
"Kak, kalau Kakak mau masuk duluan, masuk aja. Aku belum mau," tolak adikku, melukis tanah kembali.
Berdiri dengan cukup lama dan membujuknya sangat sia-sia bagiku. Habis sudah kesabaranku melihatnya yang menulis tanah tiada henti.
"Ana, kalau Ayah tau kita di luar. Ayah akan menghukum kita lagi," ucapku, melihat lukisan wajah ibu yang kami rindukan.
"Kak, aku masih mau di sini. Karena aku rindu Ibu," kata adikku lirih, menghentikan coretannya.
Sekejap aku mendengarkan curahan hati adikku yang lebih suka melampiaskannya dengan sebuah lukisan. Wajah teduh dan penuh kasih sayang itu terpampang jelas di atas tanah.
Wajah yang tidak pernah usang dimakan waktu itu masih terlihat indah ketika tergambar di atas tanah yang adem. Senyum yang terlihat seketika anganku melayang mengingat sebuah foto yang pernah kulihat.
"Ibu sangat baik," gumamku pelan. Berdiri mengikuti ranting pohon yang berputar membentuk sebuah wajah yang sempurna.
Dengan samar-samar aku mengucapkannya tanpa tersadar sedikit pun. Foto yang aku lihat tidak pernah terlupakan oleh ingatan ini sampai kapan pun.
"Ana, kau lihat wajah Ibu dari mana?" tanyaku ingin tahu.
"Dari Ayah," jawab adikku singkat.
Gambar wajah penuh kasih sayang itu terpampang jelas di kedua bola mata ini. Tangan yang pertama kali menemukan foto itu terlintas kembali diingatan yang hampir luput.
"Ayah tau dari mana ?" tanyaku kepada adikku berpura seakan aku tidak mengetahui apa-apa.
" 'Kan Ayah bilang wajahku mirip dengan Ibu," jawabnya, mengerutkan kening.
"Oh-ho." Aku langsung menutup mulut dan mengalihkan pandangan menatap ke arah yang lain.
Diam-diam menatap nanar. Aku sangat lucu juga mendengarnya, ternyata adikku memberi jawaban yang bisa membuatku tertawa tiba-tiba.
"Dulu 'kan pernah Ayah bilang, Kak. Kalau wajahku mirip Ibu," cetus adikku, menyiapkan gambar wajah di atas tanah sesuai keinginannya.
__ADS_1
Gambar itu sungguh menyenangkan ketika ditatap dengan dalam. Wajah yang teduh dan penuh kasih sayang itu semakin terpampang indah di mata kecil yang belum pernah melihat dunia sang ibu dengan sempurna.
"Hahaha!" Tawaku terbahak lucu ketika melihat reaksi adikku yang mengucapkan itu kepada ku. Dia sungguh bangga dan merasa senang dengan muka imutnya yang berubah-ubah.
"Kenapa? Kakak jangan ketawa!" tegur adikku tidak suka dan kembali memberi pertanyaan yang tidak dia mengerti dari tawaku yang terdengar tiba-tiba.
"Itu aja, kau percaya. Ayah cuma menyenangkanmu saja supaya kau gak jadi, menangis," ledekku yang sekarang suka menjahili adikku.
Raut mukanya langsung manyun bercampur cemberut. Percaya diri dan bahagia yang tiada tara seketika hilang bersama ledekkan yang keluar menimpanya.
"Ana, Ayah cuma menghiburmu saja. Apalagi kalau kau banyak tanya. Kalau Ayah udah pusing mendengarnya. Ayah pasti bilang kayak gitu ?!" sangkalku kembali yang semakin senang membuat adikku merajuk.
Ranting pun dipegang adikku dan terhenti di atas tanah. Tidak terima dengan ucapanku. Dia diam mematung bercampur bersikeras menolaknya.
"Dik, dik. Kalau Ayah bilang begitu. Itu hanya ingin membuatmu diam dan gak merengek," ujarku semakin meledeknya yang sudah mau menangis.
"Ibu, Kakak jahat," kata adikku mengadu sambil menahan tangis. "Ibu Kakak bilang, kalau Ayah bohong," gumamnya pelan terus saja berputar melengkapi gambar dengan aduan yang khas dari adikku.
