arta terus meyakinkannya dan juga dukungan orang-orang sekitarnya akhirnya Mita memutuskan untuk menerima Arta sebagai calon suaminya. Arta tidak mau membuang kesempatan maka setelah pulang dari luar kota tepatnya beberapa hari setelah kejadian yang menimpa Yoga, Arta mengutarakan keseriusannya untuk melamar Mita kepada kedua orangtuanya dan juga kedua orang tua Mita, namun karena kondisi kesehatan Mona yang tiba-tiba sempat drop membuat Mita merasa tidak enak jika dia berbahagia diatas kesedihan sahabatnya Mona. jadi Mita memilih menundanya terlebih dahulu dan untung saja Arta dan keluarganya mau mengerti.


Mita menghembuskan napasnya kasar


" Gue juga belum tahu Li, gue gak tega Li melihat kondisi Mona seperti sekarang ini" sahut Mita yang terdengar berat.


" Tapi Mit kasihan dengan kak Arta!" ucap Mia yang ikut angkat bicara


" Setidaknya menunggu sampai lulus lah!" ucap Mita dengan santai


" Masih satu tahun lagi Mit, kelamaan" ucap Lia yang memang sudah tidak sabar ingin segera menjadi saudara dengan Mita.


" Iya, masih lama Mit, Mario aja baru juga selesai ujian kemarin, nunggu kita lulus dulu itu sih lama!" indah menimpali


" Lah loe sendiri kenapa gak nikah aja sekalian Ndah sama Dion?" Mita malah balik bertanya kepada Indah.


" Kalau gue sih lain, walaupun gue juga pingin punya nasib seperti kalian nikah di masa sekolah yang pastinya seru kali ya" ucap indah sambil terkekeh " tapi keluarga gue dan juga keluarganya Dion kan gak ada yang maksa kita buat buru-buru nikah, gimana dong?" lanjut Indah.


" Tau aja loe Mi" sahut Indah tergelak.


" Udah yuk kita samperin Mona!" ajak Mita


" Yuk" sahut Lia tapi baru saja hendak melangkah ke arah Mona tiba-tiba Mario sudah datang menghampiri Lia.


" Yang!" panggil Mario yang menghampiri Lia setengah berlari


" Ada apa Io?" tanya Lia yang sudah berdiri di hadapan Mario.


" Yang aku pamit langsung pergi ke kantor ya, papa tadi nyuruh aku segera ke kantor kalau disekolah sudah gak ada kegiatan" ucap Mario memberitahu Lia


" Iya, kamu hati-hati bawa motornya ya!" pesan Lia seraya menyalami punggung tangan Mario membuat yang ada disekitarnya dibuat baper.

__ADS_1


" Yang kamu kok kelihatan pucat sih, kamu sakit yang?" tanya Mario yang juga merasakan kening Lia sedikit hangat.


" Gak Io, aku baik-baik aja" ucap Lia yang tidak ingin membuat Mario khawatir walaupun sebenarnya ia merasa sedikit pusing.


" Tapi yang muka kamu pucat loh, bagaimana kalau aku antar kamu pulang aja ya sekarang, gak ada jam pelajaran inikan?" tanya Mario lagi.


" Gak usah yang, kamu pergi aja ke kantor aku gak apa-apa kok" Lia meyakinkan Mario


" Yaudah kalau kamu gak mau pulang kita ke dokter aja bagaimana?" tanya Mario lagi yang tidak berhenti mencemaskan keadaan isterinya.


" Io, aku gak apa-apa, udah sana jalan. nanti kalau ada apa-apa disini juga ada teman-teman aku" ucap Lia mendorong pelan bahu Mario


" Iya..iya aku berangkat sekarang!" ucap Mario tersenyum tampan membuat yang melihat mereka semakin iri.


Baru saja berjalan beberapa langkah suara teriakan teman-teman Lia membuat langkah Mario terhenti seketika dan langsung berbalik badan. Mata Mario membulat sempurna tatkala netranya melihat isteri tercintanya berada di pangkuan Mita dalam keadaan tidak sadarkan diri.


" Lily!" teriak Mario yang langsung berhambur lari ke arah Lia. Mario dengan gerakan cepat mengangkat tubuh Lia dan menggendongnya ala bridal style.


" Bawa ke mobil gue aja, kita ke rumah sakit sekarang!" suara Mona membuat Mario menoleh ke arahnya dan langsung mengangguk setuju


" Ayok!" ucap Mona


Mario kini berada di dalam mobil Mona dengan Mita yang berada di samping Mona di bangku kemudi sementara Lia yang masih belum sadarkan diri berada di pangkuan Mario.


Sementara Mia dan Indah menyusul dengan Dion ke rumah sakit. Azka yang mendapat kabar dari salah satu murid yang memberitahu kalau Lia pingsan dengan cepat ia langsung menyusul setelah meminta izin terlebih dahulu kepada pihak sekolah.


Sampai di rumah sakit Mario masih tetap menggendong Lia masuk ke dalam rumah sakit, salah satu perawat datang menghampiri Mario dan menunjukkan arah membawa Lia ke ruang pemeriksaan.


perawat tersebut menyuruh Mario keluar dari ruang pemeriksaan, awalnya Mario sempat menolak tapi karena Mario memakai seragam sekolah dan Dion sudah menariknya keluar mau tidak mau Mario pun ikut keluar.


Mario nampak gelisah dengan keadaan Lia yang tiba-tiba saja pingsan, berkali-kali Mario merutuki kesalahannya yang tidak langsung membawa Lia ke rumah sakit dan mempercayai ucapan Lia yang terus bilang baik-baik saja.


Ceklekk

__ADS_1


Seorang dokter keluar dengan raut wajah yang sulit di artikan.


__ADS_2