
Pagi yang dingin ini pun kami lalui dengan senang hati. Ayahku yang telah pergi sedikit jauh dari kami, melihat kami yang berdiri menatap punggungnya yang membelakangi kami. Dia pun memutar kepalanya sekilas ke belakang melihat kami kembali. Langkahnya yang terlihat dengan ikhlas mencari nafkah demi memenuhi kebutuhan keluarga kecilnya.
Tidak berapa lama kami berjalan mengarungi dinginnya pagi yang menemani langkah ini. Aku dan adikku pun tiba di gerbang sekolah. Anak - anak pun terlihat bersiliweran memenuhi halaman sekolah yang luas dengan seragam yang rapi dan tas yang tersandang.
Dalam hal ini, sekolah sangatlah kami butuhkan untuk bekal yang cerah di masa depan kelak. Karena itu, aku dan adikku pun harus belajar dengan bersungguh-sungguh. Aku yang telah lama libur harus mengejar ketertinggalanku dalam pelajaran yang akan kami perjuangkan di saat ujian nanti.
Setelah halaman sekolah kami lalui begitu cepat. Aku pun melihat teman -temanku yang berjibaku dengan sapu untuk membersihkan ruangan dan halam kelas yang kotor. Debu-debu yang menempel pun kini dilap hingga bersih.
Adikku yang diam berjalan di sampingku. Kini menegurku yang melongo melihat para teman-temanku yang sibuk dengan piket mereka.
"Kak, aku duluan, ya. Soalnya ini piketku," kata adikku berjalan meninggalkanku.
"Iya, Dik," balasku.
Kaki pun terus melangkah dengan kencang agar sesegera mungkin sampai ke kelas. Setiap pagi di sekolahan sebagai siswa, kami harus patuh pada perintah setiap guru baik itu dalam tugas pelajaran maupun dalam tugas piket, membersihkan kelas masing-masing.
Setiap siswa harus tepat waktu datang dan tidak boleh ada yang terlambat sama sekali. Jika sampai itu terjadi maka konsekuensi yang harus kami terima adalah mendapat hukuman. Hukuman bagi kami setiap siswa berbeda -beda yang di berikan setiap guru. Ada yang menyapu halaman dari gerbang sekolah sampai ke halaman depan kelasnya dan ada juga guru yang memberi hukuman mengutip sampah dengan membawa keranjang sampah kemana pun kita berjalan sampai menemukan sampah hingga keranjang terisi. Hukuman keranjang sampah ini yang paling membuatku tersenyum ketika aku mengingat Fikri dan Rasyd ketika di hukum oleh Pak Duan.
Aku masih ingat ketika hukuman itu di berikan kepada Fikri dan Rasyd. Hahaha! Tawaku pun menggelitik hati ketika ingin masuk kelas. Ingatan itu seketika terlintas di memoriku.
Fikri yang memegang keranjang sampah dia pun bersibuk dengan Rasyd membawanya ke kamar mandi mencucinya hingga bersih . Lalu kemudian dia menaruhnya di atas kepala sambil menari jaipong dengan Rasyd memukul -mukul keranjang itu dengan sapu lidi sekan dia bergaya bagai seorang penyair yang handal .
Keranjang sampah itu kini teronggok tepat di dekat pintu. Keranjang sampah yang sama dan juga dengan warna yang sama.
"Liyan, kenapa kau senyum-senyum melihat keranjang sampah itu?" tanya Widia keheranan.
"Iya Liyan, apa kau salah minum obat?" tanya Septiani langsung melihat wajahku.
"Tidak," jawabku menahan malu yang menjebak diriku sendiri.
Sementara Fikri yang melintas dari dekatku menatapku dengan kecurigaan setelah dia mendengar jawabanku.
"Liyan, kesambet kali di tengah jalan," sahut Solihin yang sibuk merapikan ruangan kelas.
__ADS_1
"Hahaha! Eh, ternyata temannya kamu itu suka ngejek juga, ya," celetuk Tania tiba-tiba berdiri di dekatku.
"Percuma dong selam ini kalian berteman akrab. Tapi, ternyata semuanya bohong." Ecy menatap dengan menyeringai.