Manja dan dengan perhatian yang penuh, dia semakin sedih mengadu kepada sebuah gambar wajah ibu yang dia lukis.
"Ibu Kakak jahat. Dia gak sayang samaku," keluhnya yang tidak senang mendengarnya. Wajah cemberutnya yang imut monyong ke depan sebagai tanda isyarat kalau dia sedang sebal.
"Nanti aku bilang sama Ayah, kalau Kakak jahat," ancam adikku serius.
Rona wajahku langsung memerah ketakutan. Ranting kayu yang kutatap dengan serius seketika kualihkan melihat ke arah pintu yang terbuka.
"Ana, kau gak tau kalau Ayah sampai tau. Kita berdua yang kena hukum," bentakku sesal melihatnya.
Menolak tidak percaya, adikku menatapku dengan tatapan yang tajam. "Ayah gak akan menghukum kita lagi, Kak," balas adikku langsung.
Suara pertengkaran kami berdua ternyata terdengar oleh ayahku yang tanpa tersadari oleh aku dan adikku.
__ADS_1
"Ternyata kalian belum berubah juga, ya!" sesal ayahku dari depan pintu. Berdiri sambil berkacak pinggang.
Suara yang tiba-tiba terdengar begitu menggema di udara membuat bulu kudukku merinding. Delikan Ayahku ternyata begitu menggetarkan kaki yang sudah lelah berdiri.
"Sudah berulang kali Ayah bilang, jangan lagi bertengkar," terang ayahku. "Ayah tidak suka mendengarnya. Tapi masih saja kalian lakukan di belakang Ayah, cik, cik, cik!" lanjut ayahku tanpa berkedip sedikit pun dan berdecak kesal melihat kami. "Baru lagi sampai rumah, belum ada satu jam. Kalian tidak bisa tenang sebentar saja!" ucapnya yang kesal mendengar keributan dari luar. "Liyan, tadi Ayah bilang apa?" tanya ayahku kembali tegas. Apakah aku mendengar yang dibilangnya atau tidak?
Serasa berat aku ingin membuka mulut. Jenjang kaki ayah yang berdiri di depan pintu terpampang jelas terlihat dari pantulan matahari yang mulai naik.
"Ayah suruh masuk! Bukan bermain di sini dan ribut di situ!" sesal ayahku sebal bercampur kecewa karena berulang kali kami belum bisa menjalankan amanatnya.
Diam membisu seperti patung itulah yang bisa kami tunjukkan sekarang. Mulut yang tadi beradu ribut tidak lagi terdengar. Kini hanya ranting pohon jambu yang bisa terlihat berputar-putar kecil di atas tanah yang tidak mendapat teguran dari sang ayah yang kesal.
"Dari dulu kalian berdua engga pernah bisa akur Ayah lihat. Satu jam baikan. Nanti setengah hari kalian ribut bertengkar. Mau kalian itu apa sih, Nak?" tanya ayahku berputus asa.
Wajah sang ibu yang tergambar jelas di atas tanah seakan memberi kami nasihat juga. "Ini semua gara-gara Kakak," bisik adikku pelan, bergeser mendekatiku.
Amarah ayah yang membuatku membeku di tambah lagi dengan ocehan adikku yang menyalahkan aku.
"Kalau Kakak gak menyuruhku masuk. Ayah gak mungkin memarahi kita, Kak," sesal adikku mendalam.
Diri yang merasa terus disalahkan langsung mengerang tidak terima. Namun, semua kandas. Aku yang ingin membalas adikku terhalang karena ayah yang masih berdiri dengan delikan yang tajam.
"Ayah masih terus melihat ke sini," gumamku bercampur takut, melirik adikku yang masih memangku kekesalannya.
"Itu semua gara-gara Kakak. Coba saja Kakak gak memaksaku masuk. Ayah gak mungkin tau kita di sini," bisik adikku sebal.
Suara adikku sebenarnya membaut hatiku panas. Kalau saja ayah tidak berdiri di depan pintu aku sudah menyerang adikku kembali, pikirku. Akan tetapi, karena ayah berdiri dan mengintai kami terpaksa aku mengalah lagi demi ayah dan adik.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...