Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Do'a restu


__ADS_3

Pengajian pun dilakukan seperti biasanya tanpa ada kekurangan sedikit. Seperti biasa setiap aku mengaji ayahku tidak pernah melupakan kebiasaannya yaitu, rotan. Ini tidak pernah dia lupakan, sebagaimana yang di alami ayahku disaat dia waktu kecil dulu belajar mengaji dengan gurunya. Inilah yang di terapkan oleh ayahku ketika mengajari kami mengaji.


Aku dan adikku yang tidak bisa duduk dengan tenang gemetaran ketika itu terletak dihadapan kami. Setiap saat aku selalu merasa panik, apabila melihat itu mulai di letakkan ayahku tepat disampingnya. Sorot mata pun, seakan meredup ketika melihat jalan menuju tempat mengajiku. Bibirku pun, rasanya ingin berteriak melarang ayahku untuk tidak meletakkan itu. Tapi apalah dayaku semua di luar kekuasaanku. Aku hanya bisa memendam sambil berjalan mengikuti kaki lemahku bersama iringan lantunan huruf hijaiyah yang aku baca di dalam hati.


Sebelum aku duduk dihadapan ayahku bersama dengan Iqro' yang terletak di atas rekal. Aku mengingat huruf hijaiyah yang sudah aku baca. Aku pun mengulanginya kembali di dalam hatiku. Begitulah yang kulakukan setiap kali aku ingin mengaji.


Sesampai di tikar tempat yang sering di gelar sebelum aku duduk. Aku mencium punggung tangan ayahku terlebih dahulu untuk mengambil do'a restu darinya. Seperti inilah setiap saat yang di ajarkan oleh ayahku sebelum dan sesudah mengaji.


Ayahku tidak pernah bosan mengingatkan kami untuk melakukan setiap saat. Dia tidak pernah mau merubah apa yang sudah menjadi ketetapannya. Ayahku adalah seorang ayah yang ingin menjadi ayah yang terbaik di dunia.


Tak ayal terkadang keinginannya yang ambisius ini membaut kami, seperti berada di dalam didikan Belanda. Peraturannya yang ketat dan larangannya yang tidak boleh di bantah, apalagi ketika ayah kami memberi hukuman pada kami. Setiap perbuatan kalian harus menerima konsekuensinya, itulah yang ayahku katakan ketika kami meminta keringanan dari hukuman yang dia berikan.


Mengingat itu aku dan adikku pun harus bersiap-siap menjadi murid yang baik bagi gurunya. Kami pun, harus lebih berhati-hati di saat mengaji. Kami juga harus mengulang dan mengingat kembali kajian kami yang sebelumnya.


Aku yang terduduk di tempatku melihat adikku yang teronggok tepat di dekat pintu kamar ayahku. Adikku begitu serius melihat Iqro' yang terletak di atas tangannya. Dia seperti sedang mengulangi kajiannya, pikirku sembari memutar pandanganku kembali melihat Iqro'.


Lembar per lembar pun, aku baca dari kajian yang telah lalu sampai kajian yang akan aku baca hari ini. Seperti itulah hingga aku selesai dan menutup Iqro' ku.


Setelah selesai dariku, ayahku pun, beranjak mengajari adikku yang cengeng kalau di omeli ketika dia salah. Ayahku tidak mau melakukan kepada adikku, seperti yang dilakukannya terhadapku yaitu, menyediakan rotan sebelum mengaji. Jika ayahku mengajari adikku dia sangat berhati-hati karena jika adikku sampai menangis dia akan sedih sebab wajah adikku mirip, seperti istrinya yang sudah tiada. Itulah yang membuat ayahku lemah ketika berhadapan dengan adikku. Makanya ayahku selalu menjaga hati adikku agar adikku tidak meneteskan air mata. Hati ayahku begitu hancur ketika dia melihat adikku menangis. Dia pun, tidak bisa mencari nafkah dengan tenang.


adikku yang mengetahuinya semakin manja dan bertingkah dengan sejadinya. Dia pasti akan bermain sesuka hatinya. Membeli jajan dengan semaunya tanpa memikirkan ke belakang hari.


Hal itu pun, dia lakukan saat ini. Di dalam waktunya mengaji, seperti ini dia pun, menggunakan senjatanya yang ampuh yaitu, air mata agar dia terlepas dari omelan ayahku ketika dia salah dalam huruf yang di bacanya. Namun, bukan ayahku namanya, kalau tidak bisa membaca kecerdikan adikku. Ayahku memang tidak pernah memarahi adikku, seperti yang dilakukannya padaku. Akan tetapi, ayahku akan mengulanginya sampai adikku mengetahui huruf itu hingga benar.


Ayahku tidak mau kalah dengan adikku. Secerdik-cerdiknya adikku lebih cerdikkan lagi ayahku. Ayahku akan mengulanginya sampai adikku jenuh dan akhirnya, dia dengan terpaksa mengingatnya.


"Coba ingat ini!" ucap ayahku pada adikku yang sudah menyerah.


"Ayah, aku lupa. Ini sudah lama tidak pernah aku baca," cetus adikku dengan jujur.


"Apa?!" Ayahku pun langsung terkejut. "Kau sudah lama tidak membacanya?" tanya ayahku seakan tidak percaya. "Ini baru beberapa hari yang lalu. Kau bilang kau sudah lupa," lanjut ayahku. "Nak, ini 'kan, berulang kali kemaren kau baca!" sambung ayahku dengan penuh penekanan. "Jangan buat Ayah semakin emosi!" kata ayahku mengingatkan adikku.


