Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Cengkeraman yang menghantamku


__ADS_3

Aku terus berjalan mengarungi ruas jalan yang terbentang di sore hari. Wajah pucat melewati musim demi musim.


"Liyan!" Sapa Widia. Menepuk pundakku. "Cepat sekali jalanmu, kakiku sampai mau terkeseleo


mengejarmu!" Keluh Widia. Berjalan. "Belum lagi dengan Septiani." Lanjut Widia. Menghela napas.


"Septiani kenapa ?" Tanyaku dengan penuh keheranan. Berjalan.


Mendengar pertanyaanku Widia hanya menelan ludah dengan melempar wajah kesal. Sesekali aku yang berada di sampingnya melirik dengan rasa yang tidak enak hati seakan aku telah membuat kesalahan.


"Widia, Septiani kenapa?" Tanyaku kembali dengan memberanikan diri. Melirik.


Melihat aku yang bertanya kembali, Widia pun menoleh ke arahku dan memutar kepala ke belakang. "Septiani duduk!" Cetus Widia. "Katanya, dia capek dan haus, sampai dia tadi merengek dengan ku." Keluh Widia. Melihat lurus ke depan dengan kesal.


Melihat wajah Widia yang kesal, aku lalu memutar kepala ke belakang. "Septiani, cepat jalan!" Teriakku dengan suara keras. Melambaikan tangan.


"Liyan, biarkan saja dia sendiri di sana!" Sesal Widia. Melihatku tajam.


Melihat kekesalan Widia membuatku mematung sesaat melihat Septiani yang teronggok di trotoar.


"Widia, kalau kita tinggalkan Septiani di sana, kasihan dia!" Ucapku dengan polos. Melihat Septiani.


"Liyan, ini sudah sore bahkan sebentar lagi senja. Apa jadinya, kalau kita masih di sini!" Gerutu Widia. Kesal. "Kau kan tahu Liyan, Ibuku itu sangat galak." Rintih Widia. Melihatku tajam.


"Widia aku juga! Ayahku jauh lebih galak dari Ibumu, belum lagi Ibu sambungku." Sambungku. Sedih. "Dia selalu memarahiku, apalagi semenjak aku sakit dan berobat ke rumah sakit." Lanjutku dengan pelan. Menatap nanar dengan pandangan kosong mengingat memori kejadian, seketika butiran kristal pun jatuh membasahi wajah pucat.


Lintasan memori tentang Ibu sambungku di rumah sakit terkenang seketika. Betapa hatiku pilu di saat itu, tidak ada satupun naungan yang datang untuk menghampiri, walau hanya sekedar menghapus air mata.


Widia yang berdiri di samping bersamaku, melangkah mendekat dan mengelus pundak.


"Liyan, kamu yang sabar ya!" Seru Widia. Melihatku. "Nasib kita sama Liyan." Sambung Widia pelan. Melihat ke udara.


"Makanya, aku berjalan lebih kencang dari kalian." Ucapku. Melihat jalan.


Kami yang berhenti tidak berapa lama, Septiani pun Tiba-tiba berdiri di hadapan kami dengan mengejutkan.


Door! Hahaha! Tawa renyahnya pun terlihat mengawang di udara.


Kami yang saling melempar kesedihan, seketika terperanjat melihat Septiani begitu sumringah telah berhasil membuat jantung kami mau lepas.


"Septiani kalau di jalan itu jangan mengagetkan orang!" Keluhku dengan suara datar. Menghapus dada. "Kau kan tahu, aku lagi sakit!" Tandasku. Melihat dengan kesal.


"Kalau aku jatuh ke sini! Apa kau mau menolongku?!" Lanjut Widia sambil menunjuk aspal. Mendelik.


Wajah Septiani yang tadi sumringah kini di tekuk kembali. "Maaf, aku tidak sengaja." Kata Septiani. Menunduk dengan wajah bersalah.


Septiani pun hening, berjalan perlahan seperti orang yang sedang sakit, menunduk dan melihat sepatu. Sepanjang kami memutarkan badan dan berjalan, aku terus melirik Septiani yang memasang wajah bersalah.


Sementara Widia terlihat begitu cemas, memegang tali tas yang ia sandang seakan ia meredam kegelisahan. Langkahnya begitu kencang dengan tubuh yang tegak lurus melihat lurus ke depan.


