Guruku Suamiku

Guruku Suamiku
Ungkapan


__ADS_3

Zaira dan Azka saat ini sedang berada di sebuah kedai makanan nasi pecel. setelah selesai menghabiskan dua potong pecel ayam dan dua potong tahu serta tempe, Zaira yang masih penasaran segera mencecar Azka yang masih asik makan pecel lele pesanannya dengan pertanyaan yang sama sewaktu di dalam mobil.


" Mas, buruan ih makannya, kapan ceritanya kalau kayak gini?" ucap Zaira dengan mood kesal.


" Sabar napa yang, ini aku makan ikan lele loh yang!" ucap Azka menunjukkan ikan lele yang dipegangnya.


" Iya aku juga tahu kalau itu mah, lagi pula siapa yang bilang mas lagi makan ikan hiu" sungut Zaira yang sudah tidak sabar.


" sebentar ya sayang, ini juga sedikit lagi habis!" Azka menyuap satu suapan nasi dengan ikan lele yang kemudian di cocol kesambal.


" Selesai!" Azka memperlihatkan piring kosongnya ke Zaira.


" Ish, Alhamdulillah mas!" protes Zaira dan Azka langsung cengar-cengir.


" Iya, maaf yang!" sahut Azka yang merasa malu dengan isterinya sendiri. " Alhamdulillah!" ucapnya lagi.


Setelah selesai Azka dan Zaira tidak langsung pulang, mereka memilih duduk dulu sebentar di sebuah taman yang tidak jauh dari kedai nasi pecel.


" Mas, cepat ih ceritanya!" pinta Zaira yang sudah tidak sabar sedari tadi.


" Iya cerewet!" Azka gemas sendiri dengan isteri kecilnya itu.


" Malaikat penolong yang mereka ceritakan tadi itu sebenarnya kamu sudah tahulah siapa orangnya dan dia juga yang merawat Meli dan menemani Meli di rumah sakit disaat mas gak bisa jagain dia karena kamu yang hampir pingsan di rumah.


" Maksudnya mas kalau aku sudah tahu siapa malaikat penolong Lia itu berarti benar Mario orangnya?" tanya Zaira yang masih sedikit ragu-ragu dan tidak percaya.


Azka mengangguk Pelan sambil tersenyum.


" Jadi benar Mario?" tanya Zaira lagi yang masih tidak percaya.


" Iya sayang, bahkan mereka itu_!" Azka sengaja menggantung kata-katanya.


" Apa mas!" cecar Zaira antusias.


" Mereka itu saling suka dan sama-sama sudah mengungkapkan perasaan masing-masing"


" Benarkah?" Zaira nampak terkejut dan membekap mulutnya dengan kedua tangannya dan Azka mengangguk meyakinkan.


" Apa mereka sudah jadian ya mas?" tanya Zaira yang semakin penasaran dibuatnya.


" Sepertinya sih sudah yang!" sahut Azka.


" Tapi kok mas Azka bisa tahu hal ini?" tanya Zaira penasaran.


" Ya tahulah mas gitu loh!"


" Sombongnya!" cibir Zaira membuat Azka langsung tertawa.


" Meli itu adik mas satu-satunya, mas merasa bersalah karena sudah gagal menjaganya, meskipun dia bersama Mario yang pasti akan menjaganya mas juga tetap menyuruh beberapa orang untuk menjaga Meli di rumah sakit" ucap Azka


Zaira hanya menganggukkan kepalanya


" pantas mas tau" cibir Zaira dan lagi-lagi Azka tertawa.


" Sudah yuk mas pulang, udah larut malam!" Zaira beranjak dari duduknya.


" Siap nyonya Azka!"


" Lebay!" Zaira mencubit pinggang Azka.


Sementara di sebuah mobil yang terdapat satu pria dan dua gadis SMA tidak ada yang berbicara satu sama lain. Mona yang sudah tertidur dan Mita yang lebih memilih melempar pandangannya keluar jendela mobil.


Dokter Ariel sesekali melirik Mita di kaca spion, dan tanpa diduga pandangan mereka pun bertemu, Mita yang merasa canggung langsung memutus pandangannya kesembarang akan.


