Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Kecilnya diriku di mata sahabatku


__ADS_3

"Terlihat dingin bagaimana?" tanya Fikri yang tidak percaya.


"Widia diam saja pada Liyan. Aku rasa mereka itu bertengkar," kata Rasyd dengan pelan sambil menunggu Fikri yang bersiap -siap untuk mengumpulkan buku juga.


Mereka berdua terus saja berbisik. Aku yang tidak sengaja mendengarnya melirik mereka tanpa disadari oleh mereka berdua. Kedua netraku menatap diam-diam langkah mereka yang melintasi mejaku. Sorot mataku seakan bisa membaca setiap langkah kaki mereka kalau ayunan langkah itu telah mengetahui perselisihan aku dengan Widia. Jejak yang masih membekas mana mungkin bisa hilang begitu saja, pikirku. Itu membutuhkan kerja keras yang sungguh luar biasa untuk menghapus jejak yang telah merekam perdebatan ini.


Cepat atau lembar semua pasti akan berakhir. Entah itu berakhir dengan cerita yang baik ataupun cerita yang buruk. Kedua pernyataan ini masih menjadi misteri yang harus aku pecahkan walaupun terlihat sulit. Semua masih ambigu sebab jalan yang aku tempuh berbeda. Septiani yaitu, temanku yang terlalu keras dan sangat suka mengingat kejadian yang telah lalu baik itu yang mengiris hatinya maupun yang menyenangkan jiwanya. Lain lagi dengan Widia yang sulit untuk di tebak. Widia anaknya persis seperti diriku lemah lembut. Dia terkadang mudah memaafkan dan terkadang sulit.


Aku semakin terhempas kuat dan rasanya sangat sulit untuk berpegang. Aku dan Widia yang selalu pergi dan pulang sekolah bersama sekarang menjadi orang asing yang baru pertama mengenal. Jarak telah tercipta diantara kami. Kerenggangan pun sudah jelas terlihat di mata ini.


Aku yang duduk sebangku dengannya seakan menolak lupa, kalau kami sekarang tidak akur.


"Widia, tadi Bu Dona menanya dirimu, tidak?!" tanyaku memberanikan diri.


Wajah Widia yang berubah masam ketika mendengar suaraku. "Tidak," jawabnya dengan ketus tanpa menoleh.


"Tadi Bu Dona bertanya tentang biodataku, kepadaku," kataku memberitahu Widia.


"Lalu, apa hubungannya denganku?" tanya Widia yang menganggap tidak penting baginya.


Aku langsung terdiam merasa malu karena yang kukatakan pada Widia ternyata tidak begitu penting baginya. Aku pun langsung sadar diri kalau aku dan Widia sangat berbeda jauh. Kami hanya orang asing yang tidak mempunyai hubungan darah apapun. Ini semakin membuatku sadar kalau kedekatan kami itu hanya sebatas teman antara ayahku dan ayahnya dan juga sebatas teman sebangku satu kelas. Semua itu pasti ada batasannya jarak pemisah yang kuat yaitu, aku dan dia bukanlah siapa-siapa. Pikirku pun terus mencari kebenaran yang tidak bisa untuk dipungkiri.


"Iya, aku tahu," jawabku. "Tidak ada apa-apa," lanjutku menutup bibir yang pucat ini dengan rapat.


Sembilu kembali mengiris hati ini. Butiran kristal pun terjatuh dengan bening di atas lembaran buku yang putih. Getaran bibir yang tertahan pun kini menjerit di dalam hati yang bisu.


Hari ini aku rasanya seorang diri tiada teman yang menemani. Keceriaan yang baru beberapa hari aku rasakan, kini hilang sudah. Semua telah usai dan terbakar menjadi abu oleh emosi yang keluar dengan begitu cepat. Amarah yang menyelubungi jiwa ini hingga mengeluarkan api semakin tak terbendung. Menyeruak memenuhi ruangan kelas yang hening.


Piasan masih saja menggores di wajah Widia ketika aku sekilas melihatnya. Cemberut yang kusut dengan jelas tergores di bibirnya.


Aku dan Widia seakan musuh yang nyata saat ini.


Ini adalah awal hari yang membuatku terusik dan mau tidak mau aku harus menerimanya dengan senang hati.


"Iya Bu."


Tiba-tiba aku mendengar suara Fikri dan Rasyd yang saling bersahutan di depan meja bu Dona. Aku pun sontak mengangkat kepala dan melihat mereka dengan penuh tanda tanya. Mereka berdua terlihat serius menanggapi yang disampaikan oleh bu Dona.


Aku semakin penasaran dan ingin segera tahu apa yang dibahas oleh mereka bertiga.


"Mereka masih berbicara. Serius sekali," gumamku pelan.


