Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Adikku yang malu


__ADS_3

" Ana, kapan kamu masuk?" Tanya ibu sambung kami sambil meletakkan sapu di balik pintu.


Sontak adikku terperanjat menatap nya dengan gugup. " Tadi, waktu Ibu menyapu." Adikku dengan tandas.


" Masuk rumah bukannya ngucapin Salam." Menatap adikku dengan kesal.


Tak seperti biasanya. Hari ini ia begitu perhatian baik dari menyuruh ku mandi dan menanyakan adikku kapan pulang. Hari ini aku menaruh rasa kagum yang besar akan dirinya.


" Kak, Ayah kok belum pulang?!" Tanya adikku yang sedari tadi ingin tahu.


" Kakak, engga tahu dek." Kataku dengan tandas.


" Emang Ayah pulang jam berapa, kak?" Adikku memutarkan badannya menghadap aku. Seringai tipis keluar dari bibir kecilnya. Tatapan bola matanya yang sendu menatap ku.


" Kakak kurang tahu dek karena kakak jarang ngelihat jam kalau Ayah pulang." Berharap Adikku tidak lagi bertanya jam berapa ayahku pulang.


Aku pun berdiri mengibaskan pakaian yang aku pakai.


"Kak, kakak mau kemana ?" Seakan adikku menyuruhku tetap duduk bersamanya.


" Kakak lelah duduk aja!" Ingin rasanya aku berjalan keluar melihat pekarangan rumah yang bersih.


" Kau tidak ikut dek." Ajak ku yang seakan mengejek adikku yang suka keluyuran sampai tidak mengenal waktu.


Wajahku yang merona dengan segar menatap langit biru yang begitu membawa anganku terbang dan jiwa ku tenang.


Andaikan aku bisa menaiki langit hatiku pasti akan tenang. Gurat wajahku pun seketika bersemi sambil menarik bibirku yang kecil. Wajahku yang tadi terlihat begitu mendung kini seketika cerah seakan membawa kebahagiaan diriku sendiri seperti seorang putri yang mendapatkan kejutan yang begitu menakjubkan.


Sedetikpun aku enggan untuk berpaling darinya. Awan yang berjalan begitu pelan membawa suasana ku yang buram menjadi terang.


" Kak, kakak lihat apa? Kenapa kakak tersenyum? Apa ada yang lucu kak!" Penasaran yang memuncak.


Itulah adikku! Yang luar biasa rasa ingin tahunya. Setiap yang ia lihat ia pasti akan antusias untuk mencari tahunya baik dia cari tahu sendiri ataupun dengan bertanya. Tak ayal kalau tabiatnya yang seperti ini membuat ku geram. Aku yang tidak terlalu over akan semua yang terjadi di sekitar ku terkadang membuat ku jengah. Wajah tertegunku menatap adikku.

__ADS_1


" Kenapa? Kau mau tahu aja." Aku yang masih menatap awan menjawab pertanyaan adikku dengan datar tanpa melihat nya yang duduk dibelakang aku.


" Huh! Baru begitu aja sudah pelit!" Nada suara adikku yang kesal.


" Lagian kamu maju tahu aja. Cepat bajumu ganti! Nanti kau kenak marah." Aku yang masih berdiri menatap lekat awan yang menjadi penenang hatiku.


"Siapa yang berani memarahiku? Ayah atau***" adikku menghentikan ucapannya dan tak bersuara lagi.


Seketika adikku yang menghentikan ucapannya membuat hatiku tergelitik sehingga aku pun menarik simpul bibirku dengan senyum tersipu malu atas adikku yang tidak melanjutkan apa yang mau dibilangnya.


Dalam sekejap mulut mungilnya terkatup rapat dengan menarik bibirnya disertai wajah malunya yang kini memerah menatap ku. Seketika aku memutar badanku menatap adikku.


Aku yang masih tersenyum menggoda adikku dengan wajah sumringah seakan mengejek nya yang kini tiba-tiba malu melihat ku.


" Kakak ngejek,ya?!" Nada suara adikku yang ketus dan cemberut. Wajahnya seakan tidak sanggup melihatku yang terus menatap nya dengan senyum malu-malu sebagai isyarat aku memang mengejek adikku dengan menaikkan kedua alisku sebagai isyarat, ada apa dengan mu?


