
"Liyan, kau sudah puas atau belum bermain?" tanya ibu sambungku kembali di atas becak.
"Sudah Bu," jawabku menyembunyikan yang sebenarnya di dalam hatiku kalau aku belum puas bermainnya.
"Mmm, ini baru Anak yang baik," kata ibu sambung kami memujiku dengan sedikit sindiran pada adikku.
Aku turun dari becak yang sudah berhenti.
"Hati-hati turunnya! Jangan buru-buru," tegur ayahku. Meminggirkan becaknya tepat rapat ke dinding rumah uwaku.
"Teringatnya kemaren becak ini rusak. Apa sudah bagus?" tanya ibu sambungku tiba-tiba teringat. Turun dari becak.
"Ooh, iya Ayah. 'Kan kemaren Ayah menjemput kami ke sekolah naik becak barang." ucap adikku langsung. Membawa boneka dan anak BPnya turun dari becak.
Aku lalu berdiri melihat adik dan ayahku.
"Naik becak itu enak, Yah," sambungku dengan menarik bibir ini hingga terlihat manis.
"Iya Ayah. Baaaanyak sekali yang aku lihat," kata adikku dengan gurat wajah senang menceritakan tentang itu.
"Oh, iya. Jadi, kalian suka naik itu," ulang ayahku kembali mengatakan apa yang di katakan oleh adikku. "Ada -ada saja Anak Ayah ini. Kalau Anak orang itu senang naik mobil. Ini malah naik becak barang, hahaha !" lanjut ayahku dengan tertawa.
"Anakmu 'kan sudah biasa hidup sederhana. Bahkan di rumah saja tidak ada tv sampai sekarang orang ini bahagia, cik, cik, cik!" ungkap ibu sambungku berdecak.
"Uang Ayah 'kan tidak ada. Ya 'kan, Yah?" kataku melayangkan pertanyaan pada ayahku.
Ayahku seketika diam menarik bibirnya tersimpul.
"Aku bersyukur mempunyai Anak seperti mereka yang tau diri dengan keadaan orang tuanya," balas ayahku. Mengelus kepala kami berdua.
"Tapi nanti kita pasti punya tv 'kan, Yah?" lanjut adikku bertanya. Melirik ayahku yang mengelus kepalanya. Di ikuti oleh tangan sebelah kanannya menyerahkan mainan anak BP ke tanganku.
"Halah. Gitu saja, kok bangga. Kau beruntung karena Anakmu masih kecil. Yang di butuhkan mereka saat ini cuma satu yaitu, uang jajan. Hihihi!" kata ibu sambungku tertawa geli mendengar omongan ayahku. "Itu hanya omong kosong. Kalau kedua putrimu ini tidak mau ikut-ikutan dengan yang lain. Itu bohong. Mana ada Anak yang mau terus menerus hidup seperti ini!" tandasnya.
Ayahku langsung menatap kami berdua dengan sendu.
"Tapi aku percaya dengan kedua putriku," kata ayahku. Memutar badan menutup becak. "Setiap orang tua pasti tau tentang kedua Anaknya," sambungnya merapikan penutup becak.
"Itu omong kosong, hahaha !" Mana ada Anak yang mau menunjukkan hidup orang tuanya yang susah. Aku saja malu mengatakan pada teman-temanku kalau suamiku seorang pembawa becak dayung, hiks. Memalukan," ucapnya dengan pedas hingga membuat ayahku lesu.
Sepertinya ayahku begitu terhenyak mendengar kejujuran dari mulut istrinya itu.
"Ayah tapi kami tidak malu," jawabku dengan lugas.
Ayahku hanya diam memutar badannya melayangkan segaris senyuman hangat di hadapan kami.
"Nak, Ayah juga senang," jawab ayahku mengusir kepedihan di dalam hatinya. Dia pun menggenggam kedua tanganku dan adikku dengan erat.
__ADS_1
Menatap lurus ke depan dengan menyimpan sejuta kesedihan di dalam sorot matanya. Dia terus saja menggariskan sebuah senyuman untuk menutupi kesedihannya.
"Wajar saja . Kalau kedua Anakmu membelamu. Karena kau 'kan orang tuanya," sindir ibu sambung kami dengan pedas. Lagian ya, kau sangat beruntung. Aku benar-benar memujimu. Memiliki Anak yang masih kecil dan sangat percaya dengan omongan mereka," cibir ibu sambung kami dengan puas.
Ayahku terus berjalan menapaki jalan malam yang semakin larut. Angin malam yang berembus semakin dingin seakan menghapus jejak langkah dan hati yang pedih.
"Ayah anginnya dingin," kataku. Melirik ayahku sambil menahan bibir ini dengan kuat. Berjalan.
