Guruku Suamiku

Guruku Suamiku
Danau


__ADS_3

Saat ini Mario dan Lia tengah berada di pinggir sebuah danau. Lia pasang wajah memberengut pasalnya tadi sewaktu berada di atas motor, Mario mengatakan akan mengantarkan Lia kebengkel mobil untuk mengambil mobilnya tapi bukannya ke bengkel Mario malah membawanya ke sebuah danau.


" Gak usah cemberut gitu, loe pasti bakalan suka tempat ini" ucap Mario berjalan lebih dulu.


Lia tidak menggubris ucapan Mario tapi langkah kakinya terus mengikuti jejaknya.


" Ayok!" Mario mengulurkan tangannya saat jalan sedikit menanjak. Lia diam sambil menatap tangan Mario yang terulur kepadanya.


" Jalannya sedikit licin, pegang tangan gue kalau loe gak mau terjungkal ke bawah!" ucap Mario dengan tangan yang masih terulur.


" Gue bisa sendiri!" Lia menepis tangan Mario dan melangkah naik. namun baru saja berjalan dua langkah Lia terpeleset dan hampir terjungkal jika tangan Mario tidak cepat menangkap tubuh Lia yang hampir menyentuh tanah.


Mata mereka saling bertemu, ada getaran tersendiri saat pandangan mata mereka saling menyatu.


" Ekhemm!" Mario berdehem setelah kesadarannya kembali. " Mau sampai kapan gue peluk?" tanya Mario menaik turunkan alisnya. Dan dengan gerakan cepat Lia langsung menegakkan dirinya, membenarkan berdirinya yang hampir terjungkal.


Lia memukul bahu Mario karena kesal. " Loe lagian ngapain sih pakai acara ngajak ke tempat ini segala. udah tau jalannya licin." Lia akhirnya mau tidak mau berpegangan pada Mario.


" Atau jangan-jangan ini modus loe, iyakan?" Lia menatap Mario curiga.


" Apaan sih loe!" sahut Mario menepis tatapan Lia.


" Di sini itu tempatnya bagus, loe belum tau aja!"


Lia mengerutkan keningnya " Gue gak percaya!" celetuknya


" Yaudah, kalau loe gak percaya. ayok cepat ikut gue!" ajak Mario menarik pergelangan tangan Lia.


Lia awalnya ingin memberontak tapi karena jalannya ternyata benar-benar licin mau tidak mau Lia akhirnya menurut pada Mario.


Setelah hampir 15 menit mereka berjalan akhirnya mereka sampai juga di tempat yang Mario maksudkan. Sebuah taman yang sangat indah dari tempat tersebut bisa melihat pemandangan danau yang cukup luas dari atas ketinggian ditaman tersebut juga banyak berbagai macam bunga dan pohon-pohon yang rindang, udaranya pun terasa sangat sejuk.


Lia terpukau melihat pemandangan yang ada di depan matanya saat ini. senyum pun terukir di sudut bibirnya. " Ini bagus banget!" puji Lia dengan senyum yang mengembang.


" Loe suku?" tanya Mario dan dengan cepat Lia langsung mengangguk.


" Gue baru tahu ada tempat sebagus ini di sini" ucap Lia dengan senyum yang tak lepas dari wajah cantiknya.


" Apa loe sering ke sini?" tanya Lia yang berdiri di pagar pembatas menatap takjub ke arah danau.


" Gue suka ke sini kalau lagi suntuk. disini bikin kita merasa sedikit tenang" ucap Mario yang di angguki oleh Lia.


Jepret


Diam-diam Mario mengambil foto Lia yang berdiri membelakanginya lalu tersenyum.


" Lily" panggil Mario membuat Lia menoleh dengan dahi yang mengkerut.


" loe panggil gue?" tanya Lia menunjuk dirinya sendiri


" Iya, emang siapa lagi yang ada disini?" sahut Mario.


" Tapi nama gue bukan Lily ya kalau loe lupa. " kesal Lia yang namanya di ganti seenaknya saja oleh Mario.


Mario tersenyum lalu berjalan mendekat ke arah Lia. " Meliani alias Lia kalau gue panggil Lily gak masalah dong, apa loe mau gue panggil Nini?" tanya Mario sambil tertawa.


