
"Iya Ayah," jawabku sambil melihat jalan yang akan kami lalui.
Setelah berbenah diri kami langsung berangkat. Tubuh mungil yang lemah ini pun sudah bersih aku siram dan sekarang kami tinggal memakai sendal jepit.
"Liyan, nanti kalau sudah sampai, jaga Adikmu ya, Nak," pinta ayahku.
"Iya, Ayah," sahutku. Berdiri di depan pintu bersama adikku.
Cetek !
Pintu rumah pun terkunci rapat. "Nak, kalau Ayah nanti cepat pulang, mungkin kalian tidak akan lama di sana," kata ayahku. Berdiri sambil menenangkan kami.
Jalan yang ingin dilalui kutatap sedini mungkin. "Ayah, kalau kami nanti dimarahi, bagaimana?" tanyaku, melihat ayahku yang lebih tinggi dariku.
Sambil berjalan. "Nak, mereka itu orang baik, kok," balad ayahku langsung mengeluarkan jawaban.
Malas bercampur tidak suka pun terus menyelimuti diri. Sendiri merasa tidak nyaman itu sangat bagus sebenarnya. Namun, jika ini berhubungan dengan adikku semakin menjadi bumerang yang menambah kekusutan diri. Hal ini semakin menyeret kedua kaki dan rasa kecamuk yang mendorong agar aku berani menolak ayahku.
"Ayah, 'kan kerabat Ayah rumahnya jauh," ucapku, melirik ayah dan memegang tangan adikku.
"Nak, memang jauh dari rumah kita. Tapi dengan jalan kaki. Kita juga sampai kok ke sana," tutur ayahku pelan.
Raut muka serta suasana hati adikku terlihat tidak begitu menyukainya. Dia memang tetap berjalan. Namun, kedua sorot matanya juga berbicara kalau dia tidak mau.
"Ana, nanti kau pasti suka di sana?!" ucap ayahku.
Sepatah kata pun tidak ada keluar untuk menjawabnya. Dengan berat hati adikku memaksa kakinya untuk berjalan.
Kaki terus melangkah mengikuti ayahku yang berjalan menuntun langkah. "Liyan, Ayah minta kalian berdua jangan bertengkar, ya, Nak," sambung ayahku yang berjalan lebih dulu di depan kami. "Kalau kalian bertengkar. Nanti Ayah gak tau lagi untuk menitipkan kalian, Nak," lanjutnya yang terus berjalan dengan senang hati.
"Kak, kita sembunyi saja," ajak adikku, melihatku.
"Sstttt! Ana, jangan! Kasihan Ayah, Dik. Nanti Ayah kecarian dengan kita. Bagaimana? Kau mau kita dihukum dan gak dikasih jajan," ujarku. Berjalan bersama adikku.
Seketika adikku menunduk sedih. "Kak, aku gak mau tinggal di sana!" rengek adikku, memohon sambil menangis.
Melihat air mata adikku sungguh mengiris hati yang pilu. Aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk mencegah niat ayah yang mau menitipkan kami di rumah kerabatnya.
"Kerabat Ayah orangnya jahat, Kak," sambung adikku sambil mengilap air matanya.
Lengan yang kecil itu pun terus mengilap air mata yang terus menetes. "Kakak belum pernah ke sana, ya?" tanya adikku ingin tahu.
Begitu berat rasanya bibir ini untuk menjawabnya. "Ana," kataku memeluk adikku.
__ADS_1
"Liyan, Ana! Kenapa kalian lama sekali? Cepat , Nak. Nanti keburu sore. Ayah tidak bisa mencari uang lagi, Nak," desak ayahku, berhenti menunggu kami yang jauh tertinggal di belakang.
Adikku begitu panik ketika dia melihat ayahku berhenti. Segera mungkin dia menghapus air matanya dan terus menutupi mukanya di belakangku.
"Liyan, jangan buat Ayah kehilangan sewa sore ini, Nak," ucap ayahku, melambaikan tangan memanggil kami agar berjalan dengan cepat.
"Ana, hapus air matamu!" pintaku lembut sambil melirik ke ujung kaki ayah yang masih senang berdiri dan menunggu.
"Cepat, Nak!" ajak ayahku tidak menyadari kalau anak kesayangannya sedang menangis.
