Guruku Suamiku

Guruku Suamiku
Season 2 Khanza


__ADS_3

Tok


Tok


Tok


" Kak.... kak Khanza!" teriak Izan dari luar


" Mas!" Khanza dan Aldy terkejut bukan main dan keduanya saling menatap satu sama lain


" Ish... merusak kesenangan saja!" kesal Aldy yang langsung beranjak dari tempat tidur dan masuk ke dalam kamar mandi


Khanza bernapas lega dan menatap Aldy yang sudah melesat masuk ke kamar mandi.


" Kak Khanza buka pintunya dong!" teriak Izan dari luar membuat Khanza terkesiap dan menoleh ke arah pintu.


" Astaghfirullah...!" ucap Khanza saat teringat suara adiknya yang sedari tadi mengetuk pintu kamarnya


" Iya sebentar!" Khanza beranjak dari tempat tidur dan berjalan dengan gontai untuk membukakan pintu


Ceklekk


" Ya ampun kak bukain pintu aja lama banget sih!" cerocos Izan dengan tatapan mata mengedar ke dalam kamar Khanza


" Memangnya ada apaan sih dek?" tanya Khanza yang berdiri di ambang pintu


" Kak Aldy mana kak? kakak kesini sama kak Aldy kan?" tanya Izan yang tidak melihat keberadaan Aldy di dalam kamar Khanza


" Ada lagi di kamar mandi, emangnya ada apa cari suami kakak?" Khanza menautkan kedua alisnya


" Mau minta ajarin kak, ada pelajaran yang Izan gak ngerti!" jawabnya


" Pelajaran apa Zan yang kamu gak ngerti?" terdengar suara bariton dari belakang Khanza


" Eh kak Aldy, matematika kak!" jawab Izan seraya menyalami punggung tangan kakak iparnya itu.


" Matematika?"beo Aldy


" Iya kak"


" Yaudah ayok kakak ajarin, mau di ajarin kapan?" tanya Aldy yang kini berdiri di samping Khanza dengan tangan merangkul bahunya


" Sekarang juga boleh kalau kak Aldy tidak keberatan!" sahut Izan


" Yaudah yuk, mau belajar dimana?"


" Di ruang TV aja kak"


" Ya sudah kalau begitu, ambil bukunya!"


" Iya kak" Izan pun dengan semangat pergi ke kamarnya untuk mengambil buku dan peralatan tulis lainnya.


" Mas ngajarin adik kamu dulu ya, nanti kita teruskan lagi yang tadi!" ucap Aldy sebelum pergi menyusul Izan


Cup


Aldy mendaratkan satu kecupan di pipi Khanza seketika wajah Khanza bersemu merah seperti kepiting rebus


Deg


Khanza menghela napasnya berat rasanya begitu gugup jika membahas soal yang satu itu apalagi mendapat serangan dadakan, oh jantung apa kabarmu disana?


Khanza menegang lalu memegang pipinya dan menatap punggung Aldy yang perlahan menjauh setelah itu memilih masuk ke dalam kamar mandi untuk bersih-bersih dan mendingankan tubuhnya yang terasa panas.


Sekitar hampir satu jam lebih Aldy mengajari Izan, sedang Khanza memilih membantu ibunya di dapur


" Eh ada neng Khanza!" Sapa bi Ratna yang baru saja datang ke rumah itu.


" Iya bi, baru datang bi?"


" Iya neng tadi nganterin anak bibi dulu ngaji"


" Ibu kemana neng?" tanya bi Ratna


" Baru aja keluar bi katanya mau ke rumah bang Rahmat" jawab Khanza


" Oh iya neng tadi katanya anak bang Rahmat sakit"


" Sakit apa bi?"


" Bibi juga kurang tahu neng"


...Hening...


" Oiya kalau boleh tahu anak bibi umur berapa tahun bi yang bibi antar mengaji?" tanya khanza mencari topik pembicaraan karena diam aja rasanya kurang nyaman


" 10 tahun neng, anak bungsu bibi!"


" Memangnya anak bibi ada berapa?"


" Alhamdulillah ada 4 neng, dua laki-laki dua perempuan"


" Ramai dong ya bi?"


" Iya neng apalagi kalau sudah kumpul semua rame banget sama cucu-cucu bibi" jawab bi Ratna

__ADS_1


" Sudah ada yang menikah bi?"


" Sudah neng, anak pertama sama anak kedua bahkan bibi sudah punya 5 cucu malah neng mau nambah satu masih di perut" jawab bi Ratna


" Wah rame banget dong ya bi kalau sudah kumpul semua"


" Iya neng"


" Emmmm.. ngomong-ngomong neng Za belum ada tanda-tanda gitu?" tanya bi Ratna hati-hati


" Tanda-tanda apa bi?" Khanza balik bertanya


" Yaitu..?"