Jlepp


Lia yang melihat Mario tertawa lepas seperti itu seketika terdiam, baru kali ini ia melihat sisi lain dari seorang Mario. dan tanpa sadar Lia pun tersenyum.


" Loe kenapa?" tanya Mario yang melihat Lia tiba-tiba tersenyum sendiri.


" Eh.. kenapa?" tanya Lia balik setelah terkesiap dari lamunannya.


" Ini anak ditanya malah balik nanya" Mario menyentil pelan hidung Lia.


" Ish, kebiasaan deh loe!" kesal Lia memberengut memegang hidungnya.


" Loe lucu" Mario mengacak-acak rambut Lia gemas


" Iyooooo... nyebelin banget sih" Lia memukul lengan Mario dan Mario seketika tertawa lepas.


" Loe melarang gue manggil loe Lily tapi loe sendiri manggil gue Iya Iyo iya Iyo... emang gue yoyo?" protes Mario setelah tawanya terhenti.


" Ya terus gue harus panggil loe apa, Rio gitu kayak pacar loe si Putri gitu?" tanya Lia malas


" Ralat ya bukan pacar tapi mantan." protes Mario.


" Terserah deh siapa loe, gak penting juga kan?"


" Ya pentinglah. loe harus ingat dia itu bukan pacar gue"


" Ya terus?" Lia memincingkan matanya


" Ya gak ada terusnya!" sahut Mario santai.


Setelah beberapa saat hening tidak ada percakapan di antara keduanya tiba-tiba Lia mengajak Mario pulang karena hari sudah nampak gelap.


" Yo, balik yuk! udah sore nih. mendung lagi" ajak Lia menatap ke arah langit yang nampak mulai sedikit gelap.


" Yaudah yuk!" Mario pun berjalan lebih dulu


Saat jalan sedikit licin Lia sedikit ragu-ragu untuk melangkah Mario yang melihat Lia diam saja akhirnya berbalik arah dan menghampiri Lia.


" Kenapa kok berhenti?" tanya Mario menaikan satu alisnya


" Jalannya kayaknya licin ya?" tanya Lia pelan


" Owh loe takut jatuh gitu, mau gue gendong?" goda Mario yang langsung mendapat pelototan dari Lia.

__ADS_1


" Apaan sih, siapa yang takut!" sangkal Lia yang langsung berjalan melewati Mario begitu saja namun baru saja berjalan dua langkah Lia langsung terpeleset dan hampir saja terjatuh jika tidak dengan sigap Mario menarik tangan Lia sampai jatuh ke dalam dekapannya.


Deg


Deg


Deg


Degup jantung keduanya berdegup sangat kencang. jika sampai terdengar mungkin jantung mereka saling bersahut-sahutan.


Cukup lama keduanya terdiam dengan posisi yang tidak berubah sampai akhirnya rintik hujan yang mengenai wajah mereka membuat keduanya tersadar dari lamunannya masing-masing.


" Hujan!" teriak keduanya bersamaan.


mereka pun akhirnya berlari menuju motor dengan tangan yang saling bertautan.


" Hufhh" keduanya mengatur napas saat tiba di motor Mario yang terparkir di dekat pinggir danau.


" Mau langsung pulang atau mau berteduh dulu?" tanya Mario


Lia nampak berpikir sejenak " pulang aja ya, takut hujannya tambah lebat" jawab Lia


Mario pun langsung tancap gas setelah keduanya sudah berada di atas motor.


Hari semakin sore dan hujan pun belum juga reda yang ada malah semakin deras. karena tidak mau Lia basah kuyup akhirnya Mario memilih untuk menepi di sebuah warung bakso yang tidak jauh dari danau.


" kita berteduh aja dulu ya, kalau diterusin nanti loe bisa basah kuyup" ucap Mario saat menepikan motornya.


" Masuk kita makan dulu!" ajak Mario yang tanpa banyak tanya langsung menarik tangan Lia membawanya masuk ke dalam kedai bakso.


" Bakso di sini enak, loe pasti suka!" ucap Mario yang kemudian memesan bakso dan juga minuman untuk dia dan Lia.