Lain halnya dengan aku yang berjalan dengan tenang, seakan aku telah berpasrah apapun yang akan terjadi.


Tubuh mungil yang aku bawa mengarungi perjalanan, sudah berteriak ingin segera keluar dari pertarungan waktu yang melelahkan ini. Sakit yang menemani semakin meluap sehingga membuat diriku lemah. Dingin yang berhembus melewati tubuh mungil membuat menggigil dan bibir membiru pucat. Wajah polos yang pucat kini semakin layu, bagai daun kering yang terjatuh ke tanah. Kaki kecilku yang gemetar kini kram seakan membeku. Jemari yang bisa menyentuh kini tidak lagi bisa menggenggam.


Kaki yang terus aku ayun dengan terseok-seok menjerit melintasi jalan yang terlalu lama. Wajah pucat yang tegak kemudian aku putar ke belakang melihat Widia dan Septiani yang


tertinggal jauh dariku.


Suara yang sering aku gunakan berteriak memanggil mereka kini tak lagi keluar. Bibir kecil semakin tertutup rapat dan lidah tak lagi bisa bergerak.


Semakin lama, sedikit kesadaran aku semakin hilang. Mata semakin tak bisa aku buka kembali dengan lebar.


Penglihatan yang remang kini aku sematkan untuk melihat mereka yang berjalan menghampiriku yang telah berjalan jauh.


"Liyan, kalau kamu tidak sehat, kami bantu saja, biar kita cepat kembali ke rumah." Kata Widia. Menghampiriku.

__ADS_1


"Nanti kalian lama sampai ke rumah. Biar aku sendiri saja." Tolakku dengan suara parau. Berjalan.


"Engga Liyan, mana mungkin kami pergi duluan." Cetus Septiani. "Lagian rumah kita sudah mau terlihat." Lanjut Septiani. Melihatku.


Wadia dan Septiani pun mengulurkan tangan untuk menolongku sampai ke rumah. Kami berjalan kembali melangkah.


"Liyan, rumahku sudah ketemu." Sahut Septiani. Tersenyum.


Aku pun mengangkat kepala melihat ke depan. "Ia." Jawabku dengan datar. "Kalau rumah kami masih jauh lagi." Kataku melihat Septiani. Berjalan.


"Kalau begitu aku duluan ya!" Ucap Septiani. Menghilang.


"Ia, hati-hati!" Sahut kami. Berjalan.


Septiani pun memutar langkah dari arah kami dan menghilang. Setelah itu aku dan Widia kembali mengayun langkah kembali. Tidak berapa lama kami berjalan dengan memakan waktu yang cukup lama. Akhirnya, kami pun sampai di rumah. Widia dan aku pun berpisah di persimpangan.


"Liyan, semoga kau tidak di marahi oleh Ayah dan Ibumu!" Seru Widia. Melihat ke arahku. Berjalan.


"Kau juga Widia, semoga tidak di marahi oleh Ibumu!" Sambungku dengan suara sedikit berat. Melihat Widia.


Setelah aku melihat Widia menghilang, aku kembali memutar kepala berjalan lurus, mengikuti jalan setapak yang panjang. Aku kembali menyeret kaki yang lemah dengan menahan tubuh yang ingin terhempas.


Semilir angin yang berhembus menerpa wajah pucat, mengiringi langkah menuju ke tempat yang ingin aku hampiri.


Suara kicauan burung terdengar begitu merdu di atas pohon yang berada di sebelah jalan. Lalu lalang orang tak terlihat begitu ramai. Rumah yang begitu banyak aku lalui, terlihat sepi dengan pintu yang tertutup rapat.


Awan tebal yang bergerak mengikuti langkahku yang lemah, seakan menatap dengan malu dan bergerak perlahan menjauh dariku. Matahari yang bersembunyi di balik awan tebal kini bersedih melihatku yang berjalan seorang diri. Ia begitu enggan untuk memperlihatkan diri, ia lebih suka mengintip dari atas.


Aku semakin mengayun kaki dengan kencang membawa tubuh lemah yang ingin terkulai. Kedua bola mata kubuka dengan lebar melihat jalan yang aku telusuri.


Dinding rumah telah terlihat jelas di mataku. Pintu yang terbuka dengan kecil, mengintip langkahku yang telah terdengar dengan keras. Kedua bola mata pun menatap nanar ke pintu yang terbuka.