Tatapanku masih saja lekat melihat mereka bertiga. "Iya Bu. Baik Bu," hanya itu saja yang dapat kudengar dari pembicaraan mereka. Pikirku pun seketika melayang mengingat bu Dona yang tadi meminta biodataku. Katanya, biodataku ada sedikit ketidak jelasan. Makanya dia menyuruhku untuk membuat biodata yang baru.


"Kalau begitu ibu tunggu besok," ucap Bu Dona pada Fikri dan Rasyd.


"Baik Bu," jawab mereka berdua. Kini mereka berdua pun memutar badan kembali ke bangkunya.


"Anak-anak, tugasnya semua sudah terkumpul 'kan?" tanya bu Dona merapikan buku untuk dinilainya. "Ini kedepannya Ibu akan sering memberi kalian latihan karena kita sebentar lagi mau ujian," ujar bu Dona.


"Kapan kita ujiannya, Bu?" tanya Septiani.


"Kemungkinan besar dalam minggu-minggu ini," jawab bu Dona. "Ibu ada menyuruh temanmu Fikri dan Rasyd untuk mencatat nama-nama kalian," sambung bu Dona kembali. "Sebenarnya, siapa yang mau saja. Kalau dia tidak mau tidak usah."


"Bu, mencatat untuk apa?" tanya Solihin dan Tania.


"Solihin jangan banyak bertanya selesaikan saja tugasmu. Punyamu belum ada di sini terkumpul." Bu Dona mengalihkan pertanyaan Solihin.

__ADS_1


"Bu, sebenarnya untuk apa?" tanya Tania kembali.


"Ada yang Ibu ingin lihat dari kalian," kata bu Dona dengan rahasia.


"Apa itu Bu?" tanya Ecy dan Septiani penasaran.


"Selesaikan saja tugas kalian dulu. Nanti waktunya habis. Kalau masalah itu. Nanti masih ada waktu yang lain," dalih bu Dona menutup pembicaraan.


"Baiklah Bu," jawab sebagian siswa.


Sementara Fikri dan Rasyd yang telah mengemban amanah dari bu Dona langsung bertanya, siapa nama asliku yang sebenarnya.


"Liyan, siapa namamu?" tanya Fikri dari belakang.


"Namaku ?" jawabku kembali bertanya dengan heran. "Namaku Liyan," kataku langsung.


"Bukan," jawab Fikri. "Nama kepanjanganmu, siapa?" tanya Fikri kembali memberitahu.


"Mmm! Namaku Liyan Laiyina," jawabku langsung. "Kalau teman sebelahmu?" tanya Fikri.


"Aku tidak tahu," jawabku.


"Kalau biodatamu?" tanya Rasyd memotong pembicaraan.


"Biodataku. Untuk apa ?" tanyaku.


"Besok tulis, ya," kata Rasyd tanpa merespon pertanyaanku.


Dan Rasyd pun juga melakukan hal yang sama. Tapi masing-masing dari mereka amanah yang di berikan berbeda.


"Iya, aku dengar," sahut Widia dengan datar. "Tapi aku tidak tahu itu untuk apanya," lanjutnya. "Apa kau tahu itu untuk apa?" tanya Widia melirikku.


"Engga," jawabku sambil menggeleng.


"Lalu, kenapa kau tadi memberi tahu nama aslimu padanya, kalau kau tidak tahu itu untuk apa?" celetuk Widia melemparkan pertanyaan padaku.


"Tadi aku lihat Fikri dan Bu Dona berbicara serius. Tiba-tiba begitu Fikri duduk di bangkunya, dia langsung meminta namaku yang sebenarnya." Aku memberi alasanku pada Widia.


"Jadi, gara-gara itu," kata Widia kembali.


"Iya," sambutku.


"Kau ini! Apa kau mendengar apa yang di minta Bu Dona ?" tanya Widia.


"Tadi 'kan, Bu Dona sudah mengatakannya, Widia," kataku.


"Iya nya." Widia langsung diam seakan dia kalah malu.


"Kau tidak mendengarnya, ya?" tanyaku.


"Hei! Widia, cepat bilang, siapa nama aslimu?!" Fikri mendesak Widia dengan paksa.


"Sabar. Jangan tolak-tolak bangkuku, sakit tahu!" pekik Widia menahan nada suaranya.


"Hahaha!" Rasyd tertawa. "Fikri, habis dari Septiani bertengkar sekarang dia bertengkar dengan Widia. Besok-besok teman bertengkarnya sudah pasti, Liyan. ptfff," Rasyd menahan tawa geli melihat kami.


"Heh, diam kau! Jangan banyak bicaramu. Hargai aku. Aku ini ketua kelas," cibir Fikri dengan sebal.

