Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Ziarah ke kuburan Ibu


__ADS_3

"Kalau begitu kita berangkat sekarang, mau?" tanya ayahku dengan gurat wajah penuh penekanan.


"Mau Ayah," jawabku langsung berteriak girang.


"Ayah, kalau begitu aku ke kamar dulu, ya!" pinta adikku yang selalu bersikap, seperti anak yang sudah dewasa.


Ayahku yang sudah bangun dari jongkoknya kembali menunduk mendengarkan celotehan anak kesayangannya. Sambil tersenyum ayahku mengizinkan adikku dengan mengelus kepalanya.


"Tapi, jangan lama-lama, ya!" pinta ayahku berharap. Berdiri sambil menatapku. "Liyan, kalau kau mau membawa sesuatu pada Ibumu, silakan, Nak. Bawalah apa yang mau kalian bawa," katanya dengan lemah lembut. Menunggu kami dengan senyuman hangatnya yang beranjak meninggalkannya.


"Ayah, kami pakai baju ini saja, ya!" pintaku dengan gurat wajah yang meminta izin dengan lembut.


"Engga, Nak. Kalian gak boleh pakai baju itu," larang ayahku keras.


Sontak aku dan adikku menghentikan langkah dan terkejut. "Ayah jadi, kami pakai baju mana?" tanyaku terheran melihat ayahku yang aneh. Berjalan membuka lemari mengambil baju yang jarang kami sukai. "Ini bajunya, Nak," kata ayahku menyerahkan baju yang ada di tangannya.


Aku dan adikku seketika bertemu pandang dengan gurat wajah penuh tanda tanya dan terheran. "Ayah, kenapa pakai baju itu?" tanyaku yang heran melihat baju yang jarang kami pakai.


"Ayah, itu 'kan baju untuk hari raya," kata adikku dengan enteng menunjuk baju dengan tatapan yang terus melihatnya.


"Iya, tapi kalau mau menemui Ibu harus pakai baju ini," ujar ayahku lembut. Berjalan membawa baju mendekati kami. "Ambillah, Nak. Pakai ini! Ini baju yang bagus untuk menemui Ibumu," tutur ayahku lembut, menyerahkan baju pada kami.


Refleks aku mengambilnya dari ayahku. Aku yang dilanda kebingungan menatap ayahku yang menyerahkan baju dengan penuh kebanggaan.


"Ayah, tapi ini bajunya lain," kataku, melihat baju yang ada di tanganku. "Ini baju jarang kami pakai untuk keluar," ungkapku melihat baju dengan rasa aneh.


"Ayah tau, Nak tapi baju itu sangat cocok untuk menemui Ibumu," tutur ayahku kembali dengan lembut dengan berharap kalau kami mau memakainya.


Baju yang merasa asing bagiku. Kutatap dalam tanpa kekeliruan yang melenceng. Baju ini begitu membuatku bertanya-tanya di dalam hati.


"Kak, itu 'kan pakaian sholat," bisik adikku menunjuk baju dengan kedua bibirnya.


Aku yang sudah mengetahuinya. "Iya, Dik," kataku, melihat baju yang kupegang. Memutar badan membelakangi ayahku yang teleh meninggalkan kami.


"Ana, baju ini harus kita pakai," tuturku lembut, menaruh baju dia atas tempat tidur.


"Kak, kenapa Ayah menyuruh kita memakainya?" tanya adikku yang dilanda kebingungan. Duduk sebentar menatap baju yang terletak.


"Jangan tanya Kakak, Dik. Kakak gak tahu," ucapku yang tidak mengerti dengan ayahku.


Membuka baju dan memakai baju yang di suruh oleh ayahku. "Kalau kau mau ikut menemui Ibu. Pakai saja baju ini," usulku, mengancing baju yang kancingnya hanya setengah dada panjangnya. "Kalau kau gak memakai baju itu. Kau gak akan ikut menemui Ibu," lanjutku mengingat akan kata-kata ayahku.


Adikku langsung turun dari tempat tidur. "Kak, aku gak mau pakai baju ini. Bajunya panjang dan panas. Di tambah lagi yang ini!" keluh adikku sambil mengayunkan jilbab di udara.