Awalnya Mita memang menolak saat dokter Ariel menawarkan untuk mengantarnya pulang namun karena taksi yang tidak kunjung lewat dan Mona yang terus saja nyerocos minta Mita untuk menerima saja tawaran dari dokter Ariel mau tidak mau Mita akhirnya mengiyakan ajakan dokter Ariel dengan Mona yang duduk di depan bersama dokter Ariel sementara Mita duduk di bangku belakang.


Sekitar 20 menit mobil dokter Ariel akhirnya sampai di depan rumah Mona, Mita turun lebih dulu lalu membangunkan Mona.


" Mon bangun, sudah sampai rumah lie nih!" Mita mengguncang bahu Mona berkali-kali tapi mungkin karena terlalu capek membuat Mona sulit untuk dibangunkan.


" Mona, bangun Woyyy, elo tidur udah kayak kebo aja ih. Mona!" panggil Mita dengan sedikit mengeraskan volume suaranya.


Mona mengerjapkan matanya dan tersadar kalau posisinya saat ini masih berada di dalam mobil pak dokter tampan. karena saat terbangun orang yang pertama kali Mona lihat adalah justru dokter Ariel tanpa menyadari kalau yang berada di samping kirinya sudah berdiri Mita yang sedang mendekap tangannya di dada.


" Ehh... dokter, maaf saya ketiduran!" sahut Mona sambil membenarkan baju dan rambutnya yang sedikit acak-acakan.


" Tidak apa-apa!" sahut ramah dokter Ariel sambil tersenyum.

__ADS_1


" Duh ini dokter senyumnya manis banget sih, jadi naksirkan gue" gumam Mona dalam hati sambil senyum-senyum sendiri.


" Woy, mau sampai kapan loe disitu terus, emang loe gak mau turun apa? " ucap Mita menepuk bahu Mona sampai terlonjat kaget.


" Mita, ih ngagetin aja sih loe!" dengus Mona


" Yeee elo nya aja bukannya turun malah ngelamun" sahut Mita


" Siapa yang ngelamun?" elak Mona


" noh kucing berdaster yang lagi ngelamun" ucap Mita malas


" Elo itu sih kucingnya" ucap Mona mengejek


" Enak aja loe" ucap Mita tak terima


" Sudah-sudah ini sudah malam, Mona sudah sampai depan rumah kamu tuh!" ucap dokter Ariel menengahi jika tidak mungkin bisa sampai pagi .


" Oh iya dokter, terima kasih ya atas tumpangannya. maaf sudah merepotkan!" ucap Mona sambil tersenyum centil Mita yang melihat tingkah Mona memutar bola matanya malas.


Setelah Mona turun dan sudah masuk ke dalam rumahnya. tinggallah kini Mita dan dokter Ariel yang berada di dalam mobil.


Mita melempar pandangannya ke arah kaca jendela, dokter Ariel sesekali melirik ke arahnya. tidak ada pembicaraan diantara mereka baik Mita maupun dokter Ariel sama-sama terdiam dengan pikirannya masing-masing.


Dan tanpa terasa ternyata mobil dokter Ariel kini sudah sampai di depan rumah Mita.


" Terima kasih dokter sudah mengantarkan saya dan Mona pulang, maaf karena sudah merepotkan dokter!" ucap Mita sebelum membuka pintu mobil ia sempat menoleh dan tersenyum kepada dokter Ariel yang hanya menanggapi ucapan Mita dengan senyuman.


Mita hendak membuka pintu mobil namun sebelum pintu terbuka dokter Ariel menarik tangannya.


" Tunggu!" ucap dokter Ariel membuat Mita menoleh ke arahnya dan mengerutkan keningnya.


" Bisa kita bicara sebentar?" tanya dokter Ariel penuh harap


" Bicara? tidak ada yang perlu kita bicarakan dokter" ucap Mita entah kenapa terlihat tatapan matanya begitu tajam.


Dokter Ariel menghela napas panjang


" sebentar saja, ada yang ingin katakan" ucap dokter Ariel penuh harap.


" Tentang apa? jika hanya ingin membicarakan tentang anda yang masih nyaman dengan perasaan anda, saya rasa saya memilih untuk tidak ingin berkomentar lagi" ucap Mita yang berubah ketus.


Mita terdiam dan menatap dokter Ariel sekilas


" Saya tidak melakukan apa-apa, untuk apa berterima kasih" ucap Mita


" Kamu sudah melakukan banyak hal untuk ku jika bukan karenamu mungkin aku tidak akan seperti sekarang" tutur dokter Ariel sambil tersenyum.


