Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Cercaan teman part 2


__ADS_3

Dinding sekolah yang tegak berdiri dengan kokoh melihat dan membelai tubuh mungil lemahku bersama sandaran hangatnya dan menghapus pilu. Semut -semut yang berbaris di dinding menatapku dengan curiga seakan penuh tanda tanya, ada apa dengan diriku?


Air mata yang menganak di pelupuk mata menatap lirih ke lantai sambil menahan butiran kristal yang jatuh membasahi kedua pipi.


Pagi ini aku begitu terasa seperti tersengat listrik, pukulan yang keras menghantam tubuh mungil Yang lemah sehingga membuatku bergetar terlempar jauh ke sudut dinding. Terdiam, hening dan kaku. Bibir pucat pasih yang bisa berbicara walaupun dengan terbata kini terlihat bergetar. Aku hanya bisa menelan ludah kepedihan yang membuat tubuh mungil lemah ini merasa kenyang.


Kehidupan keluarga yang serba kekurangan dan tubuh mungil yang sakit membuatku mendapat sarapan ke pedihan yang mengenyangkan setiap detik.


Penderitaanku begitu terasa menyeret kedalam lembah ke piluan. Ingin rasanya tangan ini mengambil dan membuang semua dengan jauh. Tapi itulah dunia! Dunia hanya bisa melihat dan menambah dengan sesukanya. Seandainya dia bisa membuang itu hanya untuk sementara.


Lagi-lagi aku begitu depresi mendengar apa yang tidak mau aku dengar hinaan, cacian bahkan cercaan yang membuat ubun-ubunku mau pecah.


Usia yang seharusnya di penuhi kebahagiaan. Ini malah di penuhi belenggu yang membuat diri ini semakin down.


Setiap detik aku hanya menanya pada diriku sendiri, apakah aku di cerca atau tidak hari ini? Setiap aku melangkah, pertanyaan itu selalu menemani seakan ia menjaga diriku agar aku tidak lari jauh darinya. Setiap detik aku harus menetralkan hati di saat yang tidak kuinginkan.


Widia begitu terlihat kasihan terhadapku, ia begitu setia berada di sampingku, menjaga dari cercaan Ecy dan Tania.


"Hey! Widia kau tahu apa tentang itu!" Pekik Ecy dengan suara meninggi. "Kau itu masih kecil belum tahu apa-apa."Lanjut Ecy. Sinis.


"Kau engga belum tahu tentang dosa." Sambung Tania. "Lagi pula Anak kecil kan tidak berdosa." Cetusnya. Melirik Widia.


Seketika aku terdiam melihat Widia yang mendapat hardikan dari mereka berdua.


"Widia, kita pergi saja dari sini." Ajakku dengan suara pelan. Menghampiri Widia. "Aku takut, suara mereka terlalu keras." Bisikku di telinga Widia. Gemetar melihat ke depan dan melirik Ecy dan Tania.


Lorong kelas yang di penuhi oleh bunga yang berbaris rapi mendengar suara mereka yang keras seakan tersentak dan ingin menjauh. Suara yang begitu mengusik ketenangan yang berdiri di atasnya.


"Hey Liyan! Kau kenapa mau pergi dari kami? Kau sudah malu ya? Tanya Ecy dengan nada suara pelan. "Makanya, kau itu engga usah sekolah disini!" Lanjut Ecy. "Ini sekolah untuk orang yang banyak uang. Bukan orang seperti kamu. Orang miskin! Uang jajan saja kurang!" Hina Ecy dengan wajah mengejek. Menyeringai.


"Ia betul Ecy!" Sambut Tania ketus. Mengayunkan kaki ke ujung batu dengan pelan. "Kau engga tahu, uang jajan kami!" Lanjut Tania dengan sombong. "Ini dia, banyakan!" Sambungnya kembali melebarkan uang ke wajah pucatku.


Sebelumnya aku yang berdiri diam mematung menunduk di samping Widia, diam dan mendengarkan apa yang mereka lontarkan kepadaku sambil mencengkram jemari dengan kuat, aku tidak merasa sepedih ini. Melihat uang yang di lebarkan Tania ke wajah pucatku membuat aku tidak bisa melihat apapun. Diriku begitu malu dan hina sehingga membuatku terpukul.


Mata yang indah seakan tidak sanggup melihat lagi. Seakan aku merasa telah melakukan kesalahan besar sehingga membuatku menutup mata.


Batapa tidak? Uang yang ia miliki memang tidak sebanding dengan uang yang aku miliki. Itulah kenyataan pahit yang harus aku akui.


