
Setelah bertemu Andrini, aku pun bergegas masuk dengan pakaian, tas dan sepatu yang basah.
Pintu rumah yang tertutup rapat. Perlahan kubuka dengan tangan kanan. Kaki sebelah kanan pun masuk dengan diam-diam. Aku berjalan pelan mengendap-endap masuk kamar dengan sekujur tubuh yang basah.
Tirai kamar pun aku singkap terus. Dada berdebar-debar kencang bercampur lemah demi mengelak dari ayahku.
Pakaian yang basah pun segera aku lepaskan dari badanku dan menyembunyikannya di bawah kolong tempat tidur. Tas serta sepatu pun aku sembunyikan di situ juga.
Pakaian yang kukenakan tadi telah berganti dengan pakaian baru. Pakaian yang kuambil dari lemari penyimpanan pakaian kami.
Tanpa satu langkah pun terdengar oleh ayah dan ibu sambungku.
Aku pun lega sambil mengurut dada. Akhirnya, aku berhasil mengambil baju ini tanpa sepengetahuan ayahku. Aku lalu tersimpul manis merasa menang karena berhasil mendapatkannya tanpa hambatan. Pakaian yang setengah mengayun di udara pun begitu tersimpul juga.
Bergegas dengan cepat, aku memakainya karena sudah tidak sabar ingin bermain bersama Andrini.
Aku sudah cukup lama terkurung di dalam rumah. Semenjak aku mendapat hukuman pulang sekolah terlambat. Seketika dada kembali berdebar kencang tak beraturan mengingat hal yang sama terjadi lagi hari ini.
Huh!
Aku langsung menghela napas menelan ludah pahit sebab hari ini kejadian yang sama terulang kembali. Bahkan semalam pun demikian juga, tetap sama. Pulang terlambat dan bermain hujan.
Aku kemudian melayangkan sorot mata melihat adikku yang tertidur dengan pulas. Tidurnya hari ini, seperti orang yang tidur di malam hari.
"Sangat nyenyak," gumamku. Melirik selimut yang menutupi separuh tubuhnya.
Aku begitu sumringah menatapnya . Dia sangat lucu meskipun dia sedikit cerewet dan iri terhadapku. Aku terus menatap adikku sambil mengeringkan rambut dengan handuk.
"Kak," panggil seseorang dari balik jendela kamarku.
Aku langsung menghentikan tangan yang mengeringkan rambut. Tangan pun terhenti di antara ujung kepala dan ujung leher. Selekas mungkin aku menoleh ke arah sumber suara.
Jendela yang tertutup sedikit rapat. Perlahan kubuka. "Andrini," jawabku terkejut. "Kenapa kau datang kemari?" tanyaku pelan bercampur panik. Berjaga dengan melihat sekeliling.
"Tapi kita mau bermain," balasnya sedikit merajuk.
"Iya, tapi Kakak yang akan datang ke rumahmu," kataku.
"Aaalaaah! Kakak pasti bohong lagi. Kemarin bukannya Kakak sering bilang gitu. Rupanya kakak gak jadi datang. Udah di tunggu," katanya cemberut bercampur sebal.
Aku pun segera mungkin memutar badan dan menutup jendela, seperti tadi kemudian aku meletakan handuk di dekat tempat tidur tepat di pinggirnya.
Handuk yang tadi kering kini telah basah. Aku sedikit was-was ketika meletakannya, di ikuti oleh lirikan mata melirik adikku seakan aku berbisik di dalam hati kalau adikku akan memberitahukannya pada ayahku.
__ADS_1
Namun, pemikiran itu secepat mungkin aku sangkal. Aku kembali memikirkan yang baik-baik tentang adikku.
"Adikku pasti tidak akan tau," gumamku. Merapikan baju yang kukenakan sekarang.
Aku pun menarik bibir ini ketika melihatnya telah rapi. Dengan bahagia aku langsung berlari keluar menutup pintu, seperti yang pertama kulihat dengan pelan-pelan.
"Andrini tunggu, ya," pintaku dengan lembut.
Andrini terlihat diam dan sabar berdiri menunggu. "Kak, apa Kakak tidak di marahi?" tanyanya kembali membuatku bimbang. Aku langsung terdiam dan memutar badan dengan pelan melihatnya.
"Kakak tidak tau," jawabku bingung.
Andrini sejenak bergeming. Dia menatap serius diriku dan pintu rumah kami. Aku yang memerhatikannya seakan dia ragu ingin mengajakku. Dia pun kembali bermuka bimbang.
