Guruku Suamiku

Guruku Suamiku
Season 2 Khanza


__ADS_3

Ceklekk


Aldy masuk ke dalam kamar Khanza setelah selesai dengan tugas mengajarnya Aldy sengaja menyusul isteri kecilnya itu.


Mata Aldy menyipit saat melihat Khanza yang duduk termenung menatap ke arah jendela.


" Assalamu'alaikum!" ucap Aldy membuyarkan lamunan Khanza yang langsung menoleh ke sumber suara


" Wa'alaikum salam, baru pulang mas? Tanya Khanza beranjak dari duduknya dan berjalan menghampiri Aldy yang melangkah semakin mendekat ke arahnya.


" Ada apa hem?" tanya Aldy setelah Khanza mencium punggung tangannya sebagai salam takzim


Khanza tersenyum tipis lalu menggeleng pelan " Tidak ada apa-apa kok mas" sahut Khanza yang kini tengah duduk di tepi tempat tidur


Selepas Miska pulang Khanza memang langsung masuk ke dalam kamarnya, dia merasa kasihan dengan apa yang tengah menimpa sahabatnya itu.


Miska sudah menceritakan semua kepada Khanza perihal perjodohan yang dilakukan oleh kedua orangtuanya. Khanza tidak tahu harus berbuat apa sebagai sahabat dia hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk Miska. Dan Miska sendiri pun tidak tahu harus menerima atau menolak keinginan papanya itu tapi menolak rasanya akan sia-sia.


" Tidak apa-apa tapi wajah kamu muram seperti itu" Aldy mengusap lembut wajah Khanza lalu memberingsut turun dan berjongkok di depan Khanza mengusap lembut perut yang sudah terlihat membuncit dan mendaratkan kecupan di sana.


" Jaga bunda dengan baik ya sayang, temani bunda dan hibur bunda yang sedari tadi nampak muram" Aldy kembali mengecup perut Khanza berkali-kali.


" Mas ih geli!" tawa Khanza yang merasa kegelian


"Nah gitu dong bunda ketawa kan tambah cantik dan bikin gemes" Aldy berdiri dan mencubit hidung Khanza


" Mas ih!" Khanza mengerucutkan bibirnya dan Aldy dengan cepat mengambil kesempatan untuk mengecupnya.


" Ih ngeselin!" Khanza memberengut


" Ngesilin apa ngangenin?" Aldy duduk di samping Khanza dengan gelak tawa yang masih mengembang diwajahnya.


" Tau ah" Khanza membuang pandangannya pura-pura merajuk


" Duh bunda marah ni ceritanya, iya deh iya ayah minta maaf ya bunda!" Aldy melingkarkan tangannya di perut Khanza dan meletakkan dagu di bahunya


" Jangan marah dong sayang" Aldy mencium gemas pipi Khanza dari samping membuat wajah Khanza bersemu merah.


Entah kenapa setiap kali mendapatkan perlakuan lembut dari Aldy Khanza masih saja terlihat malu dan merona


" Mas!" panggil Khanza


" Hemmm" jawab Aldy dengan posisi yang tidak berubah memeluk Khanza


" Aku kasihan dengan Miska" curhat Khanza


" Ada apa memang dengannya?" tanya Aldy yang masih setia bergelayut manja dengan sang isteri.


" Miska hari ini nampak tidak seperti biasa mas, dia adalah sahabat aku yang biasanya selalu ceria dan bersemangat tapi hari ini aku seperti bukan melihat Miska sahabat ku yang kukenal"


" Aku pikir dia hanya sedang kurang sehat tapi biasanya walau dalam keadaan sakit pun dia masih terlihat ceria.tapi tidak dengan hari ini" lanjutnya lagi seraya menundukkan kepalanya


Aldy menangkap kesedihan pada isteri kecilnya itu


" Miska di jodohkan oleh papanya mas" ucap Khanza membuat Aldy melepaskan pelukannya dan meraih kedua pundak Khanza menggesernya agar menghadap ke arahnya


"Di jodohkan?" tanya Aldy dengan suara selembut mungkin agar Khanza tidak tambah terbebani


Khanza mengangguk pelan " Miska masih ingin kuliah dan mengejar cita-citanya mas kuliah keluar negeri" cerita Khanza dengan wajah yang masih tertunduk


" Jika dia harus menerima perjodohan ini bukankah cita-citanya akan pupus. aku melihat kesedihan dan kekecewaan yang sangat besar pada Miska. dia pasti tertekan dan juga sedih mas" Khanza tidak kuasa lagi menahan kesedihannya


Aldy menarik Khanza ke dalam pelukannya dan mengusap punggungnya dengan lembut


" Kamu yang tenang sayang, jangan seperti ini kasihan dedeknya." Aldy mengelus perut Khanza " Mas tahu kamu sedih tapi ingat kondisi kamu sayang, kalau kamu sedih dedek juga ikut sedih" lanjut Aldy

