
Lia mendengus kesal disebuah cafe yang letaknya tidak jauh dari rumah sakit, pasalnya sudah hampir 30 menit gadis cantik itu menunggu disana mau pulang tapi mobilnya sudah dibawa pulang lebih dulu oleh orang suruhan Mario.
" Ish, menyebalkan sekali sih. awas saja kalau dia datang!" geram Lia mengepalkan tangannya kuat di atas meja.
Lia kembali memesan minuman karena minuman yang tadi di pesannya sudah habis.
" Mbak minumannya seperti yang tadi segelas lagi ya!" pinta Lia
" Baik mbak, tunggu sebentar ya!" ucap pelayan itu sopan dan disaat Lia menunggu kedatangan minumannya karena menunggu Mario hanya membuatnya semakin kesal saja.
" permisi kak, kakak Lia ya?" tanya seorang gadis berseragam SMP yang tiba-tiba sudah berdiri dihadapan Lia
" Iya benar, adik ini siapa ya?" tanya Lia menautkan kedua alisnya merasa bingung dengan gadis SMP yang ada di hadapannya.
" Emmm... ini untuk kakak!" gadis SMP itu menyodorkan setangkai bunga mawar merah kepada Lia membuat Lia semakin bingung.
" Ini kak terima ya!" gadis itu menyerahkan bunga mawarnya kepada Lia setelah itu pergi meninggalkan Lia yang masih mematung sambil menatap bunga mawar yang kini sudah berada di tangannya.
Setelah gadis itu pergi datang lagi gadis kedua memberikan bunga mawar merah yang sama Lia masih berada dalam kebingungan sampai gadis kesembilan Lia akhirnya mencegah gadis tersebut yang hendak pergi.
" Tunggu!" ucap Lia kepada gadis kesembilan yang hendak pergi.
" Sebenarnya kalian ini siapa sih?" tanya Lia
Gadis SMP tersenyum " Tunggu ya kak masih ada satu orang lagi, kakak bisa bertanya sama dia, saya hanya disuruh oleh orang itu!" jawabnya lalu pergi
Lia mendengus kesal tapi ada sedikit rasa bahagia karena diberikan bunga mawar dengan cara yang romantis.
Lia tersenyum memandangi bunga mawar yang kini berada di tangannya namun seketika senyum itu memudar tatkala Lia melihat sosok laki-laki yang berjalan menghampiri dirinya dengan sebuket mawar merah berada di tangannya.
" Di... dia?" cicit Lia yang langsung beranjak dari duduknya dengan mata yang membulat sempurna.
" Elo!" beo Lia saat sosok laki-laki itu sudah berdiri tepat di hadapan Lia dengan tersenyum ramah.
" Bagaimana, apa loe suka bunganya?" tanya laki-laki yang tidak lain adalah Rangga.
" Maksud loe apa kak ngelakuin ini semua?" tanya Lia dengan tatapan tajam
" Gak usah tegang dulu, ini buat loe!" Rangga tersenyum dan menyodorkan sebuket bunga mawar merah yang dibawanya. Lia masih tidak bergeming dia bingung berada di situasi seperti ini.
Rangga menarik tangan Lia yang masih tak bergeming dan meletakkan bunga mawar tersebut ditangan Lia.
Kini buket bunga mawar merah yang Rangga bawa sudah berpindah ke tangan Lia, dengan perasaan yang campur aduk Lia menatap bunga yang kini berada di tangannya.
" Kak, please ya ini gak lucu tau gak!" Lia meletakkan bunga-bunga tersebut di atas meja.
" Duduk dulu Li, ada yang mau gue bicarain sama loe!" pinta Rangga
" Gak ada yang perlu dibicarakan lagi kak!" Lia masih posisi berdiri
" Duduk dong Li please, gue cuma mau minta maaf sama loe!" ucap Rangga.
" Gue udah maafin loe kak dan sebaiknya sekarang loe pergi dan bawa kembali bunga-bunganya!" Lia menyodorkan bunga-bunga tersebut ke arah Rangga.
Rangga tersenyum tapi kali terlihat hambar.
" Apa segitunya loe benci sama gue Li sampai gak mau menerima bunga-bunga ini?" tanya Rangga sendu.