"Kak, kalau Ayah Kakak tau Kakak keluar. Ayahku pasti akan di marahi oleh Ayah Kakak. Dan juga aku... ." Dia terdiam seakan diliputi pertanyaan yang ambigu.
Aku pun ikut dilema. Semangat yang tadi kuat ingin bermain kini seketika redup. Hanya ada ketakutan bercampur kebimbangan. Aku pun semakin mendalami yang di katakan oleh Andrini.
"Kalau begitu kita tidak usah jadi, bermain," kataku menegaskan.
Andrini seketika tercengang seakan dia terkejut dan bercampur kecewa juga.
"Kak, padahal aku udah siap-siap," sambutnya.Mukanya pun di tekuk melihat tanah yang terlihat bekas jejak kakinya. "Aku sudah sampai sini, Kak," lanjutnya melihat tanah. Seakan dia menunjuk jejak kaki itu dan sebagai isyarat ingin menyampaikan kalau jejak kakinya telah sampai ke sini.
"Ya sudah! Kalau begitu kita bermain saja!" ajakku menarik lengannya.
"Tapi ka... ." Dia pun terdiam seperti orang bodoh sambil menyeret kakinya mengikuti tanganku yang menariknya.
"Kak, kita bermain di rumahku saja ,ya ," pintanya di telingaku.
"Main di rumahmu?" tanyaku berhenti dan heran kemudian melepaskan genggaman. "Main di rumah tidak seru," kataku. Memelas dengan gurat wajah menolak.
"Jadi, kita mau main di mana, Kak?" tanyanya ingin tahu.
"Mmm! Kita main lompat karet gelang saja," tandasku.
"Ayo, tapi... ." Andrini melihat ke atas langit. "...ini hujan, Kak," ungkapnya dengan nada suara dan gurat wajah yang lemas.
"Tidak apa. Kita bermain di dalam rumah saja!" saranku.
"Iya Kak," jawabnya.
Akhirnya, aku dan Andrini pun bermain seperti yang kuinginkan. Kami bermain dengan seru di teras rumah.
__ADS_1
Karet gelang itu pun telah kami ikat dengan kuat di kedua bangku. Lalau kami bermain dengan melompatinya setinggi mungkin.
"Hahaha ! Kakak kalah," teriak Andrini tertawa riang.
Aku pun kembali melompat dengan tinggi lagi. "Horeeee! Kakak bisa dan sekarang kita sama," teriakku semakin senang.
"Kak, aku akan mengulanginya lagi. Awas minggir!" katanya dengan percaya diri mendorong tubuhku.
Ups! Aku hampir saja ingin terjatuh terlempar ke dinding. Dorongan Andrini begitu kuat sehingga aku hampir lepas kendali terhantuk ke dinding.
"Kak, ayo cepat ! Lompat lagi!" pinta Andrini menarik lenganku yang sedikit gemetar.
"I-iya," jawabku terbata.
Karet gelang yang telah diatur ketinggiannya pun semakin membuatku antara maju atau mundur. Karet gelang ini begitu tinggi untuk tubuh seukuranku bahkan juga untuk seukurannya tapi karena dia sehat dia tidak perlu was-was. Aku pun menoleh ke arah Andrini dengan tatapan bertanya kepadanya kalau aku benar-benar harus melompat atau tidak.
Andrini hanya diam saja dan terus mendesakku seakan dia tidak mengerti tentang tatapan mataku. Aku sebenarnya bukannya tidak bisa untuk melaluinya. Akan tetapi, mengingat aku yang baru sembuh dari sakit. Aku semakin menjaga untuk berhati-hati dalam hal apa pun. Belum lagi kalau ayahku tahu. Dia pasti akan marah besar. Dia mungkin tidak akan memberiku lagi kesempatan untuk bermain.
"Andrini, Kakak berhenti saja bermainnya," kataku.
"Kenapa Kak ?" tanyanya terheran.
"Iya, karena Kakak... ." Aku diam menunduk bercampur sesal mengingat ayahku.
"Kak, kita 'kan, bermainnya cuma sekali ini saja," katanya merengek.
"Liyaaan!" Tiba-tiba aku tersentak mendengar teriakan memanggil.
Aku spontan bercampur kaget melihat ke arah sumber suara, tepatnya ke arah rumah kami. Terkejut bercampur panik mataku pun membelalak selebar mungkin.
"Ayah," gumamku dengan raut muka seakan histeris.
.
.
.
Bersambung...
Teman-teman mampir yuk ke novel taman aku! 🙏
__ADS_1