Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Menjahili adikku


__ADS_3

" Ini, buktinya!" kataku menujukkan kotak.


"Ahahaha! Itu tandanya Kakak gak boleh lagi bermain itu!" ledek adikku dengan tertawa.


Kepala refleks aku naikkan menatap adikku tercengang. "Ana, kau tau gak? Kakak gak bisa lagi beli mainan ini," rintihku melihat kotak yang peot.


"Kak, aku mana tau, kalau kotak itu kejepit," jawab adikku tenang, melihat kotak yang peot. "Lagian sih Kakak! Kenapa Kakak buat kotak di situ! Yang salah Kakak lah. Bukan aku!" bantahnya keberatan,memutar badan langsung melihat ke arah jendela yang terbuka.


" 'Kan kau tau, kalau mainan Kakak, tempatnya di situ!" sesalku menunjuk dengan memutar badan balik ke belakang.


"Iiis! Kakak selalu nyalahkan aku lagi," gerutu adikku kesal mendesis.


"Kakak bukan nyalahkan. Tapi gara-gara kau mendorong Kakak ini jadi peot dan semuanya rusak. Coba lihat!" kata murung sedikit duduk menunjuk dengan kedua bibir.


Tubuh kecil adikku pun maju sedikit bergeser ke depan melihat yang kutunjuk. "Kak, Tapi 'kan yang peot cuma itu aja," katanya. Duduk di antara aku dan mainan.


Sekarang mainan telah aku susun lagi seperti semula. Kain yang terjurai dari tempat tidur kini aku naikkan menajuh dari ku.


"Iya, tapi ini kotak yang paling Kakak sukai," ungkapku lirih. Menatap kotak yang peot dan aku taruh tepat paling atas.


"Kak, kotak yang lain masih banyak kok," sahut adikku.


Seketika aku tercengang. "Kotak apa?" tanyaku, menatap adikku yang serius.


Dia pun memutar duduknya. "Kotak kayak gitu!" tunjuk adikku menunjuk kotak yang terletak paling atas.


Melihatnya aku langsung mengerutkan kening penuh tanda tanya. "Di mana mencarinya?" tanyaku spontan, melihat lurus ke arah kotak.


"Diluar Kak!" ucap adikku enteng. Duduk dan mengambil kotak yang terletak paling atas.


Mulutku langsung menganga lebar terkejut mendengarnya. "Ana, jangan cari masalah lagi, ingat!" kataku khawatir mencegah adikku.


Dia langsung memutar duduknya membelakangi sambil merajuk. "Kakak, pelit! Baru gitu aja. Kakak udah takut," rajuknya cemberut manja.


"Kakak bukan pelit. Tapi Ibu di rumah dan Ayah juga bilang, "Kita gak boleh keluar," tandasku, melihat punggung adikku sambil memegang kotak yang ingin aku letakkan.


"Aah, Kakak selalu kayak gitu! Kakak memang payah!" gerutu adikku sebal dan cemberut.

__ADS_1


Napas yang kuhirup langsung saja kubung kasar. Ajakan adikku yang ingin keluar membuatku semakin frustrasi.


"Tapi 'kan, Kakak mau cari kotak, iya 'kan?" singgung adikku kembali bertanya, memutar duduknya sambil menetralkan emosinya.


"Engga!" bantahku, memutar badan langsung merapikan sedikit mainan yang keluar dari kotak.


"Uuuh!" gerutu adikku sebal dengan wajah cemberutnya yang manja. "Aku bosan Kak di rumah aja. Gak bisa ngapa-ngapain!" ucapnya merajuk dan cemberut.


Mainan yang mau selesai dan tinggal sedikit lagi aku lepaskan. "Ana, jangan kayak gitu. Ibu lagi di rumah, kalau Ibu tau kita keluar diam-diam. Ibu pasti marah dan Ayah akan marah juga?!" harapku mengiba.


"Kak, Ibu kesayangannya Kakak itu gak bakalan marah. Dia 'kan pergi!" sambung adikku, melayangkan tawa sedikit licik.


"Kakak gak berani!" tolakku langsung, merapikan semuanya. "Karena Ayah udah bilang, "Kita gak boleh keluar," tandasku.


