
Bunda Aryani menghela napasnya berat sebelum menjawab pertanyaan dari dokter Ariel.
" Sayang, maafkan bunda dan ayah nak!" ucap bunda Aryani lirih.
" Maaf untuk apa bund?" tanya dokter Ariel dengan deru napas yang sudah menentu
" Mama tau kamu sangat menyayangi adik kamu Alzaira, oleh karena itu mama berharap sampai kapanpun hubungan ini tetap terjalin dengan baik sayang. Kamu dan Za sama-sama putra dan putri ayah dan bunda. kalian anak-anak kami yang sangat kami sayangi" ucap bunda Aryani lalu menitikkan air matanya.
" Ariel, bunda minta maaf kalau bunda tidak menceritakan semua ini sama kamu sejak awal, bunda hanya ingin Za sendirilah yang mengatakannya sendiri sama kamu" bunda Aryani terisak.
Jantung dokter Ariel semakin berpacu dengan cepat mencerna semua yang telah diucapkan oleh bunda Aryani.
" Bunda, aku mohon bunda ini semua tidak benarkan bund? semua bohong kan bund?"elak dokter Ariel dengan fakta yang ada.
" Sayang, kamu tahukan Za itu sangat menyayangi kamu. sejak kecil dia selalu bersikap manja sama kamu kakaknya dan setelah kepergian kamu Za selalu bersedih merasa begitu sangat kehilangan." ucap bunda Aryani menceritakan masa lalu.
" Waktu itu kami saling mencintai bund tapi ayah tidak merestui hubungan kami bund, karena aku hanyalah anak yatim-piatu yang tidak punya apa-apa sehingga ayah menolak ku mentah-mentah" ucap dokter Ariel mengingatkan
" Maka dari itu aku pergi untuk membuktikan kalau aku pasti bisa berhasil dan setelah berhasil aku berniat untuk melamar Al bund. Aku ingin ayah tau kalau aku pantas menjadi pendamping hidup Al bund" mata dokter Ariel sudah memerah air matanya pun tanpa sadar sudah menetes.
"Bukan itu yang Ayah kamu maksudkan sayang, sebenarnya sejak kecil sebelum ayahmu membawamu pulang ke rumah, ayahmu sudah menjodohkan Zaira kecil dengan anak dari teman baik ayahmu. Ayah mu tidak mempermasalahkan tentang siapa dirimu tapi apalah daya ia sudah terlanjur berjanji lagi pula cinta yang ada diantara kalian itu bukanlah cinta yang sebenarnya nak, Za hanya terbiasa bersamamu apalagi saat itu ayah dan kamu begitu membatasi pergaulannya hingga dia hanya merasa nyaman hanya sama kamu.
Ketika kamu memutuskan untuk pergi dari rumah, ayahmu sangat mengkhawatirkan keadaan kamu nak hampir setiap hari dia mencarimu tapi hasilnya nihil kamu menghilang bak ditelan bumi.
dan sampai pada akhirnya ayahmu mengalami kecelakaan dan disitulah Za harus rela melepas masa remajanya menjadi istri orang, yang telah disandangnya beberapa bulan ini" terang. bunda Aryani menceritakan awal mulanya pernikahan dini Zaira.
" Tidak bund, ini tidak benar Al hanya mencintai aku bund begitu juga aku bund sangat mencintai Al."
" Pernikahan ini hanyalah sebuah perjodohan, Al pasti tidak mencintai suaminya itu dia pasti menderita bund. aku harus bisa melepaskan Al dari pernikahan yang konyol itu bund" ucap dokter Ariel yang sudah di butakan oleh cintanya sendiri.
" Kamu salah nak, adikmu sudah hidup bahagia bersama suaminya saat ini. bunda harap kamu bisa melupakan cintamu itu. karena itu semua sudah tidak mungkin lagi nak" pinta bunda Aryani dengan derai air mata yang sudah mengalir
" Tidak bund, Al tidak bahagia Al hanya akan bahagia bila hidup bersama dengan ku bund!" teriak dokter Ariel tidak terima dengan kenyataan yang sebenarnya.
