
"Ana, kita gak usah melawan mereka lagi," ucapku.
"Tapi Kak, mereka jahat," balas adikku.
Mereka yang berdiri di depan jendela bagaikan momok yang menyeramkan. Raut wajah mereka begitu sinis dan menakutkan.
"Ana, nanti kalau Ayah dengar kita bertengkar. Ayah pasti akan memarahi kita, Dik?!" tegurku. Berdiri melepaskan jendela.
Membelakangi mereka yang di depan jendela. "Kak, kita bilang aja sama Ayah. Kalau mereka itu jahat," ucap adikku, memiringkan sedikit kepala melihat mereka.
"Hahaha! Liyan, kau takut dimarahi sama Ayahmu, ya?" tanya mereka, menatap ke arah kami yang membelakangi jendela.
"Kalian diam! Jangan ribut di situ!" tegur adikku melarang keras.
"Ana, jangan melawan mereka lagi, Dik," pintaku, memohon lembut.
"Kak, tapi mereka semua udah jahat. Mereka udah mengejek kita, Kak," bisik adikku, menutupi seluruh tubuhnya dari mereka.
"Biarin aja. 'Kan mereka orang jahat," ucapku, menenangkan adikku.
Wajah adikku yang polos sangat murung terlihat. Semangat yang selama ini dia pupuk kini tiba-tiba menghilang.
"Tapi mereka udah mengejek kita, Kak," balas adikku. Berdiri menatapku yang begitu tenang.
Berdiri di dalam kamar sambil membelakangi jendela yang terbuka itulah yang bisa kulakukan untuk melindungi adikku serta diriku dari serangan mereka yang jahat.
"Liyan, kau takut 'kan. Kalau kami terus mengejekmu dan Adikmu. Hahaha!" ledek mereka tertawa dari luar jendela.
Waktu semakin sempit. Jam dinding terus menunjuk angka yang sebentar lagi kaki ayahku terdengar.
"Kak, kenapa mereka belum pergi?" tanya adikku lesu. Berdiri menghitung uang jajan milikku.
"Mungkin mereka masih mau melihat kita, Dik," jawabku tidak tentu arah.
Mendengar ocehan mereka itulah yang bisa aku perbuat saat ini. Ocehan itu semakin lama semakin menghenyak diri yang lemah ini.
"Liyan, kau dan Adikmu kenapa setiap hari dikurung?" tanya salah seorang dari mereka yang penasaran.
Tubuh mungil yang lemah terpaksa berputar miring melihat ke arah jendela yang terbuka. "Karena Ayahku kerja," jawabku apa adanya.
"Jadi, kalian berdua memang sengaja dikurung," sambung yang satunya.
"Bukan itu!" bantah yang satu.
"Jadi, yang mana?" tanya yang satunya berdiri di belakang mereka.
Sungguh aku memasang pendengaran yang tiada henti-hentinya. Melirik mereka yang berdiri tepat di belakangku.
"Karena mereka itu orang miskin. Makanya, gak keluar rumah, hahaha!" sambungnya tertawa dengan penuh hinaan yang garing.
Deg!
__ADS_1
Air mataku langsung menetes. Jenjang kakiku yang berdiri menopang tubuh mungil yang lemah ini ingin terjerembab ke lantai.
"Heh, jangan bilang kayak gitu, ya!" pekik adikku keras.
"Iya, sebentar lagi Ayahku pulang. Aku akan membilang, kalau kalian udah jahat sama kami," celetukku, menatap mereka marah.
"Hahaha! Bilang saja! Kami gak takut," balas mereka.
"Awas kalian , ya!" ancam adikku ingin menjambak rambut mereka.
"Ana, jangan ! Nanti Ayah marah sama kita," tegurku, mendelik dan menutup jendela.
Puk!
Jendela langsung kututup dengan kasar. "Kalian pergi sana! Jangan ganggu kami!" pintaku memohon.
"Liyan, jangan bilang kalau kau penakut, hahaha !" ejek mereka sambil tertawa. Memukul jendela kami dengan benda keras.
"Dasar penakut!" jerit mereka terdengar dari jauh.
Suara pekikan yang menyerang semakin tinggi terdengar. Dari jauh mereka masih terdengar mengejek kami.
"Kak, mereka jahat," ucap adikku mengadu. Berdiri sambil menatap uang jajan yang sudah lama kusimpan.
"Ana, tapi kau jangan berkelahi. Nanti Ayah menghukum kita," tegurku membujuknya yang sangat kesal.
