
"Dari tadi Anak Ayah yang satu ini sering bilang bohong. Ngomong-ngomong siapa yang bohong?" tanya ayahku ingin tahu dengan gurat wajah yang datar.
Deg!
Aku semakin panik dan perlahan turun dari pangkuan ayahku. "Ayah, aku mau minum," pamitku. Berjalan ke dapur mengambil minum yang sedikit tinggi terletak diatas meja sebelah kompor.
"Liyan, apa kau bisa mengambilnya?" teriak ayahku bertanya. Menghentikan langkahku.
"Bisa Ayah," jawabku singkat. Berjalan kembali memutar badan mengambil gelas yang tergantung di atas rak piring yang lumayan tinggi.
Kreeek!
Plak!
Aku pun meletakkan bangku yang terletak di sudut dinding tepatnya berdekatan dengan rak piring. Bangku kecil itu pun aku letakkan di atas lantai tepat di depan rak piring yang tergantung gelas di situ. Bangku kecil itu pun aku panjat dengan sedikit berjinjit mengambil gelas yang tergantung.
Kreeek!
Baugh!
Bangku itu pun kembali aku taruh ke tempatnya dengan memegang gelas di tangan sebelah kiri.
"Liyan, kalau kau tidak bisa. Bilang pada Ayah. Biar Ayah ambilkan !" jerit ayahku dari depan.
"Aku bisa Ayah," jawabku. Sekilas melihat ayahku dari pintu tengah di antara ruang tamu dan dapur. Menganyunkan gelas di udara dan menunjukkannya pada ayahku.
"Ayah takut kau jatuh Nak," teriak ayahku kembali khawatir.
Srrrr!
Air minum pun aku tuangkan ke dalam gelas setelah tangan kecilku yang terasa dingin ini menarik teko yang terletak sedikit jauh ke dalam meja.
Glek! Glek! Glek!
Air minum yang segar itu pun aku teguk membasahi bibir pucatku dan tenggorokan yang sudah kering dari tadi, akibat menahan rasa takut dan getir membayangkan adikku yang tiba-tiba suatu waktu keceplosan.
Tubuh mungilku yang melemah terasa gemetar membayangkan wajah ayahku yang terlintas di dalam air minum yang aku teguk.
Deg!
Aku sedikit depresi dan shock ketika wajah menua itu menghantui. Keringat dingin seakan bercucuran dengan deras membasahi pelipis dan kedua pipi.
Aku yang meminum air sambil membenamkan bibir yang mulai pucat ini terasa kaku dan mulai berat untuk menyeruput air hingga habis. Aku berpikir seakan tidak ada lagi yang tersisa untuk ku, jika ayahku sampai mengetahui aku kembali sakit.
Napasku semakin sesak ketika telinga ini mendengar perbincangan ayah dan adikku kembali.
__ADS_1
"Ayah, aku mulai sekarang gak akan bohong lagi," kata adikku yang terus menerus dia ucapkan. "Karena aku takut dosa Ayah. Kalau kita berbohong kita masuk neraka 'kan Ayah?" tanya adikku dengan suara polos manjanya.
Glek!
Air yang tersisa di tenggorokan seketika mengalir dengan kasar. Di ikuti oleh kedua bola mata melihat gelas yang aku pegang seolah bergetar.
"Iya Nak. Kalau kita bohong kita masuk neraka. Karena kita sudah berdosa. Nah, setiap orang tidak boleh bohong kalau dia tidak mau masuk neraka," tandas ayahku.
"Iiiiih Ayah seram. Aku takut masuk neraka. Kata guru kami Ayah di neraka banyak apinya," sambung adikku semakin mengusik jiwaku yang memegang gelas. Seakan dia sengaja mengatakan itu, pikirku.
"Iya Nak. Neraka itu banyak apinya dan saaaangat gelap. Kita tidak bisa untuk tidur di situ," lanjut ayahku dengan hati yang senang.
Deg!
Jantungku pun melemah dan tiada berdaya lagi untuk memompa darah. Tangan kecil mungil ini pun mulai mengeluh untuk memegang gelas.
Plak!
Aku pun refleks meletakkan gelas sambil menetralkan diri. Raut muka yang terlihat panik dan cemas berangsur aku cegah agar ia tetap terlihat tenang.
Huh!