Lia memutar bola matanya malas lalu menarik kembali bunga-bunga itu. " kak, please ya sebaiknya loe pergi sekarang, gue udah maafin loe. gue gak mau terjadi kesalahpahaman lagi kak!" ucap Lia
" Gak akan ada yang salah paham lagi Li, Putri udah gak ada disini" Sahut Rangga " gue tau gue salah, seandainya saja dulu gue gak dibutakan cinta kepada Putri mungkin gue bisa melihat perasaan loe yang tulus terhadap gue, karena kebodohan gue akhirnya gue melepaskan pertama yang sebenarnya" ucap Rangga penuh penyesalan.
__ADS_1
" Gue sadar gue salah, gue minta maaf Lia, apa masih ada kesempatan kedua untuk gue Li?" tanya Rangga penuh harap.
Lia berdiri mematung apa-apaan ini menunggu Mario selama ini yang datang malah Rangga dan parahnya lagi berani-beraninya dia mengungkapkan perasaannya yang dulu pernah ia tolak mentah-mentah.
Lia lalu duduk dan menatap iba kepada laki-laki yang kini berada di hadapannya, laki-laki yang dulu mengisi hatinya, laki-laki yang membuat Lia bersemangat datang kesekolah tapi laki-laki ini pula yang pernah menyakiti hatinya.
Dari balik dinding tanpa Lia ketahui ada seseorang yang terus mengamati keduanya. sesak itulah yang dirasakannya saat ini, kobaran api cemburu pun sudah semakin memanas. tangannya mengepal kuat ke dinding.
" Kak gue pinta loe gak perlu bersikap kayak gini. gue udah maafin loe dan gue juga gak marah sama loe. tapi please ya kak jangan bersikap seperti ini lagi karena gue gak mau ada yang salah paham dengan sikap loe yang kayak gini ke gue!" pinta Lia memohon.
" Salah paham?" tanya Rangga menaikkan satu alisnya
" Iya, gue gak mau aja dengan sikap loe yang sok care sama gue malah membuat masalah baru lagi buat gue. ada hati yang harus gue jaga kak dan gue gak mau dia salah paham kembali jika melihat kita berdua seperti ini. jadi gue minta kakak sebaiknya pergi dari sini dan sorry ya kak gue gak bisa menerima bunga pemberian loe ini!" ucap Lia yang kembali menggeser bunga yang berada di atas meja
" Gue udah maafin loe kok cuma untuk yang ini gue gak bisa menerimanya!" ucap Lia lagi.
Rangga tersenyum getir. " Jangan menolak bunga-bunga ini Li, ada ketulusan dan cinta yang teramat besar dalam setiap kelopak bunga-bunga tersebut untuk loe. meskipun loe gak bisa menerima perasaan gue tapi jangan loe tolak bunga-bunga ini yang memiliki arti ketulusan buat loe!" ucap Rangga
" Gue_"
" Terima Li!"
Dengan malas Lia menerima kembali bunga-bunga tersebut dan saat Lia menatap bunga-bunga yang sebenarnya dalam hati kecilnya ia sangat senang di beri bunga mawar sebanyak dan seindah ini, namun sayangnya berharap Mario yang memberikannya tapi malah laki-laki dari masa lalunya.
Karena keindahan dan keharuman bunga tersebut tanpa sadar Lia mencium bunga-bunga tersebut dan terukir dengan jelas senyum diwajah cantiknya sampai tidak ia sadari seseorang yang sejak tadi ditunggunya sudah berdiri di hadapannya.
" Ekhemm!" Mario berdehem membuat Lia terlonjat kaget langsung berdiri dan matanya membulat sempurna.
" I... Io..!" ucap Lia gugup takut Mario salah paham dengan apa yang dilihatnya.
Mario menatap ke arah Rangga dan Rangga langsung berdiri. sementara Lia jantungnya seakan mau melompat melihat Mario berada di situasi yang membuat Lia semakin dibuat pusing.
" Kamu?" tanya Mario menatap tajam kearah Lia dan bergantian ke arah Rangga.