" Kamu jangan konyol nak, dia adikmu dia sudah bahagia bersama suaminya Azka. jangan kamu ganggu hubungan mereka nak. apalagi Za sedang hamil. bunda mohon jangan usik ketentraman rumah tangga mereka dengan ke egoisan cintamu itu" ucap bunda Aryani yang sesenggukan memohon kepada putra angkatnya itu.
" Ha..hamil, jadi benar kalau Al tengah hamil? bagaimana bisa bund, Al masih sekolah apa pria itu sengaja menghamili Al, agar Al mau tidak mau menerima perjodohan ini, iya bund?"
Plakk
Satu tamparan mendarat tepat di pipi dokter Ariel.
" Apa maksud ucapan mu itu kak, apa serendah itu kamu menilai ku ? apa aku sehina itu dimata seorang dokter Ariel ?" Zaira yang baru saja tiba dari rumah sakit langsung terkejut dengan ucapan yang dilontarkan oleh sang kakak, meskipun dokter Ariel hanyalah kakak angkatnya tapi sejak kecil dia sudah begitu menyayanginya walaupun perasaannya dulu adalah sebuah kesalahan bukannya cinta namun sebuah rasa karena sudah terbiasa bersama.
Flashback on
" Mas, aku mau pulang aja ya gak betah ih disini !" pinta Zaira merajuk pada pak suami
" Tidak sayang kamu perlu perawatan untuk memastikan keadaan kamu dan juga calon bayi kita baik-baik saja sayang" tolak Azka
" Mas, aku ini sudah gak kenapa-napa cuma tangan ini saja yang terkilir tapi sudah baikkan kok mas" ucap Zaira meyakinkan Azka
" Tidak, sekali tidak ya tidak." Zaira memberengut kesal dengan Azka yang menolak keinginannya.
" Mas jahat!" Zaira membuang muka dengan wajah cemberut.
Azka menghela napasnya berat mencoba mengalah dengan bumil yang moodnya bisa berubah-ubah.
__ADS_1
" Baiklah-baiklah, kita pulang sekarang. mas akan bicarakan dulu dengan dokter Dinda. sudah jangan cemberut lagi!" ucap Azka mengalah demi sang isteri tercinta.
" Terima kasih ya mas!" Zaira nampak berbinar karena Azka mengizinkannya untuk pulang.
" Tapi kita pulangnya ke rumah bunda aja ya, gak apa-apakan?" Azka beranjak dari duduknya dan pindah ke sisi ranjang.
" Kenapa ke rumah bunda?" Zaira mengerutkan dahinya.
" Besok mas ada jam mengajar pagi, jika di rumah kita kamu pasti hanya sendiri ya paling sama mbok Iyem. kalau di rumah bunda setidaknya mas ninggalin Kamu nya sedikit tenang karena ada bunda yang jagain kamu nanti. " Azka tersenyum tipis lalu mengusap pipi Zaira lembut.
" Ya sudah aku setuju!" ucap Zaira dengan senang hati.
Setelah mengurus tentang kepulangan Zaira dan dokter Dinda pun mengatakan tidak apa-apa jika Zaira ingin beristirahat di rumah, Azka setidaknya merasa sedikit lega untuk membawa Zaira pulang.
mobil yang Azka dan Zaira tumpangi kini sudah berada di depan rumah bunda Aryani.
Zaira mengerutkan dahi saat melihat mobil yang tidak asing baginya terparkir di sana.
" Ada apa sayang?" tanya Azka setelah mendekat dan merangkul pinggang Zaira
Zaira tersenyum dan menggeleng pelan, Azka melirik sekilas mobil yang terparkir dia berpikir mungkin itu mobil milik teman bunda Aryani yang sedang berkunjung.
Zaira dan Azka melangkah masuk ke dalam rumah saling bergandengan tangan, raut wajah bahagia terpancar di antara keduanya sampai pada akhirnya senyum yang mengembang perlahan memudar.
Mata Zaira membulat sempurna tatkala netranya menangkap sosok yang sudah sangat tidak asing baginya, Zaira mengepalkan tangannya kuat tatkala mendengar kalimat yang terucap dari orang yang dulu pernah mengisi hari-harinya siapa lagi jika bukan dokter Ariel sang kakak angkat yang masih menyimpan rasa terhadapnya.