Seketika aku menghentikan langkah, tepat di depan pintu. Tubuh mungil yang lemah kini gemetar sambil mengayunkan tangan membuka pintu. Segenap kepanikan bermunculan dari dalam diriku.


Selangkah aku maju tiba-tiba, jantungku berdegup dengan kencang dan ingin berhenti seketika, membuat seluruh tubuh mungilku lemah tak berdaya ingin terhempas kelantai, melihat ujung kaki yang menyambutku.


"Liyan!" Panggil ayahku dengan suara meninggi. Berdiri. "Dari mana saja kamu, ha!" Pekik ayahku. Mendelik.


Seketika tubuhku gemetar dan membeku seperti es. Bibir pucat semakin terkunci rasanya.


"Dari tadi kalian pulang! Jam segini kau baru sampai ke rumah!" Kata ayahku dengan berteriak. Mendelik. "Ayah dari tadi mencarimu!" Kesal ayahku. Menghembuskan napas kasar.


Mendengar suara ayahku yang berteriak membuatku diam mematung dengan segala rasa bersalah, aku bahkan tidak berani mengangkat kepala melihat ayahku, apalagi harus melihat kekesalan ayahku yang begitu besar.


"Kau pergi tanpa permisi!" Sambung ayahku dengan kesal. "Bahkan sama adikmu saja yang kalian satu sekolah, kau tidak memberi tahu!" Lanjut ayahku dengan penuh penekanan. Mendengus. "Kau itu masih sakit! Kita baru saja berobat ke rumah sakit semalam." Pekik ayahku dengan sorot mata yang tajam. "Malah hari ini kau pergi dan tidak meminum obatmu ya, kan!" Tandas ayahku dengan begitu kesal. Berdecak.


Dengan kekesalan yang memuncak ayahku terus menghardik dengan puas. Sorot mata yang tajam melihat begitu membuat aku berkutat dengan ketakutan dan air mata yang mengalir deras.


"Jangan menangis!"Sergah ayahku dengan kesal. "Kau yang berbuat salah, kau pulak yang menangis." Tampik ayahku dengan emosi yang meluap. "Besok kau, kalau mengulangi kesalahan lagi, akan Ayah hukum, kau!" Pekik ayahku dengan menahan nada suara sambil menggigit kedua gerahamnya dengan keras.


Aku semakin mengerang dengan pekikan suara ayahku yang keras dan meninggi sehingga membuat diriku semakin takut.


Tidak berapa lama ayahku menarik kembali suaranya dan memutar badan, menjatuhkan tubuh di kursi. Kedua bola matanya masih melihatku dengan sorot mata tajam dan napas yang berhembus dengan kasar.


Tangan yang telah menua kini mengepal dengan kuat menahan amarah yang ingin keluar.


Selangkah aku menyeret kaki bergeser dari ayahku, berjalan perlahan ke dapur. Aku yang masih berperang dengan rasa takut, menyandarkan tubuh mungil di sudut pintu bersama seragam sekolah yang masih terpasang.


Cengkeraman emosi ayahku membuatku tersudut dengan pilu, bibir pucat bergetar menahan tangis yang ingin pecah. Kedua netra yang di genangi oleh air mata kini memerah melihat diriku yang bersalah.


Tas sekolah yang masih tergantung di tubuh mungil, menemani dan melihatku dengan sedih. Kaki yang tidak beralas kini menapaki lantai dengan jeritan hati yang membuatku kembali merasakan pahitnya amarah.


Kesalahan besar yang menyelimuti hari ini membuatku bagaikan mentari di kekang hujan.


Sudut yang menjadi pendengar tangisku seolah menegur dengan mengarahkan pandangan menatap keluar dengan nanar. Bibir pucat seketika membisu melihat wanita yang berjalan menuju ke arahku.

__ADS_1


Butiran kristal yang membasahi pipi refleks aku hapus dengan jemari lemahku. Spontan aku menarik tubuh lemah bangun dan berdiri menunduk seakan tidak terjadi masalah.


"Kakak baru pulang?!" Tanya adikku dengan penuh keheranan. Berdiri.


Aku diam sambil mengatur nada suara yang aku keluarkan untuk menjawab pertanyaan adikku.


"Eem!" Jawabku sambil menganggukkan kepala. Membelakangi adikku.


