Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Bertanya tentang Ibu


__ADS_3

"Ayah, aku tadi lapar," jawab adikku membeku dengan jari yang masih dia gigit.


Aku terdiam melihat rasa ketakutan adikku yang menggigit jemarinya. Terdiam di pangkuan ayahku sembari melihat jemari adikku yang masih tergigit di dalam mulutnya.


"Lalu, apa Kakakmu tidak lapar?" tanya ayahku pada adikku dengan penuh penekanan, melihat adikku yang terus mengigit jemarinya.


Sungguh aneh adikku yang tetap diam dan tidak sekali pun mau turun dari pangkuan ayahku. Sementara aku yang masih duduk, seperti adikku sudah resah dan ingin turun saja.


"Ayah, aku makannya nanti saja," kataku sambil melihat ayahku yang masih menatap adikku yang membeku.


"Kalau begitu kalian bermain saja dulu," perintah ayahku dengan nada suara datar bercampur dengan wajah sumringah.


"Ayah, terima kasih. Kami ngambil sendal dulu, ya!" sahut adikku turun berlari dari pangkuan ayahku.


Refleks aku pun ikut senang turun dari pangkuan ayahku. Menghampiri adikku yang sudah senang mendengar ucapan itu.


"Kenapa mengambil sendal?" tanya ayahku dengan nada suara terheran.


Seketika langkah kakiku yang senang tadi terhenti. Diam mematung melihat adikku yang mengambil sendal pun berhenti. Membungkuk dengan sendal jepit yang kembali dia taruh ke lantai. "Ayah, kenapa kayak gitu, Kak?" tanya adikku berbisik pelan menoleh ke arahku.


Terdiam bercampur aduk aku tidak bisa lagi bergerak atau pun memutar badan melihat ke arah ayahku yang bersuara. Berdiri tegak, seperti patung yang hanya bisa kuperbuat saat ini.


"Ana, kenapa buru-buru mengambil sendal?" tanya ayahku yang berdiri di belakang kami.


Sendal jepit yang sudah terletak di lantai tidak lagi dilihat oleh adikku. Dia bangun dan menoleh ke arah ayahku yang bertanya di belakang kami.


" 'Kan tadi Ayah bilang, kami boleh bermain?" tanya adikku yang bingung. Berdiri melihat sang ayah. Di ikuti oleh tubuh mungilku yang memberanikan untuk memutar badan juga.


"Iya, tapi bukan di luar, Nak," jawab ayahku langsung dengan santai. Berjalan sambil meletakkan cangkir di sudut meja.


Spontan aku dan adikku bertemu tatap dengan rasa kecewa. Memonyongkan kedua bibir dengan tipis, menundukkan pandangan yang kecewa melihat lantai.


"Maksud Ayah, kalian bermain di dalam. Bukan di luar," terang ayahku tegas, memiringkan badan melihat cangkir.


Aku dan adikku langsung lemas dan tidak semangat lagi mendengar rumah. Menunduk dan memangku harapan yang kosong.


"Ayah, aku mau menggambar," ungkap adikku agar ayahku mengerti, menatap dengan wajah penuh harap menoleh ke arah ayahku dan sekilas menatapku.


Menganga dan terpelongo mendengar omongan adikku yang keluar begitu saja. Perlahan aku menyeret kaki yang lemas ini mendekati adikku, di ikuti oleh ekor mata melirik ke arah adikku.

__ADS_1


Tercengang ayahku langsung menyahut. "Menggambar apa, Nak?" tanya ayahku dengan mengerutkan kening.


"Menggambar Ibu," jawab adikku.


Deg!


Aku langsung terkejut dan memutar kepala menatap adikku. Dia yang sangat suka menggambar wajah ibu berharap kalau ayahku memberinya izin.


"Gambar Ibu?" gumam ayahku bertanya heran. "Gambar Ibu yang mana, Nak?" tanya ayahku ingin tahu.


"Gambar Ibu yang mirip kayak aku, Ayah," jawab adikku dengan wajah manjanya.


Sontak ayahku langsung mengukuhkan dirinya untuk tetap berdiri semakin lekat menatap kami. Berdiri kembali bertanya dengan wajah sedih.


"Emang kalian sering menggambar di luar? Menggambar di mana?" tanya ayahku ingin tahu.


"Iya, Ayah, menggambar di bawah pohon Ayah," jawab adikku. Berdiri memegang ujung bajunya, menunjukkan wajah manjanya yang terus terpampang imut.


"Ayah, kami sering bermain di bawah pohon jambu," balasku langsung memotong pembicaraan mereka.


Ayahku langsung sumringah terlihat. Dia dengan senang ketika mendengar anaknya menggambar wajah ibu yang sudah lama meninggalkan kami. "Nak, kalau kalian menggambar wajah Ibu kalian. Apa kalian rindu?" tanya ayahku menyelidiki.