" yaitu apa sih bi?" Khanza semakin tidak mengerti arah pembicaraan bi Ratna


" Do'a akan saja bi, semoga disegerakan dan bisa nyusul anak-anak bibi" jawab seseorang yang sudah berdiri di belakang Khanza


" Amin, bibi selalu do'akan yang terbaik buat kalian berdua. Semoga cepat segera diberi momongan!" ucap bi Ratna


" Uhuk... uhuk..." Khanza tersedak salivanya sendiri mendengar ucapan bi Ratna


" Neng Khanza gak apa-apa?" tanya bi Ratna cemas


" Tidak apa-apa bi" sahut Khanza


Aldy yang cekatan langsung mengambilkan air minum untuk Khanza yang kebetulan ada di dekatnya.


" Sayang minum dulu!" Aldy memberikan Khanza segelas air yang langsung di teguknya hingga tandas.


" Terima kasih mas!" ucap Khanza memberikan gelas yang sudah kosong kepada suaminya.


Aldy meletakkan gelas tersebut diatas meja lalu kembali menghampiri Khanza yang sedang duduk membantu bi Ratna membuat bakso.


"Sudah selesai mas ngajarin Izan nya?" tanya khanza


" Sudah, Izan itu anak yang pintar sekali di beri penjelasan langsung cepat mengerti" tutur Aldy


" Benarkah?"


" Hem!" Aldy mengangguk seraya tersenyum tipis


" Oiya sayang maaf mas lupa hari ini mas masih ada kerjaan kantor yang belum mas selesaikan, tadi pagi asisten papa Sam mengirim email dan mas belum sempat mengeceknya dan mas baru ingat setelah selesai ngajarin Izan" ucap Aldy memberi tahu.


" Emmm... lusa saja ya kita menginapnya, bagaimana sayang?" Khanza nampak berpikir sedetik kemudian ia pun mengangguk pasrah.


Aldy tersenyum seraya mengusap lembut kepala Khanza" Maaf ya sayang!"


" Tidak apa-apa mas, yaudah tunggu ibu pulang dulu ya mas"


" Ibu sedang ke rumah bang Rahmat jenguk anaknya yang lagi sakit katanya" sahut Khanza memberitahu


" Sakit apa memangnya?" tanya Aldy turut prihatin


" Kurang tahu juga mas"


" Yaudah kalau begitu kita tunggu ibu pulang, sekarang mas mau ngadem diluar kayaknya enak duduk di bawah pohon mangga yang ada di depan" ucap Aldy


" Iya nak Aldy memang enak ngadem disana apalagi sambil ngopi" ucap bi Ratna


" Wah betul tuh bi" sahut Aldy


" Mas mau kopi?" tanya khanza


" Boleh sayang, mas tunggu di depan ya!" Aldy beranjak pergi keluar rumah lalu duduk santai di bawah pohon mangga yang cukup rindang daunnya.


Tidak lama Khanza datang menghampirinya dengan membawa nampan berisi secangkir kopi dan juga pisang goreng.


" Wah mantap betul nih minum kopi ditemani pisang goreng plus ditemani juga isteri cantiknya mas" ucap Aldy tersenyum senang


" Bisa aja sih suamiku yang genit!" sahut Khanza


" Eh siapa yang genit? puji isteri sendiri itu sih bukan genit"


" lalu apa?"


" Cari pahala" jawab Aldy


" Maksudnya?"


" Puji isteri bikin isteri senang kalau isteri senang pahala buat suami" jawab Aldy seraya terkekeh


" Ih bisa saja mas ini" Khanza geleng-geleng


" Assalamu'alaikum!" ucap wanita paruh baya yang sedari tadi tengah ditunggunya.


" Wa'alaikum salam" jawab keduanya serempak


" Kalian sedang apa disini?" tanya bu Khodijah


" Ngadem bu, disini udaranya lumayan adem" jawab Aldy


" Oh gitu, yaudah dilanjut deh ibu mau masuk dulu!" ucap bu Khodijah lalu masuk ke dalam rumah


" Bu Izan pamit dulu ya!" pamit Izan yang berpapasan dengan bu Khodijah di teras rumah

__ADS_1


" Kamu mau pergi kemana Zan?" tanya Bu Khodijah mengamati penampilan putranya tersebut


"Emm... Izan mau jalan bu sama teman-teman" jawab Izan


" Teman-teman yang mana Zan?" tanya bu Khodijah khawatir


" Teman main bu" jawab Izan takut-takut


" Teman main? maksudnya?" tanya Bu Khodijah semakin khawatir takut putranya itu salah mencari teman.