"Widia, kita ke kantin saja, ayo!" Ajakku pelan. Melihat Widia.


"Ia sudah! Ayo Liyan kita ke kantin. Mereka terlalu jahat samamu." Cetus Widia. Melihat dengan kesal.


"Liyan, kau mau ke kantin? Engga usah, kau duduk di situ saja sampai bel masuk. Kau kan engga ada uang." Sindir Tania dengan sombong. Berjalan.


"Ia Widia, kau engga usah bawa Liyan, nanti dia meminta uangmu." Sambung Ecy dengan menyeringai. Seakan merendahkan Liyan dengan senang hati. "Kalau dia nanti minta uangmu. Uangmu jadi habis! Lalu jajanmu nanti apa?" Sambung Ecy kembali. Berjalan sambil melihatku dengan wajah merendahkan.


"Aku ada uang kok!" Ucapku pelan dan malu. Berjalan.


"Uangmu ada? Hahaha! Palingan cuman cukup beli permen dua." Sindir Tania melirik dengan tawa smrik.


Begitu terhenyak rasanya hatiku, seakan pukulan keras datang menghantam dengan sekuatnya sehingga membuatku tidak bisa mengangkat kepala dengan tegak.


"Palingan dia nanti meminta uang Widia." Sambung Ecy dengan mengejek. "Orang kayak dia mana ada uang jajan." Cetusnya.


"Ada kok uang jajanku! Tadi pagi Ayahku memberi aku uang seribu." Uacapku dengan polos.


Hahaha! Tawa Ecy dan Tania pun terdengar memecah bumi dengan keras. " Seribu! Seribu dapat apa?!" Sindir Tania sambil melihat uang jajan yang ia genggam.


"Dapatla Tania! Cetus Ecy dengan pelan. Melihat Ecy sambil tertawa mengejek yang di tujukan kepadaku.

__ADS_1


"Dapat apa? Tanya Ecy ingin tahu. Melihat Tania dengan penuh tanda tanya. Masuk kantin.


"Dapat Es lilin, satu!" Ejek Tania dengan sedikit menekan ucapannya sambil menaikkan bibir ke atas dengan wajah mengejek dan mengayunkan tangan satu jari ke udara sebagai isyarat membenarkan.


Kaki lemah yang melangkah begitu gemetar mendengar ejekan dari mereka. Rasanya kini menghancurkan seluruh bagian hidupku, seakan berteriak ingin menjauh dari mereka. Namun, lagi-lagi harus terhenti karena tubuh mungil lemah ini begitu menutup semua dengan rapat, hingga tak ada celah kecil sedikitpun untuk rapuh.


Sebisa mungkin aku terus bertahan dan menopang semua sendiri tanpa keluh kesah sedikitpun, apalagi penyesalan yang mendalam sampai harus memuat semua menjadi kusut.


Sementara Widia yang terus berada di samping berjalan bersama dengan ku. Seakan menutup pendengarannya dari perkataan Ecy dan Tania yang tidak terpuji itu.


" Liyan, kita sudah sampai di kantin." Ucap Widia. Melihat.


"Kita duduk di sini aja Widia!" Ajakku. Berjalan menghampiri kursi panjang yang terbentang dengan rapi di dekat dinding, tepat di sudut pintu.


"Baiklah Liyan! Kalau begitu kita duduk di sini saja." Cetus Widia. Duduk.


Demi jiwa yang rapuh aku harus bertahan. Duduk bersama kesedihan hati. Menikmati ke bersamaan berkumpul dengan teman yang lain di kantin. Merasakan hembusan aingin yang menyelip masuk di telinga sehingga membuat rambutku berserakan. Matahari yang hangat menyentuh tubuh seakan membakar semua cercaan yang menyapa tanpa di harapkan kehadirannya. Menahan butiran kristal kecil yang akan jatuh yang bisa membuat lantai merintih perih.


Tanah yang kuinjak seakan membantuku untuk berjalan dengan kokoh. Tawa dari anak-anak di kantin seakan menghiburku meskipun secara tidak langsung.


Aku dan Widia memesan makanan sesuai selera kami masing-masing. Makanan yang akan mengisi perut kosong. Kursi panjang yang kami duduki kini kami tinggalkan dan beranjak mendekati etalase yang terduduk kokoh di atas meja.


"Liyan, pesan apa?" Tanya Widia sambil melihat etalase. Berdiri dan menghampiri.


"Aku pesan donat saja." Jawabku melihat donat yang di taburi dengan toping cokelat diatasnya. Berdiri bersama Widia melihat etalase.