" Engga!" Seakan aku berpura -pura tidak tahu.


" Mana mungkin kakak mengejek mu adikku sayang." Sambil mencubit pipi adikku yang manja.


Adikku pun mengkerucutkan bibirnya dengan wajah cemberut nya. Kekesalan kini terlihat dari wajahnya disaat ia mengambil tasnya dengan cemberut dan menggerutu.


" Dek, kau marah, ya?" Tanyaku dengan menggoda adikku. " Kenapa kau berhenti?" Tanyaku dengan wajah penasaran dan menggelitik hatiku. " Kenapa kau tidak mau menyebutnya?" Tanyaku lagi dengan ingin tahu.


" Engga apa-apa!" Kata adikku dari kamar. " Biarin aja. Aku engga takut kok." Kata adikku dengan tandas. " Lagian kan, dia bukan Ibuku."


Nada suaranya yang getir terdengar dengan lantang mengatakan itu. Seketika adikku keluar dari kamar. " Makanya aku engga mau menyebutnya."


Aku yang tidak habis pikir melihat adikku yang begitu anti akan wanita yang dinikahi oleh ayahku membuat ku tak bisa melakukan apa-apa.


" Kenapa kau tidak suka melihat nya dek?" Tanyaku ingin tahu.


" Ia, aku engga suka aja." Menunjukkan wajah tidak senang.

__ADS_1


Dengan menarik sedikit bibirku memasang wajah UpTo you dan mengangkat bahuku.


" Jadi, kalau kakak senang sama dia, kakak aja." Adikku tegas mengatakan itu kepada aku. "Jangan paksa aku. Aku cuman anak Ayah." Dengan kesal adikku pergi meninggalkan aku.


Seketika hatiku sedih melihat adikku yang masih juga seperti itu. Aku tidak bisa memaksa apalagi menyalahkan adikku. Apa yang dibilang oleh adikku itu memang benar. Semua itu tidak bisa di pungkiri. Walaupun adikku tidak menganggap dia sebagai Ibunya namun, dia tetap bersikap welas asih.


" Bagi aku kak, orang tua aku itu cuman satu yaitu, Ayah. Cuman Ayah!" Adikku yang kesal mengatakan itu dengan penuh penekanan. "Jadi, tidak ada yang bisa memaksaku." Tekannya kembali.


Adikku yang kembali berdiri di dekatku menatapku dengan tajam. Wajahnya kini seakan ingin memberontak terhadap aku.


Aku begitu gemetar melihat wajahnya yang memerah. Matanya yang tajam kini tak berkedip menatap aku. Kekesalannya begitu menghilangkan sedikit kesadarannya.


" Ada apa itu! Kenapa kalian ribut di situ." Suara ibu sambung kami dengan keras terdengar dari halaman dapur.


Jantung ku seketika berdegup kencang. Adikku yang tadi terlihat begitu rileks. Tersirat dari wajahnya kalau ia tidak memperdulikan tentang ucapan wanita itu.


Seketika adikku beralih pandang dari aku. Ia memutar badannya ke balik pintu mengambil sendal jepitnya. Dia pun aku lihat berkaca merapikan pakaiannya dan menyisir rambutnya hingga rapi.


Tangan kecilnya aku lihat kini meraih bedak tabur yang terletak di laci lemari tepat dibawah kaca.


Spontan wanita itu berdiri menghampiri adikku. " Mau kemana kau?" Menatap adikku dengan tajam." Baru, kau pulang sekolah, ini udah mau pergi lagi?" Katanya dengan keras.


Spontan adikku menghentikan sisiran nya. Menatap wanita itu dengan wajah yang tidak senang dari ekor matanya.


Aku yang berdiri di dekat dinding kamar ayahku hanya diam dengan penuh harap jangan sampai ayahku pulang. Gambaran pengharapan ku akan itu terlihat begitu membuat aku cemas.


" Mau kemana kau?" Tanya ibu sambung kami dengan berlagak sok perhatian. " Kau tahu engga, ini hari apa?" Masih menatap tajam.


Adikku yang berdiri tanpa menoleh. " Hari Jumat," nada suaranya yang datar.


" Oh! Taunya kau," menimpali adikku.


Adikku begitu kesal, wajahnya kini begitu terlihat ketat menatap wanita yang ada didekatnya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2