" Ya teman tongkrongan bu, teman di tim footsal juga" jawab Izan takut-takut


" Ibu izinkan kamu main tapi ingat Zan jangan sampai kamu salah cari teman dan bikin kamu lupa diri lalu salah pergaulan" pesan bu Khodijah


" Iya bu" jawab Izan menunduk


" Jangan salah dalam pergaulan Zan, kamu itu masa depan keluarga dan harus bisa membedakan mana teman yang membawa kamu pada kebaikan dan mana teman kamu yang bisa saja menjerumuskan" tutur bu Khodijah menasehati panjang lebar.


Izan menunduk dan mendengarkan dengan baik ucapan ibunya.


" Iya bu!" jawab Izan


" Yaudah sana, hati-hati dijalan dan ingat pesan ibu tadi!"


" Iya bu" Izan meraih tangan bu Khodijah sebagai salam takzim.


"Mau kemana dek?" tanya Khanza saat Izan lewat didepannya


" Mau main kak!" jawab Izan seraya berpamitan salam takzim dengan kakak dan kakak iparnya


" Hati-hati Zan, ingat pesan ibu tadi tuh!" ucap Khanza yang memang cukup mendengar pesan yang diberikan ibunya kepada puteranya itu.


" Iya kak, assalamu'alaikum!"


" Wa'alaikum salam" jawab Khanza dan Aldy bersamaan


" Sayang, pulang sekarang aja yuk lumayan udah sore juga nih!" ucap Aldy beranjak dari duduknya


" Pisangnya belum dihabiskan mas!"


" Mas sudah kenyang sayang, makan tiga potong"


" Yaudah, Yuk pamit dulu sama ibu"


" Iya sayang"


Khanza masuk ke dalam membawa nampan dan Aldy mengekor di belakangnya.


Khanza masuk ke dapur menaruh cangkir kotor dan piring yang masih ada 3 potong lagi pisang goreng di atas meja.


Khanza mencuci cangkir tersebut baru setelahnya mencari ibunya untuk berpamitan sedangkan Aldy masuk ke dalam kamar mengambil tas Khanza.


" Ini tas kamu!" Khanza mengambil tasnya yang ada di tangan Aldy


" Loh kalian mau kemana?" tanya bu Khodijah saat melihat mereka yang berada di depan pintu kamar Khanza


" Eh ibu, mau pulang bu. maaf bu sepertinya lain hari saja ya Bu kami menginapnya karena saya lupa masih ada pekerjaan yang belum diselesaikan" jawab Aldy dengan perasaan tidak enak


" Oh gitu yaudah enggak apa-apa" jawab bu Khodijah dengan lembut


" Maaf ya bu, padahal Khanza masih kangen sama ibu" ucap Khanza sendu


" Ah kamu ini kayak anak kecil aja , setiap hari juga ketemu sama ibu disekolah" ucap bu Khodijah


" Ya beda dong bu, kalau di sekolah ibu kan sibuk ini itu, gak bisa peluk ibu kayak gini" ucap Khanza seraya memeluk ibunya


" Ihh... malu tuh sama suami kamu, sudah punya suami masih aja manja sama ibu"


" Biarin aja!" Khanza masih memeluk ibunya


" Sudah ih kaya anak kecil aja sih, kalau mau peluk sekarang sudah ada nak Aldy tuh yang bisa kamu peluk-peluk !" ucap bu Khodijah seraya mengurai pelukan putrinya


" Kamu masih mau disini Za, biar mas aja yang pulang kalau kamu masih kangen sama ibu " ucap Aldy


" Memangnya boleh mas?"


"Bo_" ucapan Aldy terpotong


" Tidak boleh, kalau suami kamu pulang kamu juga harus ikut pulang, kasihan nak Aldy kalau kamu menginap, siapa yang menyiapkan keperluannya besok" tutur bu Khodijah


" Tidak apa-apa bu, kalau memang Khanza ingin menginap"


" Tidak nak Aldy tugas isteri itu harus melayani suami, masa suami ditinggal menginap. kalau mau menginap nanti saja nunggu nak Aldy punya waktu senggang"


" Duh mertua ku pengertian sekali, semoga saja Khanza tidak keras kepala dan mau diajak pulang" batin Aldy tersenyum **senang**


" Iya bu Khanza pulang sama mas Aldy" Khanza mengalah


" Tapi janji ya mas lusa kita menginap"


" Iya sayang" jawab Aldy tertawa dalam hati


Khanza dan Aldy kini tengah berada di dalam mobil. tidak ada pembicaraan diantara keduanya mereka bergulat dengan pikiran masing-masing.


Aldy sedang memikirkan bagaimana caranya menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat dan melanjutkan sesuatu yang sempat tertunda. sementara Khanza memikirkan bagaimana caranya menghindari suaminya jika setelah sampai di apartemen tiba-tiba dia kembali meminta hak nya.

__ADS_1


" Huhhhhh!" Khanza menghembuskan napasnya kasar


__ADS_2