Wajah adikku tidak berapa lama menunduk. "Kak, aku takut kalau nanti mereka mengejekku," tutur adikku.
"Takut kenapa?" tanyaku.
Uang jajan yang menjadi bahan ejekan itu terpampang di mukaku. "Ana, makanya uangnya kita kumpul lagi," saranku.
Uang logam itu kutatap dengan lekat. Sedih melihatnya itulah yang terbersit di dalam hatiku saat ini. Bagaimana tidak? Uang jajan yang menjadi penyemangatku sekarang di ejek oleh orang yang tidak bertanggung jawab.
"Ana, kenapa kau melihat uangnya kayak gitu?" tanyaku terheran.
"Kak, aku sedih melihatnya," jawab adikku.
"Sedih kenapa?" tanyaku ingin tahu.
"orang itu udah mengejeknya, Kak," jawabku.
Sontak diriku langsung hanyut dalam kepiluan adikku. Uang jajan yang selama ini aku simpan malah membuat hatiku tergelitik lucu.
"Dik, gara-gara uang ini. Kita di ejek," kataku, menatap uang logam dan mengambilnya dari tangan adikku.
"Assalamualaikum," sapa ayahku.
"Kak, Ayah pulang," teriak adikku senang.
Jeglek !
__ADS_1
Suara pintu pun terhempas kuat ke dinding. Langkah kaki masuk sambil pelan. "Kalian di mana, Nak?" tanya ayahku.
"Kami di sini Ayah," jawab kami berdua langsung berlari keluar kamar.
"Ayah, bawa apa?" tanya adikku, mengambil bangku dan mengintip belanjaan.
"Ayah, A... ." Aku langsung menutup mulut.
"Liyan, kenapa jendela kamar kalian tertutup?" tanya ayahku.
Adikku yang ingin memegang belanjaan terpaksa menghentikan tangannya dan melihat ke arahku dengan cemas.
"Ayah lihat. Jendela kamar kalian ditutup. Apa kalian baru bangun?" tanya ayahku penasaran.
"Ayah, kami memang baru bangun," Balasku langsung memotong pembicaraan yang ingin diucapkan adikku.
"Apa kalian tadi malam lama tidur ?" tanya ayahku, meletakkan belanjaan sambil memeriksanya satu per satu.
"Iya, Ayah," jawabku langsung, menyembunyikan yang terjadi.
"Kalau begitu kalian pasti belum makan?!" tanya ayahku, melihat kami yang bingung satu per satu.
"Ayah, kami mau jajan," pinta adikku memohon.
Segaris tawa tersimpul di wajah ayahku. "Nah, Ayah ada belikkan ini untuk kalian berdua. Pasti kalian suka?!" ucap ayahku bahagia, membuka plastik yang tersendiri.
Aku dan adikku terperangah melihat reaksi ayah kami yang tidak seperti biasanya. "Kalian pasti suka, Nak?!" lanjut ayah kami, mengambil dari dalam plastik. "Nah, ini dia!" katanya sambil menunjukkan es lilin.
"Ayah, aku mau . Asyiiik!" teriak adikku kegirangan dan langsung mengambil es lilin.
"Ayah! Ayah beli esnya berapa?" tanyaku, mengambil es dari tangan ayahku.
Raut muka ayahku sedikit terlihat sedih. Semangat yang keluar dari dalam dirinya tadi, tiba-tiba meredup. "Nak, Ayah cuma beli empat," balas ayahku, memutar badan melihat plastik yang telah terbuka.
"Ayah, berarti kami dua, dua dapat esnya?" tanyaku.
Seketika ayahku memutar sedikit miring tubuhnya melihat ke arahku. "Iya, Nak. Ayah cuma bisa beli segitu," jawab ayahku lesu.
Kesedihan ayahku begitu terasa bagiku dan adikku. "Ayah, kami juga gak mau makan es banyak -banyak, kok," papar adikku langsung.
"Iya, Ayah. Nanti kami sakit," sambungku. Berdiri dan bersandar sambil membuka es.
Ayahku yang sudah lelah langsung menoleh ke arah kami berdua. "Ayah, jadi senang mempunyai Anak seperti kalian," ucap ayahku tersenyum.
"Ayah, kami juga senang punya Ayah, seperti Ayah," sambut adikku sambil menyeruput es lilin.
"Iya, Ayah. Karena kami sangat sayang Ayah," sambungku, membuka es yang satu lagi.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...