Aku yang berjalan terus menutupi wajah adikku yang sembab dari sang ayah. "Ayah, rumahnya masih jauh?" tanyaku pelan sambil menyeret kedua kaki yang sangat berat.
"Sebentar lagi kita sampai, Nak," sambung ayahku. Berjalan dengan kencang.
"Kak, kita pulang saja," bisik adikku yang tidak mau menatap jalan dengan lurus.
Sepandai mungkin aku membujuk adikku agar dia terlihat tenang berjalan bersama dengan sang ayah yang sangat antusias ingin menitipkan kami.
"Assalamualaikum," sapa ayahku dari depan pintu.
"Wa'alaikumussalam," sahutnya dari dalam rumah.
Kreeek!
"Liyan, Ana. Ini rumah bibi kalian. Kalian akan di sini dulu untuk sementara. Sebelum Ayah pulang menjemput kalian," kata ayahku dengan wajah yang hangat.
"Iya, kalian di sini dulu, ya!" tuturnya.
Diri ini begitu berat ingin mengiyakan omongannya. Kedua kaki sangat berat untuk masuk dan melangkah.
"Kak, kita di luar saja," kata adikku, memegang lenganku dengan erat.
"Aku titip kedua Anakku dulu, ya !" ucap ayahku tersenyum ramah.
"Iya, Bang. Mereka bermain di sini saja dulu," balasnya dengan senyum ramah juga.
Akhirnya, siang ini pun kami di tinggal oleh ayah di rumah kerabatnya yang terasa asing itu.
"Ayah!" panggil adikku sedih.
"Nak, di sini 'kan ada Kakakmu dan banyak kawan," terang ayahku, mengelus kepala adikku agar dia bisa diam dan tidak menangis. "Di sini, ada Kakakmu juga," lanjutnya sambil mencium adikku yang manja.
"Ayah gak lama 'kan?" tanya adikku.
__ADS_1
"Tidak. Ayah cuma sebentar, kok," jawab ayahku sambil memutar badan meninggalkan kami.
"Daaaah, Ayah," kata kami berdua serempak.
Senyum tersimpul tertoreh hangat ketika ayahku menoleh ke arah kami. "Kak, aku gak mau masuk," tutur adikku.
"Liyan, cepat bawa Adikmu masuk!" serunya dengan wajah kurang senang.
Rumah yang asing dan tidak ada keramahan menyambut kami yang sudah takut akan situasi.
"Ma, itu siapa?" tanya salah seorang anak yang tidak jauh usianya sama dengan kami.
"Itu Anak kerabat kita," jawabnya ketus.
Aku dan adikku yang berdiri di sudut dinding mendengarkannya dan diam mematung. Kami berdua Kakak beradik sedikit pun tidak berani untuk duduk.
"Ngapain di sini, Ma? Mereka gak punya rumah?" tanya anaknya yang sangat sok itu.
"Punya, tapi rumah mereka cuma ngontrak," jawab ibunya ketus, menatap kami dengan jijik.
Aku dan adikku tetap diam dan tidak berani bergerak walau hanya sebentar. Tubuh mungil yang lemah ini sangat terkejut melihat semua kejadian.
"Ma, besok mereka gak usah suruh datang ke sini! Aku gak suka berteman sama orang kayak gitu, cih," sambung anaknya yang sombong itu.
Wajah mereka ibu dan anak terlihat sama ketika menatap ke arah kami. "Kenapa Mama tidak menyuruhnya pulang saja?" tanya anaknya yang tidak begitu senang.
Ibunya cuma diam saja sambil menatap kami dengan wajah penuh kebencian. "Kalau Ibu tolak. Ayahnya tidak mau pergi," jawab sang ibu langsung.
Aku terhenyak ketika mendengar omongan itu. Adik yang berdiri menempel di sampingku terus menatap lantai dengan sedih.
"Kak, orang itu jahat. Aku udah pernah ditinggalkan Ayah di sini," terang adikku, menunduk melihat ke bawah.
Berdiri mematung itulah yang bisa kulakukan saat ini sebelum ayahku pulang. Tatapan mata yang kurang senang itu masih saja melayang dihadapan kami berdua.
"Bu, aku gak mau orang itu di sini," kata anaknya yang menatap dengan jijik.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1