
"Tapi Ayah udah gak seperti dulu Kak," sesal adikku. "Ayah dulu gak pernah marah samaku. Ayah dulu juga gak pernah menghukum. Apalagi melarang aku bermain," ucapnya dengan wajah menunduk sedih.
Aku mendengarkan ceritanya yang sedih dan memutar kepala kembali melihat tirai pintu yang tidak bergerak sedikit pun. Ibu sambung yang selama ini menjadi teman kami dan sekaligus juga menjadi ibu pengganti bagi kami setelah kepergian ibu kami yang sudah melahirkan kami ke dunia.
"Ana tapi 'kan kita salah makanya Ayah menghukum kita," balasku dengan kata yang sebenarnya. Duduk bersila di atas lantai membelakangi adikku.
"Kakak jelas membelanya, 'kan dia Ibu kesayangan Kakak," selah adikku sebal. Duduk di belakangku. "Coba dia jahat sama Kakak. Pasti gak suka samanya," lanjutnya terus menerus dengan pendapatnya.
Aku spontan kembali melihat tangan yang bergerak memainkan anak Bp tanpa kusadari. "Heh!" Aku langsung menyeringai melihat anak Bp yang berjalan sendiri bersama dengan tangan yang terasa dingin akibat sakit yang masih setia bertahan dan berlama-lama di dalam tubuh mungil ini.
Tidak berapa lama anak Bp yang bergerak tanpa kusadari. Lekas dengan sendirinya aku medudukkan ia di atas sofa yang empuk dan memainkannya sesuai dengan kemaunku yang bisa membuat hatiku senang.
"Ana, Kakak gak pernah kayak gitu," sahutku. Menaikkan kepala melihat tirai dan sesekali melirik ke belakang di mana adikku duduk dengan manis, di ikuti oleh tangan sebelah kanan mengayun di udara memainkan anak Bp.
"Alah. Kakak selalu kayak gitu," bantah adikku dengan kata yang sama yang kuucapkan.
"Ana gak boleh kayak gitu. Kalau kita jahat nanti kita kayak si Dottie... ." Aku kembali menggantungkan ucapanku dan melihat anak Bp sambil memikirkan tentang si Dottie. "...gak punya teman," sambungku dengan nada suara pelan penuh sesal.
Adikku terdengar diam dan tidak ada suara berisik sama sekali dari belakang sebagai tanda kalau dia masih duduk di situ. Namun, setelah beberapa saat setelah aku dan dia hening. Suara sahutan dari belakang pun terdengar mendarat di gendang telinga.
__ADS_1
"Kak, si Dottie gak sendiri kok. 'Kan ada aku yang jadi temannya," kata adikku dengan suara senang.
"Ana, si Dottie 'kan gak mengenalmu," ucapku kepada adikku yang masih duduk di atas tempat tidur tepat di belakangku.
"Kakak jangan bilang begitu. Aku sama si Dottie udah kenal lama kok. Bahkan kalau malam kami tidur sama," cetus adikku dengan penuh penekanan.
Aku dan adikku semakin ribut hanya gara-gara si Dottie. Aku semakin berpikir yang lucu tentang adikku. Segaris senyuman tipis di bibir kadang tersimpul manis hanya untuk menikmati ke lucuan adikku, ketika aku melihatnya yang terlalu memperlakukan boneka itu layaknya, seperti seorang anak manusia. Bisa nangis, bisa haus, bisa tidur dan bangun dan juga bisa mendengar suara kebisingan. Hahaha! Terkadang aku tertawa geli melihat dan mendengar ocehannya yang diucapkannya hanya untuk sebuah boneka yang tidak bernyawa.
"Tapi si Dottie-mu 'kan, gak Anak Ayah," bantahku langsung menghenyak adikku. Melihat anak Bp-ku yang sudah ingin pergi sekolah.
"Kakak, kalau bermain itu juga aneh kok! Masa kertas bisa sekolah, bisa makan, bisa nyanyi, bisa mandi, ahahaha! Bisa pula pergi ke kantor dan punya Ayah, punya Ibu dan lebih lucu lagi kepalanya bisa putus. Ahahaha, hihihi!" ledek adikku dengan puas menertawainya sampai terpingkal-pingkal.