" Ha..hamil, jadi benar kalau Al tengah hamil? bagaimana bisa bund, Al masih sekolah apa pria itu sengaja menghamili Al, agar Al mau tidak mau menerima perjodohan ini, iya bund?"
Plakk
Satu tamparan mendarat tepat di pipi dokter Ariel.
" Kak, kami menikah memang karena perjodohan. Tapi kami sudah sama-sama menerima dengan baik ikatan pernikahan kami ini. saat ini kami sudah saling mencintai kak. mengenai kehamilanku, karena memang kami sudah menginginkan kehadiran seorang anak ditengah-tengah kami kak, aku bahagia kak dengan pernikahan ku ini. aku sangat mencintai mas Azka kak suamiku." Zaira menoleh ke arah Azka.
" Aku mohon kak maafkan aku . cinta yang kita miliki dulu itu hanyalah sebuah keterbiasaan semata kak, bukan cinta yang sesungguhnya ." ucap Zaira
" Setiap hari kita selalu bersama-sama, bahkan kakak tidak pernah mengizinkan aku berteman dengan siapa pun, membuat aku selalu bergantung dengan kakak. ini bukan cinta namanya kak" Zaira sudah sesenggukan dan Azka berusaha menenangkannya dengan mengusap lembut punggung Zaira.
" karena setelah bertemu dengan mas Azka, aku baru tahu apa itu cinta yang sesungguhnya kak." Zaira menghapus air matanya kasar menatap lekat wajah dokter Ariel yang tegang menahan amarahnya.
" Jangan bohong kamu Al, kakak tahu kamu tidak bahagia dengan pernikahan mu itu Al, iyakan? jangan membohongi kakak Al. apa karena laki-laki itu sudah mengancam mu ?" tegas dokter Ariel yang tidak terima dengan kenyataan yang didengarnya.
" Kau!" geram Azka yang sudah ingin melayangkan bogeman mentahnya ke wajah dokter yang tidak tahu diri itu. melihat raut wajah Azka yang mulai tersulut emosi Zaira dengan cepat menggenggam erat tangan Azka dan tersenyum tipis ke arah Azka.
Azka tahu akan kecemasan Zaira saat ini dan demi Zaira Azka berusaha untuk bersikap tenang dan menahan emosinya.
" Aku tidak terima semua ini, kenapa kamu jahat Al sama kakak, kenapa kamu tidak bisa menunggu kakak Al?" sentak dokter Ariel membuat Zaira terdiam
" Kak!" lirih Zaira yang berusaha menahan tangisnya.
" Aku masih sama seperti yang dulu Al, aku masih sangat mencintaimu Al, adikku tersayang!" dokter Ariel berjalan perlahan ingin menghampiri Zaira namun gerakannya terbaca oleh Azka yang langsung berdiri didepan Zaira.
Langkah dokter Ariel terhenti tatapan matanya tajam, seakan ingin menelan Azka hidup-hidup.
" Kak maafkan aku!" lirih Zaira menggeleng-gelengkan kepalanya perasaan bersalah kini memenuhi dadanya rasanya begitu sesak.
" Ak..aku tahu aku salah kak, aku sudah tidak jujur dari awal sama kakak. tapi aku mohon kak maafkan aku. ini semua aku lakukan karena aku belum siap kak dan takut kakak membenciku!" tutur Zaira di tengah Isak tangisnya dan sedetik kemudian tubuh Zaira lemas terhuyung ke belakang untung saja Azka dengan gerakan cepat langsung menangkap tubuh Zaira.
__ADS_1
"Sayang!" teriak Azka panik
Dokter Ariel yang melihat Zaira pingsan langsung ingin menghampirinya namun gerakannya terhenti saat Azka sudah lebih dulu melarangnya.
" Za!" lirih bunda memanggil Zaira
" Bund Azka bawa Za ke atas dulu !" ucap Azka disaat sudah membopong tubuh Zaira dalam pelukannya.
" Biar aku periksa Al!" pinta dokter Ariel
" Tidak, aku tidak akan mengizinkan kamu menyentuh isteriku" geram Azka
" Tapi dia butuh pemeriksaan sekarang, kau jangan bodoh dengan melarangku " tegas dokter Ariel tidak mau kalah
" Biar aku yang memeriksanya!" ucap seseorang yang berdiri tidak jauh dari mereka.