__ADS_1


"Dengarkan namaku, ya!" kata Widia dengan penuh penekanan menyela pembicaraan Fikri dan Rasyd. "Namaku Widia Aubrey." Widia diam sejenak menatap Fikri. "Oh, ya sudahkan! Tidak ada siaran ulang untuk kedua kali," cetus Widia membuang lirikannya dari Fikri.


"Heiii!!! Widia, kau tidak perlu ngegas kayak gitu bicaranya. Pelan, juga kami mendengarnya! Dasar perempuan, aneh!" sungut Rasyd kesal.


Ketika aku mendengarnya, aku hanya bisa menelan ludah dan berharap ini tidak akan menjadi panjang ataupun di perpanjang dari salah satu mereka. Situasi ini semakin sulit dan memanas. Sebenarnya aku ingin sekali turun tangan untuk menyelesaikan perseteruan yang rumit yang terjadi di dalam tubuh persahabatan ini karena semua berawal dariku. Dari aku yang tidak disetujui oleh Widia untuk meminta maaf kepada Septiani. Sekarang malah menjadi suram dan kacau sehingga tidak ada jalan penerang sampai detik ini. Namun, aku tidak mempunyai andil yang kuat sebab dari mereka sudah tidak menganggap aku ada di dalam persahabatan ini lagi. Aku sekarang hanya sebagai orang asing yang singgah dalam beberapa waktu saja. Tidak ada hak bagiku untuk mencampuri masalah ini.


Sekecil inilah diriku sekarang di mata semua sahabatku, bahkan aku juga harus bisa menutupinya dari ketua kelas kami. Sebisa mungkin aku yang malang ini tidak membuka mulut pada siapapun sampai tidak ada satu orang pun mengetahuinya.


Saat ini Widia memang masih berbicara padaku tapi itu bukan berarti semuanya telah membaik seperti semula, itu salah besar.


"Liyan, nanti kau pulang dengan siapa?" tanya Widia padaku yang tidak pernah bertanya seperti itu.


"Aku tidak tahu," jawabku.


"Ooh!" Widia pun kemudian diam dan mengambil buku pelajaran selanjutnya. Dia sama sekali tidak lagi menanyakan itu sampai tuntas.


Aku semakin merasa kuat kalau ada perubahan derastis pada Widia terhadapku. Aku hanya bisa menghapus dada menahan sabar atas apa yang menimpa hari ini.


"Widia, emang kau nanti pulang dengan siapa?" tanyaku ingin tahu.


"Aku pulang dengan yang lain. Kami ada permainan baru," jawab Widia dengan cuek.


Sepertinya, Widia kali ini sedikit tidak jujur dengan ku. Itulah yang ada di pikiranku ketika aku melihat wajahnya ketika berbicara padaku.


"Liyan, Widia. Besok jangan lupa bawa biodata kalian," kata Rasyd mengulanginya kembali.


"Widia, jangan lupa ingatkan besok Liyan!" seru Fikri.


"Liyan tidak mungkin tidak ingat. Dia pasti ingat?!" kata Widia menolak dengan lembut.


"Iya, iya. Kau betul selama ini 'kan, Liyan selalu yang mengingatkan kita untuk tidak berbuat nakal lagi," ledek Fikri dengan senang.


"Kau mengejekku, ya! Kau tahu kalau aku tidak ingat apapun." Aku menatap dengan lirih ke bawah.


"Hahaha ! Liyan, aku tidak mengejekmu. Jangan marah dengan ku, ya," pinta Fikri sambil menarik telinganya sebagai hukuman atas dirinya sendiri yang telah meledekku.


"Liyan ... ." Rasyd langsung terdiam.


"Fikri, Rasyd! Apa yang kalian lakukan di bangku kalian. Saya masih duduk di sini dan belum keluar. Kalian berempat malah berisik di situ." pekik Bu Dona menatap dengan tajam.


"Kau juga Liyan. Kau itu katanya masih sakit, tapi malah ribut di situ!" jerit Bu Dona dengan tegas.


"Cih, rasain! Makanya, jangan sok mentel. Heh!" Widia menyeringai menatapku dengan kebencian yang mendalam.


Sontak aku langsung tertunduk. Pukulan keras baru saja mendarat di wajah polosku yang pucat. Ia baru saja membungkam mulut getir ini sehingga terasa sulit mengeluarkan sepatah kata pun. Kekhawatiran pun langsung tersirat di dalam lubuk hatiku dalam. Aku khawatir kalau ini akan berlanjut hingga ke depannya.


.


.


.


Bersambung...


Yuk! Teman-teman mampir ke novel teman aku, ya !🙏🥰


__ADS_1


__ADS_2