Berkali-kali napas aku hembuskan ke udara hanya untuk sekedar mencari ketenangan. Di balik punggung yang kecil ini aku terus mendengar obrolan ayah dan anaknya.
"Ayah, kalau kita masuk neraka. Kita terbakar atau tidak, Yah?" tanya adikku ingin tahu.
Shock dan depresi itulah yang menyerangku saat ini. Aku tidak bisa lagi berbuat apa-apa. Bahkan membujuk adikku pun aku sudah tidak bisa lagi.
Harapan aku semakin menipis. Kedua bola mata nanar aku putar ke samping kanan tepat ke arah ayah dan adikku yang sedang asyik berbincang masalah dosa dan neraka.
"Ayah kalau kami bohong. Ayah marah tidak ?" tanya adikku layaknya sok dewasa.
Aku melihat ayahku sejenak diam. "Nak, Ayah tidak mau mempunyai Anak yang suka bohong," jawabnya langsung.
Deg!
Tatapan mataku refleks jatuh melihat lantai. Raut sedih wajah ayahku ketika mengatakan itu seakan mengiris hati kecilku. Aku semakin pilu bercampur bersalah yang mendalam karena aku sudah berbohong hari ini.
Perlahan aku berjalan di sela-sela pembicaraan adikku lagi dengan ayahku.
"Ayah kalau aku nanti bohong. Ayah memaafkan aku gak, Yah?" tanya adikku dengan nada suara pilu.
"Ayah pasti akan memanfaatkan kalian berdua kalau kalian salah. Tapi... ." Ayahku diam.
"Tapi apa Ayah," sambung adikku.
__ADS_1
"Harus melewati hukuman dulu," ungkap ayahku.
"Dihukum lagi Ayah?" tanya adikku terheran. "Ayah kenapa di hukum lagi," tolaknya dengan protes. "Kalau bukan aku yang bohong, aku di hukum juga!" sungutnya tidak tela.
Glek!
Aku masih menelan ludah di balik dinding yang menjadi pemisah antara aku dan adikku. Segelintir tanya jawab pun terdengar bersahut-sahutan di dalam hati yang saling menyalahkan diriku. Baju yang aku pakai sedikit aku tarik menutupi separuh wajah pucat ini.
"Ana, kenapa kau takut di hukum? Kalau kau tidak salah mengapa harus takut?" kata ayahku bertanya bercampur suara heran.
Aku menyeret tubuh ini sedikit miring mengintip ayah dan adikku dari balik dinding. Baju yang sedikit menutupi wajah ini semakin lemas setelah melihat wajah ayahku yang memerah kalau tahu anaknya bohong.
"Ayah aku gak pernah bohong," sangkal adikku panik.
"Makanya Ayah bilang, Nak. Kalau kau tidak pernah bohong. Kenapa takut kayak gitu?" tanya ayahku semakin serius.
"Iya Ayah," ucap adikku sedikit lemas.
Tubuh mungil yang semakin down ini gemetar di balik dinding dapur. Aku semakin cemas menyeret tubuh mungil ini jatuh dan teronggok di atas lantai.
Gelas yang tadi menyegarkan tenggorokan kini terlihat bergeming di atas meja kompor. Bisikan-bisikan suara ayah dan adikku semakin menghenyak.
" Ayah sebenarnya... ." Adikku diam beberapa menit. Aku yang mendengarnya pun semakin menutup mata dengan kuat. "Sebenarnya Ayah... ." Adikku kembali diam.
"Sebenarnya apa Nak?" tanya ayahku langsung penasaran.
Aku semakin meremas bajuku dengan kuat dan menggigitnya sehingga menutupi sedikit wajahku dengan kuat.
"Sebenarnya Kakak sakit Yah," ungkap adikku langsung.
Deg!
Aku semakin melemah. Jantungku pun semakin berhenti meremas jemari dingin yang mencoba untuk bertahan di tengah tubuh mungil yang dingin. Aku semakin terduduk dengan membisu di balik dinding dapur.
"Kakakmu sakit Nak?!" tanya ayahku panik.
Deg!
Aku semakin pucat dan jantungku pun semakin berhenti. Bola mata melebar tidak karuan.
"Iya Ayah," sahut adikku merendahkan suaranya. " Kakak sakit," lanjutnya dengan lirih.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...