"Heh, kau itu manusia atau tidak, sih. Berani sekali kau bilang pada Liyan, kalau kami mengejeknya." Septiani langsung datang menghampiri Ecy dan Tania.
"Jangan sembarangan bicara! Kau harus tahu, kalau aku di sini ketua kelas." Fikri dengan tegas mengungkapkannya pada Tania dengan kesal.
Seketika wajah Tania dan Ecy pun berubah tidak senang. Cemberut kesal pun menekuk di wajah mereka berdua.
Celaan ini tidak pernah usai menerpaku. Ia setiap waktu selalu datang menghampiri seakan ia mencoba untuk menguji kekuatan dan kesabaranku. Contohnya, di saat aku ingin mencoba melupakannya, celaan ini selalu saja datang seakan ia tidak pernah mau menjauh dariku.
Kesabaranku seakan diuji sampai dimana batas kemampuannya. Ini malah semakin menjadikan aku kuat dan tegar.
"Heh, Liyan! Kau itu masih kecil, ya!" pekik Tania dengan kuat seakan dia menegur diriku agar aku sadar kalau aku masih kecil.
"Dan juga bilang sama teman-temanmu itu! Kalau Anak kecil itu! Jangan sok menasihati," bentak Ecy dengan sinis.
"Aku heran, kenapa kau begitu membela Anak ini!" Tania menunjukku dengan pias. "Emang dia ada, ya? Memberi kalian uang yang banyak, gitu!" tanyanya dengan kebencian.
Sementara Fikri yang belum beranjak semakin kesal dibuatnya sehingga Fikri pun mengatakan sesuatu dengan mendelik. "Tania, Ecy! Kalian berdua itu jangan pernah mengejek, Liyan lagi. Kalau kalian sampai mengejeknya lagi! Aku akan mengadukannya pada Bu Dona. Biar kalian berdua kena hukuman yang berat. Sekarang bubar!" seru Fikri dengan keras.
"Iya, ya, ya! Sekarang bubar!" lanjut Rasyd.
"Sekarang pergi sana! Letakkan tasmu di bangkumu," pekik Septiani memaksa mereka.
"Huh!" Tania mendengus dengan sinis menatap Septiani yang galak.
Awal hari yang sangat buruk bagiku saat ini. Tubuhku yang masih melemah semakin gemetar dan ingin terhempas ke lantai. Pekikan dan suara yang keras yang menakutkan menyapaku ketika ia melihat aku masuk ke dalam kelas.
Aku sadar, aku masih kecil, bahkan aku masih anak kecil yang penyakitan dan orang miskin. Tapi itu tidak seharusnya aku dengar langsung dari orang -orang yang tidak menyukaiku.
Hari ini aku mendengar apa yang seharusnya tidak perlu aku ketahui. Aku terus menguatkan diriku hingga aku mempunyai semangat yang kuat dan telinga yang berlapis untuk mendengarkan kata-kata yang dapat merusak batin ini.
__ADS_1
Semuanya pun telah bubar. Suara keras pun telah menghilang dan hening. Aku yang berjalan dengan tas yang masih tersandang kini telah tersandar di atas bangku.
"Liyan." Widia pun memanggilku dengan pelan.
Aku yang berdiri membelakangi bangkunya memutar badan melihatnya. "Ada apa Widia? Kau memanggilku?" tanyaku.
"Mmm. Kau tidak ikut dengan kami?!" Widia bertanya dengan nada suara yang lembut.
"Kalian mau kemana?" tanyaku yang masih kurang nyaman.
"Kami ingin ke bawah pohon itu," jawab Widia menunjuk pohon yang berada di luar.
"Pohon bunga," kataku langsung senang mengingatnya.
"Iya Liyan. Kita akan duduk di situ sambil melihat bunga yang indah itu," kata Septiani.
"Bunganya lebat, Liyan," sambung Rasyd seakan Rasyd membujukku untuk mengikuti ajakan Widia dan Septiani.
"Ngapain kau di dalam kelas saja?!" ucap Fikri.
"Iya, Liyan. Kita duduk di sana beramai-ramai." Tiba-tiba Tania menyambung dan mengejek.
.
.
.
Bersambung...
Yuk! Teman-teman mampir ke novel teman aku, ya! 🙏
__ADS_1