Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Mengembalikan senyum adikku


__ADS_3

"Kakak besok jangan lupa! Isi absen dulu ke kelasku, huh!" ledek adikku mendengus memutar badan menyamping dariku sambil cemberut.


"Isi absen?!" kataku berpikir sedikit menggantung. "Bagaimana caranya?" tanyaku kembali bertanya pada adikku.


"Setelah bel bermain. Kakak langsung datang dan berdiri di samping pintu kelas kami. Sebelum Kakak melihatku. Kakak tidak boleh pergi!" lanjut adikku yang tidak masuk akal itu.


"Jadi, kalau Kakak tidak melihatmu, bagaimana? Apa Kakak harus di situ saja berdiri? Itu 'kan tidak mungkin?!" kataku sambil mengayunkan kedua tangan ke udara sebagai isyarat menolak.


Di dalam kamar. Kami berdua masih saja bergulat dengan permasalahan yang tadi. Mengenai permintaan ayahku atas diriku. Ruangan kamar yang seharusnya untuk pelepas penat akibat lelah ini malah menjadi ruangan yang mencari jalan keluar atas setiap masalah yang singgah. Bukan hanya sekali ini saja, bahkan setiap kami berada di dalam kamar, kami itu selalu bermasalah.


"Lalu bagaimana, Kak?" Adikku bertanya kembali padaku seakan dia bersikeras bertahan dengan yang dikatakannya. "Yang mengalah itu seharusnya, Kakak!" Adikku menatapku dengan penuh. "Karena Kakak itu 'kan, Anak paling besar, seperti kata Ayah. Jadi, Kakak besok yang harus menemuiku terlebih dulu," lanjut adikku dengan tegas.


Seketika pandanganku melayang tak tentu arah. "Bagaimana kalau yang bermain itu kalian lebih dulu?" tanyaku dengan pelan seakan aku seperti terhempas. "Apa Kakak harus izin untuk keluar?" Aku menatap nanar dengan kosong.


Adikku seketika terlihat tertekuk seakan dia terperangkap dengan keinginannya sendiri. "Tidak perlu, Kak," jawab adikku seakan menyerah. "Nanti kalau Kakak di marahi oleh guru kakak, bagaimana?" tanyanya kembali menatapku.


"Iya, Dik. Kau benar," jawabku. "Ya sudahlah, besok akan di pikirkan." Aku langsung berbenah diri.


Aku dan adikku bersiap-siap untuk mandi. Segera mungkin kami bergegas merapikan alat-alat sekolah dan tempat tidur. Aku pun tidak lupa melipat selimut yang tadi aku ambil untuk menutupiku. Bantal yang bergeser sedikit pun tak lupa aku benahi.


Matahari yang tadi cerah membakar bumi kini menyempit di awan tebal yang menggulung. Senja pun mulai keluar sebentar lagi. Kedua mataku yang menatap nanar langit yang telah berubah langsung aku lepaskan dari awan yang menerbangkan anganku.


"Ana, susun bonekamu dan rapikan tas serta seragam sekolahmu! Kita akan segera mandi sebelum Ibu masuk ke dalam kamar ini," kataku menatap adikku dengan sedikit perintah.


"Iya ... ." Adikku diam menatap tirai. "Ibu tersayang Kakak itu! Sekarang sudah mulai mematai kita," ucap adikku memutar pandangan kembali melihat tas dan seragamnya.


Aku pun terdiam seakan tidak percaya kalau adikku masih saja sama. Dia masih belum mau mengucapkan kata ibu terhadap ibu sambung kami. Sepintas anganku mengingat sesuatu yang memenuhi memori ingatanku. "Ternyata, adikku masih sama. Dia belum mau memanggil Ibu pengganti kami dengan sebutan Ibu," gumamku pelan dan tercengang menatap adikku.