Saat mereka tengah makan bakso ternyata hujan semakin deras. wajah Lia nampak bingung memikirkan bagaimana dia pulang sementara hujan semakin deras dan waktu sudah menjelang senja.


" Loe kenapa?" tanya Mario disela makannya.


Lia menoleh ke Mario lalu menggeleng.


" Loe tenang aja mobil loe bentar lagi sampai, tadi gue udah minta tolong sama supir bokap gue buat ngambil mobil loe dibengkel dan sekarang sedang diperjalanan ke sini!" tutur Mario berhenti makan.


Lia langsung menoleh ke arah Mario dan menatap tak percaya. " Hujannya semakin deras gak mungkin kan loe pulang naik motor gue. jadi tunggu mobil loe dulu sampai ya!" ucap Mario yang tahu akan kegelisahan Lia saat ini.


Lia hanya mengangguk dan melanjutkan makannya. " Loe kok beda banget sih, gak kayak Mario yang gue kenal selama ini. kenapa tuh anak jadi sok perhatian gini sih. bikin gue baper aja. tadi kak Rangga sekarang Mario." Lia menghela nafas kasar.


" Loe kenapa?" tanya Mario yang sedari tadi melihat Lia nampak melamun.


" Gue gak apa-apa" sanggah Lia


" Kalau sama kak Rangga gue ngerasa senang berada di dekatnya tapi kalau sama ini anak kadang bikin ngeselin, bikin bete tapi juga nyaman. kok gue jadi ngerasa aneh gini ya. duh jangan sampai deh gue kepedean sendiri. baik sama kak Rangga dan juga Mario. bisa malu gue" batin Lia berkecamuk.


" Loe kenapa lagi dari tadi bengong mulu? mikirin apa? mikirin si Serangga itu iya?" tanya Mario dengan nada tidak suka.


" Iya sama aja!" ketus Mario.


" Loe kenapa sih, tiba-tiba sensi gitu. kesambet loe?" tanya Lia memincingkan wajahnya


" Iya kesambet loe" jawab Mario sewot


" Gak jelas banget" kesal Lia menghentikan makannya.


" Lanjut makannya!" perintah Mario saat Lia meletakkan garpu dan sendoknya dengan kasar.


" Udah gak nafsu!" balas Lia sewot


" Maaf!" ucap Mario pelan


jlepp


Lia mendongak dan menatap lekat wajah Mario " loe ngomong apa barusan?" tanya Lia menyelidik


" Apa?" sanggah Mario


" Yang barusan loe ngomong!" kesal Lia dengan wajah memberengut.


Mario menarik napas dalam-dalam sebelum mengatakan kepada Lia apa yang dia omong barusan.


" Iya gue minta maaf, gue... gue..!" ucap Mario terhenti


Tidd


Tidd


Bunyi klakson mobil Lia yang sudah datang dan berada di depan kedai bakso tersebut.


" Mobil loe kayaknya sudah datang, cepat habiskan makan loe. setelah itu loe langsung pulang ya jangan mampir ke tempat lain!" pesan Mario


Lia memutar bola matanya malas merasa aneh dengan sikap Mario yang sok perhatian dan sok mengkhawatirkan dirinya.


" Kalau loe udah sampai rumah, kabarin gue dan pakai ini!" ucap Mario seraya menarik tangan Lia lalu memakaikannya sebuah gelang.


Lia hendak menolak dan berontak saat Mario memakaikan gelang ke tangannya tapi tenaga Mario sangat kuat jadi mau tidak mau Lia terpaksa menerima gelang tersebut.


" Terserah deh nanti sampai rumah baru gue buka ni gelang" batin Lia


" Jangan dilepas, gue harap loe mau memakainya dan disini ada tombol kecil!" ucap Mario lalu menunjukkan kepada Lia tombol kecil yang ada di gelang tersebut. " Kalau loe lagi ada masalah atau dalam keadaan bahaya loe baru boleh tekan tombol itu. ingat ya jika dalam keadaan mendesak. " pesannya lagi.


Lia terdiam mendengarkan penuturan Mario antara percaya dan tidak percaya.


" Jangan sampai loe lepas oke, gue gak mau loe kenapa-napa lagi!"