__ADS_1


" Maafkan aku mas" Khanza merasa bersalah


" Tidak apa-apa sayang, mas mengerti perasaan kamu" Aldy mengurai pelukannya


" Mas tahu kamu sangat mengkhawatirkan sahabat kamu itu tapi kamu juga harus ingat kondisi kehamilan kamu, kata dokter kamu kan tidak boleh banyak pikiran bisa berpengaruh terhadap perkembangan si dedek" Aldy tersenyum dan merasa gemas dengan isterinya


" Kamu berdoa saja semoga Miska bisa menghadapi semua ini dengan baik dan semua berjalan sesuai dengan keinginannya" Khanza mengangguk


" Iya mas karena hanya itu yang bisa aku lakukan sekarang" ucap Khanza seraya mendongak lalu tersenyum


" Begitu dong, bunda enggak boleh sedih lagi ya!" Khanza tersenyum dan mengangguk


" Terima kasih ya mas"


" Terima kasih untuk apa?"


" Karena mas sudah membuat aku merasa sedikit lega sekarang"


"Syukurlah kalau begitu, lain kali kalau ada apa-apa cerita sama mas jangan dipendam sendiri!" Khanza lagi-lagi mengangguk


" Iya mas"


Tok... Tok.... Tok...


" Kak khanza, kak Aldy dipanggil ibu untuk makan malam!" teriak Izan dari luar


" Izan mas!" ucap Khanza menoleh ke arah pintu


" Iya Zan sebentar lagi kakak keluar!" teriak Aldy menyahut


" Ayo mas ibu pasti sudah lama menunggu kita!' Khanza sudah beranjak dari duduknya


" Iya, ibu kelamaan nunggu putrinya yang cengeng" sahut Aldy yang kini sudah berdiri dan menyematkan jari-jarinya ke jari Khanza


" Mas!" Khanza memberengut dan Aldy malah tergelak


" Kenapa?" tanya Khanza polos


" Ya karena mas tidak tahan untuk memakan kamu jika pasang wajah seperti tadi" Khanza langsung melotot


" Mas ih mesum" Khanza memukul lengan Aldy dengan tangan kirinya karena tangan kanannya masih setia digenggam oleh Aldy.


Aldy tertawa seraya menarik tangan Khanza melangkah keluar dari kamar.


Sesampainya di meja makan sudah ada ibu, bi Ratna, Izan dan seorang gadis yang tengah duduk di samping bi Ratna dan usianya lebih tua 2 tahun dari Khanza.


Khanza dan Aldy mengerutkan keningnya lalu saling melempar pandangan.


Ibu yang tahu akan kebingungan sepasang suami isteri itu pun langsung menyuruh mereka duduk dulu sebelum memperkenalkan gadis yang berada di samping bi Ratna


Aldy menggeser kursi untuk Khanza setelah itu menggeser kursi untuk dirinya sendiri.


Setelah Khanza dan Aldy duduk bu Khodijah langsung memperkenalkan Sofy gadis yang kini duduk tepat berhadapan dengan Khanza.


" Khanza... nak Aldy, kenalkan ini Sofy keponakannya bi Ratna, dia baru saja tiba sore tadi dari kota x" ucap bu Khodijah kepada Khanza dan Aldy


" Sofy ini Khanza putri ibu" ucap Bu Khodijah kepada Sofy


Khanza tersenyum lalu mengulurkan tangannya begitu juga dengan Sofy yang menyambut uluran tangan Khanza


" Khanza"


" Sofy"


Ucap keduanya saling menyebutkan nama masing-masing

__ADS_1


Saat Sofy mengulurkan tangannya kepada Aldy dengan tersenyum Aldy mengatupkan kedua tangannya di depan dada.


" Aldy" ucap Aldy sopan lalu menoleh ke arah Khanza dengan mengulas senyum.


" Saya dengar mas Aldy ini seorang guru ya?" tanya Sofy mengakrabkan diri


Aldy tersenyum ramah " Iya" jawabnya singkat


Khanza yang melihat Aldy tersenyum kepada Sofy tiba-tiba merasa panas dan tidak suka apalagi disaat Sofy yang dengan beraninya hendak menyendokkan nasi untuk Aldy.


" Sofy duduklah, kamu tidak perlu melakukan hal itu karena itu adalah tugas Khanza!" ucap bi Ratna mengintruksi


Sofy pasang wajah kecewa lalu kembali duduk sementara Khanza yang baru hendak berdiri di cekal tangannya oleh Aldy agar tetap duduk di tempatnya.