Aku langsung memutar kepala melayangkan sorot mata marah pada adikku yang dengan sengaja mengejek mainanku. "Ana, ini 'kan mirip orang juga. Kenapa kau bilang kayak gitu?" tanyaku tidak rela kalau mainanku anak Bp ini di ejek oleh adikku. "Ana, awas aja, kalau kau mainkan ini!" ancamku memberi peringatan pada adikku yang suka mengejek mainanku.
"Betul ya! Jangan di pegang," kataku dengan raut muka mengetat dan melayangkan ancaman penuh dihadapannya.
"Iya, aku gak mau. Karena mainan Kakak itu jelek dan bisa jadi hantu, weeee!" ejek adikku dengan menjulurkan lidahnya keluar.
"Biarin aja. Yang penting ia gak menghisap darah," cetusku dengan acuh, memutar badan kembali lurus melihat anak Bp yang masih duduk di atas sofa yang empuk.
__ADS_1
Tangan lemahku pun kembali mengambilnya bangun dari sofa yang seakan membuat ia nyaman dan menikmati bacaan buku cerita yang ia sukai. Lofya nama dari permainan yang aku sukai yang tidak lain adalah permainan anak Bp. Ia sangat senang sekali dan sangat gembira karena kedua orang tua serta adiknya telah merencanakan liburan keluar negeri yaitu, tepatnya direncanakan oleh ayah dan ibu serta adiknya ingin pergi ke kota London di mana kota yang sangat modern dan penuh dengan museum bersejarah dan makanan-makanan yang lezat. "Mmm. Yummy!" Lofya sangat menyukainya, pikirku. Itulah kenapa aku memilihkan kota itu untuk ayah dan ibunya serta adiknya pergi liburan ke London.
"Asyiiik!" Lofya berteriak sekencang-kencangnya ketika menemukan sebua tiket di dalam meja kerja sang ayah. "Ayahku pasti ingin memberi kejutan dengan ku," pikir Lofya. Duduk termenung di atas sofa yang empuk. "Dan juga Ibuku, dia sangat sayang dengan ku karena aku adalah Anak pertama kebanggaannya setelah sekian lama menikah baru aku ada. Itulah sebabnya setiap yang kuminta mereka selalu memenuhinya, begitu juga adikku dia tidak pernah membantah apa pun yang aku suruh! Mmm, aku memang anak yang beruntung memiliki kedua orang tua dan adik sepertinya. Muach!" Lofya dengan senang mencium photo keluarga yang terletak di atas meja tepatnya di sebelah sudut sofa yang ia duduki.
Aku jadi ikut tersenyum ketika melihat sepenggalan cerita anak Bp yang aku mainkan. Keluarga yang bahagia dan penuh dengan kehangatan dan juga seorang anak yang memiliki seorang ibu yang penyayang. Aku jadi terharu dan sedikit ingin menangis mengingat diriku yang jauh dari semua itu.
"Kak, kenapa si Lofyanya menjerit?" tanya adikku dari belakang mengagetkan setelah aku diam.
Aku sontak memutar kepala melirik ke belakang tepatnya ke arah adikku. "Ia mau pergi liburan," jawabku singkat sedikit menahan malu.
"Ha!" Adikku tercengang dan heran. "Ahahaha! Liburan ke London, hihihi!" ledek adikku semakin mengejek setelah dia mendengarkan semua dialog yang aku keluarkan dari mulut sewaktu aku memainkan peran si Lofya.
"Hihihi! Kak, Kak. London itu jauh. Naik pesawat, ptfff. Mana mungkin. Kita 'kan ada di rumah Ayah," sambungnya dengan sembarang yang membuatku menganga setelah melihat raut mukanya yang penuh dengan tawa ejekan itu.
"Ana, ini 'kan cuma sebuah permainan. Ya suka-suka kita la menceritakannya," balasku dengan kesal bercampur sebal, melihat adikku yang tiada henti menertawai mainanku.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...