Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Bermain tebak-tebakan gambar


__ADS_3

"Biar Kakak tau. Nilaiku kalau menggambar selalu cantik," katanya dengan bangga. Membuka lembaran berikutnya dari buku yang dia pegang.


Aku hanya menujukkan ekspresi wajah yang turut bahagia mendengarnya. Sekarang aku mengatur dudukku semakin mendengarkan cerita adikku setelah hatinya mereda.


"Kak, kalau Kakak menggambar ini bisa, gak?" tanya adikku dengan wajah manjanya menunjuk gambar bebek lucu. "Kalau Kakak bisa, ajari aku," pintanya memohon dengan wajah yang lembut bercampur manja. Sok imut.


Aku terus menatap gambar yang ditunjuk oleh adikku. "Tapi kau bilang. Kau pandai menggambar?!" kataku bertanya pada adikku yang manja.


"Hehehe!" Adikku nyengir. "Iya Kak. Aku mamang pandai menggambar," ungkapnya langsung malu menunduk. "Aku pikir Kakak gak tau," celetuknya Menahan malu.


"Tau lah. Tadi 'kan kau bilang. Kau itu pandai menggambar," balasku mengembalikan kata-kata itu pada adikku. Menatapnya sambil menaikkan kepala sebagai isyarat kalau aku mempertanyakan itu kembali padanya.


"Kakaaaak," katanya langsung dengan nada suara pelan seakan dia menahan malu.


Adikku pun langsung menunduk melihat buku yang penuh dengan gambar. Tangan kecilnya pun kembali membuka lembaran selanjutnya terus menerus.


"Kak yang ini apa laaa?" tanya adikku dengan berirama. Menutup gambar dengan kedua tangan kecilnya.


Refleks aku menajamkan tatapanku dan juga memutar otak untuk menebaknya. "Mmm." Aku diam dan berpikir.


"Ayooo, apa kak," desaknya terus dengan ledekan yang garing. Menatapku dengan tatapan yang penuh misteri.


"Coba buka sedikit," pintaku dengan lembut menyuruhnya. Melirik sekeliling tangan, entah mana tau ada sedikit tersisa yang belum tertutup rapat oleh jemarinya.


Aku memutar - mutar kedua bola mata ke segala arah. Namun, aku lagi-lagi kalah. "Kakak gak tau," jawabku lesu dan menyerah. Melihat ujung lantai yang tertimpa buku.


"Kakak gak tau?" tanya adikku dengan wajah imutnya yang manja dengan penuh penekanan. "Ini gambarnya mudah Kak," sambungnya sambil mengintip gambar dari celah jemarinya yang kecil dengan sebelah mata tertutup.


"Gambar apa?" tanyaku antusias memajukan tubuh mungilku yang lemah ke depan adikku dan membuat kepala kami terjedot.


Tak!


"Aaaagh, Kakak. hix, hix, hix," jerit adikku meringis sambil mengelus kepalanya.


"Aauuoogh, Ana, huuuuu!" rintihku kesal sambil mengelus kepala yang terjedot.


"Kakak makanya pelan-pelan, 'kan kepalaku jadi sakit," keluh adikku meringis bercampur sebal mengusap kening yang terjedot.

__ADS_1


"Maaf, Dik," pintaku memohon. Menatap adikku yang mengusap keningnya, di ikuti oleh tanganku mengusap keningku juga.


"Ana, jangan 'kan kau, Dik. Kepala Kakak juga sakit," ucapku dengan sedikit lirih.


Buku gambar yang terbuka masih saja di pegang oleh adikku dengan sebelah kirinya. Aku yang tersadar, menatap adikku dengan sebelah hati. Dia memang kayak gitu sudah terluka masih bisa waspada, pikirku. Melihat muka adikku dan melihat sebelah tangan kanannya yang memegang buku.


"Ana itu pasti gambar hewan," cetusku langsung. Di ikuti oleh sebelah tangan mengelus kening.


"Haa-h, gak Kak. Kakak salah, bukan itu," ucap adikku lagi dengan gurat wajah menyalahkan. Menggeleng sambil mengerutkan kening.


Aku semakin bingung melihat gambar yang ditutupi oleh tangannya. "Bilang saja huruf depannya," desakku. Melirik ujung lembaran kertas dari kiri ke kanan dan dari atas ke bawah. "Ah, Kakak nyerah," kataku pasrah.