" Io ini... ini gak seperti apa yang kamu lihat!" ucap Lia menatap penuh harap agar Mario tidak kembali salah paham terhadapnya.
" Apa bunga-bunga itu cantik?" tanya Mario dengan wajah datar
Lia spontan mengangguk dan sedetik kemudian menggeleng rasanya Mario ingin sekali tertawa melihat tingkah Lia yang menggemaskan itu.
" Apa kamu suka dengan bunga-bunganya?" tanya Mario lagi dan dengan jawaban yang sama Lia kembali mengangguk dan sedetik kemudian menggeleng.
" Suka atau tidak? mengangguk lalu menggeleng" tegas Mario membuat Lia tersentak dan langsung diam dengan wajah yang ditundukkan tiba-tiba Lia tersadar buat apa dia merasa bersalah toh Mario sendiri kan yang salah sudah hampir dua jam datang terlambat dan berani-beraninya bersikap seolah-oleh Lia yang salah.
Lia mengangkat wajahnya dan menatap lekat wajah Mario yang nampak bingung dengan tatapan mata Lia.
" Kamu kenapa menatap ku seperti itu?" tanya Mario
Lia tidak menjawab masih menatap Mario dengan tatapan penuh makna.
" Apa kedatangan aku mengganggu kalian, apa kamu merasa terganggu dengan kehadiranku di sini? " tanya Mario yang berusaha mengontrol perasaannya.
Lagi-lagi Lia tidak menjawab dan kali ini Lia malah melipat kedua tangannya di dada dengan tatapan mata yang tidak beralih dari Mario.
" Baiklah kalau aku memang mengganggu kalian!" ucap Mario yang hendak pergi.
" Aku tidak suka dipermainkan jika kamu masih memiliki rasa terhadapnya silahkan dilanjutkan aku mundur!" ucap Mario sebelum pergi.
Mendengar ucapan Mario emosi Lia terpancing dan Lia menarik tangan Mario lalu mencengkeram kuat kerah baju Mario dengan tatapan mata yang mematikan.
" Bisa kamu ulang kembali ucapanmu itu?" tanya Lia penuh dengan penekanan. Rangga yang melihat Lia mencengkram kuat kerah baju Mario bergidik ngeri.
__ADS_1
Mario menyunggingkan senyumnya dan membalas menatap tajam Lia dan keduanya kini saling menatap tajam membuat Rangga mengerutkan keningnya.
" Jangan pernah loe samakan gue dengan mantan-mantan loe terdahulu. gue bukan barang yang bisa seenaknya loe lempar begitu aja." ucap Lia kembali menggunakan bahasa loe gue dan mendorong kuat Mario hingga mundur kebelakang.
Mario tersenyum tipis lalu menghampiri Lia dan mendekatkan wajahnya ke wajah Lia membuat Lia semakin tidak bisa mengontrol rasa gugupnya setiap kali Mario mendekatkan wajahnya.
" Aku juga tidak suka milikku didekati oleh orang lain dan aku pasti akan menghancurkan siapapun yang berani merebut milikku!" ucap Mario dingin
" Aku juga paling tidak suka wanitaku dekat-dekat dengan laki-laki lain!" Mario mencengkram dagu Lia tapi tidak kencang hanya membuat Lia mendongak menatap matanya.
" Ak... aku!" tiba-tiba Lia merasa gugup
" Mata itu sangat tajam tapi kenapa terasa nyaman?" batin Lia
" Kamu hanya milikku dan hanya milikku My Lily!" ucap Mario dengan tegas lalu melepaskan tangannya yang berada di dagu Lia. Jantung Lia kembali berdegup sangat kencang dan tanpa ba-bi-bu Lia langsung berhambur kedalam pelukan Mario membuat Rangga tercengang begitu juga dengan Mario yang tidak menduga dengan reaksi Lia yang langsung memeluknya.
" Jangan bercanda seperti ini lagi, aku tidak suka. aku tahu kamu tidak akan mudah mempercayai sesuatu yang hanya dilihat sekilas tanpa penjelasan terlebih dahulu. aku tahu kamu itu bukan tipe orang yang pencemburu buta seperti aku " ucap Lia setelah melerai pelukannya.
