Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Berkumpul dengan teman


__ADS_3

Sesampai di jalan aku dan Widia berpisah. Widia membelok ke simpang yang lain. Sementara aku terus berjalan lurus menuju rumah.


"Liyan, kau sudah pulang?" tanya ibu sambungku.


Aku langsung menghentikan sebelah kaki yang ingin masuk. Memutar kepala melihat ibu sambung kami yang bertanya.


"Iya, Bu," jawabku. Berdiri tegak tepat di hadapannya.


"Ibu heran belakangan ini. Kenapa kau dan Adikmu tidak pulang sama lagi?" tanya ibu sambungku yang menaikan sedikit pandangannya melihatku, di ikuti oleh tangannya yang mencabut rumput.


Aku terdiam membeku. Kedua bola mata pun berputar-putar tak tentu arah, seperti mencari sesuatu yang sulit di temukan.


"Bu, jam pulang kami tidak sama," jawabku spontan. Aku langsung refleks ingat jawaban yang diberikan adikku kepada ayahku.


"Tidak mungkin," kata ibu sambungku menolak alasanku . Apalagi ini. Kalian menerima raport 'kan?" tanya ibu sambungku. Melirikku tajam.


Sepatu yang aku buka pun menggantung di atas udara, di ikuti oleh kedua tangan yang ingin membuka talinya seketika berhenti.


"Kalau yang kemarin mungkin iya, la," katanya. "Tapi ini 'kan beda. Hari ini kalian semua pulangnya sama," ucap ibu sambungku. Sedikit tercengang mendengar alasanku.


Aku semakin kusut. Aku tidak tahu lagi apa yang pantas untuk aku katakan. Jawaban pun kini sudah tidak ada lagi.


Memang ibu sambungku benar dengan apa yang dikatakannya. "Bu, tapi 'kan guru kami beda-beda, Bu," jawabku dengan harapan yang besar kalau ibu sambungku berhenti bertanya.


Sontak ibu sambungku menaikan tatapannya seakan dia menganggap kalau aku sedang bermain-main dengannya. Sorot mata yang dia layangkan langsung membuatku menunduk.


"Setahu Ibu, bel pulang itu sama," katanya dengan nada suara bercampur yakin dan tidak yakin. Mengerutkan dahinya seolah dia sedang berpikir


Aku semakin di tekan oleh pertanyaan ibu sambung yang duduk sambil mencabuti rumput.


"Bu, mungkin Ana duluan pulang," kataku kembali memberi jawaban yang lain.


Dia pun menggeleng dan menghela napas lelah melihatku yang banyak memberi alasan.


"Pergilah ganti pakaianmu," katanya.


Dia pun memutar arah duduknya kembali. Rumput yang belum selesai dia cabut kini dia lanjutkan kembali. Dia seakan belum percaya sepenuhnya dengan ku.


"Iya Bu," jawabku sambil membuka sepatu.


Sepatu hitam yang setengah sobek itu pun aku letakan di balik pintu tepatnya di tempat sepatu. Aku lalu masuk ke dalam kamar mengantungkan tas dan mengganti pakaian. Akan tetapi, sebelum aku membuka baju. Aku melihat ke sekeliling kamar mencari tas adikku dan gundukan plastik hitam yang teronggok di bawah kolong tempat tidur.


Mata pun terhenti di satu titik. Aku lekas maju melihat tas adikku yang terletak di atas tempat tidur. Baju pramuka yang kami kenakan hari ini untuk mengambil raport tidak terlihat sama sekali.


"Liyan, baju Adikmu gak ada di kamar," kata ibu sambungku berteriak seakan dia tahu kalau aku lagi melihat baju adikku.


"Iya, Bu," jawabku. Tepat berdiri di dekat jendela yang bersebelahan dengan halaman yang dia cabuti rumputnya.


"Tadi, dia pergi bermain. Waktu Ibu tanya dia hanya diam saja," katanya menjelaskan padaku.

__ADS_1


Aku sontak terkejut seakan aku mendengar kata -kata ibu sambungku, seperti lemparan batu yang keras mengenai atap rumah. Jantungku rasanya berhenti berdetak. Sorot mata pun menatap, seperti orang yang kepanikan.


"Kalau kau mau bermain, seperti Adikmu. Makan dulu. Ayahmu sepertinya lama pulang," kata ibu sambungku menerangkan dengan nada suara sedih.


"Iya, Bu," jawabku sedikit curiga kepada ibu sambungku ketika aku mendengar suaranya yang tidak seperti biasanya.


Baju pramuka beserta dengan kacu-kacunya pun aku lepas. Aku melepasnya dengan kedua jemariku sambil menatap lurus memikirkan adikku.


"Ibu, apa Ibu melihat Ana?" tanyaku. Berdiri.