Adikku begitu sumringah. "Hihihi, akhirnya, Kakak kalah juga. Pemenangnya aku horeee!" teriak adikku bersorak gembira dan langsung mengangkat tangannya tinggi ke udara.


"Es lilin," gumamku terheran seakan shock melihat gambar setelah terbuka.


"Hahaha! Kakak gitu aja gak bisa nebak," ledek adikku sesal bercampur sebal. "Ini hanya es lilin yang setiap hari kita beli dulu," ucapnya sumringah.


"Hm!" Aku menghela napas sebal bercampur cemberut melihat adikku yang terlalu pandai membuatku terciduk.


Adikku begitu senang seolah dia telah melupakan kemarahannya padaku. Aku sepertinya semakin sulit menebak adikku.


"Sebelum Kakak sakit," sambungku membalasnya.


"Iya memang sebelum Kakak sakit." Adikku membenarkannya dengan penuh penekanan. Melihat es lilin yang sengaja dia tempelkan di dalam gambar hewan itu untuk sengaja menjebakku.


"Tapi... ." Aku terheran menatap es lilin kalau bisa ada di situ. "Ana kenapa ada es lilin di situ?" tanyaku penasaran. Melihat wajah adikku yang senyum-senyum sendiri.


"Hahaha! Kakak heran ya? Ini aku tempelkan di sini," kata adikku.


Aku semakin bingung dan bertanya-tanya. "Kau tempelkan pakek apa?" tanyaku ingin tahu mengingat kami berdua tidak mempunyai lem, apalagi di dalam rumah ini.


Adikku langsung melayangkan tatapan cemerlang sambil menaikkan sebelah bibir dan alisnya. "Aku pakai nasi, Kak," ungkapnya berbisik pelan padaku seolah dia tidak ingin di dengar orang lain.


"Pakai nasi?" tanyaku kagum.


Adikku langsung mengangguk. "Mm!" Mendehem acuh. Melayangkan sorot mata dan gurat wajah senang dan bahagia bercampur sedikit bangga.

__ADS_1


"Kak, nanti kita suruh Ayah beli es lilin, ya?!" ajak adikku dengan penuh penekanan. Menatapku dengan wajah seolah membujuk.


Di dalam rumah yang gelap tertutup rapat dan tubuh mungil lemah ini aku semakin asyik dengan lelucon adikku yang setengah sadar dan setengah tidak.


Hahaha! Aku tertawa geli di dalam hati sampai menggelitik hati melihat sifat adikku yang masih polos. Tubuh yang lemah ini terus menemani keinginan adikku yang tidak bisa di tolak.


"Kak, nanti es lilinnya kita suruh Ayah beli warna apa Kak?" tanya adikku yang polos. Menatap es lilin yang dia tempelkan.


"Mmm, yumy!" balasku dengan menjilat bibir dan menelan ludah.


"Kakak mau?" tanya adikku dengan suara lembut dan wajah imutnya.


"Mau," jawabku langsung. Melirik gambar es lilin yang menyelerakan. "Ana, itu pasti enak. Iya 'kan?" lanjutku melayangkan pertanyaan padanya.


"Iya Kak," balas adikku langsung memberi jawaban. Melihat es lilin dan aku yang sedang memutar otak memikirkan tentangnya.


"Tapi pakek uang siapa Kak?" tanya adikku kembali mengusik pikiranku.


Sontak aku terperanjat mendengarnya dan melihat adikku tanpa kedipan sekali pun. "Uang Ayah 'kan ada," kataku.


Seketika wajahnya pias seakan dia membenci aku menyebutkan pakai uang Ayah kami. "Uang Ayah 'kan, gak ada Kak," sangkalnya. Refleks wajahnya langsung berubah langsung terlihat kurang senang.


"Kenapa? Itu 'kan harganya murah," terangku menarik bibir yang tersimpul manis tadi.


"Itu 'kan untuk uang jajanku Kak. Nanti kalau aku gak jajan aku sakit," tutur adikku seolah menyindirku.


Deg!


Aku kembali diam dan tidak berani melanjutkannya lagi. Wajah adikku kembali menjadi pias setelah mendengar uang.


Aku semakin jengah dan menatap kembali pintu yang terkunci dari luar. Hal ini kembali membuat aku seperti yang tadi diam dan mengalah.


Adikku langsung menutup bukunya setelah itu. Dia pun tidak lagi melanjutkan omongannya.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2