"Ayah!" panggil adikku mendekati ayahku. "Aku juga rindu sama Ibu," kata adikku, menatap ayahku yang lebih tinggi darinya dengan gurat wajah bersedih.


Ayahku langsung menjatuhkan tubuhnya berjongkok di atas lantai. "Nak, Ayah juga rindu sama Ibumu," sambut ayahku berjongkok sambil mengelus rambut adikku.


"Tapi, Ayah kenapa kita gak pernah ke kuburan Ibu?" tanyaku langsung mendekati ayahku juga. Berdiri bersama adikku menghampiri ayah yang selama ini menjaga kami.


"Iya, Ayah 'kan, katanya, Ibu tidur," tutur adikku berkata sedih, melihat ayah yang sudah lelah berjuang.


"Kalau Ibu tidur berarti Ibu 'kan bisa bangun," lanjutku menyampaikan isi hati adikku yang bertanya-tanya.


Mendengarnya ayahku langsung menarik bibir tipis. "Nak, Ibu masih belum puas tidur," sahut ayahku menatap kami yang antusias ingin tahu.


"Jadi, mau sampai kapan Ibu tidur aja?" tanya adikku yang belum mengerti. "Aku saja tidur, bisa bangun, Yah," cetus adikku yang polos.


Aku yang mendengarnya sedikit aneh dan lucu mendengar keinginan adikku yang tidak masuk akal.


"Ayah, aku udah bilang, kalau Ibu tidurnya lama. Tapi si Ana tetap mau membangunkan Ibu," sambungku yang masih polos juga, melihat adikku yang cemberut.

__ADS_1


"Nak, Ibumu itu tidurnya panjang," kata ayahku menjelaskan dengan lembut agar aku dan adikku tidak terlalu merengek.


"Aku juga tidurnya panjang Ayah," sahutku langsung menetap ayahku yang masih berjongkok sambil merangkul kami.


"Nak, Ibumu itu tidurnya gak kayak kita. Yang bisa dibangunkan. Kalau Ibumu nanti dia akan bangun sendiri," papar ayahku menjelaskan.


"Kapan Ayah? Karena aku sudah rindu sekali sama Ibu," kataku pada ayahku bertanya.


"Liyan, nanti kau pasti tau, Nak?!" jawab ayahku singkat. "Untuk saat ini kalian akan Ayah bawa melihat Ibu kalian sebentar," lanjutnya yang sudah lama mendengarkan kerinduan kami tentang ibu.


"Ayah, apa Ibu bisa kita jumpai?" tanya adikku langsung senang.


Ayahku hanya nyengir menatap adikku yang dengan leluasa bertanya. "Bisa, Nak. Kalian bisa bertemu dengan Ibu," jawab ayahku langsung, menarik kedua bibirnya tersimpul manis melihat kedua putrinya yang selalu menarik perhatiannya.


"Horeee!" teriakku dan adikku kegirangan. "Ayah, pasti aku senang bisa bertemu dengan Ibu?!" kataku langsung.


"Iya, Ayah. Aku mau bilang sama Ibu, kalau di luar banyak orang jahat," sambung adikku yang berharap lekas bertemu.


"Jadi, kalian mau bertemu dengan Ibu kalian?" tanya ayahku yang sudah tidak sabar melihat kedua putrinya senang.


"Mau, Ayah. Kami sudah lama gak bertemu dengan Ibu," jawabku, menatap adikku yang sudah tidak sabaran.


"Ayah, kalau kita datang ke sana. Apa Ibu gak menyuruh kita pergi?" tanya adikku yang penuh dengan keraguan.


"Hahaha! Nak, Ibumu gak akan mengusir kita. Karena kita sudah datang menemuinya pasti Ibu kalian senang?!" ungkap ayahku dengan bahagia sambil tersenyum hangat memeluk kami.


"Kalau gitu kapan kita berangkat, Ayah?" tanyaku yang sudah tidak sabar ingin berjumpa dengan Ibu.


"Jadi, kalian mau?" tanya ayahku dengan penuh penekanan, mengangguk.


"Ayah kami mau. Karena kami udah lama gak jumpa sama Ibu," jawab adikku. "Kalau kami berjumpa sama Ibu. Aku akan bilang kalau aku dan Kakak gak bertengkar lagi," lanjut adikku dengan senyuman manis. "Iya, 'kan, Kak?" tanyanya, menoleh ke arahku berdiri tepat di hadapannya.


"Hehehe!" Aku nyengir . "Iya," jawabku dengan berat hati. "Ayah kami gak akan bertengkar lagi," lanjutku mengingat adikku yang cerewet dan manja itu sering merengek padaku.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2