"Ana, kau harus ikuti perintah Ayah. Nanti Ayah gak jadi, membawa kita bertemu Ibu. Kau mau kalau kita gak bertemu Ibu?" tanyaku, memakai jilbab, di ikuti oleh kedua bola mata menatap adikku.


"Tapi, Kak," rengek adikku yang menolak dengan keras.


"Liyan!" teriak ayahku dari luar memanggil kami.


"Iya , Ayah," sahutku dari dalam kamar. Ayah, si Ana belum siap," lanjutku berteriak sambil membujuk adikku yang sulit untuk dikasih tahu. "Ana, ayo cepat pakai! Jangan lama-lama nanti Ayah gak jadi, membawa kita menemui Ibu," desakku dengan lirih mengambil baju dan menganyunkannya di udara agar adikku mau segera memakainya.


Adikku dengan berat hati dia terpaksa mengganti bajunya dengan baju yang terletak di atas tempat tidur. "Bajunya terlalu besar, panjang, dan panas, Kak. Apalagi pakai ini," rengek adikku merintih sebal sambil mengambil jilbab yang sama dengan ku.


"Liyan, apalagi, Nak. Cepat nanti kita ke sorean!" teriak ayahku dengan keras mendesak kami dari luar agar dia tidak menunggu terlalu lama.


"Iya, Ayah. Kami udah siap," balasku berteriak dari dalam sambil menarik lengan adikku yang sulit untuk di bujuk.


Aku dan adikku pun bergegas keluar dari kamar sambil memegang adikku yang dari tadi tidak mau bergerak dengan cepat.


"Sekarang kedua Anak Ayah sudah siap," ucap ayahku dengan hati yang senang. "Kalian sangat anggun, Nak, memakai pakaian itu," puji ayahku dengan lembut. Berdiri dengan pakaian yang sering dia pakai untuk sholat.


"Ayah, kita jadi, berangkat sekarang 'kan?" tanyaku yang sudah tidak sabar ingin bertemu dengan ibu.


"Iya, Nak. Kita akan berangkat sekarang. Semoga harinya tidak hujan," harap ayahku melihat langit.

__ADS_1


"Ana, pakai sepatumu!" perintahku, menyerahkan sepatu di hadapan adikku yang berkecamuk.


Dengan berat hati adikku mengambil sepatu yang kusodorkan di hadapannya. "Kak, aku gak bisa pakai baju ini. Terlalu panjang," rengek adikku mengeluh.


"Ana, pakai saja 'kan, cuma sebentar," bujukku, membantu adikku memakai sepatu.


"Liyan, ayo cepat, Nak!" panggil ayahku yang sudah berjalan.


"Iya, Ayah tunggu sebentar," pintaku, menoleh adikku yang memakai sepatu dengan buru-buru. "Ana, bisa?" tanyaku, menatap adikku yang menjatuhkan tubuhnya yang kecil sambil membenahi sepatunya agar nyaman di kaki.


"Bisa, Kak," jawab adikku, langsung bangun berdiri. "Ayo, Kak cepat," ajak adikku berlari kencang menghampiri ayahku. Aku pun, langsung mengikuti adikku berlari mengejar ayahku. "Ayah tungguuu!" teriakku mengejar adikku yang sudah sampai menggandeng ayahku.


"Liyan, cepat sedikit. Ini pasti sudah mau sore?!" kata ayahku terus berjalan menggandeng tangan adikku.


"Iya, Ayah. Aku udah sampai," kata adikku dengan napas sesak. "Ayah, emang rumah Ibu jauh?" tanyaku polos. Berjalan di samping ayahku sambil menggandeng tangannya.


"Kita harus naik becak ke sana, Nak. Biar cepat sampai," kata ayahku, berjalan menelusuri arah pejalan kaki yang terdapat beberapa pohon di pinggir jalan yang sedang kami lewati sekarang.


"Asyik Ayah. Aku sudah lama gak naik becak Ayah," sahut adikku sumringah dengan senyumannya yang manja bercampur imut.


"Semenjak kami libur sekolah, kami gak pernah lagi jalan-jalan naik becak, Ayah," ungkapku dengan senang hati, mengikuti arah langkah kaki ayah yang membawa kami.