"Kakak tadi kemana? Aku tadi di sekolah mencari kakak biar kita pulang sama." Sambung adikku dengan suara datar. "Pasti Ayah marah pada kakak, kan?" Lanjut adikku ingin tahu.


Aku yang berdiri membelakangi adikku dan mendengar apa yang di sampaikan olehnya membuatku semakin gemetar karena kejadian tadi terlintas lagi di benakku.


"Liyan, kau bicara dengan siapa?" Tanya ayahku dengan keras.


"Sama Ana, Ayah." Jawabku dengan pelan dan suara agak berat." Melihat dinding.


"Suruh adikmu kemari!" Perintah ayahku. Duduk .


"Ia Aya...!" Aku pun menghentikan jawaban untuk ayahku dan melihat adikku yang bergegas menghampiri ayahku.


"Ia Ayah." Sahut adikku berlari menghampiri ayahku yang duduk.


Sementara aku masih diam berdiri memutar badan dan menjatuhkan tubuh mungilku teronggok kembali di lantai.


"Ternyata kau sudah pulang, ya!" Sindir ibu sambungku. Menghampiri. "Dari kau pulang sekolah jam 10:30 WIB sampai jam 16 : 30 WIB kau baru pulang." Lanjut ibu sambungku dengan raut wajah kesal. Mendelik. "Lalu bagaimana obatmu? Apa kau minum, ha?!" Pekik ibu sambungku dengan suara sedikit meninggi dengan sorot mata yang tajam. "Apa ayahmu sudah tahu kalau kau sudah pulang?!" Lanjutnya kembali.


Aku yang teronggok di cengkeram oleh ketakutan terlihat semakin terhantam. Rasa takut yang memuncak kini membuatku semakin depresi.


"Kau itu baru semalam minum obat!" Keluh ibu sambungku. "Ini sudah tidak minum obat lagi!" Sambungnya dengan penuh penekanan. Menatap dengan tajam. "Kemana saja kau tadi, jawab?!" Hardik ibu sambungku. Menjatuhkan tubuhnya.


Aku yang gemetar. "Dari rumah teman, Bu." Jawabku dengan terbata. Menangis.


"Berani kau pergi ke rumah temanmu tanpa izin." Keluh ibu sambungku. "Kau tahu tidak, gara-gara kau! Aku jadi capek hari ini!" Pekik ibu sambungku dengan penuh penekanan. "Mencari kau ke sana kemari." Lanjutnya. Mencengkram bahuku yang lemah sampai tubuh mungilku mengerang kesakitan.


Wajah piasnya begitu tajam melihatku. Spontan butiran kristal jatuh membasahi baju.


"kalau sampai sakitmu semakin parah, aku tidak akan mengurusmu lagi, biar kau tahu, aku ini siapa? Aku ini bukan Ibu kandungmu, mengerti kau!" Cecar ini sambungku. Mendelik.


Seketika jantungku rasanya mau berhenti, tangis pun semakin pecah.


"Kuharap kau mendengar apa yang kubilang, jangan coba -coba mencari masalah." Cibir ibu sambungku.


Aku yang masih terbelenggu, tiba-tiba memutar kepala melihat ke arah pintu tengah yang tegak berdiri, menjadi pemisah dapur dengan ruangan depan.


Sontak aku terperanjat dan ibu sambungku pun segera beranjak dan menghilang, sementara aku masih duduk melihat adikku yang berdiri menghampiri.


"Kakak masih di sini?" Tanya adikku. "Aku bawa jajan banyak kak, kakak mau?" Tanya adikku sambil mengeluarkan jajan dari kantongan plastik. Duduk.


Refleks aku menghapus air mataku di saat adikku menunduk melihat jajan yang akan ia beri untukku.


"Ini kak, coba di makan kak, pasti enak!" Kata adikku. Memberi jajan kepadaku. "Kak, aku tadi pergi sama Ayah ke warung." Lanjut adikku dengan wajah bahagia. Melengkungkan bibir.


"Tapi, kakak kenapa masih duduk di sini dari tadi?" Tanya adikku dengan penasaran. Membuka jajan.


Mendengar pertanyaan adikku, aku hanya diam dan memainkan jajan yang telah ia beri untukku. Hatiku yang masih sedih terus melihat jajan yang aku mainkan dan tidak menjawab, apalagi mendengarkan.


.


.


.


Teruntuk teman-teman terimakasih telah memberi like, komentar, favorit. 🤗🙏


❤️❤️❤️

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2