" Percaya diri banget kamu. aku percaya dengan apa yang aku lihat dengan mataku saat ini. kamu bersama dengan Rangga laki-laki yang dulu kamu sukai bukan. mungkin saja saat ini kamu juga masih say_!"
" Cukup, baiklah kalau kamu memang memiliki pemikiran seperti itu, terserah percayalah dengan apa yang kamu lihat dan lupakan apa kata hatimu!" Lia mundur beberapa langkah setelah itu meraih tasnya yang tadi di letakkan di atas kursi lalu melangkah pergi.
Rangga menatap sinis ke arah Mario yang sudah berani membuat Lia marah padahal dulu dia lebih dari itu. gak sadar ya Rangga. merasa ada peluang Rangga hendak beranjak pergi mengejar Lia namun suara Mario menghentikan langkahnya.
" Jangan coba-coba mengejarnya apalagi berpikir untuk mendekatinya!" ancam Mario membuat Rangga mendelik sebal.
" Aku tidak mau ada laki-laki lain di hatinya meskipun aku yakin itu sudah lama terhapus!" ucap Mario lagi lalu melangkah pergi.
Lia yang merasa kesal dengan apa yang dilakukan Mario hanya bisa mengumpat dan berdecak kesal di pinggir jalan menunggu taksi yang lewat.
" Dia sangat keterlaluan, bisa-bisanya bicara seperti itu. gue harus percaya sama dia tapi dia apa malah seenaknya menuduh gue kayak gitu?" umpat Lia sambil menendang kakinya ke udara.
taksi sudah beberapa kali lewat tapi Lia lagi-lagi melewatinya begitu saja. Lia lalu berjalan menyusuri trotoar sambil sesekali kakinya menendang ke udara sampai pada akhirnya karena terlalu kesal dengan Mario ia menendang kakinya ke udara dengan kencang hingga badannya oleng dan Lia terjatuh ke aspal.
" Auw..!" Lia mengusap kakinya yang sedikit terasa sakit, lalu karena tidak bisa menahan rasa sakitnya lagi Lia memeluk lututnya dan menangis sejadi-jadinya.
Tubuh Lia bergetar hebat tangisnya pecah di balik lututnya yang basah karena terkena air matanya sendiri.
" Sudah belum nangisnya?" tanya seseorang yang sudah berjongkok di samping Lia tidak sedikit para pengguna jalan yang melihat ke arah mereka.
" Jangan nangis lagi malu tuh diliatin banyak orang, masa udah gede nangis di pinggir jalan!" godanya lagi.
Lia berusaha menghentikan tangisnya dan memperjelas pendengarannya.
" Ayok pulang!" ajaknya dan Lia yang sudah berhenti menangis langsung mendongakkan wajahnya lalu menoleh kesumber suara.
" Sudah jangan nangis lagi, aku minta maaf!" ucapnya sambil tersenyum
Lia beranjak lalu berdiri menatap tajam laki-laki yang seolah tanpa berdosa tersenyum kepadanya.
" Ka.. kamu keterlaluan. pergi sana!" usir Lia
" Tidak mau!" tolaknya
" Kataku pergi ya pergi!" bentak Lia
" Kataku tidak ya tidak!" ucap laki-laki yang tidak lain adalah Mario
" Kamu_!" geram Lia yang hendak beranjak pergi namun dengan cepat Mario malah mengangkat tubuh Mario keatas pundaknya seperti membawa karung beras
" Lepaskan aku, cepat lepas!" teriak Lia tapi tidak dipedulikan oleh Mario.
__ADS_1
" Jika kamu tidak mau menurunkan aku sekarang juga maka aku akan berteriak sekeras-kerasnya kalau kau mau menculikku!" ancam Lia.
" Berteriaklah sekencang yang kamu bisa setelah itu orang-orang akan datang dan percaya dengan kata-katamu lalu mereka akan menolong mu. dan menyuruh mu pergi tapi tidak dengan ku mereka akan menghakimiku lalu membunuhku dan saat itulah hari terakhir aku bisa melihat mu!" ucap Mario membuat Lia terdiam dan tidak lagi memberontak, sementara Mario tersenyum penuh kemenangan.