
Aku yang duduk bersila sambil menghabiskan sarapanku. Sejenak merenung dalam kondisi ku yang tidak stabil. Perlahan aku memutar pikiranku yang kosong. Seketika aku tertarik dengan keinginan ku hari ini. Aku langsung beranjak menghampiri ayahku yang sudah keluar dari dapur.
Ayahku yang kulihat sedang bersiap untuk pergi mencari nafkah. Kini ku hampiri ingin meminta izin atas keinginanku yang aku tidak tahu apakah akan dikabulkan oleh ayahku. Aku melihat ayahku yang begitu serius dengan pegangan nya tidak begitu menyadari kalau aku berdiri di belakangnya.
Ayahku begitu mendesis melihat celananya yang sudah mulai sobek. Hatiku begitu sedih melihatnya butiran keristal bening pun jatuh terurai kelantai. Ayahku yang begitu tabah sampai saat ini dia masih terlihat luwes. Ujian hidup yang terus mengujinya tak pernah mematahkan semangatnya untuk terus
" Ayah!" Nada suara ku begitu pelan.
Ayahku yang memegang celananya sontak terkejut sehingga celana yang dipegangnya hampir terjatuh dengan cepat ayahku segera menangkapnya.
" Liyan!" Ayahku menoleh kebelakang memutar kepalanya perlahan. " Ada apa? Kamu mau jajan?" Kata ayahku dengan datar.
" Engga, yah!" Kataku dengan sedikit berhati-hati menatap ayahku lekat.
" Jadi, mau kamu apa memanggil Ayah." Ayahku ingin tahu.
"Liyan hari ini sekolah ya,yah." Kataku dengan memberikan diri sambil menunduk. Sejenak ayahku bergeming dan memutarkan kembali kepala nya lurus kedepan aku menatapnya dengan menunduk.
Ayahku masih saja diam berdiri tegak lurus. Hembusan napas kasar nya begitu terdengar dengan keras. " Liyan,kamu bilang kamu mau sekolah! Ayahku dengan penuh penekanan. Tubuhnya masih saja menatap lurus kedepan.
" Kamu kan lagi sakit. Semalam saja badan mu masih terasa panas dan menggigil. Apa bisa kamu sekolah? Ayah tidak mau kalau kamu menjadi beban disana." Kata ayahku dengan penasaran.
" Ayah, Liyan tidak apa-apa,kok. Hari ini Liyan sudah baikan Ayah, sudah tidak panas lagi." Kataku dengan bersikeras.
" Liyan, Ayah tidak mau mendengarkan apapun. Jangan keras kepala. Kalau kamu nanti tiba-tiba kambuh lagi panas tinggi mu itu akan membuat mereka terbebani." Kata ayahku dengan tegas.
Aku yang tidak sepandai adikku yang bisa merayu ayahku dalam waktu sekejap. Kini terpaksa memutar otak ku untuk mencari bagaimana caranya agar aku bisa sekolah.
Aku begitu jenuh melihat diriku yang satu bulan lamanya dirumah. Aku ingin pergi keluar walaupun hanya sebentar. Mengusir jenuh ku yang telah membuatku seperti orang bodoh. Hari-hari ku hanya aku habiskan melihat dinding rumah yang kosong, langit-langit rumah dan jam dinding yang terus berputar dengan kecepatan sedang.
__ADS_1
" Ayah, Liyan janji. Liyan gak akan sakit,kok." Aku yang berdiri masih didekat ayahku meyakinkan ayahku dengan sebisa ku. " Ia, Ayah Liyan akan jaga kesehatan Liyan disekolah nanti." Kataku dengan wajah penuh pengharapan.
" Tidak! Ayah bilang tidak tetap tidak Liyan! Jangan terus merengek sama Ayah karena Ayah tidak akan mengabulkan keinginan mu."
Ayahku terus bersikeras tetap teguh dengan pendiriannya.
Aku pun semakin frustasi karena melihat apapun yang aku lakukan tidak mendapatkan hasil apapun. Kini hanya
Aku pun pergi meninggalkan ayahku dengan sedikit kekecewaan. Aku yang berjalan kini berpapasan dengan adikku menatapku dengan penuh keheranan.