Sepanjang perjalanan begitu terasa sejuk karena daun-daun pohon yang menutupi badan jalan dari sinar matahari. "Nak, sebentar, ya! Ayah keluarkan becaknya dulu," kata ayahku dengan lemah lembut, meninggalkan kami di tempat yang jauh dari becaknya. "Kalian tunggu di situ ya, Nak!" perintah ayahku dengan tegas sambil mengayunkan telunjuk ke udara sebagai isyarat agar kami mengerti.


"Iya, Ayah," jawabku langsung sambil menjaga adikku yang sangat lasak dan tidak mau diam mengoceh. "Kak, kalau kita bertemu Ibu. Aku mau bilang, kalau aku sangat merindukannya dan aku mau ngasih ini sama Ibu," kata adikku dengan nada suara penuh harap dan melihat kepalan tangannya yang memegang selembar kertas.


"Liyan, Ana . Ayo naik, Nak!" seru ayahku menghentikan goetannya, di ikuti oleh kedua bola matanya menatap ke arah kami menunggu dengan senang.


"Kak, bajuku terlalu besar. Aku kepanasan," rengek adikku kembali padaku yang berjalan menghampiri ayah yang sudah menunggu di atas becak. "Ana, jau diam saja. Kalau panas, 'kan nanti ada angin. Pasti panasnya hilang?!" kataku, melihat tumbuhan pohon yang berada di halaman rumah kerabat ayahku.


"Cepat, Nak. Sekarang kita berangkat, ya!" pinta ayahku meminta izin pada kami berdua yang sudah duduk di atas becak.


"Iya, Ayah," balasku yang menatap lekat jendela dan pintu rumah kerabat ayah kami yang sombong itu selalu tertutup.


Becak yang kami naiki segera digoet ayahku dengan kencang. Halaman yang sering di lalui ayahku yang banyak ditumbuhi oleh pohon dan bunga yang masih kecil-kecil dengan senang hati lekas kami tinggalkan.


"Nak, jangan lasak, ya!" tegur ayahku memohon sambil menatap jalan yang dia lalui.


"Iya, Ayah," sahut kami yang menikmati angin di atas becak.


"Ayah, masih lama, ya?" tanyaku yang sudah lelah melihat adikku tidak mau diam.


"Sebentar lagi kita sampai, Nak," kata ayahku dengan nada suara yang terdengar lelah.


Aku mengangguk, di ikuti oleh kedua bola mata menatap lurus dengan kosong. Namun, adikku yang duduk di sebelahku masih asyik berdiri sambil mengatur jilbabnya dengan rapi. Tidak berapa lama kami terbang terbawa angin. Terkejut dan tidak menyangka kalau ayahku berhenti di sebuah pemakaman.


"Ayah, ini tempat apa?" tanya adikku yang baru pertama kali melihatnya setelah delapan tahun yang lalu.


"Ayah aku takut," kataku, memegang tangan ayahku dengan erat. Berjalan terbata akibat ketakutan yang mendera.


"Nak, ini adalah kuburan Ibumu," kata ayahku memberitahu. Berdiri tegak dikelilingi oleh kedua kami putri kecilnya yang paling dia sayangi.


"Ayah ini kuburan Ibu?" tanyaku yang belum


pernah mengingat selama ini.


Ayahku langsung menjatuhkan tubuhnya berjongkok dan di ikuti oleh aku dan sang adik. "Ayah, Ibu mana?" tanya adikku ingin tahu. Berjongkok mengikuti ayahku sambil melihat lurus ke depan.


"Ibu ada di dalam, Nak, tidur," jawab ayahku enteng.


"Bukannya Ayah bilang, "Ibu itu tidur. Tapi Ibu tidur di mana Ayah?" tanya adikku yang belum ikhlas menerimanya.


"Ibu di dalam, Nak," jawab ayahku gamblang.


Aku yang ikut berjongkok bersama mereka berdua. Seketika diam melihat ayah dan adikku yang terlihat, seperti orang yang sedang melempar tudingan antara satu sama lain.

__ADS_1


"Ibu ngapain di dalam, Yah?" tanya adikku. "Kalau Ibu tidur, ayo kita banguni, Yah," ajak adikku menarik lengan ayahku.


"Ana, Ibu itu gak bisa di bangun 'kan," kataku langsung.


"Iya, Nak. Tapi Ibumu bisa melihatmu," sambung ayahku.