Anganku pun mengingat kenangan yang aku saksikan beberapa hari yang lalu. Aku yang masih merasakan itu bukan mimpi. Belum bisa move on bahwa adikku dengan jelas memanggilnya ibu. Betapa senangnya hatiku ketika mendengarnya. Harapan besar serasa berada di dalam genggaman. Akan tetapi, setitik kelumit kekeliruan akhirnya, semuanya berubah.


Kebahagiaan sirna kembali. Aku pun berjalan dengan pelan menatap ke bawah dengan harapan kosong. Melipat selimut dan meletakkannya di atas tempat tidur. Bantal dan tikar yang menjadi alas tempat tidur kami kini aku tarik hingga rapi. Aku yang berbenah melirik adikku dengan sedikit kekecewaan.


Adikku yang lagi memegang bonekanya, dia masih belum rela menyimpannya. Aku melihat dia masih menimang bonekanya dengan manja. "Ana, Kakak sudah selesai menyusun ini!" kataku. "Sekarang, Kakak akan mandi." Aku menatapnya kembali. "Kau belum mau mandi, ya?" tanyaku pelan.


"Mau Kak," jawabnya melihatku. Dia pun segera meletakkan bonekanya di atas tempat tidur. Boneka yang imut dan lucu terlihat seperti, bernyawa karena adikku begitu istimewa memperlakukannya. "Aku menidurkan bonekaku dulu, ya, Kak." Dia meletakkan bantal di atas kepala bonekanya.


"Ooh!" Aku hanya mengatakan itu melihat adikku yang payah. Aku begitu melongo melihatnya, memperlakukan boneka itu.


"Istimewa sekali boneka itu ... ," cetusku mendekati adikku. "... di perlakukan seperti itu !" Aku menunjuk bonekanya dengan kedua mata.

__ADS_1


"Biar dia tidak menangis, Kak," balas adikku yang membuatku menatapnya tanpa berkedip. Melongo.


Seketika tiba-tiba aku tersadar. "Hahaha hihihi!" Aku pun tertawa geli meledeknya. "Kau sudah terlihat seperti, Ibu, Ibu. Hihihi!" Aku memutar badan berjalan meninggalkan adikku sambil menutup mulut.


Hihihi! Aku masih terus tertawa sambil merapatkan kedua bibirku melangkah dari kamar keluar mengangkat tirai. Tingkah adikku masih saja menggelitik diriku saat ini sambil berjalan.


"Kak, tunggu !" Adikku mengejutkan aku dari belakang.


"Iya ." Aku langsung menatap adikku. "Kau sudah menidurkan, Anakmu?" Hihihi!" Aku menutup mulut sambil menunduk.


"Jangan bilang aku! Ibu, Ibu, ya!" gerutu adikku memberi larangan keras padaku. "Aku masih kecil," sambungnya dengan sebal mengerutkan kening.


"Mmm!" Aku pun beranjak merangkul adikku melihat ke atas sedikit sambil mengerjitkan kedua mata. "Baiklah! Asalkan, kau tidak mengikuti permintaan, Ayah," kataku melirik adikku yang berjalan bersama di samping dengan ku. "Hm!" Aku pun mendehem menantang adikku sambil menaikkan alis.


Adikku spontan mengatur jalannya sedikit lama. "Kenapa Ayah dan Kakak semakin menekanku?" tanya adikku tidak terima. "Aku jadinya bingung, Kak. Harus mengikuti siapa?" keluh adikku sambil berjalan membawa peralatan mandi.


Di dalam langkah aku menatap adikku. Aku tak pernah beristirahat untuk menjadi Kakak yang baik dan selalu menghiburnya dengan beragam guyonan kata-kata yang dapat membuat dia kembali membaik. Melihat keceriaannya adalah obat semangat untuk ku.


Aku yang sedikit merasa harus memenuhi tanggung jawab sebagai seorang Kakak terhadap adiknya berusaha memberikan contoh yang terbaik bagi adikku. Aku yang tak pernah mendapatkan kasih sayang yang utuh dari kedua orang tuaku tidak pernah merasa keberatan untuk menjaga adikku meskipun adikku terkadang menjengkelkan dan membuatku jengah.