" Kali ini biar mas saja yang melakukannya" ucap Aldy yang langsung beranjak dari duduknya lalu mengambil piring kosong milik Khanza mengisinya dengan nasi dan lauk pauknya


" Cukup mas itu terlalu banyak!" keluh Khanza saat melihat piring yang dipegang Aldy nampak penuh.


" Kalau begitu kita makan sama-sama saja ya biar mas yang suapin" ucap Aldy santai tapi tidak dengan Khanza wajahnya sudah semerah tomat karena malu ada ibu, Izan, bi Ratna dan juga Sofy.


" Tidak mas aku makan sendiri saja malulah mas ini kan di rumah ibu" protes Khanza sedikit berbisik tapi masih terdengar oleh bu Khodijah


" Tidak apa-apa sayang, itu hal yang wajar kok sewaktu ayahmu masih ada dia juga sering melakukannya" ucap bu Khodijah membuat sepasang suami istri itu langsung menoleh ke arah bu Khodijah dengan wajah canggung.


" Tuh dengar kata ibu tidak apa-apa, cepat buka mulutnya aaaaaaa......!" Aldy menyodorkan sesendok nasi beserta lauknya di hadapan mulut Khanza dan dengan malu-malu Khanza akhirnya membuka mulutnya dan menerima suapan demi suapan dari Aldy yang sesekali diselingi masuk ke dalam mulutnya sendiri.


Sofy yang melihat adegan mesra Khanza dan Aldy hanya bisa tersenyum kecut, sesekali ia melirik lalu mengumpat dalam hati.


Khanza yang tanpa sengaja menoleh ke arah Sofy merasa tidak suka melihat cara Sofy yang diam-diam tengah memperhatikan Aldy.


" Ekhemm!" Khanza berdehem membuat Sofy menoleh ke arahnya dan menunduk malu karena tertangkap basah sedang mencuri pandang kepada Aldy.


Aldy yang menangkap aura kecemburuan pada diri sang isteri langsung menyudahi makan malamnya dan pamit untuk kembali ke kamar Khanza.


" Sayang aku sudah kenyang kamu masih mau lanjut atau_" belum selesai Aldy berucap Khanza sudah lebih dulu memotong.


" Aku juga sudah kenyang mas, aku mau kembali ke kamar aja !" Khanza beranjak dari duduknya dan pamit kepada bu Khodijah


" Kak boleh aku minta diajarin kak Aldy?" tanya Izan kepada Khanza.


" Wah boleh dong aku gabung belajar bersama kalian?" tanya Sofy merasa ada peluang emas


Aldy menoleh ke arah Khanza yang sudah pasang wajah tidak nyaman dengan keberadaan Sofy yang nampak begitu agresif.


Aldy tersenyum tipis seraya merangkul bahu Khanza dari samping " Maaf ya Izan lain kali saja ya untuk hari ini kakak masih banyak pekerjaan yang harus kakak selesaikan, tidak apa-apa kan?" sahut Aldy lembut membuat Izan tersenyum lalu mengangguk mengerti.


" Iya kak tidak apa-apa, lagi pula kak Khanza juga terlihat pucat hari ini pasti butuh kak Aldy di sampingnya" ucap Izan yang juga menangkap raut tidak suka Khanza pada diri Sofy


" Kamu sakit Za?" tanya bi Khodijah cemas


" Tidak bu, Za mungkin hanya kecapean aja setelah istirahat sebentar juga pasti baikkan" sahut Khanza


" Akhir-akhir ini Khanza memang sering merasa kecapean bu " ucap Aldy


" Ya sudah kalau begitu kalian tinggal di sini saja, biar ibu tidak merasa khawatir" pinta ibu


Namun Khanza dengan cepat menggelengkan kepalanya, kalau dulu mungkin Khanza akan mengangguk cepat tapi untuk kali ini ia lebih baik memilih menghindar dari pada sakit hati.


" Kenapa?" tanya bu Khodijah sedikit heran karena biasanya Khanza yang selalu merengek pada Aldy untung menginap


" Enggak Kenapa-napa kok bu, Za sudah nyaman tinggal di sana bu, selain jarak kesekolah lebih dekat Za juga tidak ingin merepotkan ibu, setidaknya Za bisa belajar hidup mandiri, begitu juga dengan mas Aldy kalau disana dia bisa leluasa mengerjakan tugas disekolah tempatnya mengajar dan juga pekerjaan kantornya bu yang terkadang sering dadakan" jawab Khanza lalu menoleh ke arah Aldy


" Terima kasih sayang rupanya kamu begitu perhatian" ucap Aldy seraya tersenyum bahagia


"Ya sudah kalau itu yang menjadi alasan kalian" ucap bu Khodijah pasrah

__ADS_1


Sementara Sofy yang mendengar Jawaban Khanza menatap kesal padanya dan mengepalkan tangannya saat melihat Khanza dan Aldy yang sudah pergi masuk ke dalam kamarnya.


__ADS_2