
"Ana, kau lagi ngapain?" tanyaku berteriak memanggil adikku.
"Kenapa memanggil adikmu?" Ada perlu apa?" tanya ibu sambungku penasaran.
"Eh, Ibu." Aku terperanjat memutar badan melihat ibu sambungku. "Aku ingin mengajak Ana berjalan keluar," jawabku.
"Mengapain kalian lagi mau keluar jalan-jalan ? Ini 'kan sudah hampir mau Maghrib," lanjut ibu sambungku kembali memutar badan berjalan keluar mengambil sapu lidi.
"Aku hanya ingin berjalan keliling rumah ini," ucapku.
"Nak, rumah ini memang tidak lebar. Tapi, hari sudah mau Maghrib, nanti kau bisa kesambet," timpal ayahku yang terlihat berdiri sedang merogoh kantong celananya yang tergantung.
"Ayah, ini 'kan masih sore," kataku dengan nada suara pelan. "Masih juga jam 17. 10 WIB." Aku menatap ayahku yang berdiri sedang menghitung uang.
"Ayah, Kakak, apa yang kalian bicarakan?" tanya adikku yang tiba-tiba berdiri.
"Ini..., Kakakmu mau keluar jalan-jalan," jawab ayahku yang masih fokus melihat dan merapikan uang.
"Asyik dong..., Ayah, berarti hari ini kami boleh dong bermain," cetus adikku dengan gembira.
"Ayah belum mengatakan kalau kalian boleh bermain." Ayahku langsung menatap adikku.
"Tapi 'kan sudah lama kami tidak pernah bermain lagi," ungkap adikku.
"Iya Ayah. Ana benar! Kami sudah lama tidak bermain lagi. Semenjak Ayah memberi hukuman karena kami terlambat pulang sekolah," imbuhku.
"Iya Ayah. Ayah sudah satu minggu tidak pernah mengizinkan kami bermain," ungkap adikku.
Ayahku yang memilah Pakaian yang tergantung. "Itu belum seberapa, Ana? Ayah belum pernah memberi hukuman pada kalian dengan main-main," tandas ayahku dengan penuh penegasan.
__ADS_1
Aku yang berdiri melihat mereka berdua saling mengutarakan isi hati mereka. Adikku yang terlalu tergila-gila dengan bermain. Semakin bersikeras merayu ayahku untuk bermain. "Kasih kami bermain sebentar saja, Yah." Adikku terus merayu ayahku dan tidak mau pergi darinya. "Karena sudah satu minggu kami tidak pernah bermain lagi," ungkap adikku.
Sementara ayahku yang terlihat bingung dan gelisah terus saja berjalan tidak tentu arah dan ayahku pun tidak melihat adikku sama sekali yang berbicara dengannya. Wajahnya terlihat begitu kusut. Sekan hidupnya tidak bersemangat. Sepertinya ayahku lagi memikirkan sesuatu. Aku terus saja menatapnya dengan dalam. Kegelisahannya semakin memenuhi ruang hidupnya saat ini. Dia sama sekali tidak bersemangat dan berjalan dengan pandangan kosong seperti orang yang kebingungan.
"Sudah satu minggu, Nak?" tanya ayahku melihat adikku sepintas. "Berarti sudah lama, ya?!" Ayahku menumpukkan empat potong pakaian yang kotor.
"Iya, Ayah. Sudah lama kami tidak bermain keluar," sambungku sambil melihat ayahku yang berputar membereskan yang belum bersih.
"Iya Ayah, Kakak benar. Kami sudah jenuh di dalam rumah," rengek adikku dengan sedikit cemberut.
"Jadi, kalian marah pada Ayah, nih?!" Ayahku menatap kami dengan senyuman sejuta masalah.
"Iya Ayah," jawabku dengan tenang.
"Kami marah sekali pada Ayah." Adikku menyambung sambil melipat kedua tangannya berdiri . "Ayah jahat," lanjutnya sambil melempar pandangan ke arah yang lain.
Melihat ayahku yang berjongkok dihadapan adikku membuat aku terharu. Aku yang berdiri tepat di dekat kamar ayahku masih melihat ayah dan adikku. Mereka berdua masih saja berkubang dengan segenap keputusannya masing-masing. Adikku yang ingin segera dikabulkan kemauannya tidak mau mendengarkan apapun. Lain halnya dengan ayahku juga yang masih bersikukuh dengan keputusannya sama sekali belum mau memberi sedikit ruang untuk kami keluar rumah. "Kalau Ayah jahat. Ayah tidak mungkin menjaga kalian dengan keras seperti ini," tukas ayahku melihat ke bawah.
Kasih sayang ayahku terhadap kami memang tiada tara. Selama ini aku meyakini ayahku memang sangat berjuang demi kami si buah hatinya. Dia senantiasa mengarungi segala rintangan yang menghadang di kala dia berjalan. Peluh keringat yang menjadi saksi perjuangannya tidak bisa terbalaskan oleh apapun.
Aku yang melihat dan mendengarkan alasan ayahku sangat terharu sebab ayahku begitu mempedulikan kami. Semenjak dari ibu kami pergi untuk selama-lamanya ayahku sudah mengambil peran ibuku yang siap siaga menjaga serta mengurusi kedua anaknya hingga beranjak besar dan menjadi anak yang baik. Semenjak dari situlah ayahku selalu menjaga dalam setiap ucapan, perbuatan dan tingkah laku kami yang tidak senonoh. Ayahku selalu menjadi pahlawan super hero bagi kami.
Sampai saat ini adikku masih saja berusaha dengan keras agar agar ayahku memberi izin sebentar saja. "Kayak mana Ayah tidak jahat. Toh sampai sekarang Ayah belum mengasih kami bermain diluar." Adikku badannya ke arahku.
"Padahal kami hanya bermain di sini saja-nya, Yah," sambungku melengkapi omongan adikku.
Ayahku yang mendengar ucapanku langsung bangun dari jongkoknya. Perlahan ayahku menatap kami dengan sendu sambil menarik napas panjang.
"Ya, Yah. Kami boleh bermain, ya?!" pinta adikku bertanya pada ayahku dengan pengharapan yang besar.
__ADS_1
"Iya, Ayah sebentar saja," rengekku pada ayahku.
"Tapi, Nak. Kau itu masih sakit," ujar ayahku meninggalkan kami. "Ayah tidak mau kalau nanti sakitmu makin parah lagi...," ucap ayahku.
"... karena sakitmu sudah hampir mau sembuh," sambung ibu sambung kami memotong omongan ayahku.
"Ibu," gumamku langsung memutar kepala ke arah sumber suara.
"Benar kata i..., " Tiba-tiba ayahku menghentikan yang ingin dia ucapkan.
"Tapi kami cuman sebentar aja, Yah." Aku melihat awan yang bergemuruh.
"Kami tidak bermain jauh -jauh, Yah," kataku dengan jujur.
"Kalau begitu kalian nanti jangan lupa angkat pakaian di jemuran!" Ibu sambung kami langsung menyapu halaman.
"Iya Bu," jawabku.
.
.
.
Bersambung...
Terimakasih teman-teman telah memberi like, komentar dan favoritnya. 😊🥰🙏
❤️❤️❤️
__ADS_1