__ADS_1


blush


Hati Lia menghangat perlakuan manis dan perhatian Mario membuatnya merasa terharu.


Lia diam saja matanya lekat memandang gelang yang sudah bertengger di pergelangan tangannya.


" In.. ini terlalu berharga, gue gak pantas memakai ini!" ucap Lia seraya hendak melepaskan gelang yang berada di tangannya namun dengan cepat di cegah oleh Mario.


" Loe jauh lebih berharga dari gelang ini !" ucap Mario tegas membuat Lia seketika meremang ucapan Mario telah membuatnya begitu melayang.


" Loe!" lirih Lia.


" Udah cepat pulang sana, nanti bokap sama nyokap loe khawatir lagi!" ucap Mario dan saat hendak beranjak dari duduknya benar apa yang baru saja di ucapkan Mario, mama Maria tengah menghubunginya.


Lia mengambil ponselnya yang berdering di saku bajunya.


📲 Lia


" Assalamu'alaikum, ma!"


📲 Mama Maria


" Wa'alaikum salam, kamu di mana Sayang? kok jam segini belum pulang sih?" tanya mama Maria khawatir.


📲 Lia


" Mel baik-baik saja kok mah, mama gak usah khawatir. Meli tadi mau pulang tapi hujannya deras banget mah, ini juga lagi nunggu hujan reda sambil makan bakso!" ucap Lia terkekeh sendiri.


📲 Mama Maria


" Ya udah jangan malam-malam ya pulangnya!" pesan mama Maria.


📲 Lia


" Iya mama ku cantik, emwahh!" ucap Lia tertawa kecil.


📲 mama Maria


" Dasar kamu ini. yaudah hati-hati di jalan. mama tutup ya telponnya!"


📲mama Maria


" Assalamu'alaikum!"


📲 Lia


" Wa'alaikum salam"


Sambungan telepon pun terputus, Lia tersenyum tipis kepada Mario saat hendak pamit pulang.


" Terima kasih!" ucap Lia pelan.


" Gak usah bilang terima kasih" sahut Mario.


" Kalau loe mau berterima kasih sama gue cukup loe pakai gelang itu dengan baik. jangan sampai loe lepas!" tambahnya dan Lia mengaguk pelan.


Lia lalu berjalan ke arah luar dan langsung melihat mobilnya yang sudah terparkir di sana.


Sopir keluarga Mario langsung menyerahkan kunci mobil kepada Lia, ada rasa senang di hati Lia karena dia ingin segera cepat-cepat pulang.


Setelah mengucapkan terima kasih kepada Lia, supir papanya Mario dengan segera pergi tanpa menemui Mario terlebih dahulu.


Lia lalu masuk ke dalam mobil dan pikirannya saat ini hanya ingin cepat-cepat sampai rumah


Mobil Lia kini sudah melesat meninggalkan kedai bakso. saat di perjalanan tiba-tiba saja Lia baru tersadar jika saat ini ia masih memakai jaket milik Mario.


" Ya ampun gue lupa, jaketnya!" lirih Lia


" Kenapa sampai lupa sih? mau putar balik hujan deras banget dan jaketnya!" Gumam Lia saat hendak mau putar balik.


" Tapi apa dia masih di sana atau sudah pulang?" ucap Lia kesal dengan dirinya sendiri


" Kenapa pakai acara lupa segala sih!" Lia memukul stir mobilnya sendiri.


Ting


satu pesan masuk dengan nama tertera


IO nyebelin


📥 Mario


" Gak usah mikirin gue, Udah santai aja pakai jaketnya. gue gak akan kenapa-napa kok. loe jangan ngerasa gak enak ya!" ucap Mario yang seakan tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Lia.


" Kok dia bisa tahu ya apa yang gue pikirin saat ini ?" ucap Lia


Tring


pesan kembali masuk


📥 Mario


" Gue tahu karena kita sehati!"


" Cih Ge'er banget ni anak!" ucap Lia sambil tertawa.


📤" Terlalu percaya diri sekali ya anda!"


Setelah itu tanpa terasa mobil yang Lia kendarai pun telah sampai di depan rumahnya

__ADS_1


__ADS_2