"Kalau Ibu gak bangun gimana ngasih ini sama Ibu?" tanya adikku dilanda kebingungan, melebarkan selembar kertas yang telah dia gambar.


Aku yang serius menatap adikku begitu lirih dan sedih mendengarnya. Ibu yang tidak lagi bisa melihat kami begitu antusias supaya ibu kami melihat gambarnya.


"Ana, gambarnya taruh di sini saja," saranku, menunjuk sudut batu yang panjang.


"Iya, Nak. Ibumu pasti melihatnya?!" sambung ayahku menyemangati adikku yang senang hati telah mau mengingat ibu.


"Baik, Ayah," sahut adikku mengikuti saran kami.


Gambar pun diletakkan adikku di atas batu nisan. Kini dia dengan senang menaruhnya agar sang ibu yang sudah lama tiada dapat melihatnya. "Ibu ini wajah Ibu. Aku sudah menggambarnya dengan cantik," kata adikku menyampaikan isi hatinya.


"Ana, Ibu pasti senang melihatnya. Dia akan sayang padamu," pujiku dengan bahagia, menatap adikku yang sumringah.


Kini gambar itu pun sudah terletak. Aku yang berjongkok menatap makan sang ibu sangat sedih karena tidak bisa merasakan kasih sayangnya.


"Ayah, semoga Ibu bisa melihatku," harapku di telinga ayahku yang sudah selesai berdo'a.


"Nak, kita nanti pasti berkumpul bersama Ibumu," ucap ayahku dengan senang.


Kami bertiga pun tersenyum bahagia di depan makan ibu yang sudah lama meninggalkan kami. Bahagia rasanya tidak terhingga berkumpul satu keluarga dalam kehangatan yang abadi.


Ibu adalah sosok yang paling menenangkan jiwa. Wajahnya yang teduh dan penuh kasih itu sangat memanjakan diri yang duduk di sampingnya.


Kini hanya sebuah baru nisan yang bertuliskan namanya yang bisa kami lihat dan kami baca yang tanpa sengaja bisa menenangkan jiwa yang rapuh.


Anak Bp yang sering aku mainkan pun, kuletakkan di atas makam ibuku. Berdiri tegak dengan rapi tersandar di batu nisan. Anak Bp dengan keluarga yang lengkap. "Ana, ada Ayah, Ibu dan kedua Anaknya," kataku melihatnya. Berharap seandainya aku bisa memiliki orang tua yang lengkap, seperti itu.


"Hahaha!" Adikku tertawa kecil yang senang mendengarnya. Lalu aku pun, menoleh melihat ayahku yang begitu senang.


"Ayah, aku jadi senang. Akhirnya kami bisa bertemu dengan Ibu," kataku, menatap ayahku yang memelukku dengan hangat. Melirik adikku yang tersenyum bahagia juga. Terima kasih, ya Ayah, karena udah ngajak kami menemui Ibu," ucapku dengan bahagia.


"Sama-sama, Nak. Ayah juga bahagia sekali melihat kedua putri kecil Ayah ini kalau bahagia juga," ungkap ayahku dengan segala isi hati yang senang. Memeluk kami berdua dengan erat di depan makam ibu yang sudah lama kami rindukan.


Orang tua sandaran bagi anaknya. Anak harta yang paling berharga . **Tanpa mereka hidup terasa hampa.


End


...****************...


Selamat pagi semua. Ini akhir cerita novel aku tamat. Terima kasih untuk semua pembaca yang bersedia untuk mampir.


Mohon dukungannya juga untuk novel baru aku. 🙏🙏🙏


Takdir Cinta yang Bicara


Blurb


Seren yang terlahir dari keluarga sederhana pekerja keras ,mandiri dan tidak manja.


Seketika dia di hadapkan dengan gejolak kehidupan yang membuatnya harus memilih kerja atau melanjutkan perguruan tingginya.


Di tengah pencarian cinta pun, menghampirinya mengisi hari indahnya dengan pelangi tapi di tengah perjalanan cintanya yang dalam harus menelan pil pahit yang tak ada penawarnya sekali pun, itu madu.


Apakah seren dapat merubah hidupnya?


Bagaimankah akhirnya cinta seren?


Dan bagaimana sikap REYEN?

__ADS_1


Saksikan cerita selanjutnya...



__ADS_2