Aku selalu memutar pikiranku agar adikku terus tersenyum sepanjang aku masih selalu bersamanya. Tidak jarang, adikku sering kali membuatku kesal dan membuatku di marahi oleh ayahku. Namun, aku tetap berbesar hati atas sikapnya yang belum sepenuhnya mengerti. Sebenarnya, aku pun demikian juga. Aku juga belum sepenuhnya mengerti. Akan tetapi, desakan usia yang terpaut sedikit jauh darinya menuntunku untuk menjadi anak yang lebih bersikap terpuji.


Sebisa mungkin aku memupuk kesabaran untuk menjalaninya. Sekarang inilah yang aku lakukan. Di saat adikku kebingungan harus mengikuti kemauan siapa?


"Ana, kau harus mengikuti Ayah," saranku pada adikku. "Karena Ayah adalah orang tua yang menghubungkan kita dengan Allah. Orang tua tidak pernah membuat Anak-anaknya tertekan." Aku berjalan menatap lurus ke depan membayangkan wajah ayahku yang senja.


"Kakak tahu dari mana?" tanya adikku.


"Dari guru agama Kakak," jawabku sambil meletakkan sabun dan handuk.


"Ooh!" Adikku mengangguk. "Jadi, Kalian sudah belajar tentang orang tua?" tanya adikku dengan penuh penekanan menatapku.


"Iya," jawabku dengan polos.


"Pantesan, Kakak sudah bersikap seperti, Ayah ... ." Adikku berdiri sambil membuka pintu kamar mandi.


"Bersikap seperti apa ?" tanyaku tidak mengerti.


"... dikit-dikit mengasih wejangan, pttff!" Adikku menahan tawa sambil menutup pintu.

__ADS_1


"Kakakku sudah tuaaaa, hihihi!!!" teriak adikku tertawa geli dengan senang meledekku


"Ana, itu 'kan, cuman sebatas nasihat," tandasku tidak menerima yang dibilang oleh adikku.


"Kakak tua, Kakak tua, Kakak tua, hihihi!" Adikku dengan senang layaknya sedang bernyanyi seakan meledekku. Suara adikku yang keras seperti, menyanyikan sebuah lagu keluar menyusup ke telingaku.


"Ana, kau tidak perlu bernyanyi seperti itu!" jeritku dari luar.


"Kenapa Kakak tersinggung ?" tanya adikku.


Srrr! Srrr! Srrr!


Suara air pun terdengar seperti, dia sedang membasahi tubuhnya.


"Siapa yang tersinggung? Engga ada." Aku menolak kalau itu sengaja dinyanyikan untuk aku.


"Cik, cik,cik!" Suara decakan terdengar dari adikku. "Kak, jangan lupa! Kalau Kakak itu sudah layak sebagai orang tua, hihihi!" Adikku semakin tertawa puas sambil berdiri di depan pintu kamar mandi.


Daaaarrr! Dia pun berdiri di hadapanku yang aku masih melihat kebawah sambil memikirkan ucapan adikku.


"Anaaa!" teriakku mundur ke belakang meloncat. "Kau ini! Suka kali mengagetkan, Kakakmu ini!" kataku dengan nada suara sedikit keras.


"Kak, Kak! Gitu aja terkejut." Adikku menggeleng kepala. "Gimana mau sembuh?" tanyanya sambil menarik lenganku. "Sekarang Kakak mandi, pergi sana! Biar cepat kita pulang!" tandas adikku.


"Kau ini sudah seperti, orang tua saja!" cetusku. Melangkah masuk kamar mandi.


"Engga! Aku ini masih kecil. Masih Adik-adik," balas adikku.


"Dari mana kau tahu?" tanyaku bergurau kembali.


"Kok dari mana sih, Kak ?! Aku 'kan, Anak paling kecil," ungkap adikku menekankan. "Sampai kapanpun, aku akan tetap, Anak kecil, hihihi!" Dia semakin puas menggodaku.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2