" Beberapa hari ini aku selalu menyempatkan diri untuk datang ke taman, berharap kamu akan datang. tapi berkali-kali aku menunggu kamu tetap tidak pernah lagi datang" ucap dokter Ariel sendu


" Kenapa?" tanya dokter Ariel menatap lekat wajah Mita.


" Tidak kenapa-napa, saya percaya anda pasti bisa melewati semuanya dengan baik"


" Tidak, jika tanpa kamu!" ucap dokter Ariel membuat Mita diam Seketika.


" Aku butuh kamu Mita Paramita!" dokter Ariel meraih tangan Mita dan menggenggamnya.


" Aku tahu mungkin aku sedikit egois jika meminta kamu untuk berada di sisiku"


Deg


Mita membulatkan matanya mendengar penuturan dokter Ariel tersebut.


" Berkali-kali aku menepis semua perasaan yang aku miliki, tapi beberapa hari tidak melihat mu membuat aku merasa seperti ada yang hilang dari jiwaku, perasaan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya, ada rasa rindu ingin bertemu ada rasa gelisah yang selalu menghantui jiwa dan ada rasa cemas ketika tidak dapat kabar tentang mu" Dokter Ariel menghela nafasnya menjeda ucapannya.


" Aku tidak pernah merasakan perasaan seperti ini sebelumnya, bahkan dengan Alzaira pun aku tidak merasa seperti ini, sungguh perasaan yang aneh. jika kamu tanya kenapa, aku sendiri juga tidak tahu apa jawabannya, yang aku tahu, kamu Mita Paramita sudah berhasil memporak porandakan hatiku dan membuat jantungku sedari tadi berdetak tidak karuan ." ucap dokter Ariel dengan senyum tampannya.


" Cih, sejak kapan seorang dokter Ariel menjadi lebay dan tukang ngegombal seperti ini?" tanya Mita memincingkan alisnya.


Dokter Ariel mendengus kesal, sudah susah payah memberanikan diri dan berusaha untuk mengutarakan apa yang dia rasakan saat ini malah dibilang lebay dan ngegombal.


Melihat wajah dokter Ariel yang sedikit di tekuk membuat Mita tersenyum tipis dan dokter Ariel berhasil melihat senyuman itu senyuman gadis yang akhir-akhir ini sudah mampu merubah pola pikirnya.


" Nah teruslah tersenyum seperti itu, senyum kamu itu sungguh manis" goda dokter Ariel yang mampu membuat Mita wajahnya langsung merah merona.


" Apaan sih!" ketus Mita dengan mengulum senyumnya.

__ADS_1


" Sudah ya jangan ketus lagi, kalau kamu ketus gitu aku semakin gemes tau jadi kepingin_" dokter Ariel memotong ucapannya


" Kepingin apa?" tanya Mita penasaran.


" Kepingin halalin kamu!" bisik dokter Ariel dengan senyum jahilnya.


Jlepp


Mita diam mematung mendengar jawaban dari dokter Ariel.


" Mit... Mita..!" panggil dokter Ariel melambaikan tangan di depan wajah Mita.


Mita terkesiap dari keterkejutannya lalu tanpa kata langsung hendak beranjak keluar dari mobil dokter Ariel.


" Jangan pergi dulu, aku ingin tahu jawaban kamu, bolehkan?" tanya dokter Ariel menahan kembali tangan Mita.


" Jawaban apa?" tanya Mita


" Apa Mita Paramita mau menjadi pendampingku, melewati hari-hari bersama-sama sampai kita menua.?" tanya dokter Ariel yang sudah membawa jemari tangan Mita ke hadapannya lalu mengecupnya lembut.


Mita terkejut dengan apa yang telah dilakukan dokter Ariel terhadapnya. " Dok.. dokter.. ja.. jangan ber.. bercanda!" Mita langsung menarik paksa tangannya.


" Bercanda? siapa yang bercanda Mita Paramita, aku itu serius. apa ada tampang wajahku terlihat bercanda?" tutur dokter Ariel yang protes karena dibilang bercanda.


" Sudahlah dokter ini sudah malam, mungkin anda kecapean jadi bicara anda sudah ngelantur" ucap Mita lagi-lagi membuat Dokter Ariel geram sendiri.