"Kalau aku Liyan! Aku mau pesan mie bumbu. Itu jajan kesukaanku." Lanjut Widia melihat mie yang terletak di dalam mangkuk kecil sambil melihat bumbu yang tersimpan di dalam wadah yang tertutup.


Para anak yang lain pun sibuk dengan melancarkan serangan mereka menghampiri uwa kantin yang terlihat sibuk melayani beberapa guru. Sehingga membuat ia kewalahan.


Uwa itu yang tidak lain ialah uwa Elis yang telah bertahun -tahun jualan di sekolah kami. Dia sangat ramah dan suka bercanda makanya, banyak murid dan guru suka datang membeli ke kantinnya. Dia yang telah lama berdiri, menghampiri kami berdua. Menanyakan apa yang kami inginkan.


Hahaha! Tawa Widia dan aku pun terdengar seketika yang membuat Ecy dan Tania terlihat begitu memanas hingga wajahnya memerah seperti api.


"Aku beli mie bumbu saja uwa." Ucap Widia datar. Menelan ludah.


"Kalau nak Liyan pes...." Tiba -tiba uwa Elis terhenti melanjutkan omongannya.


"Uwa kalau dia engga usah di tanya! Uangnya itu engga ada, nanti dia engga bisa bayar uwa." Potong Ecy. Melemparkan lirikan ke arahku dengan sinis menyeringai.


"Ia uwa! Nanti uwa bangkrut." Timpal Tiani. Mengambil gorengan.


"....engga boleh begitu, kalian itu kan berteman. Jadi, sesama teman engga boleh mengejek, itu dosa. Tau dosa kan, nak? Lanjut uwa Elis melihat Ecy dan Tania sambil menyiapkan pesanan mie bumbu. "Kalau dia engga punya uang engga apa-apa! Uwa akan ngasih! Engga perlu di bayar asalkan jangan mencuri karena mencuri itu berdosa dan merugikan orang lain. Kalau kita ngasih tanpa di bayar itu berpahala nak, itu namanya sedekah." Berjalan mengambil sendok.


"Kalau sering -sering, kita bisa miskin dong uwa." Balas Tania spontan. Mengunyah gorengan.


"Siapa yang bilang miskin?! Itu orang bodoh!" Uwa bersedekah! Uwa engga miskin, tapi uwa makin di sayang, hahaha" Cetus uwa Elis dengan membuka sedikit bibirnya. Melihatku sambil memberi donat yang aku pesan.


Ecy dan Tania begitu resah terlihat mendengar nasehat dari uwa Elis sehingga mereka mengalihkan topik pembicaraan ke arah yang lain. Wajah kesalnya terlihat begitu menghantam diriku yang menjadi bahan perbincangan.


Mereka begitu mengigit kedua geraham dengan kuat. Sehingga membuatku secepat mungkin mengambil donat dari tangan uwa Elis .


"Terimakasih Uwa." Jawabku. Menunduk sambil memutarkan badan. Sementara Widia masih berdiri dengan mie bumbu di tangannya seolah-olah ia ingin bergabung dengan mereka berdua.


"Uwa sendoknya mana?" Tanya Widia. Berdiri sedikit merapat mendekati Ecy dan Tania. Widia sepertinya ingin sekali menelan mereka berdua terlihat dari tatapannya yang tajam dan wajah yang ketat.


"Aduh nak! Berarti Uwa lupa kerena Uwa terlalu senang menasehati." Ucapnya sambil tersenyum. Berjalan dan mengambil sendok yang terletak di sudut etalase. "Ini sendoknya!"


"Terimakasih Uwa." Sahut Widia berjalan meninggalkan uwa Elis, Ecy dan Tania. Berjalan dengan membawa mie bumbu di tangannya duduk di dekatku.

__ADS_1


"Kalian berdua jangan suka mengejek teman yang seperti itu!" Ucap uwa Elis menasehati dengan lembut. "Itu tidak baik, nak! Kalau orang lain dengar, Uwa yakin pasti kalian di marahi." Tandas uwa Elis. Menatap Ecy dan Tania lekat.


"Uwa, kami kan cuman mengasih tau sama Uwa. Kalau orang jualan engga boleh ngasih hutang." Sambung Tania. Kesal.


Seolah -olah Tania merasa kalau penyebab uwa Elis mengatakan seperti itu kepada mereka berdua adalah gara-gara aku. Sehingga wajah piasnya pun begitu tajam melirikku.


Mereka berdua seakan tidak terima atas penyampaian uwa Elis. Semua yang kudengar meskipun pelan begitu membuat hatiku terobati seketika walaupun hanya sesaat.