" Nak Dinda!"
" Dokter!"
" Dokter Dinda!"
ucap Mereka bersamaan ketika menoleh ke sumber suara.
" Ayok pak, bawa Zaira ke kamarnya biar saya periksa keadaannya!" ucap dokter Dinda
Dokter Ariel mendengus kesal, bagaimana bisa dokter Dinda tiba-tiba datang begitu saja, dokter Ariel mengacak-acak rambutnya kasar sementara bunda Aryani diam membisu merasa sangat bersalah kepada kedua anaknya. walaupun dokter Ariel bukanlah anak kandungnya tapi bunda Aryani sudah menganggapnya seperti anak sendiri, bahkan dia tidak pernah membeda-bedakan kasih sayangnya.
Dokter Ariel yang merasa sudah tidak nyaman lagi berada di rumah tersebut tanpa pamit kepada bunda Aryani, dokter Ariel pergi begitu saja.
Sementara di dalam kamar Zaira dokter Dinda tengah memeriksa kondisi Zaira saat ini, Zaira pingsan karena merasa begitu tertekan. dokter Dinda merasa menyesalkan tindakannya yang sudah memberi izin kepada Zaira untuk pulang.
" Pak ini bisa sangat membahayakan kesehatan ibu dan anak jika sampai terjadi seperti ini lagi!" ujar dokter Dinda
" Zaira sering mengalami guncangan batin jika ini terus menerus terjadi padanya maka kesehatannya akan sangat terancam pak, Zaira butuh istirahat bukan hanya tubuhnya tapi juga pikirannya."
" Jangan biarkan Zaira merasa terguncang atau pun stress pak, buat dia bahagia dan rileks pak agar kondisinya semakin membaik dan sehat" terang dokter Dinda berpesan.
" Terima kasih banyak dokter, dan kondisinya saat ini bagaimana dokter?" tanya Azka cemas.
" Untuk saat ini Zaira hanya butuh istirahat dan saat dia mulai siuman tolong hibur dia jangan biarkan dia mengingat hal-hal yang membuatnya kepikiran" pesan dokter Dinda.
" Baik dokter, terima kasih banyak. untung sekali dokter datang" ucap Azka
" Maaf dok, sebenarnya ada apa ya dokter kesini dan bagaimana dokter tahu kami ada disini?" tanya Azka penasaran.
Dokter Dinda tersenyum sebelum menjawab pertanyaan Azka. " Saya kesini karena tadi sudah ada janji dengan bunda Aryani dan saat saya datang saya seperti mendengar suara Zaira. maaf kalau tadi saya begitu lancang langsung masuk. " tutur dokter Dinda menjelaskan.
" Dokter mengenal bunda?" tanya Azka
" Iya, dan sekarang sebaiknya saya permisi dulu ingin bertemu bunda Aryani, tolong jaga Zaira dengan baik ya. saya sudah menganggap Zaira seperti adik saya sendiri dan tidak menyangka kalau ternyata Zaira adalah putri dari bunda Aryani" senyum dokter Dinda terus mengembang.
" Saya permisi dulu ya jika ada apa-apa jangan segan-segan mencari ku!" ucap dokter Dinda sebelum keluar dari kamar Zaira.
Setelah dokter Dinda keluar tinggallah Azka dan Zaira dikamar tersebut. Zaira masih memejamkan matanya dan Azka dengan setia duduk di sampingnya. tangannya menggenggam erat tangan Zaira senyuman getir tercipta disana.
" Sayang, bangun dong! apa kamu tidak lelah memejamkan mata terus seperti ini, hem? apa kamu tidak ingin melihat suamimu yang tampan ini?" ucap Azka mengajak Zaira yang masih terpejam.
__ADS_1
" Aku janji aku tidak akan marah, aku malah bangga sama kamu yang sudah lantang mengungkapkan perasaan kamu terhadapku sayang!"
" Aku sangat mencintaimu sayang!" ucap Azka lalu mencium lembut punggung tangan Zaira.