"Ah, Kakak memang payah! Baru gitu aja Kakak udah takut," ujar adikku sebal. Bangun dan melihat keluar jendela yang terbuka. "Coba aja Aku punya Ayah kayak kawanku! Pasti aku hari ini udah bermain keluar?!" sesal adikku tiada berguna.


Selimut yang terjurai tadi aku ambil seketika dan memutar sorot mata melihat adikku yang berdiri melihat keluar.


"Ana, jangan sempat Ayah mendengarnya!" tegurku pada adikku, melipat kain yang jauh lebih besar dariku.


"Iya Kak. Ayah gak akan dengar kok. 'Kan Ayah kerja," papar adikku, melayangkan suaranya tepat ke arahku.


"Aku tau Kak. Pasti nanti kita dihukum lagi," tutur adikku dengan sendu. Berdiri memegang jerejak jendela kayu.


"Liyan! Dari tadi kalian di kamar terus," teriak ibu sambung kami. Berdiri di balik tirai.


Refleks tanganku yang memegang bantal terhenti di udara mendengar ibu sambung yang tiba-tiba terdengar menegur kami berdua.


"Apa saja yang kalian lakukan di sini?" tanya ibu sambung, melirik sekeliling ruangan.


"Membersihkan kamar, Bu," jawabku langsung, melihat ibu sambung yang melihat adikku juga. Di ikuti oleh bantal yang masih menggantung.


"Kenapa dari tadi Ibu dengar kalian ribut di sini?" tanya ibu sambung dengan penuh penekanan menunjuk kamar dengan kedua sorot mata yang dia putarkan ke sana ke mari.


Tubuh mungil yang lemah dan masih berdiri menatap tatapan adikku yang membuang muka ketus dari ku.


"Kami cuma bercanda, Bu," jawabku pelan bercampur takut sambil melihat bantal yang masih kupegang.

__ADS_1


"Ibu pikir kalian entah kenapa. Dari tadi seperti berkelahi Ibu dengar," kata ibu sambung, pergi dan melepaskan tirai.


Tubuh mungil yang lemah pun langsung lega. Bantal yang tadi begitu tegang kini aku lempar teronggok di atas tempat tidur.


Puk!


"Kak, kenapa Kakak lempar?" tanya adikku spontan terkejut, memutar kepala dan melepaskan tangannya dari jendela.


Tungkai kaki yang nyeri dan menahan tubuh mungil yang lemah ini pun duduk di atas tempat tidur. "Emang kenapa?" tanyaku seakan menantang.


"Kalau sampai Ibu kesayangan Kakak itu dengar. Dia pasti akan memarahi Kakak?!" terang adikku. Berjalan menghampiriku.


Napas yang tadi terasa sesak langsung aku hembuskan. Duduk dan melihat adikku yang berdiri mematung. "Palingan kita dihukum berdua lagi," ucapku menahan sedikit senyum jahil, melihat adikku yang sudah berubah memerah.


Dia langsung maju tanpa berpikir. "Kak, aku gak mau!" tolak adikku langsung protes.


"Kenapa?" tanyaku dengan jahil. "Biar kita bisa cari kotak," ucapku dengan nada suara datar.


Kening adikku langsung mengerut ketat. "Engga!" tolak adikku keras. "Kalau cari kotak karena dihukum aku gak mau, huh!" katanya cemberut sambil melipat kedua tangan kecilnya dengan cemberut manja.


" 'Kan enak! Kita bisa jalan-jalan dengan bebas," candaku meledek adikku.


"Engga bakalan! Kita itu belum pernah ya Kak dihukum pergi dengan bebas," tampik adikku mengenang yang sudah berlalu.


"Hahaha! Bukannya tadi kau mau dihukum, kau bilang, "Kalau dihukum bisa cari kotak, hihihi!" kataku menahan tawa melihat adikku yang setengah takut sangat menggelitik hati.


Wajahnya langsung berubah cemberut malu. Menjatuhkan tubuh kecilnya duduk di atas lantai. "Nanti Ibu kesayangannya Kakak itu jadi senang," balas adikku.


Bibirku pucatku langsung tertutup rapat dan terheran. Menjatuhkan pandangan melihat kepala adikku yang duduk di bawah.


"Senang kenapa?" tanyaku ingin tahu, melihat adikku yang menekuk kedua lututnya.


"Menghukum kita," jawab adikku langsung.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2