Donat cokelat yang mengisi ke pedihanku begitu lembut menyelip di tenggorokanku.


Sorot mataku yang nanar melihat, mencoba mengajak Widia untuk berbicara.


"Widia, mereka begitu senang menertawaiku." Ucapku dengan lirih. "Aku melihatnya dari ekor mataku mereka begitu senang." Memegang donat.


Kemudian Widia menghentikan sendok yang mengayun di udara mendekati bibirnya. Dengan tatapan spontan ia pun melihat Ecy dan Tania yang duduk di ujung kursi yang tepat bersebalahan dengan ku.


Tawa mereka begitu garing dan sinis melihat ke arahku seakan aku begitu menggelikan bagi mereka.


"Liyan, kau diam saja! Jangan lawan mereka. Aku takut kalau nanti mereka akan memukulmu." Dan guru pasti akan memarahimu dan membela mereka karena mereka anak orang kaya." Cecar Widia dengan lirih. Melihatku dengan wajah memohon dan sedikit mengangguk sebagai isyarat kalau aku harus mengikuti apa yang di sampaikan olehnya.


"Ia Widia! Aku juga engga berani sama mereka. Aku takut Ayahku nanti pasti akan memarahiku. Karena Ayahku tidak suka kalau aku bertengkar dengan siapapun." Cetusku sambil memasukan donat ke mulut dan menggigit. Sendu.


"Emang Ayahmu engga pernah membelamu di saat kau bertengkar dengan temanmu?!" Tanya Widia ingin tahu. Memasukkan suapan terakhir ke dalam mulutnya.


"Membela kalau diluar, tapi....!" Tiba -tiba aku menghentikan ucapanku selanjutnya. Melihat donat yang tinggal sedikit di tangan dengan lirih dan mendesis pelan.


"Tapi....apa Liyan?" Tanya Widia ingin tahu. Menatapku lekat.


"....kalau sudah sampai rumah aku di marahi kembali oleh Ayahku." Lanjutku dengan menahan kesedihan. Memasukkan potongan donat yang terakhir ke dalam mulut dengan perlahan. Memutar kepala ke arah Widia.


Wajah Widia begitu sedih mendengarnya. Ia pun langsung memberiku permen agar aku diam.


"Permen?!" Gumamku kecil sambil melihat permen. Mengangkat kepala tegak melihat Widia seketika kesedihanku hilang sesaat.


"Ia, itu permen kata Ibuku, bagus untuk orang sedih." Ucap Widia dengan begitu percaya diri. Melihat dengan senyum tipis.


"Ini kan permen karet ,long bear !" Ucapku pelan dengan tertegun sambil mengayunkan permen ke udara. Menatap lekat dengan melengkungkan bibir pucatku. "Dari mana kamu tahu ini bagus untuk orang sedih, maksudnya gimana Widia aku engga mengerti." Ucapku kembali dengan heran. Menggeleng kepala pelan.


"Liyan kata Ibuku kalau kita makan permen ini! Sedih kita akan hilang." Cetus Widia tegas. "Karena kalau kita mengunyahnya pasti kita akan menjaganya agar tidak tertelan kerena kita pasti takut kalau permen itu tertelan. Jadi, sedih kita hilang!" Lanjut Widia dengan senyum.


.


.


.


Teruntuk teman -teman yang telah memberikan like, favorit dan komentarnya. 🤗🥰🙏


Bersambung....


Sambil menunggu Author update!


Yuk! Baca novel teman aku Author yang lain, pasti engga nyesel deh bacanya! 🥰



Qari tidak menyangka pertemuanya dengan pria misterius di atas gedung, membawa dia ke masalah yang runyam. Deon yang sejak lama menyimpan dendam dengan keluarganya, memanfaatkan gadis itu untuk membalas dendam atas kematian kakak dan juga papahnya. Laki-laki itu dengan sengaja mencampurkan obat perangsang ke minuman Qari. Sehingga Qari yang tengah pergi dari rumahnya, menghabiskan malam penuh dosa dengan laki-laki yang baru dikenalnya.


Alzam pria yang selama ini dicintai oleh Qari, akhirnya menikahi wanita itu untuk menyelamatkan nama baik keluarga Qari. Masalah bertubi-tubi kembali datang, setelah Deon tahu bahwa Qari hamil atas perbuatanya. Terlebih setelah Dion sadar bahwa ia sudah terjerat cinta dengan anak dari musuhnya. Bagaimanakah perjuangan Qari mengahdapi hidupnya yang semakin rumit? Siapa laki-laki yang akan menjadi pendamping sungguhanya?

__ADS_1


__ADS_2