" Mita aku itu serius, aku mau kamu itu menjadi wanitaku. aku tidak akan memaksamu menjawab hari ini tapi yang perlu kamu harus tahu adalah aku ini serius dengan ucapan aku tadi. aku ingin kamu menjadi isteri aku, dan aku akan setia menunggu kamu sampai kamu lulus ujian, bagaimana?" tanya dokter Ariel


" Saya rasa saya tidak bisa dokter, maaf" sahut Mita membuat wajah dokter Ariel seketika berubah pias.


Dokter Ariel menggeser duduknya menjadi lurus kedepan. menghirup udara banyak-banyak berharap semua akan baik-baik saja. Rasanya memang menyakitkan jika harus merasakan di tolak dua kali oleh seorang gadis SMA, tapi mau bagaimana lagi jika memang takdir berkata lain.


" Saya turun dulu ya dok, terima kasih atas tumpangannya. Anda hati-hati ya dijalan jika sudah sampai jangan lupa untuk memberi kabar" ucap Mita tidak lupa sambil tersenyum ramah.


" Saya tunggu!" setelah itu Mita langsung bergegas keluar dari dalam mobil dan berlari masuk ke dalam rumahnya.


Dokter Ariel yang kini gantian di buat diam mematung oleh Mita. kata-kata Mita begitu ambigu tapi karena tidak mau ambil pusing dokter Ariel pun menyalakan mesin mobilnya dan langsung tancap gas ingin buru-buru cepat sampai di rumah. dokter Ariel merasa tidak sabar ingin segera menghubungi Mita dan mencoba untuk mengungkapkan perasaannya kembali.


Sementara dokter Ariel tengah terburu-buru mengemudikan mobilnya yang ingin segera cepat-cepat sampai di rumahnya, di rumah sakit Lia dibuat tercengang karena bukan kedua orangtuanya yang dilihatnya saat membuka mata tapi malah Mario yang tengah tersenyu manis kepadanya.


" Loh Io kok kamu yang disini, mama sama papa aku mana?" tanya Lia seraya menggeser posisinya menjadi bersandar di kepala tempat tidur.


" Iya, kenapa gak suka kalau aku yang berada di sini?" tanya Mario yang berpura-pura merajuk.


" Bukan gitu Io, aku senang pake banget malah. ya aku cuma kaget aja, karena tadi yang berada di sini itukan mana sama papa" sahut Lia


" Masaaa?" goda Mario


" Serius loh sayang, tapi kemana ya mereka pergi?" kesal Lia yang tidak melihat keberadaan Mama dan papanya.


" Mereka sudah pulang yang!" ucap Mario mengusap kepala Lia lembut.


" Pulang?" tanya Lia memastikan


" Iya, mereka tadi aku suruh pulang. mereka pasti sangat capek sayang, mereka itukan baru pulang dari luar negeri , jadi aku menyuruhnya untuk beristirahat terlebih dahulu dan anaknya yang satu ini biar kekasihnya yang tampan ini yang akan menemaninya." ucap Mario dengan bangga.


" Narsis!" sahut Mita.


" Biarin narsis juga cuma sama kamu doang ini, pacar aku?" ucap Mario gemas dan mencubit hidung Lia.


" Ish, sakit tau mas!" kesal Lia memberengut


" Masa sih, sini biar gak sakit" Mario mengulurkan tangannya hendak mengusap hidung mancung Lia dan sedetik kemudian


" Cup" Mario mengecup hidungnya Lia singkat.


" Mario!" kesal Lia yang sudah memberengut.


" Sudah dong yang jangan cemberut lagi!" ucap Mario yang sejak bersama Lia berubah menjadi lebay.


" Kamu tuh ya, senang banget godain aku sih. bagaimana kalau aku jadi baper?" Lia memukul lengan Mario kesal.


" Kalau kamu baper, ya tinggal aku belikan makanan aja biar kenyang" sahut Mario sambil tersenyum penuh arti


"itu sih lapar !" protes Lia membuat Mario tertawa.


" Lapar ya, sudah ganti toh namanya?" ucap Mario tanpa merasa bersalah.

__ADS_1


" Ish, kamu ini ya!" kesal Lia tapi tidak dengan Mario yang malah tertawa penuh kemenangan.


__ADS_2