Aku yang terkejut bersama ibu sambungku diam dan terus diam. Suara serak adikku pun, mulai terdengar dengan jelas. Sontak suara itu pun membuatku berdiri dan melihat adikku dari pintu kamar ayahku yang terbuka.

__ADS_1


"Ayah, aku sudah mengingatnya, tapi aku tidak menemukannya." Adikku sedang terlihat membuka -buka lembaran.


"Ayah tidak ingin mendengar alasan. Buka lembarannya dan ingat sampai dapatmu!" Ayahku terus melihat adikku yang lagi membuka lembaran yang sebelumnya. Dia pun berusaha mengingat-ingatnya sampai dia pun menemukan jawabannya.


"Kaf," ucap adikku dengan lega.


Suara getir bercampur takut pun terdengar dari adikku yang khawatir akan omelan ayahku. Dia semakin berkutat dengan hatinya yang berkubang dengan kepanikan yang mendalam.


"Dik, jangan nangis!" Aku berdiri tepat di depan pintu kamar ayahku yang terbuka. "Nanti, Ayah marah dengan mu," kataku pelan dengan bibir yang bisa di baca oleh adikku yang mengangkat kepalanya sedikit melihatku.


Sorot matanya yang sudah terlihat berkaca-kaca seakan memberi tahu kalau dia baik-baik saja. Aku yang masih berdiri melihat adikku agar dia tidak merasa cemas tersentak dengan tepukan pundak yang mengejutkanku dari belakang.


Puk!


Aku pun spontan melihatnya. "Ibu," kataku pelan sambil menetralkan kembali mimik wajahku yang terkejut. "Ngapain, kau berdiri di sini, ha?" Ibu sambungku berdiri setelah dia menyiapkan makan malam di meja ayahku.


"Aku hanya melihat Ana mengaji." Aku pun menjawab pertanyaannya langsung.


"Hanya itu saja?!" Ibu sambungku bertanya kembali dengan gurat wajah sedikit menyimpan kecurigaan.


"Iya Bu," jawabku


"Iya Bu." Aku pun mengikutinya dari belakang dan meninggalkan adikku yang mengaji.


"Liyan, kau itu 'kan, sudah besar dan kau pun, sudah tau caranya, bagaimana menjaga adikmu?!" tukas ibu sambungku. "Nah, jadi begini, Nak! Jika adikmu lagi mengaji. Tolong jangan ajak dia bicara! Nanti, dia akan lupa dengan kajiannya. Kau tahu 'kan. Bagaimana ayahmu?" Ibu sambungku bertanya agar aku mengingat tentang ayahku. "Jadi, jika adikmu nanti tidak konsentrasi. Dia akan terkena Omelan ayahmu." Ibu sambungku masih saja berjalan melewati aku yang berdiri mengikuti ajakannya. "Adikmu itu cengeng. Dia tidak seperti dirimu yang kuat dan tegar."


Seketika aku berpikir, itu memang benar. Omelan ayahku bagaikan duri yang tajam menusuk adikku. Sepertinya, aku jadi ingat ketika dia terkena duri pelepah sawit. Betapa sedih hatinya kala itu sampai air matanya pun jatuh menetes, seperti banjir yang melanda. Isak tangisnya begitu sedih. Matanya yang netral terlihat kini merah, seperti cabai. Segugukkannya begitu memilukan sehingga membuat hatiku tersayat melihatnya.


"Sekarang kau di sini saja! Bantu Ibu untuk menyiapkan makan malam." Ibuku langsung menyerahkan piring dengan nada lembut. "Jangan terlalu cepat jalanmu! Letakkan pelan- pelan di atas meja," teriaknya sambil menyiapkan keperluan selanjutnya.


"Iya Bu," jawabku berjalan pelan.


Setiba di atas meja aku pun, meletakkan piring sesuai dengan perintah ibu sambungku. Aku meletakkannya tepat di dekat nasi yang terletak di tengah. Setelah itu, aku pun, kembali ke dapur untuk mengambil gelas yang akan di letakkan di atas meja juga. Setelah aku meletakkan gelas dan piring sesuai jumlah kami di rumah. Aku pun, kembali menghampiri ibu sambungku yang mengambil sendok untuk aku letakkan juga bersama dengan piring dan gelas.

__ADS_1


"Liyan!" panggil ibu sambungku dari belakangku.


"Iya Bu," sahutku sambil memutar badan.


"Apa sudah lengkap semua?" tanya ibu sambungku sambil memperhatikan meja.


Aku pun diam tidak menjawab pertanyaannya karena aku tidak mengetahui mana yang kurang dan mana yang lebih. Aku hanya bisa melihat.


Kini adikku telah selesai mengaji. Dia pun, berjalan sambil membawa Iqro' dan mukena yang dia gunakan.


"Kak!" panggil adikku mendekatiku.


"Iya." Aku pun refleks memutar badan ke belakang. "Ada apa, Dik?" tanyaku ingin tahu.


"Aku lapar Kak," ungkapnya setelah selesai mengaji.


"Kau lapar," sambut ibu sambung kami tiba-tiba dari belakang sambil membawa ceret.


"Iya, aku lapar. Tadi ngajinya lama sekali," keluh adikku sambil menelan ludah.


"Kalau tidak mau ngajinya lama. Makanya huruf itu harus diingat," timpal ayahku dari belakang.


Adikku refleks terdiam menutup mulutnya dengan rapat dan berdiri tegak melihat ke atas meja yang telah terhidang makanan kesukaannya.


.


.


.


❤️❤️❤️


Bersambung...

__ADS_1



__ADS_2