Adikku terus menatap dengan tatapan penuh menyelidik tanpa berkedip dia terus menatapku dengan tajam. Berjalan menghampiri ayahku yang telah keluar dari kamar sambil memegang celananya yang sobek tadi, kulihat.
Adikku yang berjalan dengan memasang wajah yang penuh tanda tanya berhenti. "Ayah, Ana pergi sekolah dulu, ya." Kata adikku mencium punggung tangan ayahku.
" Ia, hati-hati ya,nak. Lihat jalan kalau mau menyeberang." Kata ayah ku dengan tegas.
"Ia, Ayah." Kata adikku sambil menyandang tas ranselnya.
"Kapan kamu, akan makan. Ini sudah jam berapa? Itu, kamu sudah pakai sepatu!" Kata ayahku menunjuk sepatu adikku dengan mulut nya.
Aku yang sedih tak bisa sekolah melihat adikku
dengan tatapan sebagai isyarat kalau adikku harus makan.
"Ia, Ayah ini, Ana akan masuk." Adikku memutarkan badannya kembali mengambil sarapan nya dengan sepatu yang telah terpasang di kakinya.
Aku melihatnya adikku begitu sedikit berat melangkahkan kakinya. Dengan memonyongkan bibirnya kedepan dengan wajah yang cemberut.
" Kak, ibu kesayangan kakak,mana? Gak ada kelihatan apa dia pergi lagi." Kata adikku dengan sedikit menyelidik.
__ADS_1
Aku yang tidak tahu apa-apa hanya diam saja sambil memelas.
" Kak, emang ayah gak bilang sama kakak ibu itu kemana?" Tanya adikku kembali sambil mengunyah makanannya dengan cepat.
Aku semakin kewalahan melihat adikku yang terus bertanya. Sementara, aku masih galau mendengar ayahku dengan tegas mengecamku tidak boleh bersekolah sebelum aku sembuh total.
"Tidak dek! Ayah tidak bilang apa-apa." Kataku dengan datar. Sambil berjalan menuju kamar ayahku dan melihat kedalam. Sontak aku terkejut ternyata kamar ayahku kosong.
Adikku yang melihat wajahku tiba-tiba berubah. Seketika dia mengayunkan kakinya menghampiri ku. " Kak,ada apa?" Tanya yang berdiri di sampingku.
Aku yang tersentak seketika pias melihatnya yang sampai sekarang belum pergi ke sekolah.
" Engga ada apa-apa! Kau belum pergi sekolah." Dengan sedikit wajah yang sebel." Ayo, cepat pergi sekolah!" Aku sambil mendorong tubuh adikku ke pintu.
Adikku yang kesal melihatku karena mendorong tubuhnya menepis tangan ku hingga terlepas dari bahunya.
" Kak, kakak apa-apaan, sih!" Lirik adikku dengan wajah masam.
Aku pun menarik bibirku dengan cemberut. Melihat adikku yang kesal sambil merapikan seragam sekolah nya. Dari depan pintu aku melihat adikku begitu kesal sambil berjalan.
Perlahan aku memutar badanku masuk. Meninggalkan adikku yang telah berlalu pergi menghilang.
Wajah kasihan ku pun spontan tersirat melihat adikku yang pergi dalam keadaan kesal. Ayahku yang tadi mengingatkan adikku untuk sarapan. Telah pergi menghilang dari hadapan ku.
Aku pun menyeret ke dua kaki ku perlahan seolah aku menghitung langkah kakiku. Tubuhku yang lemah dengan malas ingin bergerak mencari tahu dimana ibu sambungku keberadaan nya sekarang.
Aku pun kembali melihat kamar ayahku yang pintunya tadi masih terbuka dengan lebar. Ku tatap nanar kembali ke ruangan kamar ayahku yang terlihat sunyi. Tempat tidur yang rapi menyambut hadirku yang berdiri didepan pintu kamar ayahku.
Aku pun berbalik meninggalkan kamar ayahku yang kini membuatku bertanya tentang ibu pengganti kami.
__ADS_1
Bersambung.....