"Ayah, aku sudah mengantuk," ucap adikku. Melihat ayahku sementara tangan sebelah kirinya memegang boneka dan anak BPnya.
"Jangan ada yang merengek karena mengantuk. Nanti alasan tidak sanggup jalan lah, tidak bisa melihat lah dan banyak kali nanti alasan kalian," cibirnya terus menerus.
"Kalau mereka mengantuk. Yang menggendongnya 'kan aku," balas ayahku dengan lembut. Berjalan.
"Tapi Anak itu tidak boleh terus di gendong. Nanti mereka malas berjalan. Makanya Anakmu yang satu itu selalu minta gendong! Karena kau biasakan," cecarnya geram mendengar alasan suaminya. Memonyongkan bibirnya ke arah sebelah kiri sebagai isyarat menunjuk adikku.
Aku yang kedinginan pun melihat jalan dengan hati-hati. Sementara adikku yang sudah mengantuk terdengar bernyanyi-nyanyi kecil. Melihat bonekanya yang sering dia peluk di saat tidur.
"Sepatunya lepas, Yah," kata adikku dengan gurat wajah mengiba.
"Di mana lepasnya, Nak?" tanya ayahku dengan nada suara yang sabar.
"Ayah sendal jepitnya aku buang saja, Ya," harapku dengan menatap ayahku lembut.
"Sendal yang putus tidak usah di tanya. Buang saja!" balas ibu sambungku langsung memotong ucapanku.
"Kenapa, Yah?" tanyaku.
"Ayahmu mau menyimpannya," potong ibu sambungku.
"Ayah kenapa tidak boleh dibuang?" tanyaku kembali ingin tahu. Melirik ibu sambungku yang melipat kedua tangannya di atas dada, di ikuti oleh hand bag yang menggantung di lipatan tangannya.
"Itu masih bisa di perbaiki, Nak," balas ayahku. Menaikkan kepala melihatku, di ikuti oleh kedua tangannya memasangkan sepatu adikku.
" Sudah, Yah,' ucap adikku spontan.
"Masih longgar?" tanya ayahku.
" Tidak, Yah," jawab adikku.
"Dua-duanya tidak longgar?" tanya ayahku kembali.
" Iya, Yah," jawab adikku singkat.
"Itu sepatu Kakakmu memang sedikit besar darimu karena ukuran kaki kalian tidak sama," terang ayahku menjelaskan.
"Makanya, pakai sendal itu yang bagus. Jangan menggeliting," sela ibu sambungku.
__ADS_1
Aku semakin diam untuk mengatur langkah yang sangat sulit dan tidak nyaman untuk ku. Sendal jepit yang putus membuat lututku semakin terasa nyeri akibat kaki yang terlalu sulit untuk menyeret sendal yang putus.
"Ayah, kakiku sakit," rengekku. Berjalan tertatih-tatih menyeret sendal.
" Liyan, kalau sakit. Buka saja sendalmu!" seru ibu sambungku. "Ibu risih melihatmu. Berjalan seperti orang sakit parah," katanya dengan nada suara penuh penekan.
"Memang Kakak 'kan sakit," balas adikku langsung. "Iya 'kan Ayah?" bertanya pada ayahku.
"Liyan, kakimu yang mana yang sakit?" tanya ayahku langsung.
"Bukan yang jatuh tadi Ayah," jawabku menyembunyikan yang sebenarnya.
"Jadi yang mana?" tanya ayahku semakin heran.
"Ini, Yah," jawabku. Memajukan selangkah kakiku sebelah kiri ke depan sebagai isyarat memberitahunya pada ayahku.
"Oooh, jadi, itu," balas ayahku langsung.
"Nanti di rumah di perbaiki Liyan," kata ibu sambungku. Berhenti membuka pintu seakan mengejek ayahku.
"Ayah besok aku beli sendal baru, ya Ayah," harap adikku dengan mengiba.
Jeglek!
Pintu pun terhempas. "Jangan ada lagi yang membahas masalah sendal. Cuci kaki, cuci muka dan cuci tangan. Lalu tidur!" seru ibu sambungku.
"Nak, sekarang tidur lah. Kalian pasti lelah 'kan?" tanya ayahku. Berjongkok membuka sepatu adikku.
"Tapi, Yah. Kami mau berma... ." Aku langsung menutup mulut ketika sorot mataku tanpa sengaja bertemu pandang dengan sorot mata ibu sambungku yang mendelik melihatku.
"Mau apa, Nak?" tanya ayahku.
"Tidak ada ,Yah," jawabku langsung. Menundukan malu.
"Mau bermain Ayah," sambung adikku dengan lugas. Melirikku seakan adikku tau kalau yang ingin kubilang tadi adalah bermain.
.
.
.
Bersambung...
Yuk! Teman-teman mampir ke novel teman aku ya 🙏🥰
__ADS_1