"Ibu tidak melihatnya," jawab ibu sambungku, di ikuti oleh kedua mata dan tangannya mencabut rumput.


Aku sedikit kecewa mendengar jawaban darinya. Aku berdiri dan menatap sekeliling melihat adikku.


"Bu, aku pergi mencari Ana dulu, ya," kataku. Melangkah meninggalkannya.


"Liyan... !" panggil ibu sambungku.


Langkahku pun seketika berhenti dengan sebelah kaki kanan di depan dan sebelah kaki kiri di belakang kemudian aku menatapnya.


"...Ayahmu sebentar lagi pulang," kata ibu sambungku menatapku lekat sedikit ternganga dengan penuh tanda tanya.


"Aku cuma sebentar, Bu," jawabku.


Masih berdiri mematung di tempat kakiku berpijak.


"Kalau kau tidak lama. Pergilah! Tapi ingat! Jangan lama-lama pulang," tandasnya memutar badan kembali melanjutkan kerjanya.


"Kak, si Ana di sana," kata mereka langsung tahu ketika melihatku.


"Dia di sana Kak, bermain," kata salah satu dari mereka.


"Iya terimakasih. Akan Kakak cari ke tempat yang kalian bilang," kataku meninggalkan mereka.


Mereka tidak seperti biasanya ceria dan girang. Mereka seakan puas setelah menerima hasil raportnya.


Aku lalu memutar kepala ke depan tepatnya melihat lurus jalan yang aku lalui. Anak -anak di jalan ini pun bermain dengan riang juga. Aku semakin yakin lagi, kalau mereka ramai seperti ini itu karena besok akan libur panjang.


Aku bengong melihatnya karena hari ini tidak seperti biasanya, pikirku. Di mana banyak anak-anak yang memenuhi tanah lapang di siang hari ini. Segala permainan pun terlihat. Bahkan juga dengan anak laki-laki. Mereka pun bermain juga. Mereka bermain layang-layang dengan seru.


"Kak, Kakak mencari Liyan, ya?" tanya anak yang sudah tahu kalau aku kerap kali mencari adikku.


"Dia di sana Kak. Di samping rumah Kak Widia," kata mereka. Melirikku di ikuti oleh kedua tangan mereka menarik benang.


"Iya," jawabku pelan menahan sedikit nada suara.


Seketika air es yang dingin curah dari atas menimpa diri ini sehingga menyebabkan aku sangat sulit untuk melangkah berucap.


Nama Widia begitu membuatku murung. Aku hari ini tidak seperti biasa yang bahagia ketika mendengar namanya yaitu, nama Widia.

__ADS_1


"Apa kalian melihat Ana?" tanyaku.


"Si Ana? Ana yang mana, ya?" tanyanya menatapku dengan menyeringai seperti melihat orang yang menjijikan.


Aku lalu pergi meninggalkan mereka ketika sorot mata yang sinis itu melirikku.


Rumah Widia pun sudah terlihat. Aku semakin tidak nyaman ketika kakiku mulai menginjak halaman mereka.


"Kak Liyan," kata Rahmadani yang ingin masuk ke dalam rumahnya.


"Apa si Ana di sini?" tanyaku dengan lembut pada Rahmadani.


"Iya Kak," jawabnya. Menganyunkan sebelah tangan kanannya membuka pintu.


"Iya, ada apa Kak?" tanya adikku. Menghampiriku dengan seragam pramukanya. "Apa Ayah sudah pulang? Makanya Kakak kemari," kata adikku bertanya. Melihat aku yang terlihat cemas bercampur khawatir.


"Tidak," jawabku langsung.


"Jadi, Kakak ada apa kesini?" tanyanya menatapku dengan sorot mata yang heran.


"Kakak cuma ing... ." Aku langsung terdiam setelah aku melihat Widia keluar.


Aku langsung berhenti berkata dan memutar badan langsung melihat suara yang memanggil yang tidak lain adalah suara Widia.


"Widia ?" gumamku pelan seakan malu ketika aku melihatnya aku langsung teringat kata-katanya tadi.


Widia pun berlalu begitu saja dia berjalan bak seseorang yang tidak pernah mengenalku.


"Rahmadani, nanti tutup pintunya langsung," seru Widia dengan acuh.


Aku seperti tersambar petir di siang bolong ketika mendengarnya.


"Tapi Kak, kami belum bermain," kata adikku dengan nada suara yang sedikit shock mendengarnya.


"Kalian tidak usah bermain. Hari ini Rahmadani mau tidur siang," kata Widia langsung menutup pintu.


Baug!


Aku langsung terkejut mendengar suara pintu yang keras itu.


"Ana, sekarang kita pulang saja!" kataku mengajak adikku. Berjalan.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


Yuk! Teman-teman mampir ke novel teman aku ya !🙏🥰



__ADS_2